Doaku tetapi Bukan Pilihanku

Curiga

Di tempat kerja, aku lebih sering melamun daripada menatap layar. Tulisan di dokumen menunggu kulirik, tapi pikiranku tertinggal di rumah.

Arman lagi apa, ya?

Pertanyaan itu datang berkali-kali. Namun, segera kupatahkan dengan logikaku. 

"Ngapain sih, mikirin suami jadi-jadian?"

Tapi setiap kali ponselku bergetar, mataku spontan melirik—berharap dia mengirimiku pesan. Dan anehnya aku merasa kecewa saat yang muncul cuma notifikasi grup kerja.

“Baru nikah kok lesu?” celetuk temanku sambil tertawa.

Aku ikut tersenyum. Tipis. “Masih capek,” jawabku singkat.

"Ciyeeeee," balasnya cengengesan, membuatku memutar bola mata malas.

Padahal yang kurang bukan tidur. Tapi penasaran akut.

Aku pulang saat matahari hampir tenggelam. Badanku lengket, kepala berat. Yang kuinginkan cuma mandi dan diam.

Namun, begitu pintu kubuka, suara itu lagi.

“Iya… pelan-pelan aja,” suara Arman terdengar dari dapur.

Nada suaranya rendah. Hati-hati. Lembut.

Tidak seperti saat bicara denganku.

Dadaku langsung berdebar, kupercepat langkah menuju dapur, ingin tahu Arman bicara dengan siapa.

“Obatnya diminum,” lanjutnya. “Berkabar, ya.”

Aku berhenti di lorong. Tanganku masih memegang tas. Lagi. Selalu pas aku nggak ada, dia telponan entah dengan siapa.

Aku berdehem, bersandar di dinding pintu penghubung antara dapur dan ruang tengah.

“Ngomong sama siapa?” tanyaku, tanpa basa-basi.

Arman menoleh kaget. Ponselnya masih di telinga. Ia sempat menatapku, lalu berkata pelan ke arah ponsel, “Nanti aku telepon lagi, ya. Istirahat dulu.”

Klik. Telepon ditutup.

Aku melempar tas ke sofa. “Rahasia banget, kayaknya," ucapku sinis sambil bersedekap.

Arman berdiri kikuk. Tangannya masuk ke saku celana, memasukkan ponselnya. Gerakan kecil yang tenang, membuatnya berdiri tegap.

“Maaf,” katanya pelan. “Nggak bermaksud ngumpet-ngumpet, Dek.”

“Oh, jadi sekarang terang-terangan, gitu?” kataku cepat. “Aku pulang, kamu lagi telepon. Aku bangun, kamu gitu juga.” Tatapanku masih menegas untuknya.

“Aku cuma—” ia berhenti sebentar, memilih kata. “Lagi bantu orang.”

“Orang?” aku terkekeh pendek. “Atau seseorang?”

Ia menatapku, lalu menghela napas kecil. “Ada hal yang belum bisa aku ceritakan sekarang.”

Jawaban itu tidak menenangkanku. Justru sebaliknya. Aku makin terpancing.

“Oh.” Aku menyeringai tipis. “Takut ketahuan?"

“Bukan,” katanya cepat. “Ini… soal lama.”

“Soal lama yang bagaimana? Kok masih sering telponan?” cecarku kesal dengar alasannya. Aku menyilangkan tangan. “Pacarmu?”

Arman terdiam.

Dan entah kenapa, diamnya selalu terasa seperti pengakuan di kepalaku.

Aku mendengus. “Awas aja kalau kawin lagi.”

Kalimat itu keluar begitu saja. Tajam. Setengah marah, setengah asal, dan aku menyadari kebodohan barusan.

Shit. Batinku.

Arman justru terdiam sebentar… lalu tertawa kecil. Bukan mengejek. Lebih seperti menahan geli.

Aku melotot. “Kenapa ketawa?”

Ia mengusap tengkuknya, agak malu. “Ya… lucu aja kamu mikir sejauh itu.”

“Lucu dari mana?”

“Tenang,” katanya ringan. “Kalau pun mau nikah lagi, nanti izin Adek dulu.”

Kalimat itu seperti bensin disiram ke api. Aku melotot. “Berisik,” aku memalingkan wajah. “Nggak lucu.”

“Tadi kamu yang mulai ... nuduh,” balasnya santai.

Aku mendecih sengit, lalu masuk ke kamar. Kesal. Malu. Bingung.

Kenapa dia bisa setenang itu?

Kenapa aku yang kelihatan seperti orang cemburuan nggak jelas?

Aku duduk di tepi ranjang, napasku masih naik turun. Kenapa aku marah? Kenapa aku mulai terlihat peduli? Aku menutup wajah dengan tangan.

Di luar, langkah Arman terdengar menjauh, dia membuka pintu depan. Arman tidak mengejarku. Tidak menjelaskan. Seperti biasa. Dan justru itu yang membuat dadaku makin dongkol.

Malam itu kami hampir tidak bicara lagi.

*

Kesalku belum juga reda sampai esok siang. Pikiranku berputar di Arman. Di telepon-teleponan itu.

Akhirnya aku menyerah. Aku ambil ponsel, nelpon ayah. Nada sambung. Satu. Dua.

“Halo?” suara ayah terdengar santai, seperti biasa.

“Yah,” kataku tanpa basa-basi. “Aku mau nanya.”

“Kenapa? Kok serius amat.”

Aku menarik napas. “Kerjaan Arman itu sebenarnya apa, sih?”

Di seberang sana, ayah tertawa kecil.

Bukan kaget, mungkin beliau heran. Tapi tertawanya bikin aku sebal.

“Kenapa ketawa?” tanyaku jengkel.

“Karena akhirnya kamu nanya juga.”

“Yaaa masa aku nggak boleh tahu?”

“Boleh,” jawab ayah enteng. “Arman kerja sama ayah. Ngawasin ini itu. Ngebantu ayah di pabrik gula batu kan.”

“Ini itu tuh apa?” desakku.

Ayah terdiam sebentar. Lalu terdengar suara dia menyeruput minum. Sengaja bikin aku nunggu.

“Ayla,” katanya akhirnya, “kamu kepikiran apa, sih? Tumben amat.”

Aku menggigit bibir. “Aku cuma… ngerasa ada yang disembunyiin.”

Ayah tertawa lagi. “Disembunyiin apaan?”

“Ya itu! Dia misterius banget.”

“Halah,” ayah menyeletuk. “Kamu mulai digodain sama Arman, ya?”

Aku mendengus. “Ini bukan soal goda menggoda."

“Lah, terus?”

“Pokoknya ayah tuh dapat Arman dari mana, sih? Kok tiba-tiba aja jadi orang kepercayaan?”

Ayah tertawa lebih keras kali ini. “Takdir, Kak.”

“Yaah!” suaraku meninggi. “Aku serius.”

“Iya, iya,” ayah menenangkan. “Tenang. Arman itu orang baik.”

“Itu bukan jawaban, B aja.”

Ayah menyebalkan sekali, dia malah mengejekku dengan tawanya. “Kamu keliatan kayak istri yang lagi cemburu."

Aku terdiam.

“Kenapa?” tanya ayah.

“Nyebelin,” gumamku.

“Kenapa nyebelin?”

“Karena ayah nggak jawab apa-apa.”

Ayah tertawa kecil. “Nanti juga kamu tahu sendiri.”

“Nanti kapan?”

“Nanti pas waktunya.”

Aku memejamkan mata. “Yah…”

“Sudah,” potong ayah lembut. “Jangan galak-galak sama suami. Kasihan Arman.”

Telepon ditutup sebelum aku sempat membalas. Aku menatap layar ponsel lama.

Tidak ada jawaban. Tidak ada kejelasan. Yang ada cuma satu kesimpulan pahit—bahkan ayahku sendiri seolah berpihak ke Arman.

Sejak pulang kerja, aku mengurung diri di kamar.

Pintu kututup agak keras, cukup buat melampiaskan kesal yang nggak jelas arahnya.

Aku duduk di tepi ranjang, lalu rebah begitu saja. Tas kerja tergeletak di lantai. Kepalaku pening. Dadaku sesak. Kesal sama ayah. Sama Arman. Sama diriku sendiri.

“Kenapa sih semua orang santai, aku doang yang ribet,” gumamku pelan.

Aku selonjoran, mata terpejam. Niatnya mau lanjut kerja, tapi tubuhku nolak. Penat sekali hari ini.

Dari luar kamar, samar-samar tercium bau makanan. Aku mengabaikannya.

Tak lama, pintu diketuk pelan.

“Dek.”

Aku diam. Pintu terbuka sedikit. Arman mengintip, ragu-ragu seperti biasa.

“Udah malam. Makan dulu.”

“Nggak,” jawabku singkat. “Kerjaan banyak. Pusing.”

Ia tidak memaksa. Pintu ditutup lagi.

Aku pikir dia cuek. Tapi beberapa menit kemudian, langkahnya terdengar lagi. Arman masuk kamar, kubiarkan karena kepalaku berdenyut-denyut nyeri. 

“Boleh?” tanyanya pelan.

Aku membuka satu mata. Arman sudah duduk di ujung ranjang, dekat kakiku. Jaraknya sopan. Tangannya bertumpu di lutut, bahunya agak turun.

Aku memejamkan mata lagi. “Hem.”

Itu saja jawabanku, sambil memiringkan tubuh.

Tiba-tiba, aku merasakan sentuhan hangat di telapak kakiku. Aku refleks membuka mata. “Eh—” kakiku hendak kutarik.

Arman menahannya pelan. Tidak kuat. “Biar rileks dikit,” katanya tenang. “Biar bisa lanjut kerja.”

Aku terdiam. Tangannya memijat perlahan. Aku ingin marah. Tapi tubuhku malah melemas. Aku diam saja. Tidak menolak atau menyuruh berhenti.

“Tegang banget otot kakinya,” katanya pelan, seperti membaca pikiranku.

Aku menelan ludah. Kantuk mulai datang.

Tak lama, ia berdiri. Lalu kembali dengan sepiring makanan. Ditaruh di meja kecil dekat ranjang.

“Makan sedikit aja,” katanya. “Nggak apa-apa. Nggak bakal nambah timbangan.”

Aku melirik malas.

“Itu cuma salad sayur,” lanjutnya cepat, seperti takut aku keburu menolak. “Aku lupa belanja tadi. Jadi seadanya.”

Aku menegakkan badan sedikit. Mataku tertuju ke piring itu. Rapi. Warna-warni. Ada potongan tomat, selada, telur rebus, dan light sauce. Bukan asal-asalan.

“Heh…” batinku. “Dia bisa bikin ginian?”

Aku melirik Arman. Dia berdiri canggung di samping ranjang, tangannya masuk saku celana, bahunya agak tegang.

“Beli?” tanyaku datar.

Ia menoleh. “Bikin.”

Aku mengernyit. “Nggak mungkin.”

Ia tersenyum tipis. “Kenapa?”

“Ya… nggak kebayang aja.”

Arman tidak membalas. Hanya mengangkat bahu kecil. “Kalau nggak habis juga nggak apa-apa.”

Aku mengambil garpu. Mencoba satu suap.

Diam.

“Enak,” gumamku tanpa sadar.

Arman menoleh cepat. “Bener?”

Aku menyesal sudah jujur. “Biasa aja,” bantahku cepat.

Ia tersenyum lagi, sebelum menutup pintu.

Aku makan pelan. Sedikit. Mulai tenang. Dan itu yang bikin aku makin bingung. Ada apa denganku?

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!