Doaku tetapi Bukan Pilihanku

Masih Nostalgia

Arman tidak langsung menjawab. Tatapannya tidak menghindar, tapi juga tidak tergesa. Seolah pertanyaanku bukan sesuatu yang bisa dilempar balik dengan kalimat pendek.

Lampu bohlam di atas kami berayun pelan tertiup angin malam. Cahaya kuningnya membuat wajah Arman tampak lebih tenang dari biasanya. Terlalu tenang, sampai dadaku justru berdegup tidak karuan.

Aku menunggu. Detik berjalan lambat. Sendokku berhenti di udara. Tom yum di depanku sudah tak lagi mengepul.

Arman akhirnya menarik napas panjang. Mungkin sedang menimbang—apa yang pantas diucapkan, dan apa yang tidak. Dia berdiri tanpa berkata apa-apa.

Aku refleks mendongak. “Kak?”

Arman tidak menjawab. Dia melangkah ke gerobak minuman, berbicara singkat dengan penjual. Tak lama, kembali membawa segelas air putih hangat.

Dia meletakkannya di depanku. “Minum dulu,” katanya. “Tenggorokanmu pasti masih terasa panas.”

Aku menatap gelas itu, lalu wajahnya. Ada rasa kesal menyusup karena tidak dijawab, tapi juga… diperhatikan.

“Aku nanya sesuatu,” ucapku pelan.

“Aku tahu.” Arman duduk kembali. “Dan aku nggak menghindar.”

“Terus?”

Dia tersenyum kecil. Tipis. “Aku cuma nggak mau jawabnya sembarangan.”

Aku menelan ludah. Dadaku terasa menegang.

“Aku menikah sama kamu,” lanjutnya, suaranya rendah tapi jelas, “bukan karena aku kehabisan pilihan.”

Kalimat itu terdengar lembut. Tidak dramatis. Tapi menghantam tepat di dada.

“Aku juga nggak menikah karena kasihan,” katanya lagi. “Atau karena disuruh.”

Aku mencengkeram ujung meja. Kukira aku siap mendengar apa pun. Nyatanya, aku gemetar.

Arman mencondongkan tubuh sedikit. Tidak menyentuhku, tapi cukup dekat untuk membuatku merasa diperhatikan sepenuhnya.

“Aku menikah karena aku mau bertanggung jawab sama keputusan itu.”

“Keputusan siapa?” tanyaku lirih.

“Keputusan aku.”

Dia menatapku lurus. “Dan keputusan kamu yang mau menjalaninya.”

Aku terdiam.

“Jawaban lengkapnya,” lanjutnya pelan, “nggak akan cukup kalau cuma diucapkan malam ini.”

Dadaku terasa berdebar lebih cepat. Ada lega yang belum sempat bernapas, bercampur dengan kecewa yang belum sepenuhnya pergi.

“Jadi… aku harus nunggu?” tanyaku.

Arman mengangguk. “Iya.”

“Berapa lama?”

Dia tersenyum, kali ini lebih lembut. “Sampai kamu cukup kuat buat dengarnya.”

Aku mendengus kecil. “Kedengerannya licik.”

“Kadang bertahan itu memang kelihatan kayak ngulur,” balasnya tenang. “Padahal lagi nyiapin.”

Aku menunduk. Ujung jariku menyentuh gelas air hangat.

“Nggak takut aku pergi?” tanyaku tiba-tiba.

Arman tidak langsung menjawab. Tangannya berhenti di meja, lalu perlahan mengepal.

“Takur,” katanya jujur.

Satu kata itu membuat dadaku bergetar.

“Tapi aku juga nggak mau kamu tinggal cuma karena takut pada ayah atau balas dendam.”

Aku mengangkat wajah. Mata kami bertemu.

“Kalau kamu pergi,” lanjutnya, “aku mau itu karena kamu sudah memilih. Bukan karena kamu ngerasa ditinggal sendirian.”

Aku menahan napas merasa… ditantang.

Angin malam kembali bertiup. Lampu bohlam berayun pelan. Di sekitar kami, angkringan tetap ramai, seolah percakapan ini hanya milik kami berdua.

Aku menyeruput air putih pelan. “Berarti,” kataku akhirnya, “malam ini aku belum dapat jawabannya.”

Arman mengangguk.

“Tapi,” lanjutku, menatapnya, “aku dapat satu hal."

“Apa?”

Aku tersenyum tipis. “Kamu nggak pergi.”

Arman balas tersenyum. Tidak besar. Tidak berlebihan. Tapi cukup. “Aku masih di sini, Dek.”

Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya, kalimat itu tidak terdengar seperti janji kosong.

***

Setelah malam di angkringan itu, hidupku tidak langsung berubah. Hanya berjalan… lebih padat.

Evalia datang dua hari kemudian, sepulang kerja. Rambutnya masih dicepol asal, tas kerjanya belum sempat diletakkan saat ia sudah duduk di sofa rumahku.

Dia duduk di ruang tamu, membuka kerudungnya, lalu menghela napas panjang seolah baru sampai dari perjalanan jauh—padahal kantornya cuma tiga blok dari sini.

“Gue mau ngomel,” katanya tanpa basa-basi.

Aku tersenyum kecil. “Silakan.”

“Suami lo itu—” Eva berhenti sebentar, menatapku penuh arti, “nyariin lo ke gue.”

Tanganku yang sedang menuang air berhenti. “Nyariin?” ulangku pelan.

“Iyaaaa, nyariin lo,” lanjutnya. “Nanya lo ke mana, kenapa nggak bisa dihubungi. Nada suaranya bukan basa-basi. Bukan boongan."

Aku menunduk, jari-jariku memainkan ujung baju.

“Dan jujur ya,” Eva tersenyum pahit, “gue iri.”

“Iri kenapa?”

“Iri lo dijodohin sama orang yang peduli.”

Aku mengangkat wajahku. Eva melanjutkan, suaranya lebih pelan tapi dalam.

“Gue udah usaha nyari jodoh bertahun-tahun. Ketemu orang yang klop aja susah. Ada yang manis di awal, ilang di tengah. Ada yang rajin ngejar, tapi nggak pernah benar-benar hadir.” Dia tertawa kecil, getir.

“Jadi kalau lo tanya gue, Ay… dijodohin itu nggak selalu buruk. Yang buruk itu kalau pasangannya nggak mau repot.”

Aku diam.

“Dan suami lo,” Eva mencondongkan badan sedikit, “repot. Nyari. Nanya. Peduli. Bahkan ke temen lo.”

Kalimat itu menancap pelan di dadaku.

Dia menyilangkan kaki. Meneguk air minum yang kusuguhkan. "Jujur, bukan iri sama pernikahan lo. Tapi sama kepeduliannya, Ay."

Aku tidak langsung menjawab. Kalimat itu menempel terlalu lama di kepalaku.

“Lo kenapa kabur?” tanya Eva lebih pelan.

Aku mengangkat bahu. “Nggak kabur, demam dan tidur di rumah ayah … taunya makin capek.”

Dia berdiri, meraih tasnya. "Gue cuma mau bilang itu. Selebihnya pilihan lo.” Eva tersenyum miring. “Hati-hati. Kadang saling diam juga bisa jadi jarak.”

Kalimat itu bertengger lama di otakku setelah Eva pulang. Dan rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.

Hari-hariku lalu dipenuhi persiapan diklat, tugas dari kantor. Luar kota. Bandung.

Untuk pertama kalinya, aku juga belajar izin ke Arman. Aku mengetik lama sebelum mengirim pesan.

"Kak, aku diklat seminggu. Ke Bandung."

Balasannya tidak lama. ["Kapan?"]

"Besok."

["Ok. Apa yang kurang?"]

"Sudah disiapkan kantor semua." Balasanku singkat.

Malam harinya, ketika Arman pulang. Dia memberiku satu kantong kecil belanja. Isinya obat-obatan, dan Snack ringan kesukaanku.

"Mamaciiiiiihhh," kataku semringah saat packing di lantai. 

Arman mengangguk, masih di depan pintu kamarku. "Jaga diri, ya, Ay. Aku boleh kirim pesan sering-sering?" 

Aku mengangguk. "Iya."

Lalu dia ke kamarnya, mandi dan ke dapur. Menyiapkan makan malam. Setelah itu kami langsung istirahat di kamar masing-masing.

Arman mengantarku sampai pool shuttle. 

"Kabari kalau sampai ya, Ay."

"Siap, Bos." Aku senyum melambaikan tangan padanya. Pesannya sederhana. Tapi cukup membuat dadaku hangat.

Namun, aku tidak banyak mengabari setelah itu. Bukan juga sengaja menjauh. Aku hanya… tenggelam.

Bandung menyambutku dengan udara yang lebih dingin dari ingatanku. Jalanan yang dulu akrab. Warung kopi kecil yang masih bertahan. Dan satu kafe—tempat aku dan Raka sering berbagi colokan, berbagi waktu.

Meja kayunya masih sama. Kursinya juga. Bahkan colokannya masih di sudut yang sama.

Dulu, kami sering berdebat soal tugas sambil berbagi kentang goreng. Membahas masa depan dan banyak hal lainnya ... tentang kami.

Sekarang, aku duduk sendiri. Menatap layar ponsel, mengeja namanya tanpa tujuan

Getaran kecil muncul dari tasku. Dari Arman

["Udah makan?"]

Aku membaca. Tidak langsung membalas. Beberapa menit kemudian, masuk lagi.

["Jangan telat makan."]

Aku tersenyum kecil. Menjawab singkat. Entah kenapa, aku ingin Arman tetap bertanya. Meski aku sering diam.

Sore mulai merambat, cafe seringkali ramai di jam ini, aku memutuskan berdiri menuju kasir. Tapi tiba-tiba seseorang menyapaku.

“Ayla?”

Aku menoleh...

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!