Doaku tetapi Bukan Pilihanku
Petunjuk Om Velozigra
Sebelum pulang, kuputuskan mampir ke rumah Om Velozigra. Sekadar pamit, dan—kalau memungkinkan—bertanya sekali lagi soal nama yang salah sebut kemarin.
Om Velo menyambutku hangat. Senyumnya ceria, sambil mengajakku masuk ke dalam. Rumah itu masih sama seperti ingatanku, rapi, nyaman, dan penuh aroma kopi.
Kopi susu kali ini disuguhkan di hadapanku. Warnanya lebih terang dari kemarin. Kucecap pelan—manisnya pas, tidak berlebihan. Seperti sengaja disesuaikan dengan lidahku.
“Mau pulang, Ay?” tanyanya.
“Iya.” Kutaruh kembali cangkir kopi di meja, memperhatikan Om Velo yang masih asyik menyesap minumannya, seolah waktu sore itu tidak sedang mengejarku.
“Om,” panggilku.
“Ya?” Dia menoleh.
Aku diam sesaat, memberi jeda, memastikan suaraku tidak terdengar tergesa. “Ayah… Om Velo… sahabatan dengan Xen, kah?”
Om Velo tersedak. Tidak keras, tapi cukup membuatnya terbatuk kecil. Dia cepat menguasai dirinya lagi, menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangan. Jawaban itu tidak langsung keluar, tapi reaksinya sudah cukup menjawab.
“Kok tiba-tiba nanya gitu, Ay,” ujarnya akhirnya, menatapku dengan senyum yang dipaksakan tetap semringah.
“Aku…” Aku menarik napas pelan. “Beberapa kali dengar nama Xander,” kataku lirih. “Berarti benar?”
Om Velo terdiam. Diamnya bukan bengong—lebih seperti menimbang. Aku melanjutkan sebelum keberanianku surut.
“Xander itu… Arman?” tanyaku tegas, menatapnya lurus.
“Ayla…” namaku keluar dari mulutnya seperti peringatan halus.
Aku memilih diam. Menunggu. Memberinya ruang untuk bicara.
“Ada hal-hal,” katanya akhirnya, suaranya tenang tapi berat, “yang kadang lebih baik nggak kita tahu sekarang. Alasannya apa? Pasti ada. Dan biasanya… demi kebaikanmu. Demi semuanya.” Tangannya mengepal pelan di atas lutut, lalu mengendur lagi.
“Setidaknya aku tahu siapa dia sebenarnya,” bantahku, nadaku meninggi tanpa sadar. “Udah tahu ya sudah.”
Om Velo mengangguk kecil. “Tapi…”
“Tapi apa?” potongku.
“Tanya ayah saja, ya, Ay.” Suaranya melembut. “Om nggak berhak ikut campur. Ini soal kalian.” Setelah itu, dia kembali menyeruput kopinya, seolah percakapan barusan sudah mencapai batasnya.
Tak lama kemudian, istri Om Velo datang dari luar membawa satu kantong belanja besar. Katanya oleh-oleh untukku dan ayah. Selain itu, sebuah amplop tebal diselipkan ke tanganku—kado pernikahan yang katanya terlambat.
Aku mengangguk, mengucap terima kasih, lalu pamitan. Meski tidak mendapatkan jawaban utuh, setidaknya aku membawa pulang satu kepastian kecil : ayah berada di poros semua ini.
Aku diantar sopir Om Velo ke stasiun. Beliau sendiri bersiap mengantar istrinya ke rumah sakit—kontrol tahunan ke poli jantung.
Mobil melaju pelan. Aku menatap keluar jendela, membiarkan pertanyaan-pertanyaan itu duduk diam di kepalaku. Kata Om Velo, tidak semuanya perlu dijawab hari ini.
***
Aku pulang dari diklat sore itu dengan badan lelah yang terasa sampai ke tulang. Perjalanan panjang, materi yang padat, dan kepala yang terlalu penuh membuatku lebih banyak diam sepanjang jalan.
Arman menjemputku di stasiun tanpa banyak tanya. Dia berdiri sedikit menjauh dari pintu keluar, seperti biasa—tidak mencari perhatian, tapi selalu terlihat.
“Capek banget, Dek,” katanya begitu melihatku.
Aku mengangguk. “Lumayan.”
Dia mengambil tasku tanpa diminta. Tidak ada drama, tidak ada kalimat manis. Kami berjalan ke mobil dengan langkah sejajar. Arman selalu berjalan di sampingku, tidak di depan, tidak di belakang. Seolah ingin memastikan aku tidak tertinggal, tapi juga tidak diburu-buru.
Hujan turun tipis. Jalanan basah memantulkan lampu sore yang mulai redup. Aku menyandarkan kepala ke jok, memejamkan mata sebentar.
“Mau langsung pulang atau makan dulu?” tanya Arman.
“Makan sedikit boleh.”
Dia mengangguk. Mobil berbelok ke arah yang kukenal. Warung kecil, tidak ramai, tidak terlalu terang. Angkringan yang kemarin.
Arman kali ini mengajakku ke bagian dalam. Ternyata di sana banyak kedai menjual aneka paket nasi kampung ataupun serba ayam.
Aku langsung bersemangat. Sepertinya kami akan sering ke sini. Kayak bangun kebiasaan yang baru dengannya.
Kami duduk berhadapan. Arman memesan seperti biasa. Aku memperhatikan caranya bicara ke pelayan—singkat, sopan, tidak bertele-tele.
Aku baru sadar, sejak menikah, aku sering memperhatikannya diam-diam. Bukan karena curiga, tapi karena ingin tahu.
Makanan datang. Aku mengaduk nasi, belum benar-benar ingin makan. Tapi bau bumbu ayam rempah ini menggoda.
“Kelasnya gimana?” tanya Arman.
“Capek, tapi menarik. Banyak diskusi.”
Dia mengangguk, menyuap makanannya. Tidak memaksaku bercerita lebih jauh. Diamnya Arman itu selalu memberi ruang, untuk memilih mau bicara atau tidak.
Aku akhirnya menyuap nasi. Pedasnya pas, hangatnya turun pelan ke perut yang kosong sejak siang. Badanku mulai rileks, meski lelah belum benar-benar hilang.
“Kamu kurusan,” kata Arman tiba-tiba.
Aku mendongak. “Hah?”
“Dikit,” katanya singkat, lalu melanjutkan makan seolah itu bukan hal penting.
Aku tersenyum kecil. “Diklat, Kak. Makannya suka kelewat.”
“Hm.” Dia mengangguk. “Jangan dibiasakan.”
Nada suaranya datar, tapi aku tahu itu perhatian. Arman tidak pernah membungkus kepedulian dengan nada tinggi.
Kami makan dalam hening beberapa menit. Hujan di luar mulai sedikit deras. Suara gerimis bertemu atap seng, ritmenya pelan dan konstan.
“Kamu ke Bandung sempat ketemu siapa aja?” tanyanya akhirnya.
Aku berhenti mengunyah. Pertanyaannya terdengar biasa. Tidak menyelidik apalagi curiga.
“Beberapa orang,” jawabku jujur. “Teman lama. Kenalan ayah.”
Arman mengangguk. Tidak menanyakan nama. Tapi aku justru merasa ingin menambahkan, tapi kata-kata itu tertahan. Tentang Om Velo. Tentang nama yang salah sebut. Tentang Xander.
“Bandung masih sama?” tanyanya lagi.
“Sama,” jawabku. “Tapi sekarang aku yang berbeda.”
Dia mengangkat wajah. Menatapku beberapa detik lebih lama dari biasanya. “Beda gimana?”
Aku mengangkat bahu. “Nggak tahu. Kayak… nggak lagi pengin berlama-lama di sana.”
Arman menurunkan pandangannya ke piring. “Oh, baguslah.”
Aku menatapnya. “Kenapa?”
“Berarti kamu sudah selesai dengan satu fase.”
Kalimat itu sederhana, tapi menempel di kepalaku. Aku melanjutkan makan. Di dalam dada, ada sesuatu yang menghangat. Arman tidak pernah mencoba menggantikan masa laluku. Dia hanya hadir di masa kini, konsisten, tanpa tuntutan.
Setelah makan, Arman membayar. Aku berdiri, meraih tasku, tapi dia sudah lebih dulu menggenggamnya.
“Nanti mandi pake air hangat,” katanya saat kami sampai di mobil. “Biar nggak masuk angin.”
“Iya.”
Di perjalanan pulang, aku memandangi jalanan yang basah. Lampu-lampu kota seperti memanjang, samar. Aku merasa… pulang. Bukan hanya ke rumah, tapi ke ritme yang mulai terasa akrab.
Sesampainya di rumah, Arman menurunkan tasku di ruang tamu. Ponselnya bunyi dan gegas masuk ke kamarnya, pintunya tak tertutup, sekilas aku melihat tas ransel Arman di atas kasur. Juga beberapa baju yang belum dia masukkan.
"Iya, aku sedang siap-siap."
Apakah dia akan pergi?
Lalu panggilan itu berakhir. Dia keluar, menutup pintu dan langsung ke dapur, memasak air untukku mandi. Aku mengejarnya.
"Kak!"
.
.