Ditipu Menantu Benalu
Beda Kasih Sayang
"Dewi, sejak kapan kamu datang, Nduk? Kok nggak masuk?" Ucapan Emak menyadarkanku kembali ke dunia nyata.
"Eh, iya, Mak. Ini juga mau masuk, kok" jawabku gelagapan. Bisa-bisanya aku melamun, padahal sudah di depan teras.
Emak yang tadi tampak murung, kembali cerah setelah kedatanganku. Seperti biasa perempuan yang telah melahirkanku ini akan menarikku untuk langsung ke dapur. Membuka tudung saji dan menyuruhku makan.
"Ayo, makanlah. Kebetulan Emak masak pepes ikan kesukaanmu." Emak mengambilkan piring dan memberikannya padaku. Aku tersenyum melihat antusias Emak dalam menyambutku. Inilah Emak yang selalu sayang pada anak-anaknya.
Dian yang mengetahui kedatanganku langsung mendekat dan mengambil buah tanganku tanpa izin. Dia begitu menikmati makanan itu seperti tak pernah makan sebelumnya. Hatiku gerimis setiap kali melihat anak itu. Kehilangan kasih sayang orang tua, dan harus menyaksikan mamanya melimpahkan kasih pada adik-adiknya.
"Nggak makan, Yan?"
"Dian sudah makan banyak tadi. Apalagi lauknya enak begini, nggak usah diminta juga langsung makan," ucap Emak terkekeh. Kulirik anak itu hanya nyengir tanpa membantah ucapan neneknya.
"Mama nggak telepon,Tan?" Pertanyaan Dian membuatku tersedak. Tumben-tumbenan anak itu menanyakan mamanya. Biasanya cuek saja kalau membahas soal mamanya. Aku meneguk air putih untuk menghilangkan perih. Emak memandangku dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Nggak, Yan. Kamu kangen ya sama Mama?" Aku menghentikan aktivitas makan ini dan menoleh pada anak kecil berusia 8 tahun itu. Matanya tampak berkaca-kaca. Ini tak seperti biasanya. Ada apa sebenarnya?
"Nggak! Dian nggak akan pernah kangen sama Mama! Mama aja nggak pernah kangen sama Dian!" ucapnya ketus. Jelas anak ini rindu pada mamanya. Tapi egonya tak mau mengaku.
Kudekati ia, lalu merengkuhnya dalam pelukanku. Tangis anak ini langsung pecah. Tubuhnya gemetar dalam dekapanku. Ya Allah, aku nggak kuat menyaksikannya. Anak sekecil ini harus menanggung beban akibat kebodohan orang tuanya.
Tiba-tiba dadaku sesak. Rasa kesal menyeruak menghantam dinding pertahanan yang kubangun. Bendungan di mataku akhirnya ikut jebol tak mampu menampung genangan air mata.
"Sabar ya, Nak. Kan ada Tante dan Om. Dian mau apa, bilang sama Tante, nanti Tante belikan," ucapku membujuknya. Kulirik Emak sedang menyusut kedua matanya dengan ujung baju. Anak ini masih sesenggukan. Ah melihatnya yang rapuh seperti ini hatiku seperti disayat-sayat. Padahal biasanya anak ini tak pernah cengeng. Apa rasa rindunya begitu besar hingga ia tak mampu membendungnya?
"Dian nggak butuh apa-apa, Tan. Dian hanya ingin papa dan mama kembali seperti dulu. Dian ... hanya ingin berkumpul lagi dengan papa dan mama, Tante," ucapnya di sela-sela tangisan. Hati siapa yang tak sakit menyaksikan seorang anak yang menginginkan orang tuanya bersatu.
Dasar Mbak Citra, hatinya sudah matikah? Tak pernahkah sedikit pun ia merasa rindu pada anaknya ini? Dulu, ia bekerja katanya supaya kebutuhan Dian tercukupi. Agar Dian tak hidup susah seperti kami waktu kecil dulu. Nyatanya, justru Dian lebih susah dari kami.
Cukup lama kami larut dalam kesedihan ini. Kurasakan tubuh Dian melorot. Anak ini tidur dalam dekapanku akibat lelah menangis. Perlahan kuangkat tubuhnya yang kecil, dan kubaringkan di kamarnya.
Mataku memindai seluruh ruangan. Banyak foto kebersamaan mereka waktu kecil terpasang di dinding. Netraku menangkap sebuah figura yang tertelungkup di samping Dian berbaring. Perlahan kubuka figura itu. Seketika mata ini memanas. Cairan bening ini kembali mengalir. Ini adalah foto pernikahan mbak Citra dan Mas Adi.
Tak sanggup berlama-lama di kamar ini, aku segera keluar. Bersandar di pintu sambil menekan dada yang semakin sesak ini.
"Setiap malam Dian tidur sambil memeluk foto itu. Dia selalu menangis dalam diam. Emak baru tahu dua malam ini saat mau melihatnya." Netra Emak masih basah. Kurasa apa yang kami rasakan saat ini sama.
"Biar Dian ikut aku aja, Mak."
Emak menghentikan langkahnya. Berbalik dan menatap mataku. "Kamu tega sama Emak? Dian satu-satunya hiburan Emak dan Bapak, Nduk. Dari bayi kami yang merawatnya. Kemana-mana kami bawa. Hanya dia sekarang tujuan hidup Emak.
Aku menghela napas panjang. Benar juga kata Emak. Kalau Dian kubawa, hidup Emak akan sepi. Tapi melihat anak itu merindukan orang tuanya juga tak sampai hati.
***
Emak mengajakku ke kamar Mbak Citra yang terkunci. Selama kepergiannya, Emak belum pernah masuk ke dalam. Hari ini Emak mengajakku memeriksa kamar Mbak Citra. Siapa tahu ada petunjuk dimana keberadaannya.
Menggunakan kunci cadangan yang Emak simpan tanpa sepengetahuan kakakku, kami membukanya. Udara pengao langsung menyergap hidung kami. Emak mematung melihat apa yang ada di kamar ini. Begitupun denganku. Cukup lama kami hanya berdiri di depan pintu. Hingga Bapak menyeruak masuk duluan. Rupanya Bapak sudah datang dari jualan.
"Bocah gendeng! Apa-apaan seperti ini?" Bapak mengumpat sambil mendekati lemari dan kasur busa yang diikat jadi satu. Tak ada ranjang, karena Mbak Citra memang tak suka tidur di ranjang.
Apa yang kami saksikan ini sesuatu yang tak wajar. Ada apa di dalam lemarinya sehingga harus diikat-ikat pakai tambang begitu? Kasurnya disandarkan pada lemari dan disatukan dalam satu ikatan. Namun ada yang lebih mencolok di mataku. TV yang dibawanya dari Bandung dulu hilang. Berarti dua TV di rumah ini hilang. Entah dijual atau digadaikan.
Bapak berusaha membuka tali itu dan mencongkel lemarinya. Kami curiga ada sesuatu yang dusembunyikan di dalam sana. Setelah terbuka sempurna, kembali bau apek menusuk hidung. Beberapa pakaian dicacah tikus. Mungkin ada yang berlubang lemarinya, sehingga tikus bisa masuk.
Emak membuka-buka apa pun yang ada di lemari. Namun tak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Aku pun sama, mencari sesuatu di sana. Hingga mata ini menangkap sebuah map warna hijau yang diselipkan dalam tumpukan pakaian. Kutarik map itu dan kubawa menyingkir dari sana.
Beberapa kuitansi pembayaran dan bukti-bukti transfer tersimpan di sana. Kubaca satu persatu hingga menemukan satu kejanggalan. Tanggal yang tertera pada buktri transfer itu rata-rata sudah lama. Itu kan tahun dimana Mbak Citra masih berstatus istri mas Adi? Dan nama penerimanya adalah Mas Tisna.
Dadaku bergemuruh mendapatkan fakta ini. Ternyata jauh sebelumnya mereka "menikah" laki-laki itu sudah meminta uang sama kakakku. Dan jumlahnya nggak sedikit. Jadi itu yang membuat Mas Adi mengeluh. Uang kurimannya selaku habis sebelum masuk gajian berikutnya.
Fakta ini benar-benar menghantamku. Mbak Citra sudah diporoti laki-laki ini dari dulu. Aku berpikir keras. Kalau sudah tahu laki-laki ini hanya memoriti uang kakakku, lalu kenapa Mbak Citra masih mau menikah dengannya. Bahkan seolah-olah ia sangat takut padanya.
Tiba-tiba Dian masuk. Menunjukkan sebuah foro yang nggak pernah kami tahu sebelumnya. "Dian dibohongi sama Om ini," ucapnya mengalihkan pandanganku.
"Maksudnya apa, Nak?"
"Dian tahu, Om Tisna itu orang yang sama yang membohongi Dian."