Doaku tetapi Bukan Pilihanku

Bandung

“Ayla?”

Suara itu memanggilku ragu, seolah takut salah orang.

Aku menoleh dari arah kasir. Tanganku masih menggenggam gelas kopi yang akan kubawa pulang, langkahku terhenti setengah. Wajah itu muncul dari balik mesin kopi—sedikit lebih tua dari ingatanku, rambutnya kini lebih banyak abu-abu, tapi senyumnya masih sama.

“Om Velo?” Aku tersenyum kecil, nyaris tidak percaya.

“Iya, Ay.” Dia tertawa ringan. “Kamu beneran Ayla, toh?”

Aku mengangguk. “Iya, Om.”

Dia mendekat, menepuk bahuku pelan. Tatapannya menyapu penampilanku cepat—seperti memastikan aku benar-benar baik-baik saja.

“Sendirian?” tanyanya.

“Iya. Lagi diklat,” jawabku.

“Oh… pantes.” Dia tersenyum. “Bandung kangen kamu, tau.”

Aku tertawa kecil. “Bandung nggak berubah juga, Om.”

“Yang berubah manusianya,” katanya ringan, tapi entah kenapa terasa dlam.

Kami berdiri sebentar di samping kasir. Suara mesin kopi mendesis, aroma kopi panas bercampur dengan bau kayu manis dan hujan sore yang baru reda. Rasanya seperti kembali ke masa lalu—masa di mana Om Velo sering menjemputku dari kampus kalau hujan turun tiba-tiba.

“Kabar ayahmu gimana?” tanyanya.

“Sehat, Om.”

“Syukurlah.” Dia mengangguk. “Al selalu keras ke dirinya sendiri, tapi lembut ke anaknya.”

Aku tersenyum tipis. Kalimat itu terasa akurat.

“Oh ya,” katanya tiba-tiba, seolah baru ingat sesuatu, “Al bilang kamu sekarang sudah menikah, ya?”

Aku mengangguk lagi. “Iya, Om.”

“Dengan anaknya Xen, kan?” katanya sambil tersenyum. “Xander?”

Deg.

Dadaku seperti ditekan mendadak. Nafasku tercekat sepersekian detik. Aku menatap Om Velo. Dia… lebih kaget dariku.

Raut wajahnya berubah cepat. Senyumnya memudar, alisnya mengerut, lalu tubuhnya sedikit menegang.

“Eh—” Dia terkekeh canggung. “Maaf, Om salah sebut.”

Aku memiringkan kepala. “Xander?” tanyaku pelan. “Siapa ya, Om?”

Om Velo terlihat kikuk. Tangannya bergerak meraih ponsel, lalu meletakkannya lagi. Pandangannya menghindar. “Bukan… bukan itu maksud Om,” katanya cepat. “Siapa nama suamimu, Ay?”

“Arman.”

“Nah.” Dia mengangguk terlalu cepat. “Iya. Arman.”

Nama itu keluar seperti koreksi yang dipaksakan.

Nama Om Velo dipanggil barista. “Pak, pesanannya sudah jadi.”

Dia langsung menoleh, seolah itu penyelamat. “Ah, iya.”

Aku refleks bergerak maju. “Om—”

“Om duluan ya,” katanya sambil meraih gelas kopi. “Ay, kapan-kapan mampir ke rumah Om. Kopimu sudah Om bayar.”

“Om—”

Dia sudah melangkah pergi.

“Jaga diri, Ay,” katanya sambil melambaikan tangan, langkahnya tergesa.

Aku berdiri terpaku di antara meja dan kasir. Kopiku dingin di tangan. Ada sesuatu yang tertinggal di udara—bukan aroma kopi, tapi pertanyaan.

Xander.

Xen.

Nama itu tidak asing. Tapi juga tidak punya tempat di memoriku. 

Kalau Om Velo tahu sesuatu, pasti ayah juga menyimpan satu rahasia ... berarti ini bukan kebetulan.

'Tapi, kalau aku bertanya sekarang,' batinku, dia akan menutup diri.

Aku duduk kembali. Menatap meja kayu penuh coretan nama orang lain. Jantungku masih berdetak lebih cepat dari biasanya.

Aku tidak mengejar Om Velo. Aku memilih menyimpan petunjuk ini. 

Malam itu aku menerima pesan dari Arman ["Sudah bobok, Ay?"]

Aku membaca. Tidak langsung membalas. Beberapa menit kemudian. 

["Minum yang hangat ya."]

Aku tersenyum kecil. Mengetik balasan singkat. ["Iya, ini mau tidur."]

Tidak ada percakapan panjang. Tapi kehadirannya terasa. Seperti seorang pengawal pribadi, tak nampak tapi diam-diam memperhatikan, meski aku cuek.

***

Hari-hari berikutnya berjalan cepat. Diklat menyita waktu. Materi, diskusi, laporan. Aku pulang ke penginapan dengan tubuh lelah, kepala penuh dengan tugas.

Evalia muncul di pikiranku. Kata-katanya terus berputar. “Yang buruk itu bukan dijodohin, Ay. Tapi kalau pasangannya nggak mau repot.”

Arman repot. Diam-diam masuk ke keseharianku. Aku yang justru memilih diam. Kadang Arman mengirim pesan. Kadang menelpon sebentar. Aku malah menjawab seperlunya. 

Bukan karena ingin acuh. Aku hanya sedang menimbang. Bandung memberiku terlalu banyak ruang untuk berpikir.

Suatu sore, setelah sesi diklat selesai lebih cepat, aku kembali ke kafe itu. Duduk di meja sudut—tempat aku dan Raka dulu sering bertengkar soal tugas.

Bandung sore ini lebih dingin. Bukan menusuk, tapi membuat orang ingin duduk lebih lama. Aku memilih meja sudut dekat jendela, yang ada colokannya.

Sekarang colokan itu kosong. Kabel tak saling bersilangan. Tidak ada suara Raka yang mengeluh laptopnya lowbat atau minta hotspot dariku.

"Dulu, Raka selalu berkata aku terlalu patuh. Terlalu ingin menyenangkan semua orang.

“Kamu tuh harus berani egois dikit, Ay,” katanya waktu itu. Aku tersenyum pahit mengingatnya

Aku duduk sendiri.

Di meja seberang, sepasang mahasiswa tertawa pelan. Mereka berbagi satu piring kentang, saling menyodorkan potongan terakhir seolah itu hadiah kecil.

Aku memalingkan pandanganku ke luar jendela. Jalanan basah. Orang-orang berjalan cepat, sebagian menenteng tas kerja, sebagian lain memegangi payung.

Aku menyesap kopi. Pahit. Sama seperti dulu.

Bedanya, dulu aku selalu mengeluh, dan Raka akan menukar cangkirku dengan punyanya. Sekarang, aku memilih pahit itu sendiri.

Kupikir aku sudah siap sendirian. Nyatanya, duduk di tempat yang terlalu mengenal masa laluku membuat dadaku terasa penuh—bukan rindu, lebih seperti kelelahan yang tak pernah selesai.

Ponselku bergetar pelan di atas meja. Dari Arman. ["Udah makan?"]

Aku membaca tanpa langsung membalas. Jemariku berhenti di atas layar. Aku tahu, kalau kubalas sekarang, percakapan kecil akan menyusul. Tanya jawab ringan. Perhatian sederhana.

Dan entah kenapa, aku ingin menunda itu sebentar. Aku mematikan layar ponsel, membiarkannya terbalik. Bukan karena ingin acuh. Aku hanya… ingin mendengar pikiranku sendiri tanpa suara siapa pun.

Beberapa menit berlalu. Getaran lagi.

["Jangan telat ya. Perut kamu nggak kuat."]

Aku tersenyum tipis. Refleks. Kalimatnya tidak panjang. Tidak mengikat. Tapi terasa hadir. Seperti seseorang yang berdiri agak jauh, tidak mengganggu, tapi memastikan aku masih terlihat.

Aku mengetik satu kata : Belum. Kukirim. Lalu kubalik lagi ponselnya. Aku sadar, Arman tidak menuntut. Tidak juga mendesak.

Akulah yang sedang belajar—bagaimana caranya tetap sendiri tanpa membuat orang lain merasa ditinggalkan.

Aku menghela napas. Menyadari sesuatu, Arman tidak hadir di kenanganku, tapi nyata mengelilingiku. Dan entah sejak kapan, itu mulai berarti.

Kopi di cangkirku tinggal separuh. Uapnya menipis. Aku menggeser kursi sedikit, menyandarkan punggung, memperhatikan kafe yang mulai lebih ramai. Beberapa wajah terasa familiar. Beberapa tidak.

Aku ada di kota yang mengenalku, tapi hidupku sudah tidak sepenuhnya milik tempat ini.

Aku berdiri, berniat ke kasir untuk membayar dan pergi. Tanganku meraih tas, langkahku baru dua ketuk ketika suara itu terdengar.

“Ayla?” Aku menoleh. Suaranya terasa familiar. 

.

.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!