Doaku tetapi Bukan Pilihanku

Cemburuan

"Nggak kemana-mana," ujarnya tenang. "selama Adek masih mau liat aku di sini."

Aku diam, mencerna kalimatnya. Arman lalu ke teras, membersihkan tanaman yang tak terawat.

Dia family man sekali, pikirku saat melihatnya sebelum masuk ke kamar.

Aku terbangun setengah sadar oleh suara pelan dari ruang depan.

Bukan suara televisi. Suara orang berbicara—lirih, tenang, dan terlalu lembut untuk sekadar percakapan kerja.

“…iya. Aku paham.”

Aku membuka mata perlahan. Pandanganku masih kabur. Kepalaku sedikit pening, tapi tiba-tiba ada rasa mual. Aku diam. Tidak bergerak. Mendengarkan.

Suara itu milik Arman. “Tolong jangan sekarang,” lanjutnya. “Aku masih di Jakarta.”

Ada jeda.

Lalu suara lain menyusup—suara perempuan.

Tidak keras. Tidak jelas. Tapi nadanya… halus sekali. Seperti orang yang bicara agar tidak terdengar orang lain.

“Xander—”

Aku menegang. Nama itu tidak pernah kudengar sebelumnya.

Xander? Aku menahan napas. Jantungku berdetak lebih cepat. Aku yakin aku tidak salah dengar.

Arman tidak langsung menjawab. Lalu terdengar suara gesekan—seperti ponsel yang dipindahkan. “Sudah cukup,” katanya lebih tegas. “Aku kabari nanti.”

Klik.

Sunyi.

Aku masih diam. Berpura-pura tidur. Dadaku naik turun tidak beraturan.

Tak lama, langkah kaki mendekat ke arah kamarku. Pintu terbuka sedikit. Arman mengintip.

Aku memejamkan mata cepat-cepat. Tangannya menyentuh dahiku. Hangat. Lama. Seperti sedang memastikan sesuatu.

“Masih panas,” gumamnya pelan, entah bicara ke siapa.

Pintu kembali tertutup.

Aku membuka mata. Menatap langit-langit.

Nama itu berputar di kepalaku. Xander. Siapa? Dan kenapa dia dipanggil begitu?

Belum sempat pikiranku menyusun apa-apa, rasa mual datang tiba-tiba. Aku bangkit tergesa, menutup mulut, dan berlari ke kamar mandi.

Arman melihatku, ikut mengejar ke kamar mandi. “Dek!”

Dia sudah di belakangku saat aku muntah. Tangannya refleks menahan rambutku. Punggungku diusap pelan. “Pelan-pelan,” katanya panik tapi terkendali.

Aku muntah sampai perutku kosong. Tubuhku gemetar. Nafasku terputus-putus. Arman membantuku berkumur. Mengusap sudut bibirku dengan handuk kecil. Lalu memapahku keluar.

Aku duduk lemas di sofa ruang tamu. Kepalaku pening lagi.

“Duduk dulu,” katanya. “Jangan tidur dulu.”

Dia bergegas ke dapur. Aku mendengar air mendidih. Cangkir diletakkan. Sendok diaduk.

Saat itulah aku melihatnya. Di meja kecil dekat sofa—buku cokelat tebal milik Arman. Terbuka.

Aku tahu buku itu. Aku sering melihatnya. Selalu tertutup. Selalu dibawa Arman ke mana-mana. Tapi tak pernah sekalipun aku melihat isinya.

Tanganku gemetar saat menariknya lebih dekat. Tulisan tangan Arman rapi. Beberapa halaman berisi catatan singkat. Kota-kota. Tanggal. Jam.

Mataku berhenti di satu halaman. Surabaya.

Ada tanggal di bawahnya. Tanggal itu…

Dua hari lalu.

Tanggal saat aku demam.

Tanggal itu dicoret. Tidak tebal. Tapi jelas. Aku menelan ludah. Jantungku berdegup keras.

Arman sebenarnya mau pergi? Kalau aku tidak sakit… apakah dia sudah berangkat?

Kalimatnya di meja makan kembali terngiang.

"[Aku nggak ke mana-mana sampai kamu sembuh."]

Tanganku menutup buku itu cepat-cepat saat langkah Arman terdengar kembali. Dia membawa teh hangat. Meletakkannya di meja.

“Minum,” katanya. “Sedikit aja.”

Aku mengangguk. Mengambil cangkir dengan tangan yang masih gemetar.

Arman duduk di depanku. Menatapku cermat. “Mana yang sakit?” tanyanya pelan.

Aku terdiam. Aku ingin bilang perutku dan kepala, tapi tenggorokanku terlalu sesak untuk bicara jujur dengan lancar.

"Semuanya,” jawabku akhirnya. “terasa sakit.”

Arman mengangguk pelan. Dia berdiri, mengambil buku cokelat itu, menutupnya, lalu meletakkannya kembali di tasnya. Gerakannya tenang. Tapi aku tahu—dia sadar.

Dia membawa tas itu, meletakkan di kamarnya lalu ke belakang, mengambil minyak gosok.

Arman kembali, duduk disampingku. "Boleh?" tanyanya saat akan mengoleskan minyak angin ke tengkukku.

Aku hanya mengangguk pelan. Kami diam lama setelah itu. Teh di tanganku tinggal setengah. Perutku mulai lebih tenang. Tapi hatiku tidak.

Arman akhirnya berkata, suaranya rendah, hampir seperti janji. “Aku masih di sini, mau makan apa?”

Aku menatapnya. “Masih?” tanyaku lirih.

Arman tidak langsung menjawab. Tatapannya turun sebentar, lalu kembali ke wajahku. “Sampai kamu bener-bener sehat,” katanya.

Aku mengangguk. Tapi kali ini, dadaku terasa perih. Karena aku sadar—aku takut sembuh. Takut, setelah itu…dia benar-benar pergi. Sementara aku belum tahu… siapa sebenarnya pria yang kupanggil suami ini.

***

Ayla sembuh. Dan tepat di hari itu juga, Arman pergi. Pagi-pagi sekali.

Aku masih izin sakit. Tubuhku memang sudah lebih baik, tapi kepalaku kosong. Rumah ini tiba-tiba terlalu luas untuk aku tempati sendirian. Sunyi. Bahkan detak jam dinding terdengar seperti mengejek.

Iseng—aku masuk ke kamar Arman. Pertama kali masuk ke sini. Bukan karena dilarang, tapi kami memang menjaga jarak yang tak pernah diucapkan.

Kamar itu rapi. Terlalu rapi untuk seorang pria yang katanya hidupnya penuh kerjaan lapangan. Tumpukan baju disusun rapi. Seprei licin, tak berkerut. Bahkan lebih tertata dari kamarku sendiri.

Pandangan mataku berhenti di meja. Laptop.

“Eh… dia punya ginian?” gumamku.

Aku duduk, menyalakannya. Layar meminta sandi. Aku mencoba satu kali. Gagal. Dua kali. Gagal.

Entah kenapa, di percobaan ketiga, jariku mengetik tanpa berpikir panjang.

Ayla2000. Enter. Klik. Layar terbuka.

"Eh, passwordnya nama dan tahun kelahiranku?"

Sebuah folder terbuka otomatis. Aku menggeser touchpad perlahan. Isinya foto-foto Arman. Banyak.

Tanggal di pojok layar membuat napasku tertahan. Dua puluh tahun lalu.

Arman di pabrik, pakai seragam dan celemek. Arman duduk di rumput, piknik sederhana. Arman berdiri di depan bangunan tua, kamera ayah tergantung di lehernya.

Ngopi. Merokok. Tertawa. Estetik. Terlihat sekali dia menyukai seni.

Aku tersenyum sendiri tanpa sadar. “Pria yang bisa pakai kamera belakang dengan benar,” kekehku lirih.

Tanganku terus menggeser ke bawah. Sampai sebuah foto lama muncul. Paling bawah. Resolusinya lebih buram. Ada tulisan nama di sana. Pudar. Hampir tak terbaca.

Xa n…

Aku mendekatkan wajah ke layar. “Siapa ini…?” bisikku.

Hurufnya kabur, tapi otakku langsung menyambung sendiri. Xander?

Deg.

Jantungku berdenyut keras. Aku menutup foto itu cepat-cepat, lalu membuka file lain. Ada satu judul yang membuat tanganku gemetar.

~Aku

Aku klik. Terkunci.

File itu meminta sandi lain. Aku menatap layar lama. Ada bagian dari diriku yang ingin memaksa, ada bagian lain yang takut mengetahui.

Aku memilih menutup laptop. Seolah benda itu bisa mendengar degup jantungku.

Aku lalu menelpon ayah. “Ayah tahu Arman ke mana?” tanyaku, berusaha terdengar biasa.

Di seberang sana, ayah terkekeh. “Rindu niyeee.”

“Ayah serius dong. Jangan becanda.”

“Lho, kamu ini. Baru ditinggal sebentar sudah senewen. Jangan-jangan kamu mikir dia ninggalin kamu sama pacarnya?” Ayah tertawa lepas.

Dadaku mengeras, dongkol. “Kan katanya nggak ke mana-mana sebelum aku sembuh,” kataku cepat. “Sekarang aku sehat, dia ngayap. Kangen pacarnya, ya?”

Ayah tertawa lagi. "Ngambek mulu sih, jangan judes-judes coba, Ay."

Aku mematikan telepon sepihak. Kesal. Bodoh. 

"Kan, malah jadi keliatan cemburu," rutukku sambil menelpon Arman. Tapi, dialihkan.

Sekali. Dua kali. Tidak diangkat. Kesalku makin naik. "Aarrgghhh!" 

Tak lama, ponselku bergetar. Pesan dari ayah. ["Mau tahu suamimu ke mana?"]

Aku menatap layar lama. Gengsi ingin menang tapi penasaran menarik-narik dadaku. Aku tak membalas. Tak mau ayah memberi syarat atau menggoda lagi.

Aku memilih menunggu. Menjelang malam, suara motor berhenti di depan rumah.

Aku berdiri, melangkah cepat ke pintu.

Arman?

Aku membuka pintu dengan senyum semringah. Taunya—

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!