Doaku tetapi Bukan Pilihanku
Intimate
“Siap, kan?” ulang Arman sambil menyalakan motor.
Aku mengangguk pelan, walau jantungku masih belum mau diajak kompromi. Di perjalanan pulang, aku duduk lebih dekat. Tanganku masuk ke saku jaketnya, kepalaku menyandar ringan di punggungnya. Angin malam masuk lewat sela-sela jaket, dingin.
Motor berhenti mendadak di depan minimarket.
“Katanya langsung pulang.”
“Iya,” jawabnya santai. “Mampir bentar.”
Aku turun dengan wajah masih setengah tegang. Di dalam toko, Arman langsung mendorong keranjang kecil.
Dia ambil sabun mandi. Bukan yang biasa dipakainya, tapi aromanya lebih lembut. Lalu keset kamar mandi. Lampu tidur kecil. Dan… sikat gigi dua buah, warna berbeda.
Aku berdiri di sampingnya, bengong.
“Mas…” suaraku pelan. “Ngapain beli ginian?”
Arman melirik sebentar. “Biar couple," kekehnya.
Aku cuma senyam senyum melihat Arman yang memilih kali ini.
Di rumah, Arman menata barang-barang itu tanpa banyak bicara. Keset baru digelar di depan kamar mandi. Lampu kecil diletakkan di sisi ranjangku. Sikat gigi dikeluarkan dari plastik, yang lama dia ambil.
Aku berdiri di ambang pintu kamar, memperhatikan semua itu.
Lampu tidur menyala redup. Cahayanya kuning hangat, jatuh di dinding kamar yang kini tampak berbeda. Wangi pengharum ruangan pelan-pelan menyebar lembut.
Aku sudah berbaring. Selimut kutarik sampai dada. Rambutku masih setengah lembap. Arman masuk setelah memastikan pintu terkunci. Dia mematikan lampu utama, menyisakan lampu kecil di samping ranjang.
Kasur bergerak saat dia duduk. Lalu rebah di sampingku.
“Capek?” tanyanya pelan.
Aku mengangguk, tapi rasanya lebih dari sekadar capek badan. Dadaku penuh. Sejak tadi ingin cerita, tapi bingung mulai dari mana.
Arman miring menghadapku. Satu lengannya menjadi sandaran kepalaku. Aku menurut saja, mendekat. Kepalaku akhirnya bersandar di dadanya. Detak jantungnya terdengar jelas, menenangkan.
“Mau cerita?” katanya singkat.
Aku menarik napas. “Aku tuh… sering ngerasa harus kuat sendiri,” kataku pelan. “Kalau capek, ya disimpan. Kalau sedih, ya dipendem.”
Tanganku mencengkeram kaosnya. Suaraku sedikit bergetar. “Takut ngerepotin orang.”
Lengannya mengencang. Mengusap punggungku pelan, naik turun.
Aku lanjut. Tentang merasa tidak dipilih, takut berharap, karena nggak mau kecewa lagi. Kata-kataku keluar tanpa disaring. Sesekali terputus, sesekali tercekat.
Arman tidak menyela. Hanya mengangguk kecil. Mengusap rambutku. Kadang mengecup pelan puncak kepalaku.
“Sekarang kamu nggak sendiri,” katanya akhirnya. Suaranya rendah, dekat telingaku. “Aku di sini.”
Dadaku langsung sesak, wajahku kusembunyikan di dadanya. Arman memelukku lebih erat. Tangannya di punggungku, hangat.
Kami diam lama. Hanya napas kami yang saling bersahutan. Wangi sabun, pengharum ruangan, dan sesuatu yang hanya miliknya bercampur jadi satu.
Lalu aku sadar… sentuhan ini berubah. Sesuatu yang tumbuh pelan, hangat, dan membuat dadaku berdebar.
Aku mengangkat wajah sedikit. Tatapan kami bertemu.
Arman menelan ludah. Aku bisa melihat dia ragu dan menahan diri tapi tidak meminta apapun dariku.
“Dek…” panggilnya lirih.
Arman mengangkat tangannya, menyentuh pipiku dengan punggung jari. Dia mengecup pipiku singkat. Ciuman kedua mendarat di sudut bibirku, terasa ragu.
Aku memejamkan mata.
Dan saat bibirnya akhirnya menyentuh bibirku, semuanya terasa hening. Kehangatan yang menyebar pelan, membuatku lupa bernapas sesaat. Tangannya tetap di pinggangku.
Aku membalasnya pelan. Degup jantungku terasa sampai ke ujung jari. Arman berhenti, dahi kami bersentuhan. Napasnya hangat.
“Kalau kamu belum siap,” katanya pelan, “aku nggak maksa.”
Aku membuka mata. Menatapnya. Wajah yang tadi mendengarkan semua lukaku, kini menungguku dengan sabar. Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku hanya memeluknya lebih erat.
Arman menghela napas pelan, seperti baru saja melepas sesuatu yang sejak tadi dia tahan. Tangannya melingkari pinggangku, lebih erat dari sebelumnya.
“Yakin?” tanyanya sekali lagi, suaranya rendah, nyaris bergetar.
Aku mengangguk.
Lampu tidur masih menyala redup. Wangi pengharum ruangan semakin terasa, bercampur hangat tubuh kami. Arman mengecup keningku, lalu pipi, lalu bibirku lagi—kali ini lebih lama. Aku membalasnya, meski masih kikuk.
Kami bergerak pelan, sentuhan Arman hati-hati meski napas kami saling memburu. Aku memejamkan mata, menikmati perlakuan lembut suamiku.
Malam itu berlalu tanpa aku benar-benar tahu jam berapa. Yang kuingat hanya lengannya yang melingkar, telapak tangan di dadaku, dan suaranya yang berulang kali berbisik pelan, "Love you, Sayang."
Aku tertidur di pelukannya. Cahaya pagi menembus celah gorden.
Aku terbangun lebih dulu. Butuh beberapa detik untuk sadar di mana aku berada.
Lengan Arman masih melingkari perutku. Napasnya teratur. Wajahnya terlihat lebih damai saat tidur. Rambutnya sedikit berantakan. Seksi.
Deg.
Ingatan semalam datang memenuhi otak, membuat pipiku panas sendiri. Aku mencoba bergerak pelan, tapi dia tetap merasakan gerakanku.
Arman mengerjap, dan membuka mata pelan. Tatapan kami pun bertemu.
“Pagi Sayang,” suaranya serak.
“Pagi Mas,” balasku cepat, lalu langsung memalingkan wajah. Malu.
Dia terkekeh pelan. Tangannya mengusap rambutku sebentar. Lalu ... “Maaf,” katanya.
Aku menoleh cepat. “Kenapa?”
“Takut kamu nggak nyaman pagi-pagi begini. Dibawa kerja sambil duduk lama nanti ngilu nggak, Dek?”
Aku diam sebentar. Lalu menggeleng. “Nggak tahu, tapi rasanya ada yang aneh," aku terkekeh, menunduk malu.
Arman tersenyum kecil. “Pelan-pelan jalannya.”
Aku bangkit duduk, menarik selimut. Rambutku berantakan. Pasti wajahku juga. Aku tidak berani menatapnya terlalu lama.
“Aku… mau ke kamar mandi,” kataku.
“Ya,” jawabnya cepat.
Kami bangun hampir bersamaan.Tapi kali ini, rasanya berbeda. Ada sesuatu yang tertinggal di udara.
Di ambang pintu kamar, Arman berhenti, menoleh padaku. “Dek.”
Aku menatapnya.
“Makasih,” katanya pelan.
Dadaku menghangat. Aku mengangguk. Tidak tahu harus menjawab apa.
Pintu kamar mandi tertutup. Aku bersandar sebentar di baliknya. Menarik napas panjang.
Aku tersenyum sendiri. Pagi ini canggung. Tapi… menyenangkan.
Bau bawang goreng dan kecap tercium dari dapur. Aku keluar kamar dengan rambut masih berantakan.
Arman berdiri di depan kompor. Rambutnya masih agak basah.
“Masak?” tanyaku.
“Mie goreng aja ya,” jawabnya sambil menoleh. “Telur ceploknya garing di pinggir. Kamu suka kan?”
Aku mengangguk sambil tersenyum. Duduk di kursi dapur yang baru. Lantai yang kemarin kupilih terasa dingin di telapak kakiku.
Kami makan berhadapan. Sesekali saling melirik.
Entah, aku masih malu mengingat keintiman semalam. Rasanya aneh tapi lega, bahwa aku akhirnya memberikan hak suamiku.
Ponselku tiba-tiba bergetar di meja. Satu pesan muncul di layar.
Nama yang sudah lama tidak kulihat. Aku menatap layar terlalu lama sampai Arman menyadarinya.
“Kenapa?” tanyanya pelan.
Aku menelan ludah. Jari-jariku dingin. Belum berani menjawab.
Teleponku lalu berdering. Aku menatap Arman. Lalu pandanganku kembali ke layar ponsel.
"Angkat saja, Dek. Mau apalagi dia?"
"Tapi, Mas..."
Arman meraih tanganku, menggenggam hangat. "Kalau mau disudahi ya hadapi. Kecuali kamu masih belum yakin ..."
Aku mengernyit. Maksudnya apa Arman bilang gitu. "Mas ... Kok gitu? Jadi semalam itu buatmu apa, huh?" Aku bangkit, meninggalkan meja makan, kesal.
"Loh, Deeekk!"
.
.