Doaku tetapi Bukan Pilihanku

Tuhan, kuatkan sabarku

POV ARMAN

Aku menutup pintu kamarnya pelan, hampir tanpa suara. Tanganku masih terasa hangat bekas mengusap pucuk kepalanya.

Raka.

Nama itu melintas lagi di kepalaku, seperti duri kecil yang sengaja kusembunyikan di telapak tangan. Sakit, tapi belum ingin kucabut.

Aku duduk di sofa depan kamar Ayla. Tidak menyalakan televisi. Tidak membuka ponsel. Hanya duduk, menunggu, memastikan napasnya pelan-pelan stabil.

Tangisnya sudah mereda. Tinggal sisa-sisa isak yang putus-putus, seperti anak kecil yang kelelahan setelah menangis terlalu lama. Aku menengadah sebentar. Menghela napas panjang.

Aku tahu, sejak malam itu—sejak dia menyebut nama itu dalam tidurnya—ada sesuatu yang belum selesai di hidup Ayla. Dan aku memilih diam, bukan karena tidak peduli. Tapi karena aku tahu, beberapa luka tidak sembuh dengan ditanya.

Aku berdiri, ke dapur. Mencuci tangan. Membilas sendok. Mengecek jam.

Sudah sore.

Ayahnya menelpon lagi tadi. Aku tidak bohong. Panas Ayla memang sudah turun. Tapi ada yang tidak bisa kujelaskan ke ayahnya—bahwa yang membuat Ayla tumbang bukan cuma demam.

Aku kembali duduk. Punggungku menyandar ke sofa. Dari celah pintu, kudengar napasnya lebih teratur.

Aku ingat wajahnya di pabrik tadi pagi. Gelisah. Terburu-buru. Seperti seseorang yang dikejar sesuatu dari masa lalu.

Dan aku… memilih tidak mengejarnya terlalu jauh.

Aku bukan pahlawan. Aku juga bukan pria yang bisa pura-pura tidak cemburu. Tapi sejak awal aku tahu, pernikahan ini bukan tentang siapa yang paling dicintai. Ini tentang siapa yang bersedia tinggal.

Aku melirik pintu kamarnya lagi. Tanganku mengepal sebentar.

Aku tidak menanyakan Raka tadi, bukan karena aku tidak ingin tahu. Tapi karena aku tahu, kalau aku bertanya sekarang, Ayla akan merasa harus menjelaskan. Dan aku tidak ingin ia merasa berutang penjelasan saat tubuh dan hatinya sedang runtuh. Aku hanya ingin dia sembuh dulu.

Pelan-pelan, aku bangkit. Membuka pintu kamarnya sedikit.

Ayla terlelap. Matanya sembap. Bibirnya kering. Aku mengganti kompres sekali lagi, merapikan selimutnya.

“Tidur yang nyenyak, Dek,” bisikku, meski tahu dia tidak mendengar.

Aku berdiri lama di ambang pintu.

Dalam hati, aku mengaku pada diriku sendiri:

[Kalau dia masih mencintai orang lain… aku tidak bisa memaksanya berhenti. Tapi selama dia memilih pulang ke rumah ini… aku akan tetap di sini.]

Aku menutup pintu perlahan. Kembali ke sofa. Malam ini, tugasku cuma satu : menjaga, tanpa menuntut.

Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak menikah, aku sadar—aku tidak sekadar menjalani peran suami di atas kertas. Aku sedang belajar mencintai seseorang

yang hatinya belum sepenuhnya sampai padaku.

***

Aku tidak pernah merencanakan pernikahan ini sebagai kisah cinta.

Saat ayahnya Ayla menyebut namaku, malam itu, aku sedang berada di fase hidup yang paling sunyi. Tidak ada yang kutunggu, tidak ada yang kuharapkan. Hidup berjalan, tugasku selesai, lalu besok diulang lagi.

“Ayla butuh orang yang aman,” kata ayahnya.

Bukan bahagia. Bukan cinta. Hanya, aman.

Aku mengangguk, bahkan sebelum otakku benar-benar mencerna. Karena aku tahu, aku bisa jadi orang itu. Aku selalu bisa berdiri di posisi yang tidak diperebutkan.

Aku tahu siapa Raka.

Tahu namanya, tahu ceritanya, tahu cara Ayla menyebutnya—bahkan tanpa sadar.

Aku tahu aku bukan pengganti. Aku cuma… penahan, penjaga Ayla di fase ini.

Maka saat akad selesai, dan Ayla duduk dengan wajah datar, aku tidak berharap apa-apa. Aku hanya berpikir satu hal, selama dia tidak merasa sendirian, itu cukup.

Malam ini, aku tidak tidur. Aku duduk di sofa, tepat di depan kamarnya. Pintu tidak kututup rapat. Lampu redup. Tangisnya terdengar pelan, kadang terputus, kadang kembali deras. Setiap kali dia terisak, dadaku ikut mengencang.

Aku tahu hari ini dia bertemu siapa. Aku tidak perlu bertanya. Cara dia menangis… terlalu jujur untuk sekadar rasa capek atau sakit.

Aku menyentuh dahi Ayla tadi sore. Panasnya tinggi. Tubuhnya lemah. Tapi yang paling rapuh bukan badannya—hatinya.

Aku mengganti kompres berkali-kali. Mengecek suhu. Menyetel AC. Memastikan selimutnya tidak jatuh.

Aku menjaga jarak. Selalu. Tapi saat dia menangis lebih keras, tangannya mencengkeram seprai, aku nyaris lupa jarak itu dibuat untuk siapa.

Aku masuk ke kamarnya pelan. Ayla memejamkan mata. Air mata masih keluar. Nafasnya sesak. Aku duduk di tepi ranjang, tanpa menyentuh, hanya memastikan dia tidak sendirian.

Dan entah kenapa, saat itu dia membuka mata. Matanya merah. Basah. Menatap lurus ke arahku.

Tidak ada kata. Hanya tatapan. Dadaku berdesir pelan, seperti ada sesuatu yang ditarik dari dalam. Aku menahan napas.

Aku bertanya pada diriku sendiri—Siapa yang kamu lihat sekarang, Ayla? Aku? Atau dia?

Tanganku terangkat. Hampir saja menyentuh pipinya lebih lama dari seharusnya. Nyaris menghapus air mata itu bukan sebagai kewajiban, tapi sebagai keinginan.

Godaan itu datang cepat. Diam-diam. Berbahaya. Kalau dia memanggil namaku sekarang, mungkin aku kalah.

Tapi Ayla diam. Dan diamnya justru membuatku sadar. Aku bangkit berdiri. Mundur satu langkah.

Aku menarik napas panjang, lalu bicara dengan suara setenang yang bisa kubuat. “Tidur ya, Dek.”

Aku tidak menunggu jawaban.

Aku keluar, duduk lagi di sofa. Menyandarkan kepala ke dinding. Menutup mata.

Malam ini aku berjaga, bukan karena aku suaminya. Tapi karena aku tahu rasanya mencintai seseorang yang memandang ke arah lain.

Dan aku memilih tetap di sini. Diam. Menjaga. Meski aku tidak tahu, di hatinya… aku berdiri di posisi ke berapa.

Entah kenapa, malam seperti ini selalu menyeretku jauh ke belakang.

Dua puluh tahun lalu. Aku masih ingat betul hari itu. Tidak pernah pudar, bahkan setelah bertahun-tahun kuletakkan di sudut paling sunyi dalam kepalaku.

Aku berdiri di halaman pabrik ayahnya. Masih bocah, kurus, terlalu serius untuk anak seusia itu. Aku menunggu tugasku hari itu.

Lalu Ayla muncul.

Rambutnya dikuncir dua. Kaos putihny sedikit kebesaran. Tangannya memegang es lilin yang menetes ke jari. Dia tertawa tanpa beban, seolah dunia belum pernah melukainya.

Dia berlari. Tersandung. Hampir jatuh. Aku refleks berdiri, meski jaraknya tidak dekat. Ayla menoleh ke arahku. Mata kami bertemu sebentar. Lalu dia tersenyum, manis, seolah minta maaf karena ceroboh.

Aku tidak membalas apa-apa. Tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Tapi sejak hari itu, aku selalu tahu… kalau suatu saat aku mengingat masa kecilku, wajahnya akan ikut ada di sana.

Aku tersenyum sekarang, yang bahkan tidak kusadari muncul. Ingatan itu terlalu utuh untuk sesuatu yang seharusnya sudah kulupakan.

Aku mulai menjauh saat tahu Ayla jatuh cinta pada Raka. Menarik diri dari kemungkinan yang bahkan kutakuti sendiri.

Aku melihat wajahnya berubah saat menyebut nama itu. Matanya berbinar. Nada suaranya naik setengah oktaf. Dunia seolah berputar lebih cepat setiap kali Raka ada di sekitarnya.

Aku tahu posisiku, hanya ada—cukup dekat untuk menjaga. Dan aku menyimpan semua itu. Bertahun-tahun. Sampai akhirnya keadaan memaksaku berdiri di titik ini. Menikahinya bukan sebagai pria yang dicintai, tapi sebagai orang yang dipercaya.

Ironisnya, aku tidak menolak.

Aku membuka mata. Menoleh ke arah pintu kamar Ayla yang masih tertutup.

Aku tahu alasan Raka pergi, kenapa dia memilih menghilang tanpa penjelasan. Kenapa dia tidak kembali, meski masih mencintai Ayla. Kenapa dia muncul sekarang—hanya untuk memastikan Ayla hidup, meski tidak bahagia.

Kalau Ayla tahu kebenarannya, luka itu tidak akan sembuh, hanya akan berpindah tempat—dari Raka… ke dirinya sendiri.

Aku menghela napas panjang. Pertanyaannya sekarang bukan lagi tentang Raka.

Tapi tentang aku.

Sampai kapan aku bisa berdiri di antara masa lalu yang belum selesai dan perasaan yang mulai menuntut lebih dari sekadar menjaga?

"Sanggup nggak ya, Tuhan?" 

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!