Doaku tetapi Bukan Pilihanku

Protektif

Ia membuka mata. Sedikit bingung. Lalu sadar posisi kami.

“Oh.” Tangannya langsung mengendur. “Maaf.”

“Nggak,” kataku cepat. “Aku cuma… mau bangun.”

Arman bangkit duduk, mengusap wajah. Rambutnya berantakan. Tapi entah kenapa jadi malah seksi dan gemesin di mataku.

Aku ikut duduk, menarik selimut. Bukan canggung, tapi … malu.

“Tidurmu gimana?” tanyanya.

“Nyenyak,” jawabku jujur.

Arman tersenyum kecil. “Syukurlah.”

Kami turun dari kasur hampir bersamaan, tapi saling memberi jalan.

Dari luar terdengar tetesan air dari talang. Hujan sudah reda. Kami keluar kamar berdampingan. Tidak bersentuhan, tapi langkah kami seirama.

Setelah sarapan, Arman mengantarku ke puskesmas. Jalanan masih basah sisa hujan semalam. Beberapa genangan tampak di sana sini. Aku duduk menyandar di kursi penumpang, memeluk tas, pikiran masih kesal memikirkan bocor di rumah.

“Harusnya ayah ngecek dulu sih,” gumamku, mengetik pesan ke ayah sambil ngomel. “Gentengnya udah tua semua.”

Arman menyetir dengan tenang. Tangannya menempel di setir, wajahnya lebih segar. “Dek,” katanya pelan, “bisa dibenerin sendiri kok.”

Aku mendengus kecil. Belum sempat melanjutkan omelanku ke ayah, ponselnya bergetar. Ayah menelepon. Arman mengangkatnya, suaranya disetel pelan memenuhi kabin mobil.

“Rumah sini juga bocor, Ay,” suara ayah terdengar, dia menanggapi pesanku tapi malah menelpon ke Arman. “Semalam Abang bilang izin nggak masuk, mau manggil tukang.”

Aku refleks ikut bicara, nada kesalku belum reda.

“Iya, Yah. Maksud aku tuh, harusnya ayah cek dulu. Mas jadi repot jemput aku pas istirahat, kudu belanja bahan sebab Mas maunya aku yang milih ... Kan aku juga ikutan repot.”

Arman menggeleng kecil. Satu tangannya lepas sebentar dari setir, mengusap kepalaku pelan. “Sssttt.”

Dari ponsel terdengar tawa ayah. “Ciyeeee Mas… Mas.”

Aku manyun. “Yah... ih.”

Telepon kututup langsung. Sebal. Selalu gitu, kalau aku ngeluh, nggak didengerin.

Mobil kembali hening, hanya suara mesin dan gesekan ban dengan aspal basah. Tapi belum sampai aku melanjutkan omelanku, perutku tiba-tiba melilit.

“Duh…” Aku refleks meraba tas, memastikan isinya. Aman, tidak ketinggalan.

“Kenapa, Dek?” Arman langsung melirik.

Keringat dingin muncul di pelipisku. Kramnya datang cepat, menusuk perut bagian bawah.

“Sakit,” lirihku.

Arman langsung menepikan mobil, padahal gedung puskesmas sudah terlihat. Aku menunduk, kedua tanganku menekan perut.

“Dek?” Arman membuka sabuk pengamannya, suaranya turun. Tangannya menyentuh bahuku, hangat. “Kenapa?”

“Kram perut.”

Ia memindahkan tasku dari pangkuan, lalu ikut menekan perutku pelan, canggung tapi sentuhannya membuatku merasa diperhatikan.

“Haid?”

Aku mengangguk.

“Biasanya gimana?” tanyanya cepat. “Minum apa?”

Aku terkekeh kecil meski meringis. Wajahnya serius sekali. “Ke puskes aja, Mas. Di laci mejaku ada kantung air hangat. Nanti minta OB isiin.”

“Beneran bisa kerja?” rautnya ragu.

Aku mengusap pipinya dengan ibu jari. “Iya.”

Arman menarik napas, lalu kembali menjalankan mobil. Kali ini dia ikut turun, mengantarku sampai depan ruanganku.

Koridor puskesmas masih sepi. Bau disinfektan samar tercium. Beberapa kursi plastik biru berjajar di depan poli. Jam dinding berdetak pelan, seolah menemani langkah kami.

“Udah,” kataku pelan. “Aku nggak apa, Mas.”

“Liat dulu,” katanya. “Kantung air panasnya.”

Aku membuka laci meja. Bunyi geser kayu terdengar. Kutarik kantung karet yang sudah agak kusam. Arman mengangguk, baru terlihat sedikit lega.

“Eh, Pak Ganteng,” celetuk temanku dari balik meja lain, “tumben antar sampai sini?”

Aku refleks mendorong bahu Arman. “Heh, ada bininya di depan mata nih.”

Dia cuma senyum. Masih berdiri terlalu lama sampai teras puskes, berkali-kali nanya apa aku yakin bisa kerja.

“Mas, ini cuma haid,” kataku setengah tertawa. “Bukan sakit berat.”

Beberapa menit meyakinkannya, akhirnya dia pergi juga.

Aku kembali duduk di kursiku. Menempelkan kantung itu ke perut. Hangatnya menyebar pelan. Ruangan mulai ramai. Ada suara printer, langkah kaki, dan obrolan pasien di luar.

“Suami penggantimu cakep juga ya, Ay,” bisik temanku sambil nyengir.

“Iya,” sahut yang lain. “Pantes diumpetin mulu.”

Aku cuma senyum kecil. Candaan mereka terdengar ringan, tapi entah kenapa dadaku menghangat sekaligus cemburu.

Aku menatap jemariku sendiri. Tidak ada apapun di sana. Gelang maskawin dari Arman belum kupakai.

Deg.

Aku senyum sendiri. Sekarang aku tidak lagi sendirian saat sakit. Ada seseorang yang pagi-pagi panik hanya karena perutku kram.

Aku menyandarkan punggung ke kursi, menarik napas pelan. "Besok kupakai, ah."

Beberapa jam setelahnya.

Ponselku bergetar di sela-sela mencatat hasil kunjungan. Aku berhenti sebentar di teras rumah warga, membuka pesan dari Arman.

Sebuah foto muncul di layar. Dua kantung air panas, masih di plastik. [“Kayak gini kan, Dek?”]

Aku langsung tersenyum. Entah kenapa, hal sekecil itu bikin hatiku menghangat. “Iya. Banyak amat belinya,” balasku.

Tak lama, balasan masuk. [“Buat di rumah. Biar gantian diisi.”]

Aku cuma mengirim emot ok. Dan melanjutkan langkah menyusuri gang. Kunjungan ke rumah anak dan ibu hamil kurang gizi tak pernah sebentar. Duduk, berdiri, mencatat, menjelaskan. Kram di perut datang dan pergi. Aku menahan, menyesuaikan napas, berjalan berdampingan dengan staf lain. Badan mulai terasa berat, tapi pekerjaan harus selesai.

Saat jam istirahat tiba, aku baru melangkah ke depan puskesmas ketika seseorang tiba-tiba datang dan berdiri di samping.

Ia menggamit pinggangku pelan, seolah takut aku tiba-tiba roboh. Tangannya hangat, menenangkan.

“Kok pucat,” gumamnya, menarikku pelan berjalan ke mobil.

Aku belum sempat menjawab ketika kami sampai di mobil. Di bawah bangku, sepasang flat shoes tertata rapi.

“Ganti,” katanya singkat. “Biar nggak capek kakinya.”

Aku menurut. Duduk, melepas sepatu kerja, menggantinya dengan sepatu itu. Pas.

Sebelum mobil melaju, Arman lalu menyodorkan botol plastik dingin bertuliskan kunyit asam, dan satu kotak salad buah campur sayur.

“Makan sambil jalan aja, Dek.”

Aku menatapnya, agak heran. “Mas, tau ginian dari mana sih?”

Ia terkekeh, sedikit malu. “Nanya-nanya ke pegawai pabrik. Opsi mereka kebanyakan aneh-aneh menurutku. Tapi aku ambil poinnya aja.”

Aku tertawa. Jawabannya polos, tapi dia pintar dan niatnya terwujud pas dengan seleraku.

Mobil melaju pelan. Aku menyuap salad, meneguk jamu. Rasanya segar. Perutku sedikit lebih tenang.

“Ada pantangan nggak kalau lagi gini, Dek?” tanyanya hati-hati.

“Nggak ada,” jawabku. “Makan apa aja masih masuk.”

Arman mengangguk, seperti mencatat di kepalanya. “Nanti ya,” katanya kemudian, “kalau renov selesai, kita ngebolang.”

Aku menoleh, mataku langsung berbinar. “Hah? Kemana?”

Ia melirik sebentar. Senyumnya muncul, malu-malu tapi ucapannya percaya diri. “Ada deh. Pokoknya indah. Udah aku siapin.”

Aku diam, jantungku berdetak lebih cepat.

“Bisa ajuin cuti sepekan, Dek?” Arman menoleh lagi, kali ini wajahnya lebih serius.

Aku membelalak. “Kapan? Mau ke mana, Mas?”

Arman tertawa kecil, mengusap kepalaku singkat. "Semoga kamu suka."

"Ih, bilang dooooong, Maaaaass." Dia cuma senyam-senyum sendiri. Membuatku penasaran. "Mass!" Tanpa sadar aku merajuk, kugoyangkan lengannya pelan, tapi Arman malah makin tertawa senang.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!