Doaku tetapi Bukan Pilihanku
Penjelasan Ayah
Aku tak langsung menjawab. Aku menunduk. Tanganku saling meremas, kuku menekan kulit sendiri.
Emosiku meledak bukan karena satu hal. Bertubi-tubi digempur kejadian dalam waktu dekat.
Dicampakkan Raka. Dinikahkan tanpa tahu apa-apa. Tak pernah benar-benar diberi pilihan sejak dulu.
Dan hari ini, aku tahu Ayah terlibat sejak awal soal identitas Arman.
Pantas Om Velozigra bilang, [“Ini urusan kalian.”]
Dadaku sesak. Kepalaku berdenyut. Semua emosi datang bersamaan tanpa permisi. Darahku naik terlalu cepat, dan sekeliling berputar, lalu gelap.
“Ayla—!”
Aku tak sempat jatuh ke lantai. Tubuhku lebih dulu roboh di pelukan Arman.
Saat aku siuman, kepalaku masih berat. Tanganku dingin. Arman ada di dekat kakiku. Wajahnya tegang.
Ayah berdiri tak jauh dari ranjang. Untuk pertama kalinya, kulihat wajah Ayah murung.
Aku berpikir, apakah Ayah baru paham bahwa Arman bukan sekadar anak titipan yang menurut. Arman punya pilihan.
“Ayah minta maaf,” katanya akhirnya. Suaranya terdengar serak. “Ke kamu, Ayla. Ke Abang juga.."
Dengan nada berat, ayah menjelaskan semuanya. Tentang masa lalu Arman. Alasannya diam selama 20 tahun ini. Semua hanya karena menjaga amanah, membuat aman semuanya.
Aku menyimpulkan, ketakutan yang menyamarkan kebenaran. Mungkinkah yang dilawan Xen Hatsu bukan orang biasa?
Pening menyergapku, tapi masih mendengar saat ayah bilang, Xen membiarkan semua harta yang terdeteksi atas namanya disita negara. Agar mereka tak mencari Arman. Semuanya dipaksa diam.
"Bahkan ayah tidak diberi tahu saat Xen, diasingkan, lalu lenyap dan tiba-tiba dikabarkan meninggal."
"Xen, karib ayah di BEM dulu. Velo nekad menjemput Abang di titik Zenix membuangmu," ayah menunduk, suaranya bergetar.
"Maka, tugas ayah menjaga Abang, sampai sekarang sebab banyak yang dipertaruhkan. Bukan ayah nggak mau buka ini... Ayah cuma takut," tutur Ayah, tangannya sesaat mengepal lalu mengendur lagi.
"Takut karena?" cicitku.
"Karena lengah... Asik mencari jejak masa lalu dan ceroboh. Lalu mereka melenyapkanmu, bagaimana ayah?"
Aku diam, Arman juga menunduk dalam.
"Abang memang bukan anak kandung ayah. Tapi ayah," suara ayah terjeda, dia menahan isak. "Ayah sayang. Kamu harta Xen satu-satunya. Amanah yang dia titipkan pada ayah."
Akhirnya aku mengerti. Banyak yang ditahan ayahku ternyata selama ini.
"Nama itu, ayahmu yang minta. Arman... artinya bijaksana. Hope," sambungnya sebelum ayah keluar kamarku, dengan langkah gontai, meninggalkan aku dan Arman.
Aku menangis, akhirnya tumpah setelah lama ditahan. Merasa bersalah ke ayah.
Arman lalu membantuku duduk. Pelan. Aku tertunduk.
“Kamu nyesel nikah sama aku,” katanya lirih, “tapi aku perlu tahu alasan logisnya.” Ia diam sejenak.
Aku menyeka wajah, mataku masih sembab. “Kenapa kamu baru mulai nyari sekarang, Kak?” tanyaku sambil menatap selimut.
“Karena menikah ... aku bakal pisah KK dengan ayah,” jawabnya jujur. “Dan kalau kamu enggan nerusin pernikahan ini… aku akan mulai hidupku sendiri.” Ia menarik napas.
“Aku bukan gak tahu balas budi. Cuma khawatir masa laluku bakal mencelakai kalian.”
Aku mendongak, menatapnya lama.
“Aku kudu gimana…?”
“Terserah kata hatimu, Dek,” katanya pelan. “Aku gak maksa.”
“Kamu mau ke mana?” tanyaku lirih.
“Entah. Kebun itu bakal aku jual. Emas juga. Buat modal hidup baru. Dagang kek, jadi petani kek. Apa aja,” ucapnya ragu, menatap lantai.
“Kamu bakal sendirian.”
Ia tersenyum tipis. “Gak apa. Kan semua mahluk, awal akhirnya adalah sendirian...”
Aku menggeleng pelan. “Aku bingung,” kataku. “Kamu mau nikah sama pacarmu, kan?”
Arman tertawa kecil, getir. “Pacar manalagi? Aku gak punya pacar. Eh… punya deng," dia melirikku.
“Kan—” aku menghela napas panjang. “Kamu mau hidup sama dia.”
“Aku sih mau,” katanya ringan. “Entah dianya.” Arman melihatku, pandangannya teduh.
“Terus aku gimana…?" Aku menengadah, memejamkan mata. Sisa butir bening itu kurasakan jatuh di pipi.
Ia menghela napas panjang. “Ya Tuhan,” gumamnya, hampir tersenyum. “Dia gemesin, padahal lagi sikon gini.”
Beberapa saat berlalu tanpa suara. Lalu aku bertanya, pelan, hampir seperti bicara pada diri sendiri,
“Perempuan yang sering kamu telepon itu… siapa?”
Ia menoleh. Menunggu pertanyaanku berikutnya.
“Pacarmu, kan?”
“Bukan,” jawabnya. “Pacarku cuma satu sejak lama. Meski gak pacaran.”
Aku mengernyit, mencerna kalimat Arman. “Terus dia siapa?”
“Seseorang,” katanya jujur. “Yang bikin semua ini kebuka, Dek.”
Aku diam lama. Mengerjap. “Jadi?”
Ia menunduk. “Gak jadi… jadi. Kamu sudah tahu siapa aku. Masa laluku. Kalau kamu mau mundur, gak apa, Ay.”
“Mundur gimana?”
“Masing-masing.”
Kata itu jatuh pelan. Tapi membuat hatiku mencelos. “Pisah?” ulangku lirih.
“Iya.”
“Masih ada yang nyari kamu?” bisikku, sudah tak ada lagi tenaga.
“Nggak," jawab Arman. "Selama aku gak muncul.”
Aku menarik napas panjang. Tanganku kembali saling meremas. Ada gemetar kecil yang tak bisa kusembunyikan.
“Kalau kamu pergi,” kataku, suaraku hampir hilang, “jangan sendirian.”
Arman mendongak. Menatap wajahku tak berkedip.
“Ayla—”
Aku tak melanjutkan. Takut mengakui kebenaran yang mengetuk pelan hatiku.
Arman tak berkata apa-apa lagi. Dia tiba-tiba mendekapku ke pelukannya.
Aku menangis di dadanya. Belum ada keputusan dariku soal pernikahan ini tapi rasanya aku belum siap untuk kehilangan lagi.
***
POV Arman.
Aku duduk sendiri di teras samping. Kopi di cangkir sudah dingin. Aku lupa menyesapnya sejak tadi karena pikiranku terlalu penuh.
Ayla tertidur di dalam. Nafasnya masih belum stabil sepenuhnya.
Tadi… dia pingsan di pelukanku. Dan entah kenapa, dadaku sesak melihatnya rubuh.
Aku menyandarkan punggung ke kursi. Menatap halaman yang gelap. Malam ini terlalu sunyi untuk isi kepala yang berisik.
Ayahnya akhirnya bicara. Semua yang selama ini hanya misteri, hari ini menjadi utuh. Tentang Xen ayahku, namaku dan alasan aku “disembunyikan”.
Dan juga Ayla… yang ternyata sejak awal ikut terjebak dalam kebohongan yang bukan pilihannya.
Aku menghela napas panjang. Perempuan itu kembali terlintas di kepalaku. Tatapannya waktu itu. Suaranya yang pelan, tapi penuh tekanan.
“Cari Zenix.”
Sekarang aku tahu, mungkin ini bukan sekadar soal wasiat. Tapi soal membuka sesuatu yang seharusnya tetap tertutup.
Dan aku… tidak mau jika keselamatan Ayla dan ayah Al yang jadi taruhannya.
Aku memejamkan mata.
Apa aku akan mengenalkannya ke Ayla?
"Tidak," gumamku.
Keselamatan mereka adalah kebenaran yang sebenarnya. Aku langsung menghapus nomer wanita itu. Memutus semua jalur lama.
"Ayah ... Aku sudah memilih menjadi Arman Yaris. Putra adopsi Al Pharda. Suami Ayla."
Aku menunduk. Menekan pelipisku sendiri.
"Bodohnya aku… Kenapa malah menyuruhnya memilih?"
Kenapa harus pakai kata pisah?
Bagaimana kalau tadi Ayla memilih mundur? Dan benar-benar melepaskanku? Dadaku kembali sesak.
"Baru dua bulan, Man, masa langsung jatuh cinta?" batinku getir.
Dua bulan, dan kamu sudah cemburuan. Aku tersenyum miring. Menertawakan diri sendiri tanpa suara.
"Ish, bodoh!" Aku berdiri. Melangkah pelan menuju pintu kamar.
Tanganku terhenti di kenop. Aku tidak masuk, hanya memastikan dia aman.
"Bang!" Aku menoleh.
.
.