Doaku tetapi Bukan Pilihanku

Keputusan Arman

Aku bangun pagi dengan kepala masih berat.

Dari balik pintu, aku mendengar langkah mereka ke sana sini. Seperti ada yang akan pergi.

“Baaaang, aku anterin ke depan.”

Suara Agya terdengar dari luar, bikin jantungku mencelos.

Pergi?

Aku langsung duduk, kepalaku terasa nyut-nyutan. Sekeliling tampak sedikit berputar, tapi tak dihiraukan. Aku menyibak selimut, gegas turun dan membuka pintu.

Tapi, pandanganku langsung kabur. Tepat saat ayah melintas di depan kamar.

Gubrak.

"Ayla!" serunya panik. “Bang!” dia memanggil Arman.

“Baaaaang! Abaaaaaanggggg!”

Pintu depan terbuka lebar, kulihat samar Arman berlari masuk. Agya ikut muncul dari arah kamar mandi, masih pakai handuk, sikat gigi menggantung di mulut.

Belum sempat aku mengeluh, Arman sudah mengangkat tubuhku. Aku reflek memejamkan mata, malu, nyeri, dan kaget bercampur jadi satu. Ia membawaku kembali ke kamar.

“Mau ke mana sih, Kak?” tegur ayah, suaranya masih tinggi karena panik. “Belum fit juga.”

Aku masih memejam. Merasa bodoh. Ada rasa bersalah karena bikin ayah sekaget itu.

Baru kali ini aku mendengar ayah berteriak memanggil Arman seperti tadi.

Arman menurunkanku pelan ke ranjang. Tangannya langsung menyentuh dahiku.

“Demam lagi?” tanya Ayah di belakang Arman.

Arman menggeleng pelan. “Mana yang sakit, Dek?” Ia menunduk sejajar denganku, suaranya rendah, saat aku menggeser tubuhku pelan.

Agya berdiri di ambang pintu, menatap kami sambil menyikat gigi. “Drama pagi banget,” gumamnya tak jelas.

Aku membuka mata. Semua pasang mata tertuju padaku.

Aku tersenyum kecil, menatap Arman. “Hehe… kukira aku ditinggal pergi."

“Yeee, si Ayam mulai lebai,” kata Agya, lalu melengos pergi. Aku mencebikkan bibir, sebal dengan panggilan yang sering Agya sematkan untukku kalau dia bete.

Ayah masih menatapku beberapa detik sebelum menghela napas. “Pergi ke mana emang,” katanya, melirik ke Arman. “Paling ke pabrik.”

Pandangan ayah lalu beralih ke arahku, “Diem dulu napa, Ay. Ayah nanti yang izin ke atasanmu.” Ayah keluar kamar dengan langkah masih tergesa.

Hanya ada kita berdua.

Arman masih menatapku. Ada kekhawatiran di sorot matanya.

“Mana yang sakit?” tanyanya lagi. “Tadi jatuhnya gimana?”

“Lutut,” jawabku. “Kesrimpet selimut," elakku mencari alasan agar tak ketahuan panik mendengar seruan Agya tadi.

Ia menyingkap selimut sedikit, aku spontan menahan selimut saat dia akan membuka lebih lebar. Aku masih enggan dia melihat bagian dari tubuhku yang tertutup. Meskipun kini kerudungku entah kemana.

Kejadian ini membuat Arman mulai sering melihatku tanpa hijab. Rambutku terurai begitu saja, sekarang kakiku.

"Liat," liriknya.

"Nggak boleh." Aku bersikukuh.

Dia tidak memaksa, lalu jarinya menyusuri tulang kering kakiku sampai ke lutut. 

Aku meringis. “Sakit.”

“Ya iyalah,” gumamnya. Dia lalu menarik selimutku ke samping. "Lecet, Dek." 

Aku diam. Perasaan tadi cuma jatuh. Kok bisa lecet ya, pikirku.

Arman menatapku. “Ngapain buru-buru turun? Mau ke mana?”

Aku menelan ludah. “Kukira kamu jadi pergi…”

Ia menghela napas pendek. “Aku? Memang mau pergi. Tapi nunggu kamu bangun.”

“Ke mana?” tanyaku.

Arman bangun, meraih ponselnya dari saku lalu menyodorkannya ke arahku.

Di layar, tertera satu nama perempuan. Foto profilnya jelas. “Dia?” suaraku refleks naik.

Arman tersenyum tipis, seperti sudah menduga reaksiku. “Yang kamu tuduh pacarku.”

Aku merengut, dadaku langsung panas. “Ini siapaaa, iiihh!”

Arman malah tertawa, menggeleng saat kembali duduk di tepi ranjang. "Cemburuan emang ya," ejeknya padaku.

"Ish!" gerutuku sebel.

Tangannya meraih kakiku lagi, lebih pelan sekarang. Ibu jarinya memijat sekitar lutut yang lecet. 

“Tadinya aku mau ajak kamu, Dek,” katanya sambil fokus ke kakiku. “Tapi kayaknya lebih aman kalau kamu nggak ikut.”

“Kenapa?” tanyaku cepat.

Ia terdiam sebentar. Tekanan jarinya berhenti. Lalu lanjut lagi, memijat lebih lembut. “Aku sudah memilih.”

Dadaku mulai berdebar. “Memilih apa?” Aku bahkan takut mendengar jawabannya.

“Memilih menjalani apa yang sudah ayah tata buatku,” jawabnya tenang. “Jadi Arman.” Ia mendongak, tersenyum kecil.

Aku menelan ludah. Kenapa senyumnya dia di saat serius begini malah bikin aku sering salting? Huft.

“Lalu?” tanyaku, nyaris berbisik.

“Ya itu,” katanya ringan. “Mau pergi bentar.”

“Yakin?” 

“Iya.” Ia mengangguk cepat. “Aku juga mau jual kebun. Mau ngilang aja.”

“Ngilang?” alisku terangkat.

“Iya.” Ia mengangguk lagi. “Biar anak istriku nyaman. Aman. Ayah juga. Semuanya lah.”

Kalimat itu terdengar berat di telingaku. “Anak… istrimu?” ulangku, pelan tapi tajam.

Arman menatapku lama. Seperti sedang menunggu jawabanku atau dia mungkin ragu dengan keputusannya?

“Aku gimana?” tanyaku akhirnya.

Ia berdiri. Mengendikkan bahu ringan, lalu keluar kamar. “Ya entah,” katanya. “Kamu aja maunya gimana.”

Dadaku nyeri.

Di tanganku masih ponselnya. Ia lupa mengambilnya. Pintu kamar hampir tertutup saat layar itu menyala.

Berdering.

Satu nama muncul di layar, wanita itu.

Aku memanggilnya cepat, sebelum ia makin jauh. “Kak… ponselmu bunyi.”

Tak lama, Arman kembali masuk sambil membawa salep di tangannya. Ia duduk lagi di sisi ranjang, wajahnya serius.

“Angkat,” katanya sambil membuka tutup salep. “Pakai loudspeaker. Tapi kamu jangan ngomong, ya.”

Aku mengangguk. Jariku agak gemetar saat menekan tombol hijau.

“Xander?”

“Iya.”

Aku menahan napas. Arman tetap fokus ke lututku, tapi telinganya siaga.

“Gimana, sudah pulang?”

“Aku langsung ke tempat Mbak ya.”

“Kapan?”

“Siang, habis Dzuhur.” Arman melihatku sekilas. 

“Sama dia?” tanyanya di ujung sana.

Arman menghela napas pelan. “Nggak. Dia sudah memilih. Aku nggak bisa maksa.”

Ada jeda singkat di seberang sana. “Oh. Oke. Aku tunggu.”

“Iya.”

Arman mengangguk, memintaku menyudahinya. Tapi suara perempuan itu terdengar lagi.

“Xander… setelah ini apa?”

Arman berhenti mengoleskan salep. Diam cukup lama sampai dadaku ikut menegang.

“Baiknya gimana?” jawabnya akhirnya.

“Kamu keturunan Xen,” suara itu terdengar mantap. “Nggak mudah goyah. Ayahmu pasti sudah nyiapin kamu.”

Arman mengangguk, meski lawan bicaranya tak bisa melihat. “Terima kasih, Mbak. Sampai ketemu.”

Klik.

Telepon ditutup. Ponselnya kuletakkan begitu saja di kasur.

“Nah,” katanya pelan sambil kembali ke lututku, “dengar kan?”

Aku mengangguk. Ada rasa aneh di dadaku tapi bukan cemburu. Lebih ke… bingung. Kenapa dia mau tahu rencana hidup Arman? Ada apa ini?

“Kok gitu, ya?” gumamku tanpa sadar.

“Makanya,” katanya ringan, “nggak usah ikut, ya. Tunggu aku pulang. Oke?”

Aku menatap wajahnya. Senyumnya lembut, sambil menutup pouch salep.

“Nanti kita jalan-jalan,” lanjutnya. “Biar kamu nggak sumpek. Mau?”

Aku mengangguk cepat. Terlalu antusias sampai dia sempat terkekeh kecil.

Kami diam setelah itu. Tangannya sibuk menata bantal agar aku nyaman berbaring. Merapikan rambutku agar tak mengganggu ketika aku miring kanan kiri.

Dia mengatur suhu kamar, agar tidak terlalu dingin. Ponselnya masih tergeletak di kasur. Tak berdering lagi.

Masih jam 9 pagi. Tapi mataku sudah berat lagi. 

"Bobok aja, masih lama," kata Arman, meraih ponselnya dan duduk di ujung ranjangku.

Aku tak menanggapi, hanya menguap dua kali dan kelopak mataku mulai menutup. 

"Dek...."

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!