Doaku tetapi Bukan Pilihanku
Arman cemburu
Rumah Zenix sunyi, hanya ada dengung kipas tua, ada suara jauh kendaraan lewat sesekali, ada napas orang-orang yang mencoba memejamkan mata setelah hari panjang.
Aku terbangun karena ranjang kecil itu berdecit pelan.
Arman sudah duduk di lantai. Sajadah terhampar rapi. Selimut tipis hanya menutup setengah tubuhnya. Di pangkuannya, amplop coklat tua itu terbuka lagi. Berkas-berkas tersusun. Foto ayahnya diletakkan paling atas.
Cahaya dari layar ponsel kecil di tangannya memantul ke wajahnya. Membuat bayangan tajam di bawah mata. Aku melihatnya tanpa benar-benar bangun.
Ia tidak membaca lagi.
Hanya menatap.
Foto itu—wajah seorang lelaki yang asing tapi sekaligus terasa akrab. Rambutnya rapi, tatapannya tenang. Mungkin bukan seperti wajah dalam kenangannya. Ini versi lain ayahnya yang keras dan pendiam.
Aku melihat cara Arman mengusap tepi foto itu dengan ibu jarinya. Sangat pelan. Seperti takut merusaknya.
Nama itu mungkin berputar-putar di kepalanya. Armani Yaris. Xander Raize. Dua nama. Satu tubuh.
“Aku nggak tahu harus jadi siapa sekarang, Dek,” katanya akhirnya. Suaranya rendah. Hampir seperti bicara bukan padaku. Tapi aku tahu kalimat itu ditujukan ke arahku.
Aku tidak langsung menjawab. Aku turun dari ranjang. Duduk di sampingnya. Lalu, tanpa berkata apa-apa, aku letakkan tanganku di atas tangannya yang memegang foto itu. Hangat. Sedikit gemetar.
“Kak,” kataku pelan. “Jadi kamu aja. Yang sekarang.”
Ia mengangguk kecil. Tidak menatapku. Tapi napasnya terdengar lebih teratur.
Kami duduk begitu cukup lama. Sampai rasa kantuk datang lagi. Dan tertidur dalam keadaan duduk, saling menyandarkan kepala.
Paginya entah kenapa kami terlihat canggung. Tidak ada pembahasan panjang soal kemarin dan semalam.
Kami sarapan seadanya di ruang tengah. Istri Zenix membuatkan teh hangat. Zenix sudah bersiap berangkat. Semuanya terasa… terlalu normal untuk sesuatu yang kemarin mengguncang hidup seseorang.
Setelah itu, aku kembali ke kamar anaknya. Merapikan tas. Menunggu. Mereka masih berbincang di ruang tengah.
Dari balik pintu yang setengah terbuka, aku mendengar Arman keluar ke teras. Langkahnya menjauh sedikit. Lalu suara ponsel berdering.
Ia mengangkatnya. Nada suaranya berubah lebih lembut.
Aku bisa mendengar tawanya kecil.
“Iya… sudah ketemu,” katanya.
“Hah? Iya, aku tahu.”
“Haha… nggak sabar, ya?”
“Iya. Hari ini pulang kok.”
Aku berhenti melipat baju. Entah kenapa, dadaku terasa mengganjal.
Tak lama kemudian, Arman masuk lagi. Ponselnya sudah di saku. Wajahnya… berbeda. Lebih ceria.
“Telepon siapa sih, asik amat,” sindirku sambil melirik. Nada suaraku datar, tapi aku tahu ada sesuatu yang aneh.
“Ada deeehh,” jawabnya sambil terkekeh.
Menyebalkan.
“Ciyeeee,” balasku cepat. “Yang mau kangen-kangenan.”
Ia tertawa kecil lagi. Tidak membantah. Tidak menjelaskan.
Aku mendengus pelan.
Kami lalu pamit pada Zenix dan istrinya. Ucapan terima kasih disampaikan berulang.
Sebelum keluar, Arman berhenti. Ia mengeluarkan dua keping emas berat 20 gram dari saku kecilnya. Ia menyerahkannya ke tangan istri Zenix.
“Terima kasih,” katanya sungguh-sungguh. “Sudah jaga Zenix. Dan… tetap hidup layak.”
Istri Zenix terkejut. Menolak setengah hati. Zenix menunduk dalam. Matanya berkaca-kaca.
“Saya tidak akan sering-sering menghubungi Tuan Muda,” kata Zenix pelan. “Takut… masih ada yang menganggap Anda ancaman.”
Arman mengangguk. “Aku ngerti.” Ia lalu menatap Zenix. “Tapi kamu tahu kan… aku di mana.”
Zenix mengangguk mantap.
Kami berjalan keluar bersama. Sampai gang awal, tempat kami pertama bertemu kemarin. Mereka berhenti di sana.
“Demi keselamatan semua,” kata Zenix.
Kami berjabat tangan.
Aku menoleh sekali lagi sebelum benar-benar pergi. Rumah itu kembali terlihat biasa. Seperti tidak pernah menyimpan sejarah apa pun. Di sampingku, Arman berjalan tenang.
***
Perjalanan pulang terasa sunyi. Karena tidak ada yang perlu diucapkan.
Arman lebih sering menggenggam tanganku sekarang. Seolah takut aku menghilang kalau dilepas. Entah sadar atau tidak, bibirnya sempat menyentuh punggung tanganku. Singkat. Tapi cukup membuat dadaku bergetar kecil.
Aku refleks ingin menarik tanganku. Tapi genggamannya mengerat. Menahan.
Ponselku tiba-tiba bergetar. Aku tahu siapa yang menelepon. Dan sebuah ide nakal muncul, begitu saja.
“Iya,” kataku.
Arman melirik sekilas. Pandangannya cepat kembali ke jalan, tapi rahangnya mengeras sedikit.
Nada suaraku kulembutkan. Mendayu. Sengaja.
“Oh… iya, boleh,” kataku sambil tersenyum kecil. “Kapan?” lirih, seolah rahasia.
Arman melirik lagi. Kali ini lebih lama.
“Hmm… iya. Hari ini pulang kok,” lanjutku pelan.
“Siapa sih?” suara Arman terdengar rendah, hampir berbisik. Tapi ada sesuatu di sana. Tegang.
Aku melirik wajahnya. Tangan kanannya mencengkeram setir lebih erat. Tangan kirinya—yang menggenggam tanganku—ikut menguat.
“Ish, sakit,” protesku kecil.
Lalu aku buru-buru menimpali telepon. “Eh, maaf, bukan sama kamu loh!”
Arman menoleh cepat. “Dek!”
Aku pura-pura tak dengar. “Maaf ya, sudah dulu. Iya, boleh. Hati-hati ya,” kataku manja, lalu menutup telepon.
Aku menoleh ke jendela, menahan senyum. Lalu menunduk, pura-pura acuh.
“Iya iya,” gumam Arman. “Yang udah move on langsung dapat ganti.”
Aku diam. Tidak membantah. Tidak juga mengiyakan.
Dalam hati aku bersorak. Sokoorrr. Rasain.
Padahal yang menelepon adalah Agya. Adikku sendiri. Mau pinjam mobilku karena tidak diizinkan pakai mobil ayah.
Sesampainya di hotel, Arman langsung sibuk. Mengecek tas, dokumen, ponsel. Teliti seperti biasa. Seolah tadi tidak terjadi apa-apa.
Aku tidak ikut campur. Langsung masuk kamar mandi. Badanku lengket, kepalaku penuh.
Beberapa menit kemudian, aku keluar sudah berganti baju.
“Gak usah dandan!”
Aku tersentak. Arman sudah berdiri di dekat meja, pouch makeupku ada di tangannya.
“Heh! Balikin!” seruku.
“Nggak.”
“Armaaaaann!” Aku mendekat, berusaha merebut. Tapi dia melangkah maju. Aku mundur refleks. Kakiku mentok ranjang—dan aku jatuh terduduk, lalu terbaring.
Arman mengikuti gerakku. Tangannya bertumpu di sisi tubuhku. Mengungkung. Tidak menyentuh—tapi jaraknya terlalu dekat.
Tatapan matanya tajam. Seolah sedang mengukur setiap inci wajahku.
Deg.
Napas kami terdengar jelas di antara jarak yang sempit itu.
“Kamu sengaja, ya,” katanya pelan.
“Apa?” aku berusaha terdengar santai.
“Tadi. Di mobil. Kamu tahu aku dengerin,” lanjutnya. “Nada suara kamu itu bukan buat sembarang orang.”
Aku memalingkan wajah sedikit. Menghindari tatapannya. “Kamu cemburu?”
Arman tidak langsung menjawab. Matanya turun sebentar—ke bibirku—lalu naik lagi.
“Aku nggak suka,” katanya jujur. “Nada bicaramu begitu ke orang lain.”
'Padahal itu Agya,' batinku, tapi tidak kuucapkan.
“Balikin pouch-ku,” kataku pelan, berusaha mengalihkan.
Arman mendekat sedikit lagi. Tidak menyentuh. Tapi cukup membuat dadaku sesak.
“Nanti,” katanya.
“Kenapa?”
“Karena kalau kamu dandan,” suaranya rendah, tertahan, “aku harus kerja keras buat bersikap tenang.”
Aku terdiam.
Beberapa detik berlalu. Ia mendengus pendek. Lalu—tiba-tiba—mundur. Berdiri tegak dan mundur. Melempar pouch itu ke ranjang.
“Pakai secukupnya,” katanya singkat. “Aku tunggu di luar.”
Pintu kamar terbuka. Lalu tertutup. BRAK.
Aku duduk perlahan. Menarik napas panjang. Menatap pouch di sampingku. Jantungku masih belum kembali ke ritmenya.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, aku sadar—main-main dengannya ternyata…
tidak sepenuhnya aman.
"Marahnya serem, sih."
.
.