Doaku tetapi Bukan Pilihanku

Mulai menunggu

"Permisi. Mbak Arman?" seru seseorang saat melihatku membuka pintu.

Aku mengangguk, berjalan pelan ke arah pagar dan mengambil bingkisan dari ojek online. "Makasih," kataku singkat.

Namaku Ayla. Arman yang pesan. Eh, dia mesenin makanan? batinku.

Pintu pagar tertutup pelan.

Suara motor menjauh, lalu hilang. Aku masih berdiri di ambang pintu beberapa detik, plastik makanan tergantung di tanganku. Hangatnya menempel di telapak.

Bubur. Sop iga. Bukan Arman yang datang, hanya makanan.

Aku menghela napas pelan sebelum akhirnya menutup pintu dan menguncinya. Rumah ini langsung terasa makin sepi.

Aku membawa makanan ke meja makan. Membukanya satu per satu. Uap tipis naik, aromanya lembut, bagai aroma perhatian yang akrab. Selalu tahu apa yang kubutuhkan.

Ponselku bergetar. Nama Arman muncul di layar..Aku menatapnya beberapa detik sebelum mengangkat.

“Halo.”

“Dek,” suaranya terdengar terburu-buru. “Maaf ya, tadi di jalan. Baru lihat kamu nelpon.”

“Iya,” jawabku singkat.

Aku bisa mendengar suara kendaraan di seberang sana. Dia tidak di dalam ruangan.

“Perutmu masih nggak enak, kan?” lanjutnya. “Aku kirim bubur sama sop iga bening. Kamu harus makan.”

Aku menatap mangkuk di depanku. “Iya… sudah datang.”

“Alhamdulillah.” Nadanya terdengar lega. “Dimakan, ya. Sedikit juga nggak apa-apa.”

“Iya.”

Kami diam beberapa detik.

“Kondisimu gimana sekarang?” tanyanya lagi. “Masih mual?”

“Sedikit.”

“Aku pulang agak malam. Banyak yang harus diurus.”

Aku mengangguk meski tahu dia tak bisa melihat. “Iya.”

Sunyi lagi.

“Kamu kenapa?” tanyanya pelan. Terlalu pelan. Seperti takut aku menjawab jujur.

Aku ingin bertanya balik. Tentang nama yang kudengar. Tentang buku cokelat itu. Tentang kenapa dia pergi tepat saat aku sembuh. Tapi tenggorokanku terlalu sempit untuk semua itu.

“Nggak apa-apa,” kataku akhirnya.

Dan Arman—seperti biasa—menerimanya begitu saja. “Ya sudah. Makan dulu. Aku telpon lagi nanti.”

Sambungan terputus.

Aku menatap layar ponselku yang gelap. Pantulan wajahku muncul samar—pucat, lelah, dan entah kenapa terasa asing.

Aku duduk. Mengambil sendok. Menyendok bubur pelan-pelan. Rasanya pas. Tidak terlalu asin. Tidak terlalu encer. Persis seperti caranya memperhatikanku. Tanpa bertanya, tanpa salah.

Rumah ini terlalu besar untuk diisi sendirian. Jam dinding berdetak pelan. Aku menyeruput sop. Hangatnya turun ke perut. Mualku berkurang.

Aku berhenti makan sejenak. “Kenapa aku sedih?” gumamku lirih. “Dia masih perhatian…”

Aku tahu Arman bukan pria buruk. Dia tidak kasar. Tidak pergi tanpa kabar. Bahkan masih mengurusku meski tidak ada di sini.

Tapi ada sesuatu yang mengganjal. Bukan karena dia pergi. Melainkan karena aku tidak diajak.

Selesai makan, aku mencuci mangkuk. Mengelapnya sampai kering. Semua kulakukan pelan, seperti ingin menunda malam yang terasa terlalu sunyi.

Aku kembali ke kamar dan berbaring. Lampu kupadamkan, tapi mataku tak mau terpejam. Hampir tengah malam saat suara pintu depan akhirnya terdengar.

Aku langsung memejamkan mata. Langkah kaki Arman masuk. Sepatunya dilepas. Tas diletakkan. Pintu kamarku terbuka pelan. Cahaya dari ruang tamu menyelinap masuk.

Aku bisa merasakan dia mendekat.

Tangannya menyentuh dahiku. Lalu pipiku. Hangat. Lama. “Udah mendingan,” gumamnya pelan.

Kasur sedikit turun saat dia duduk di tepi ranjang. Selimutku ditarik lebih rapat. “Makasih ya… udah makan,” katanya lirih.

Aku mendengar semuanya. Tapi aku memilih tetap diam. Beberapa detik kemudian, kasur terasa lebih ringan. Pintu tertutup kembali.

Sunyi.

Aku membuka mata dan menatap langit-langit gelap. Ini pernikahan apa, Ya Tuhan? Dia bukan doaku, tapi kenapa justru seperti pengabulan doa dalam bentuk lainnya?

***

Aku terbangun dengan tubuh yang masih terasa ringan tapi kosong. Demamku sudah turun, kepala tidak lagi berdenyut, hanya sisa lemas yang menempel di persendian.

Arman duduk di kursi dekat ranjang. Sejak kapan, aku tidak tahu. Matanya menatapku penuh waspada, seperti takut aku tiba-tiba pingsan lagi.

“Mau bangun?” tanyanya cepat.

Aku mengangguk pelan.

“Pusing?”

“Dikit.”

Dia menghela napas kecil. Tangannya refleks menyentuh dahiku, memastikan. “Udah nggak panas.”

Aku menyingkap selimut dan duduk. “Aku harus masuk kerja hari ini,” kataku lirih. “Udah empat hari izin.”

Arman menatapku beberapa detik, menimbang. “Aku antar, boleh?”

Aku ingin bilang tidak usah. Tapi kepalaku masih ringan, dan tubuhku belum sepenuhnya kuat.

Arman menawarkan diri memapahku ke kamar mandi. Kubilang aku bisa. Dan dia meninggalkanku ke dapur. Menyeduh kopi paginya.

Setelah bersih-bersih, aku duduk di sofa, bersandar lemah.

Arman mendekat, sambil menyuguhkan susu hangat untukku.

 “Tunggu bentar.” Dia masuk kamar. Tak lama, keluar sudah rapi.

Kemeja biru muda. Warnanya senada dengan dalaman blazerku. Celana bahan gelap, sepatu formal. Rambutnya disisir rapi. Bersih. Tenang. Seperti pria yang tahu ke mana ia akan pergi.

Aku menatap terlalu lama.

“Kenapa?” tanyanya, menyadari.

Aku tersenyum kecil. “Nggak apa-apa.”

“Aneh?” dia mengerling.

“Nggak.” Aku bangkit dari sofa. “Cakep—eh.” Keceplosan. 

Aku langsung melangkah, tapi kepalaku berputar. Dunia sedikit miring. Sebelum jatuh, Arman sudah lebih dulu menahan lenganku.

“Pelan,” katanya. “Masih lemes kan, Dek."

Aku buru-buru melepaskan diri, menegakkan badan. “Aku bisa.”

“Aih,” dia tertawa kecil. “Udah sehat bener, Neng. Judesnya on.”

Aku melirik kesal. Dia malah tersenyum lebar, senyum yang tampak dia sedang gemas sendiri.

Di mobil, aku memilih merebahkan badan. Kursi sedikit kulandaikan. Mataku lalu terpejam.

Arman menyentuh dahiku lagi. “Masih nggak enak, apa aku izin lagi, Dek?”

“Nggak usah. Kan bukan demam. Cuma lemas.”

“Aku tungguin atau pulang aja?” tanyanya pelan, sambil tetap menyetir.

“Nggak usah nunggu,” jawabku. “Pulang aja.”

Dia mengangguk. Tidak memaksa. Perjalanan lima belas kilometer terasa singkat. Begitu kami tiba di puskesmas, beberapa temanku menyapa.

“Masnya Aylaaaaa.” celetuk salah satu dari mereka sambil tertawa.

Aku mendelik ke mereka. “Heh!"

Arman tersenyum sopan, sedikit kikuk. Terlalu rapi untuk lingkungan kami yang biasa.

Aku menepuk lengannya pelan. “Pulang sana," bisikku. Entah kenapa, ada rasa tidak nyaman melihat tatapan-tatapan itu.

Saat dia hendak melangkah, ponselnya bergetar. Dia mengangkatnya. Dan seketika… wajahnya berubah.

Senyumnya melebar. Snyum lepas, seperti seseorang yang sedang menerima kabar baik yang sudah lama ditunggu.

“Ya,” katanya singkat. Suaranya ringan, ceria.

Aku menatapnya. Dia melangkah menjauh sambil bicara. Langkahnya cepat. Terburu-buru. Lupa menoleh. Lupa pamit. Saking senangnya.

Aku berdiri terpaku di depan pintu puskesmas. Dadaku mencelos pelan. "Dia dapat telepon dari siapa, sih? Girang amat." 

"Kalau aku nggak sakit, kamu sudah pergi kah?"

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!