Doaku tetapi Bukan Pilihanku

Deep talk

Aku terdiam lebih lama dari yang Arman duga. Sendok di tanganku berhenti, menggantung setengah, lalu berputar kecil di dalam gelas. Padahal gula di es teh ku sudah larut sejak tadi.

Angkringan mendadak terasa lebih sunyi bagiku. Seolah suara lain—ketukan sendok, tawa dari meja sebelah, gesekan sandal di tanah—menjauh beberapa langkah.

Arman berhenti meneguk kopinya. Gelas kaca itu ia letakkan pelan di meja. Bunyi ~tek kecil terdengar jelas. Tangannya tertahan sebentar di sana, jari-jarinya melingkar di badan gelas yang masih hangat.

Pesanan tom yum akhirnya datang. Pelayan meletakkannya pelan. Uap panas naik perlahan, membawa aroma asam dan pedas yang langsung menusuk hidung. Aku menelan ludah, perutnya mulai kemruyuk.

Arman mengangkat pandangan, memesan tambahan es susu putih. Entah untuk siapa.

Beberapa detik berlalu. Suara sendok dari meja lain, obrolan pelan, jadi latar yang samar.

"Aku…” Aku menarik napas dalam. “Aku memilih menjalaninya.”

Arman mendongak. Wajahnya tak menunjukkan apa-apa selain senyum tipis yang segera memudar. Ia mengangguk pelan, seperti orang yang menerima sesuatu tanpa protes.

Pesanan es susu tiba. Dia meletakkannya di sisi kananku, sedikit menjauh dari mangkuk.

Aku melirik gelas itu. “Aku nggak minta.”

“Aku tahu.” Arman menarik kursinya sedikit ke belakang, duduk lebih santai. “Tapi kamu pasti butuh buat netralin perut.”

Aku tak membalas. Sudut bibirnya justru terangkat tipis. Ia menunduk, menatap kuah yang masih mengepulkan asap.

“Pelan-pelan,” katanya akhirnya.

Aku mengangguk. Tanganku mulai bergerak pelan, menyendok kuah sedikit dan meniupnya pelan sebelum bicara lagi.

“Meski aku masih marah sama ayah. Masih kesel. Masih…” aku berhenti sesaat, ada getir merambat di hati, “…kepikiran Raka.”

Arman menunduk. Jemarinya saling mengait di atas meja. Mungkin ada sesuatu yang bergetar di dadanya, tapi ia menahannya. Ia memilih diam.

“Dan aku capek,” lanjutku lirih, “ngerasa nggak pernah punya pilihan. Kayak sendirian terus.”

Aku berhenti makan, mengaduk kuahnya pelan.

Dari sudut netra, Arman memandangku yang tertunduk. Rambutnya jatuh menutupi sebagian pipi.

“Maaf,” ucapnya pelan.

Aku mendongak. “Untuk?”

“Telat jawab telepon. Pernah mengabaikan. Dan mungkin… bikin kamu ngerasa nggak ditemani.”

Arman tersenyum kecil, tapi binar matanya serius. “Untuk semua rasa kesalmu ke aku. Kalau ada.”

Aku menatapnya beberapa detik. Lalu tersenyum malu, cepat-cepat menundukkan kepala lagi, seperti ketahuan bahwa kalimat itulah yang kutunggu.

“Makan dulu,” kata Arman sambil menunjuk mangkuknya. “Nanti dingin, nggak enak.” Ia melirikku sebentar. “Kayak kita kemarin.”

“Ih,” Aku mendengus kecil, sebel. “Apaan sih.”

“Jangan sering-sering gemesin,” kata Arman setengah bercanda. “Aku takut serakah.”

Tanpa sadar dahiku mengernyit. “Serakah?”

“Terhadap titipan ayah,” jawabnya ringan. “Padahal cuma nemenin sampai kamu pulih.”

Deg.

Aku langsung manyun. Sendok tom yum kuletakkan agak keras. “Itu lagi.”

Ia mendongak.

“Kakak mau pergi, ya? Kalau aku nggak sakit, udah pergi, kan?” cecarku padanya. 

“Pssst,” Arman sedikit mencondongkan badan. “Diliatin.”

Aku tak peduli. Suaraku mulai naik. “Ngeles terus. Kalau mau nikah lagi, bilang napa sih.”

Beberapa kepala menoleh. Arman tersenyum kikuk, mengangguk kecil ke arah sekitar, lalu kembali menatapku yang memalingkan wajah.

Aku menghempaskan napas panjang. Cemberut tapi sambil menyendok tom yum lebih banyak dari sebelumnya.

Tapi, kali ini, pedasnya langsung menghantam tenggorokan. Mataku ikut menyipit. Dan buru-buru meraih es susu.

Arman menahan senyum. Tangannya bergerak refleks, sedikit mendekatkan gelas itu.

Angkringan itu tidak terlalu ramai, tapi juga tidak sepi. Lampu bohlam kuning menggantung rendah, cahayanya jatuh hangat di meja kayu yang penuh goresan. Asap tipis dari tungku bercampur aroma jahe, gorengan, menjadi wewangian khas warung.

Aku masih duduk bersila di bangku panjang, kedua tanganku melingkari mangkuk. Uap panas awet dari tom yum kembali menyentuh wajahku.

“Memilih menjalani itu juga bentuk bakti, Dek."

Aku mendongak pelan. Keningku mengernyit kecil. “Huh? Apa?"

Arman tersenyum tipis. Dia menyeruput kopi jahenya perlahan, seperti sedang menata kata.

“Meski bertentangan sama hati,” katanya, “tapi kamu nggak kabur. Itu tanda hatimu hidup.”

Matanya beralih padaku. “Menjaga kehormatan ayah di tengah ujian perasaan itu nggak gampang. Tapi kamu melakukan itu.”

Aku langsung menunduk. Pandanganku jatuh ke meja. Sendok di tanganku kuputar tanpa suara.

“Kamu capek, lelah, jenuh, marah… itu manusiawi,” lanjutnya. “Semua permintaan Ayah itu ujian buat kamu. Selain Raka.”

Dia berhenti sebentar. “Dan kamu nerima semuanya dengan caramu sendiri.”

Dadaku mengencang. Benar, batinku.

~Tuhan bilang, sebagian manusia dijadikan ujian bagi yang lain.

Bukan untuk menjatuhkan hambaNya, tapi untuk menguatkan—meski caranya sering terasa menyakitkan.

“Jadi,” suaranya melunak, “kalau lagi capek banget, bilang ke aku ya.”

Aku mengangkat wajahku, menatapnya. “Biar apa?”

“Biar aku temani.” Dia menunduk, jarinya menggenggam gelas. “Aku… kalaupun pergi, pasti pamit.”

Aku ikut menurunkan pandangan. “Sampai kapan?”

Pertanyaan itu keluar pelan, tapi berat.

Hening menyela.

“Aku…” napasku tertarik. “Aku tahu Tuhan milih karena aku sanggup, tapi—”

“Nggak usah mikir jauh dulu,” potongnya lembut. “Menerima juga bagian dari proses. Ikhlas sama sabar itu level setelah ini.” Dia tersenyum kecil. “Kalau semuanya dipikirin sekarang, kamu capek sendiri.”

Aku mengangguk samar.

“Kak…”

“Hem.”

“Pernah kecewa?” Aku penasaran, dia seperti datar menjalani hidup.

“Pernah.”

“Marah?”

“Iya.”

“Terus?” Kadang aku kesal, Arman menjawab angkat-angkat.

Dia tersenyum miring. “Nggak terus-terus. Menerima, lalu belajar jalan lagi. Awalnya sakit, lama-lama ya… biasa.”

“Sekarang masih marah?”

“Ke Tuhan? Nggak.” Dia menggeleng. “Ke manusia juga nggak. Capek sendiri.” Lalu bahunya terangkat kecil. “Kan tadi aku bilang, memilih. Aku milih merawat hatiku. Mau senang, mau lupa, atau apa pun. Aku pilih yang bisa aku kendalikan.”

“Gampang banget kedengerannya,” gumamku, mencibir pelan.

Aku menyendok tom yum, lalu langsung meringis. Pedasnya masih aja menusuk padahal ini level satu.

“Kelihatannya aja,” katanya sambil mendorong segelas es susu ke arahku. “Sawang sinawang.” Tatapannya tenang. “Yang penting nggak tenggelam sama luka itu.”

Aku menyeruput es susu. Napasku pelan-pelan kembali normal. Aku menatap Arman lama. Terlalu tenang. Terlalu matang.

Apa saja yang sudah dia lewati sampai bisa setenang ini?

“Kak…”

“Iya…”

“Punya pacar nggak?”

Dia diam sejenak. Lalu menatapku dalam, tepat ke mataku. Tersenyum kecil. “Punya."

Aku tersedak. Cepat-cepat minum lagi. “Siapa? Orang mana?”

“Orang sini,” jawabnya santai. “Udah dekat sejak lama.”

“Namanya?”

“Ada deh.” Dia terkekeh kecil. “Nanti kamu cemburu.”

Aku langsung cemberut. Bibirku maju tanpa sadar. “Terus…” suaraku pelan, tapi jelas. “Kenapa mau menikahiku?” Dadaku berdegup keras.

Arman berhenti meneguk kopinya.

Gelas itu dia letakkan perlahan di meja. Bunyi kecilnya terdengar jelas di antara keramaian angkringan.

Dia mengangkat wajahnya. Menatapku.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku melihat Arman tidak langsung punya jawaban.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!