Doaku tetapi Bukan Pilihanku

Penggalan Kisah

“Dek.”

Panggilan itu keluar lirih, hampir tenggelam di antara sisa isak yang belum sepenuhnya reda.

“Iya, Kak,” jawabku lirih.

Aku tidak melepaskan pelukan. Tanganku masih di punggungnya. Panas tubuh Arman menembus kaos tipisku, bercampur bau debu dan lembap rumah tua ini. Nafasnya belum stabil. Dada itu naik turun berat, seperti habis berlari jauh tanpa tahu garis akhir.

Beberapa saat kami hanya diam. Tidak ada kata yang terasa tepat untuk diucapkan dan aku tidak tahu harus mengatakan apa.

Arman tidak langsung menatapku. Dia perlahan menarik diri, melepaskan pelukan.

Masih berdiri di ambang pintu kamar itu. Punggungnya tegak, tapi bahunya turun, seperti melepaskan beban yang baru saja runtuh. Tangannya tergenggam di sisi tubuhnya. Nafasnya berat, belum sepenuhnya pulih.

Aku tidak mendekat. Tidak menyentuh karena beberapa luka hanya perlu ditemani.

Beberapa detik berlalu dalam diam. Lalu Arman melangkah masuk ke kamar itu.

Langkahnya pelan. Hati-hati. Mataku mengikuti geraknya.

Kamar ini lebih bersih dibanding ruangan lain. Masih lembap, tapi tidak separah ruang tengah. Ada lemari kayu besar di sudut. Catnya terkelupas, tapi ukirannya masih jelas. Tirai jendela sudah pudar, tapi tergantung rapi.

Arman berhenti di depan lemari. Dia membuka pintunya perlahan. Isinya pakaian lama. Kebanyakan perempuan. Warna-warna lembut. Ada beberapa yang masih digantung rapi. 

Tanganku mengepal tanpa sadar.

“Ibu aku meninggal duluan,” kata Arman tiba-tiba. Suaranya datar, tapi dadanya naik turun lebih cepat.

“Waktu itu aku belum siap kehilangan.”

Aku menelan ludah. Tidak menyela.

“Setelah itu,” lanjutnya, “rumah ini jadi terlalu sepi buat ayah.”

Arman menatap lemari itu lama lalu menutupnya pelan. Seperti menutup sesuatu yang terlalu menyakitkan untuk dilihat lama-lama.

Arman berbalik, melangkah keluar kamar. Aku mengikutinya, tetap menjaga jarak.

Kami berhenti di kamar sebelah.

Kamarnya.

Lebih kecil. Dindingnya penuh bekas paku. Ada rak buku yang roboh. Poster yang warnanya sudah tak terbaca. Sebuah meja belajar miring di sudut ruangan.

Arman berdiri di tengah kamar. Matanya menyapu sekeliling. Rahangnya mengeras.

“Aku ditarik keluar dari sini,” katanya pelan. “dipaksa.”

Aku terdiam.

“Waktu itu… katanya demi keamanan. Demi aku,” dia terkekeh kecil, pahit. “Aku bahkan nggak sempat ngambil apa-apa.”

Tangannya terangkat, menyentuh meja belajar itu. Jarinya mengusap permukaannya, meninggalkan jejak di debu tebal.

“Ayah masih di sini waktu itu,” lanjutnya. “Beliau nolak pergi.”

Arman berhenti bicara. Tenggorokannya bergerak, menelan ludah kasar. Suaranya parau, terlalu ditekan agar terdengar datar.

“Beberapa bulan kemudian… beliau dikabarkan hilang lalu tiba-tiba meninggal.”

Aku menutup mata sebentar. Dadaku sesak. Jadi ini rumah yang ditinggalkan bukan karena lupa. Tapi karena keadaan memaksa.

Aku tidak berkata apa-apa. Tidak bertanya kenapa. Tidak menuntut cerita lanjutan. Aku hanya mendengarkan dengan seluruh ragaku.

Arman menarik napas panjang. Berdiri lebih tegak. Seperti orang yang memutuskan untuk menyelesaikan sesuatu.

Dia keluar dari kamar, berjalan ke ruang tengah. Berdiri di sana. Menatap rumah itu utuh—retak, rusak, ditinggal—tapi masih berdiri.

Aku akhirnya melangkah lebih dekat. Tidak menyentuhnya. Hanya berdiri di sampingnya.

“Aku pikir… kalau aku nggak balik,” katanya pelan, “rasa ini juga nggak akan balik.”

Dia menoleh padaku sekilas. Mata itu lelah, merah, tapi jujur terlihat rapuh.

“Ternyata rumah ini nunggu.”

Aku mengangguk kecil. Tidak mencoba menenangkan. Tidak mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Karena aku tahu, tidak semua luka perlu diyakinkan begitu.

Arman menghembuskan napas, menengadah. Kami berdiri dalam diam. Cahaya tengah hari masuk dari jendela pecah. Debu menari pelan. Dan sunyi ini tidak lagi menakutkan.

Arman mengambil bingkai yang masih terpajang di dinding.

“Aku cuma mau ambil beberapa barang, dikit.”

Aku mengangguk. Mengamatinya dari ruang tengah. Siap menerima benda kenangannya.

Dia mengambil bingkai foto, album foto kecil juga miniatur rumah ini. Sesekali Arman berhenti. Menatap sudut-sudut rumah. Wajahnya tidak lagi sendu, tapi masih menyimpan kehilangan yang tidak akan selesai di sini.

Aku meliriknya tanpa sengaja. Dan di saat itu aku sadar—Arman bukan hanya lelaki yang kupikir kukenal. Dia adalah seorang anak yang kehilangan rumah, orang tua, dan waktu… lalu akhirnya berani kembali.

Saat matahari condong ke barat, Arman berdiri di tengah ruang tamu. Aku di sampingnya.

“Kamu nggak harus ada di sini, Dek,” katanya.

Aku menoleh. “Aku tahu.”

Namun aku tetap berdiri, bukan karena dimintanya tapi memilih tinggal di sisi Arman.

***

Setelah dari sana, Arman mengajakku ke satu tempat. 

Makam dengan nisan sederhana.

Tanahnya rapi, bersih. Tidak ada bunga segar, hanya rumput yang dipangkas teratur. Penjaga makam sempat menyapa kami tadi, suaranya datar seperti orang yang sudah terlalu sering melihat keluarga datang dan pergi.

“Sudah lama nggak ada yang ke makam ini, Mas,” katanya. “Bertahun-tahun. Tapi uang pemeliharaan selalu dibayar tepat waktu.”

Aku menoleh sekilas ke Arman. Dia hanya diam. Menggenggam tanganku lebih erat. 

Kami berdiri di depan dua nisan berdampingan. Nama ibu Arman tertera, tanggal wafatnya lebih awal. Ayahnya menyusul beberapa tahun setelahnya.

Arman menunduk. Napasnya tertahan. “Mama…” suaranya rendah, hampir berbisik. “Aku… pulang.”

Dia melirikku sepersekian detik. Lalu jongkok di sisi kepala nisan ibunya. “Ini Ayla,” katanya lagi, nada suaranya sedikit lebih lembut. “Istriku. Putrinya Om Al.”

Aku tertegun.

“Waktu diajak ke sini dulu,” lanjut Arman, senyum getir tersungging di bibirnya, “dia masih TK. Ingat kan?”

Aku membeku.

Eh. Kok aku lupa? batinku. Potongan ingatan itu seperti hilang. Mungkin mmeoriku terlalu kecil untuk menyimpan kenangan itu.

Arman menunduk lebih dalam. Tangannya menadah, bibirnya bergerak pelan berdoa untuk ibu dan ayahnya. Aku ikut menunduk, mendoakan dengan caraku sendiri. 

Beberapa menit kemudian Arman bangkit. Mengusap wajahnya kasar. Menatap kedua nisan itu lagi.

“Aku…” dia menarik napas. “Aku bakal sering-sering ke sini.” Lalu dia melirikku, senyum tipisnya muncul. “Dengan Ayla,” katanya. “Kalau menantu mama ini masih mau sama aku.”

Aku menyenggol lengannya pelan. “Apaan sih,” gumamku. Entah kenapa rasanya aku tersenyum, begitu saja.

Kami pergi dari makam itu saat Matahari sudah condong ke Barat, jam makan siang sudah lewat ketika kami memutuskan berhenti di warung sederhana di pinggir jalan.

Bangunannya tua. Meja kayunya panjang, mengkilap karena sering dilap. Seorang ibu setengah baya menyapa kami.

"Ini warung langganan ayah kalau habis ke makam mama," bisik Arman sambil mencari tempat duduk. "Untung masih buka, jadi bisa ajak kamu makan di sini," lanjutnya ketika sampai di meja.

Menunya sederhana, seperti masakan rumahan orang jaman dulu. Aku bingung, dan meminta Arman memilihkan untukku.

Kami duduk, perutku sudah protes sejak tadi. Pesanan pun datang. Arman hanya memesan minum. Teh hangat.

Aku ikut hendak menyisihkan piringku. Tapi, tatapan tajam Arman menghentikanku. “Jangan,” katanya singkat.

Aku menurutinya, mengambil sendok lagi. Tak ingin debat. Arman sedang lelah—bukan fisik, tapi hatinya. Aku tahu rasanya.

“Habiskan,” katanya kemudian. Senyum tipis muncul. “Makan yang banyak.”

Aku mengangguk pelan sambil makan. 

Setelah itu kami kembali ke hotel. Jalan pulang terasa lebih sepi dan cepat. Kepalaku mulai berat. Rupanya badanku seperti baru sadar betapa capeknya aku.

“Gantian nyetir aja,” tawarku pelan.

Arman menoleh sekilas. “Nggak usah," ujarnya kembali melihat jalanan. “Bobok aja,” lanjutnya. “Tidurmu nggak bener sejak Diklat. Makanya ngantuk melulu.”

Aku bersandar. Menutup mata sebentar. Tapi satu pertanyaan mengganjal.

“Kak,” tanyaku pelan. “Tadi… kenapa ada yang bilang rumah itu milik negara?”

Arman tidak langsung menjawab. “Disita, Dek.”

Aku membuka mata. “Hah? Kenapa?”

Dia melirikku sekilas. Tatapannya datar, tapi rahangnya mengeras.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!