Doaku tetapi Bukan Pilihanku
Siapa lagi Siti
Jelasin apa?” aku memotong. “Jelasin kenapa pagi-pagi nelpon Siti? Jelasin kenapa kamu lupa jemput aku? Atau jelasin kenapa kamu ganti nomer?
Arman terdiam.
Aku berhenti. Menoleh padanya. “Aku pulang cepat, dan lupa ngabarin. Tapi kamu juga lupa aku ada, kan?”
Kalimat itu keluar begitu saja. Bahkan aku terkejut dengan suaraku sendiri.
Arman menatapku lama. Wajahnya masih tenang. Ada sesuatu di matanya—bukan kesal, tapi… menahan senyum.
Itu yang bikin aku makin jengkel. “Kamu senyum-senyum,” kataku. “Kenapa?”
Arman menghela napas pelan. “Dek…”
“Apa!!!!” sentakku, masih berdiri dengan wajah cemberut.
“Siti itu yang jaga stand aku.”
Aku terdiam. “Hah?”
“Stand es,” ulangnya, kali ini sambil tertawa kecil yang jelas-jelas ditahannya sejak tadi pagi. “Yang suka ngasih laporan penjualan harian stand. Namanya Siti.”
Aku membuka mulut tapi gegas menutupnya lagi. “Oh.”
Sunyi beberapa detik.
Arman melangkah lebih dekat. “Dan soal nomer baru,” lanjutnya, suaranya lebih lembut. "Biar aku tenang jadi suaminya Ayla, kan memutus masa lalu.”
Aku menelan ludah.
Jadi… aku cemburu sendiri?
Arman menunduk sedikit agar sejajar denganku. “Kalau jealous jangan gemesin, Bu.”
“Ish, siapa pula,” jawabku cepat. Melengos pergi.
“Dek.” Arman menarik jemariku, meremasnya pelan.
Aku menoleh padanya. “Aku cuma…” menghela napas. “Kesel.”
Arman tersenyum lagi. Kali ini nggak ditahan. “Iya. Maaf.”
Aku melengos. “Jangan GR.”
Arman terkekeh, tapi matanya hangat. “Lain kali,” katanya pelan, “aku jelasin tanpa diminta. Dan kamu juga… jangan lupa ngabarin kalau pulang cepat.”
Aku diam, mengangguk kecil. “Deal.”
Tapi saat aku melangkah pergi, dia berbisik, “Mau tau Siti nggak?"
Aku berhenti, mengangguk.
"Tunggu bentar ya, Nyonya Arman, aku laporan ke ayah dulu," katanya sambil memutariku lalu membuka pintu mobil dan memintaku masuk.
Dan sialnya, aku malah senyum tipis. Membuatnya mencubit pipiku lalu berjalan cepat masuk ke pabrik.
Aku menunggu di dalam mobil. Kaca agak buram oleh debu. Aku lupa kapan mencuci mobilku terakhir kali. Dan Arman, kenapa tidak mencucinya ke cucian mobil, kan dia yang make, rutukku.
Aku menghela napas, menyandarkan kepala ke jok. Kenapa sih aku gampang banget kebakar emosi begini?
Padahal jelas-jelas aku sendiri menganggap Arman biasa saja tapi malah ngamuk gak jelas. Aku menatap spion. Wajahku masih keliatan bete.
Tapi, tanganku masih terasa hangat, berkat genggamannya tadi. Nyonya Arman.
Beberapa menit berlalu.
Aku memainkan ujung lengan baju sendiri, bingung dengan perasaanku. Tiba-tiba pintu mobil terbuka.
“Kita ke kampus,” suara Arman terdengar ringan.
Dia masuk, menutup pintu, lalu duduk memasang sabuk pengaman.
“Kok lama,” kataku
“Iya,” jawabnya santai. “Soalnya ayah nanya.”
“Nanya apa?”
“Kenapa istriku ngambek.”
Aku menoleh cepat. “Hah?”
Arman menoleh, sorot matanya genit. “Aku bilang, kamu kangen .”
Aku mendengus. “Pede.”
Mobil mulai berjalan pelan keluar dari halaman pabrik.
Beberapa detik sunyi, lalu Arman berkata, “Bener nih, mau ketemu Siti?”
Jantungku langsung refleks berdegup.
“Emang… dia di mana?” tanyaku hati-hati.
“Di stand,” jawabnya singkat. “Lagi jualan.”
Aku menatap keluar jendela. "Stand?”
Arman melirikku sekilas. “Iya.” Dia tersenyum tipis.
Mobil berbelok. Ke arah sebuah kampus. Jujur saja, aku baru tahu kalau Arman kuliah di sini. Jurusan apa, aku nggak pernah nanya apapun soal dia ke ayah.
Pandanganku ke sekeliling, kampus ini lumayan besar. Mobil terparkir rapi. Arman turun dan membukakan pintu untukku.
"Kuliah di sini, Kak?"
"He em. Ekonomi," jelasnya sambil berjalan ke dalam. "Suamimu ini Sarjana, Dek," kekehnya melihatku.
Aku menunduk. Kok dia tahu ya, aku pernah meremehkannya.
Arman masuk lewat pintu samping. Beberapa gadis ayu menyapanya semringah. "Hai, Bang Arman."
"Iih, Abang ganteng lama gak keliatan."
Dua. Empat. Enam kali.
"Populer amat, Pak." Aku menatap lurus, datar.
Arman tertawa kecil, dia lalu menarik tanganku dan menggandeng sepanjang lorong.
Kantin kampus itu jauh berbeda dari bayanganku.
Bangunannya memanjang, atap tinggi dengan rangka besi hitam, lampu gantung kuning temaram, dan dinding semen ekspos yang bikin tempat itu terasa hangat. Enam stand berjajar rapi, masing-masing dengan konsep sendiri. Mahasiswa duduk bergerombol, sebagian ngetik, sebagian sekadar ngobrol sambil nyeruput minuman.
“Ini kantin barunya?” tanyaku pelan.
Arman mengangguk. “Tiga tahun lalu. Dibangun pas aku udah lulus. Baru rame dua tahun terakhir.”
Kami berjalan menyusuri jalan setapak di tengah. Beberapa mahasiswa menoleh, sebagian langsung menyapa Arman.
“Bang Arman!”
“Bang, jaga stand lagi aja dong."
“Varian baru enak, Bang.”
Arman cuma senyum singkat, mengangguk sopan. Bilang terima kasih, dia masih menarikku.
Stand es teh ada di tengah. Bannernya sederhana, tapi menarik. Termos berjajar. Toples gula dan daun mint tersusun bersih. Di belakang meja, seorang perempuan berhijab sedang mencatat di buku.
Tatapannya sekejap bingung. “Ini, Teh Ayla?” katanya begitu melihatku.
Aku mengangguk. “Iya.”
Siti tersenyum ramah. “Bang Arman sering cerita.”
Aku refleks melirik Arman. Dia pura-pura tak melihat kami.
Aku ngobrol dengan Siti. Dia menjelaskan, penyewanya yang dulu pindah lokasi. Jualan di sini gak boleh sama. Dia dipekerjakan Arman karena suaminya kenal baik dengan Arman.
Sabtu setengah hari, kalau hari biasa buka mulai jam 8 sampai jam 4 sore. Semua pembayaran di lakukan di kasir yang di pegang kampus.
"Oh, tapi tetep laporan tiap hari?" tanyaku.
"Iya, laporan stock bahan baku dan penjualan. Kalau setoran uang, Bang Arman dengan pihak kampus langsung," jelas Siti.
"Aku ditawari dospem pas acara reunian, Dek. Iseng awalnya cuma ngisi stand kosong tapi kok seneng juga jualan ya akhirnya aku langsung bayar sewa tahunan sampai sekarang," imbuh Arman.
Oh, dia punya usaha sampingan selain kerja sama ayah, pikirku. Kantinnya rame, suasananya mendukung buat diskusi atau ngerjain tugas. Juga estetik.
Belum sempat lanjut bicara, seorang mahasiswa pria berdiri dari kursi dekat stand. Tinggi, jaket almamater terbuka, senyumnya lebar.
“Mbak,” katanya ke arahku. “Es tehnya satu.”
Aku refleks menoleh ke Siti. Tapi pria itu malah bicara padaku.
"Karyawan baru ya?"
Aku masih diam, datang lagi mahasiswa lain. Berdiri di depan stand. "Tapi, seragamnya puskesmas, loh,” katanya ke pria tadi.
“Berarti Mbak nakes?” tanya mereka antusias.
"Iya," jawabku singkat.
“Keren. Aku sering ke puskesmas itu.”
Aku tersenyum sopan. “Oh ya?”
“Iya. Mbaknya ramah-ramah,” katanya sambil tertawa kecil. “Masuknya jam berapa biasanya?”
Belum sempat kujawab, suara Arman menyela. “Kamu mau es apa?”
Mahasiswa itu menoleh. “Eh, Bang.”
Arman mencondongkan tubuhnya di depan toples yang berjajar, menatap mereka bergantian. “Dia itu ....Istriku.”
Aku terdiam, mengulum senyum.
Mahasiswa itu saling menoleh, dan mengangguk canggung. “Maaf, Bang.”
Siti cepat-cepat mengambil alih. “Aku buatkan ya.”
Mereka kembali duduk. Tapi sebelum itu, sempat melirikku sekali lagi.
Arman beralih menatapku. “Pulang yuk."
"Ih, aku baru mau nyobain es nya. Nanti ah," elakku.
Arman meraih cup lalu mengisinya dengan es batu, daun mint dan leci. Satu dibiarkan es batu saja. Dia membuat dua cup es teh dengan rasa berbeda.
"Nyoba sambil jalan pulang." Dia menenteng 2 cup di depan wajahku. "Aku gak suka kamu digodain," katanya datar dan keluar stand.
Siti senyam senyum daritadi. Aku pun pamit padanya.
"Aku juga nggak suka kamu dikira karyawan, kamu istriku." Arman berjalan pelan di depanku.
Aku menahan senyum.
Beberapa mahasiswa lain datang. Sebagian jelas menunggu Arman. Ada yang memberi saran menu minuman, ada yang sekadar menyapa.
Saat di lorong, aku menyejajari langkah Arman. “Protektif amat.”
Dia menoleh. “Biarin. Nunggu terlihat sampe lumutan, dapatnya karena beruntung. Masa dibiarin gitu aja.”
Aku mengangkat alis. Hah, apa maksudnya barusan?
Aku tersenyum, kali ini nggak kutahan. Arman masih diam, sementara aku menyesap teh buatannya begitu masuk ke mobil.
"Enak, Kak."
Arman menoleh ke arahku, lalu tiba-tiba mobilnya menepi. Dia membuka sabuk pengaman. Tangan kirinya menopang di sisi jokku. Tubuhnya miring, nyaris menyentuh pipiku.
"Jangan tebar pesona."
Sedotan masih menempel di bibirku. Tatapan Arman turun ke bibir lalu kembali menatapku.
Glek.
.
.