Doaku tetapi Bukan Pilihanku

Bule Asia

Aku mengangguk pelan.

“Paspor ada, Mas. Tapi kayaknya udah mau habis masa berlakunya. Besok bisa diurus sekalian.”

“Oke,” jawab Arman ringan.

Aku melirik ke arahnya. Mobil melaju pelan, suasana sore bikin jalanan terasa lebih tenang.

“Mau ke mana aja emangnya?”

Arman tersenyum kecil, tapi matanya tetap fokus ke jalan. “Aku mau kunjungi nenek sama kakek.”

Aku mengernyit. “Serius?”

“Iya,” katanya. “Sesuai petunjuk Zenix… sama ingatanku dulu. Aku pernah ke sana beberapa kali.”

“Ke?” tanyaku.

Dia menoleh sebentar, senyum itu muncul lagi. “Jepang, Sayang.”

“Jepang?” aku langsung membola. “Jepang, Mas?” Tanganku refleks mengguncang lengannya.

“Iya. Kenapa?” katanya sambil ketawa.

“Aaaaaa… mau mau mau!” seruku girang sampai ngakak sendiri.

Arman ikut tertawa tepat saat mobil masuk ke halaman rumah. Dia turun duluan, lalu membukakan pintu buatku.

“Seneng banget padahal belum berangkat,” katanya meledek.

“Hepi lah,” jawabku sambil nyengir. “Kan mau ke sana dari dulu tapi nggak berani sendiri.”

Kami masuk ke dalam. Aku langsung ke kamar, meletakkan tas, melepas hijab. Badanku terasa pegal, terutama di daerah leher sebab terlalu lama menatap layar komputer.

Arman ke dapur. Aku bisa dengar suara air mengalir, dan kompor dinyalakan. Dia memasak air untuk mandi.

Aku baru membuka kancing atas seragam saat tiba-tiba ada lengan melingkar dari belakang. Tubuh Arman menempel, hangat.

“Honeymoon ya,” katanya manja di bahuku. “Sekalian.”

Aku tersenyum, mengusap kepalanya pelan. Jariku masuk ke sela rambutnya. “Iya,” jawabku lirih.

Lengannya mengencang di pinggangku. Kami diam di posisi itu cukup lama. Kepalaku sedikit menengadah, menyandar ke kepalanya. Rasanya tenang.

Sampai tiba-tiba tangannya mulai usil. Menyentuhku pelan. “Mas,” protesku sambil mencoba melepas pelan dekapannya.

“Kudu cari hotel yang ada peredamnya,” katanya santai, masih sempat meledek sambil mengutak-atik kancing bajuku.

“Omes mulu,” kataku sambil menepuk tangannya.

Dia terkekeh. “Oleh-oleh makanan kan udah biasa, Dek. Kalau embri—”

Aku langsung memotong, tertawa setengah gugup. “Mas.”

“Bentar,” katanya masih jahil mengusap lembut area dadaku. “Mas.”

Tiba-tiba terdengar suara air dari dapur—nguukkk—air mendidih. Arman langsung melepas dekapannya. Sementara aku cepat-cepat masuk ke kamar mandi.

Di belakang, Arman berseru, “Dek, air panasnya?”

“Nggak usah! Makasih!” jawabku cepat sambil menutup pintu.

Aku bersandar sebentar di balik pintu. Dadaku masih berdebar. Pipiku panas. Aku menarik napas panjang.

"Hei, Ayla. Tenang napa sih, Arman itu kan suamimu."

Air kamar mandi menyala. Dan aku tersenyum sendiri, malu, tapi bahagia.

Arman ada di depan saat aku selesai mandi dan langsung masuk ke kamar. Pintunya kututup pelan ketika ganti baju dan langsung pakai mukena.

Terdengar langkah Arman masuk ke kamarnya lalu ke kamar mandi. Semua bajunya masih belum dipindah ke kamarku. Entah, sesukanya dia saja mau pindah kapan. Aku terlalu malu memintanya.

Setelah isya, seharusnya kami makan malam. Tapi entah kenapa, saat aku melepas mukena, mata Arman tak berkedip melihatku.

"Kenapa?" Aku melihat diriku sendiri. Cuma pake daster pendek tanpa lengan, pikirku. "Ada yang aneh?" 

Arman yang baru duduk di sisi ranjang menggeleng pelan, dia tiba-tiba menarikku sampai aku terduduk di pangkuannya. 

"Eehh!"

"Kan sudah kubilang, pake daster gini tuh, seksi," bisiknya mesra. Arman mencium pipiku.

Arman memelukku lebih erat, tangannya mengusap punggungku perlahan, sambil mencium bahuku yang terbuka. Aku merasakan dadaku naik turun tak beraturan.

“Lapar nggak?” tanyanya lirih.

Aku menggeleng. “Enggak, belum.”

Dia tersenyum kecil, lalu mengecup kening dan membaringkanku. Lampu kamar masih menyala redup. Tirai bergoyang pelan tersentuh swinger angin AC. Wangi pengharum ruangan terasa makin lembut, bercampur bau sabunnya yang masih tertinggal di kulit Arman.

Tanganku menyentuh lengannya. Tatapan kami bertemu sebelum bibirnya menempeli bibirku. Detak jantungnya terasa jelas, teratur, menenangkan.

“Kalau nanti di Jepang,” katanya pelan, hampir berbisik, di sela jeda cumbuannya, “aku mau seharian di kamar.”

Aku tersenyum. “Katanya nyari nenek.”

“Iya,” jawabnya. “Setelah ketemu.”

Wajah kami kembali berhadapan. Tatapannya lembut. Dan ciuman berikutnya lebih dalam, tapi tetap perlahan.

Aku membalasnya dengan lebih berani. Tanganku naik ke tengkuknya, jemariku menyelip di rambutnya yang masih lembap. Arman menghela napas pelan, lalu memelukku lebih erat.

Kami berhenti sejenak, dahi bertemu. Napas kami sama-sama memburu.

“Sayang,” panggilnya lirih. Namaku terdengar berbeda di bibirnya malam ini.

Aku menjawab tanpa suara, hanya dengan mendekat dan merengkuhnya lagi.

Malam itu tubuh kami bergerak di bawah temaram lampu tidur. Suaranya, sentuhannya membuatku lupa, aku tanpa sadar melenguh dan memintanya memanjakanku.

Arman mengabulkan, menyentuh embut, tidak tergesa dan aku suka caranya memujaku.

Saat napasku akhirnya kembali teratur, Arman masih memelukku, lengannya mengitari pinggangku erat. Aku tersenyum kecil sebelum benar-benar tertidur.

“Mau lagi?” bisiknya.

“Besok kerja,” jawabku lelah sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan.

Dia tertawa kecil, mengecup tanganku lalu memelukku lebih erat. “Iya… istriku capek.”

Pengajuan cuti itu ternyata tidak sesederhana yang kupikirkan. Masih harus menunggu ACC pusat.

Arman duduk di meja makan sejak pagi, tablet terbuka, dan ponsel di sampingnya terus bergetar. Kadang dia mengetik cepat, kadang berhenti lama sambil menghela napas. Pekerjaannya memang tidak bisa ditinggal begitu saja, apalagi izin liburnya bukan dua-tiga hari.

“Aku bawa kerjaan ke rumah aja,” katanya suatu pagi. “Biar nggak numpuk.”

Aku mengangguk, meski dalam hati tahu artinya ruang tamu akan berubah jadi kantor darurat.

Dan benar saja.

Hari-hari berikutnya, rumah kami penuh suara notifikasi, panggilan singkat, dan Arman yang sesekali mengerutkan dahi. Tapi anehnya, fokusnya selalu mudah pecah.

Terutama saat aku keluar-masuk dapur.

Aku cuma pakai daster rumah, tanpa lengan, rambut disanggul asal. Sesuatu yang kupikir hanya hal biasa. Tapi setiap kali aku lewat, Arman selalu terdiam memandangiku.

“Ada yang salah?” tanyaku suatu sore, saat memergokinya menatapku.

Dia berkedip, lalu berdeham. “Nggak.”

Aku melirik tabletnya. Layarnya tidak berubah sejak lima menit lalu.

“Kerjaan Mas bengong?” godaku, mencondongkan tubuh di depannya. Kalungku ikut berayun pelan. 

Arman terkekeh, mengusap wajah. “Kamu tuh ... ganggu aja.”

Aku tertawa kecil sambil kembali ke dapur, meninggalkannya dengan berjalan menggoda.

"Deeeeeeekkk. Awas aja ya," serunya makin membuatku tersenyum lebar. Lagian, weekend masih kerja, sebel.

*

Ngurus paspor jadi agenda berikutnya.

Kami berangkat pagi-pagi, antre, duduk bersebelahan di ruang tunggu. Arman sesekali mengecek jam, sesekali menggenggam tanganku tanpa alasan.

“Nanti di Jepang,” katanya tiba-tiba, “aku mau bangun pagi.”

Aku menoleh. “Serius?”

“Iya,” jawabnya yakin. “Mau jalan, ngopi, terus jalan-jalan.”

Aku tersenyum. “Kok beda sama rencana Mas yang mau seharian di kamar?”

Dia nyengir. “Itu rencana cadangan, tergantung kamu bawa baju apa saja.” Dia gemas sendiri, mencubit pahaku.

*

Hari-hari berjalan cepat. Sampai akhirnya, sepekan kemudian.

Kami berdiri di bandara, Arman menggenggam jemariku sedikit lebih erat dari biasanya.

“Siap?” tanyanya.

Aku mengangguk. “Siap.” Meski hati berdebar, bagaimana kah rupa nenek kakek Arman. Senyum tipis terulas di pipiku... 'Aku ternyata menikahi keturunan bule Asia.'

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!