Doaku tetapi Bukan Pilihanku
Rezeki itu ada Tiga macam
"Siapa tebar pesona?* kataku lirih, masih menggigit sedotan.
Arman tiba-tiba menarik tuas jok. Kursiku merebah mendadak.
“Aaaaa!” teriakku refleks.
Tubuhnya kini setengah menindihku. Satu tangannya menopang di sisi jok, wajahnya dekat. Tatapannya tajam, tak berkedip, seolah lupa bahwa kami sedang di dalam mobil yang menepi asal di pinggir jalan.
“Jangan bikin aku lupa, Dek,” bisiknya.
Tatapannya turun, singgah di bibirku yang masih menggigit sedotan. “Kalau aku maksa,” lanjutnya pelan, suaranya rendah dan berat, “berabe kamu nanti.”
Deg.
Deg.
Deg.
Sial. Jantungku berdebar kencang, mana jarak wajah kami tak sampai se inci.
Parfum Arman menyeruak. Campuran keringat tipis dan aroma yang selalu sama—yang entah kenapa, siang ini terasa… seksi, mengganggu kewarasanku.
Hening.
“Eh—heem.” Aku berdehem kaku.
Seolah baru tersadar, Arman menarik tubuhnya menjauh. Duduk tegak kembali, memasang sabuk pengaman, menyalakan mesin, lalu mobil melaju seolah tak terjadi apa-apa.
Aku?
Membeku.
Beberapa detik kemudian baru kusadari kursiku masih rebah. Dengan kikuk, aku menaikkan tuasnya, kembali duduk tegak. Canggung. Bahkan sampai mobil masuk ke halaman rumah dan diparkir.
Arman tak berkata apa-apa. Dia turun lebih dulu dan langsung masuk mengambil kunci motor.
“Aku ke pabrik,” katanya singkat. “Jangan ke mana-mana. Bobok aja.” Dia berlalu melintasiku begitu saja.
Pintu depan tertutup.
Aku masih berdiri mematung, dua cup es masih di tangan. Tas kuletakkan di sofa depan lalu aku duduk di meja makan.
Enak.
Aku menyeruput lagi, menyesap rasa dan iseng menulis di secarik kertas kecil. Rasanya tak rela jika Arman hanya mendengar pendapat para mahasiswa genit itu.
Aku juga harus memberinya masukan positif, pikirku. Aku menulis...
Leci tea — enak. Meski esnya larut semua, rasanya stay dari awal sampai akhir.
Original tea — manis, sepet, warnanya cantik, wanginya khas.
Kulipat kertas itu, kuselipkan di bawah cup, lalu masuk ke kamar.
Tak lama, terdengar suara pria memanggil dari depan. Aku mengintip dari jendela, ternyata ... Ojol.
"Ayla Armani?" Ejanya pada tulisan di kertas order.
"Iya." Mulai menyematkan namanya, maksud Arman apa? batinku saat menerima bungkusan itu.
"Bau makanan, wangi sekali," gumamku kembali masuk. Baru saja menutup pintu, ponselku berbunyi.
["Dek, emam ya. Aku lupa ngajak makan sebelum pulang tadi."]
Aku membacanya, lalu hanya membalas dengan emot jempol di kalimat Arman.
Pesan masuk lagi.
["Kalau mau pergi, bilang ya."]
Aku duduk di sofa, menyalakan TV, lalu membuka isi kiriman itu. Tak membalas pesan Arman lagi.
Tumis sayur. Ikan dori fillet saus Padang. Sambal tempe. Ada botol kecil berlabel jus apel dan seledri, juga potongan melon oranye yang sudah dikupas rapi.
Aku tersenyum kecil. “Udah kayak MBG,” gumamku. “Lengkap amat, Pak.”
Aku memfoto makanannya, memberi caption : empat sehat lima gemoy, lalu kukirim ke Arman.
Tak lama, balasannya masuk.
["Empat glowing lima seksi. Habiskan ya. Nggak apa gemoy. Punyaku ini."]
Aku tertawa pelan membaca kalimat terakhir, ~Punyaku.
Aku menatap layar ponsel agak lama. Kok rasanya… seperti sedang dimiliki oleh seseorang? Dan anehnya, aku tidak menolak perasaan itu.
*
Aku benar-benar tidak ke mana-mana. Perutku kenyang, sampai terasa penuh, karena Arman minta bukti—foto makanan yang sudah habis.
Aku memang nggak tega buang makanan. Apalagi bohong soal makan.
Sejak mama nggak ada, aku dan Agya terbiasa makan apa yang ayah sediakan. Ayah selalu bilang, rezeki itu ada tiga : yang dipakai, yang dimakan, dan yang dinikmati.
Jadi soal makanan, aku nggak pernah pilah-pilih.
Tak lama setelah kukirim foto kotak kosong itu, ponselku bergetar. Voice note Arman masuk.
“Terima kasih, istriku.” Suaranya tenang. Hangat.
Aku tersenyum kecil, lalu mengunci pintu, merebahkan diri di depan TV. Selimut kutarik menutup badan. Tanpa sadar, mataku terpejam.
Entah berapa lama tertidur, aku perlahan membuka mata saat mendengar suara pintu yang dibuka dari luar.
“Assalamualaikum." Arman masuk. "Dek?”
Suara Arman terdengar samar, seperti dari ujung mimpi. Aku masih setengah sadar.
Sofa sedikit berderit. Tubuhnya sudah duduk dekat kepalaku. Ruang tengah redup, hanya lampu kecil di sudut yang menyala. Tangannya mengusap punggungku pelan, seperti bahagia melihatku pulas.
“Masih bobok rupanya,” gumamnya.
Aku menggeliat kecil. Lalu suaranya terdengar sangat dekat dengan telingaku.
“Mandi, belum asar kan?”
“Engh…” jawabku asal, lalu membalikkan badan, memunggunginya.
Beberapa detik hening.
“Habis mandi, jalan-jalan yuk,” katanya lagi. “Makan pecel ayam. Mau nggak?” Suara lembutnya, terasa menempel di cuping telingaku.
Aku berbalik—dan cup.
Pipiku kecium.
Tangannya sontak menahan kepalaku, sehingga wajahnya menempel sedikit lebih lama. Aku mendadak kaku. Jantungku berdegup aneh.
Kok aku diam aja? Ayla, kenapa diem…
“Gemes,” bisiknya.
Tangannya menyelip ke punggungku, menarikku pelan agar duduk. Aku masih setengah ngantuk, tubuhku menyandar lemas kembali.
Dia berdiri, dengan senyum samar di wajahnya.
“Mau bangun sendiri, langsung mandi,” katanya santai, “atau aku gendong sekalian dimandiin?”
Mataku langsung melebar. Aku bangkit cepat, menyeret selimut masuk ke kamar.
“Omes mulu,” gumamku.
Tawa Arman terdengar dari ruang tengah lalu menghilang di balik pintu kamarnya.
Jam menunjukkan pukul lima sore. Arman sudah menunggu di teras, duduk santai. “Dek, ayo. Keburu Maghrib.”
Aku keluar terburu-buru, menyambar tas dan jaket.
Kami naik motor, melaju cukup jauh sampai berhenti di sebuah warung pecel ayam pinggir jalan.
Aku menoleh. “Loh… ini langgananku.”
Arman hanya tersenyum, lalu menarik tanganku masuk ke tenda sederhana itu.
“Makan dulu atau itungan dulu, Kang?” tanya bapak paruh baya di sana, menyapa Arman.
Aku sempat terdiam. Itungan? Arman punya utang di sini? Kalau iya, memalukan, sih.
“Makan dulu aja,” kata Arman. “Aku lapar." Lalu menoleh padaku. “Dek, mau apa?”
“Aku nggak pake nasi. Ayam rempah aja, lalap sambal.”
“Teh Ayla ya?”
Aku terkejut. “Eh… kok Bapak tahu namaku?”
Bapak itu tersenyum.
“Tau lah, Teh. Ternyata langganan warung juga ... hampura atuh, nggak kondangan. Atuda tiba-tiba pisan.”
Aku menoleh ke Arman, kok si Bapak tahu banyak, ada apa ini?
Tapi dia malah sibuk dengan ponselnya. Sekilas kulihat layar, laporan Siti — 80 cup. “Alhamdulillah. Terima kasih,” ketiknya.
“Nggak apa, Pak,” kataku akhirnya, menyahuti beliau.
Makanan datang. Aku makan tanpa nasi. Tapi Arman menyodorkan piring nasi ke depanku.
“Nggak ah. Masih kenyang.”
“Mam,” pintanya. “Satu dua suap.”
Aku membuka mulut. Dia menyuapiku. Dan entah kenapa… lagi-lagi aku nurut.
Selesai makan, aku meraih dompet. “Pak, berapa?”
Bapak itu menggeleng. “Nggak usah, Teh.”
“Kok?”
Bapak itu hanya tersenyum, lalu bicara pelan dengan Arman. Dia mengeluarkan buku kecil, membuka halaman tertentu, lalu menyodorkan segepok uang ke atas meja.
Aku terpaku. Hah… apa ini?
Arman memintaku duduk lagi. Tangannya menahan pergelanganku pelan, seolah ingin memastikan aku tetap di sana.
Dia lalu berdiri, bicara sebentar dengan bapak penjual itu. Mereka berjabat tangan. Arman memasukkan uang tadi ke saku bagian dalam jaketnya, seperti hal yang sudah biasa.
Bapak itu menarik bangku, duduk setengah menghadapku.
“Warung pecel ini sebenernya punya saya, Teh,” katanya pelan. “Tapi modalnya dari Akang Arman. Dari awal kami sepakat, hasil dibagi dua.”
Aku terdiam, mendengarkan.
“Pernah, Teh… bapak niat jelek,” ia tertawa kecil, tapi nadanya getir. “Pas warung rame, kepikiran buka cabang sendiri. Mainin modal, ngurangin pegawai. Taunya…
"Taunya apa, Pak?" tanyaku, tak sabar.
.
.