Doaku tetapi Bukan Pilihanku
Jarak
“Bukan hal penting.” Kalimat itu keluar pelan dari mulut Arman.
Aku menatapnya. Menunggu kelanjutan. Penjelasan apa saja. Tapi Arman sudah berdiri.
Ia mencari lilin atau lampu emergency. Menyalakannya sebentar, memastikan cahaya cukup, lalu masuk ke kamar. Keluar lagi membawa handuk, berjalan ke kamar mandi tanpa menoleh padaku.
Di rumah ini cuma ada satu kamar mandi. Letaknya di antara dua kamar. Suara langkahnya jelas. Pintu ditutup. Air mengalir.
Aku masih duduk di sofa. Selimut melilit tubuhku. Bantal kupeluk erat, seperti satu-satunya benda yang mengerti gundahku.
Bukan hal penting, katanya. Kalau bukan penting, kenapa aku merasa seperti baru saja membuka sesuatu yang seharusnya tidak kubuka?
Aku mendengar ia keluar dari kamar mandi. Langkahnya menuju dapur. Suara kompor menyala. Ia memasak. Sendirian.
Aku menunggu dipanggil. Menunggu ia bertanya apakah aku lapar. Menunggu nada suaranya kembali seperti kemarin—tenang, hangat, seolah semuanya baik-baik saja. Tapi tidak ada apa-apa.
Ia makan sendiri. Aku tahu dari bunyi sendok dan piring. Setiap denting kecilnya terasa seperti menegaskan jarak di antara kami.
Aku tetap diam.
Apa saja yang dia dengar dari mimpiku? Apa aku bicara terlalu banyak? Apa aku memanggil nama Raka dengan jelas? Dadaku panas. Bukan marah. Lebih ke malu jika maracau konyol.
Aku tidak tahu, apakah dia mendengar aku bilang masih mencintainya?
Malam itu aku masuk kamar tanpa pamit. Lampu kuredupkan. Aku berbaring menghadap dinding.
***
Pagi ini lebih terasa sunyi. Biasanya ada aroma kopi. Dan ada sesuatu yang menungguku di meja—piring, atau secarik kertas kecil.
Hari ini tidak ada apa-apa. Dapur rapi. Meja kosong. Tidak ada makanan di balik tudung saji.
Arman sudah pergi.
Aku berdiri lama di tengah dapur. Rasanya seperti ditinggal tanpa pamit, padahal kami serumah.
“Berlebihan,” gumamku pada diri sendiri. “Terlalu sensitif.”
Tapi perutku melilit. Kuputuskan sarapan di jalan saja nanti.
Sepanjang perjalanan ke kantor, pikiranku kacau. Aku mengingat-ingat malam tadi. Setiap kalimat. Setiap jeda. Setiap tatapan Arman
"Dih, dia menjauh kah? Dingin gitu," gumamku sambil nyetir. Kuputuskan memakai mobil sebab sore sering hujan lebat. Aku nggak mau sakit.
Lampu merah.
Aku berhenti. Lalu mataku menangkap sesuatu di depanku. Mobil itu.
Dadaku langsung berdegup keras. Tanganku refleks mencengkeram setir.
Tidak. Jangan. Tapi aku tahu. Warna mobilnya. Bahkan hafap stiker yang tertempel di kaca belakangnya.
“Raka…” teriakku begitu saja. Padahal kabin mobil ini hampa. Tidak ada siapa-siapa yang bisa mendengar selain aku sendiri.
Tanganku mulai gemetar. Jari-jariku dingin. Nafasku pendek. “Bangsat,” desisku pelan. “Kurang ajar.”
Lampu hijau menyala. Mobil itu melaju. Aku ikut melaju. Dia terlalu cepat.
“Ay ... Aylaa,” gumamku. “Tunggu.” Air mataku mulai naik. Pandanganku kabur.
Di persimpangan, mobil itu berbelok. Aku mengikutinya. Jalanan padat. Kendaraan lain memotong jalur.
Aku membanting setir sedikit. “Setelah hilang gitu aja,” kataku, nyaris menangis. “Berani-beraninya malah muncul lagi.”
Air mataku menetes. Satu detik lengah saja—Mobil itu lenyap. Aku menginjak rem mendadak. Nafasku terengah. Klakson dari belakang bersahutan.
Aku menepikan mobil. Tanganku gemetar hebat di setir. Dadaku naik turun. Air mata akhirnya jatuh membanjiri pipi.
“Kenapa sih kamu masih ngejar dia, Aylaaa?” tangisku pecah. “Kenapa masih bego aja. Kamu dibuang, Ayla!”
Aku memukul setir pelan. Frustrasi. “Apa salahku, hah?” “Apa kurangku dulu?”
Aku terisak. Tubuhku bergetar. Rasanya seperti ditarik mundur ke lubang yang sudah susah payah kututup.
Kepalaku menempel stir. Dan tiba-tiba wajah Arman terlintas. Tatapan sendunya semalam. Nada datarnya. Jarak yang ia ciptakan.
Air mataku makin deras.
“Aku kacau,” bisikku. “Aku bikin semuanya kacau.”
Lampu dim aku nyalakan. Aku bukan cuma kehilangan jejak mobil Raka. Aku sedang berdiri di persimpangan hidupku sendiri, dengan hati yang belum berani memilih arah mana yang benar-benar ingin kutuju.
"Shit, RAKA!" racauku lagi, menengadah masih dengan tangis.
***
Aku datang terlambat ke tempat kerja.
Bukan terlambat yang fatal sampai ditegur kepala Puskesmas.
Hanya telat beberapa menit karena pagi ini penuh kekacauan.
Begitu duduk, baru saja menari tas di atas meja, atasanku sudah memanggil.
“Ayla, data anak-anak kurang gizi di wilayah jangkauan Puskesmas bisa kamu siapkan hari ini?”
Aku mengangguk refleks. “Bisa.”
Sebagai ahli gizi, itu bukan hal sulit. Data itu seperti bahasa kedua bagiku. Angka-angka, grafik, catatan tinggi badan, berat badan, status gizi—semuanya sudah akrab.
Tanganku langsung bekerja. Mataku menatap layar. Kursor bergerak cepat. Tapi pikiranku… tertinggal di lampu merah pagi tadi. Mengejar mobil Raka. Di wajah Arman semalam yang tidak bertanya apa-apa.
Aku kenapa sih?
Kenapa semuanya terasa berat, padahal kerjaan ini bisa kuselesaikan sambil merem?
Waktu berlalu tanpa terasa. Aku tidak sarapan. Tidak minum. Tidak beranjak dari kursi kecuali mengambil berkas.
Saat akhirnya aku melirik jam di pojok meja, dadaku tercekat. Sudah lewat jam makan siang.
Perutku melilit pelan, lalu makin terasa. Tanganku mulai dingin. Pandanganku sedikit berkunang.
“Kenapa aku baru sadar sekarang,” gumamku sendiri.
Aku menyandarkan punggung, menarik napas panjang. Tapi tubuhku sudah memberi sinyal lain. Gemetar halus merambat dari ujung jari. Akhirnya aku menyerah. Aku pesan makanan lewat aplikasi—makanan mudah cerna, asal masuk ke perut.
Saat makanan datang, aku makan pelan. Tidak benar-benar menikmati. Hanya supaya tidak tumbang di meja kerja.
Di sela suapan, ponselku tetap sepi. Tidak ada pesan. Tidak ada kabar.
Sore pun datang bersama lelah yang menumpuk. Saat pulang, langkahku melambat. Ada cemas kecil yang tumbuh dalam hati.
Arman pulang nggak ya? Pertanyaan itu mengikutiku sampai ke depan rumah. Teras gelap. Sepi.
Aku masuk, menyalakan lampu, mengganti baju, lalu duduk di sofa. Tanganku memeluk bantal. Jam di dinding berdetak pelan.
Aku coba menyibukkan diri. Menyapu sedikit. Merapikan meja. Tapi setiap beberapa menit, mataku selalu melirik pintu.
Jam sembilan. Jam sepuluh.
Tidak ada suara motor. Tidak ada kunci diputar.
Jam sebelas lewat. Dadaku mulai tidak tenang. Apa dia sengaja tidak pulang? Apa dia menghindar? Apa semalam benar-benar mengubah sesuatu?
Aku menggigit bibir. Tanganku mengambil ponsel, lalu meletakkannya lagi. Mengambil lagi. Ragu.
Akhirnya aku menekan nama ayah. Nada sambung terdengar lama. Jantungku berdegup.
“Halo?” suara ayah terdengar tenang, seperti biasa.
“Yah,” suaraku lebih pelan dari yang kurencanakan.
“Ada apa Ay, nelpon malam-malam?”
Aku menarik napas. “Arman… pulang seperti biasa, kan?”
Ayah tertawa kecil. “Iya. Pulang daritadi. Kenapa?”
Dadaku mencelos sedikit—antara lega dan tidak. “Nggak… aku cuma nanya,” kataku cepat. “Soalnya hujan.”
“Hujan di sini juga,” jawab ayah santai. “Kamu kenapa, Ayla? Arman belum pulang?”
Aku memejamkan mata. Dadaku terasa penuh. “Nggak apa-apa, Yah. Aku cuma nanya aja.”
“Oh,” suara ayah melunak. “Istirahat yang bener. Jangan pikirin macem-macem.”
“Iya.”
Telepon ditutup. Aku menatap layar ponsel lama setelah panggilan berakhir.
Arman pulang seperti biasa, kata ayah. Jam menunjukkan hampir tengah malam.
Aku mematikan lampu ruang tengah, masuk ke kamar, lalu duduk di tepi ranjang. Selimut belum kutarik. Aku hanya duduk, menunggu sesuatu yang bahkan tidak kutahu apa.
"Aku kenapa sih? Dia kenapa?"
.
.