Sambil menunduk aku masih menunggu bersama Ethan, ini kali pertamanya aku berkenalan pada orang asing di hidupku.
Irama jantung berdegup begitu kencang, semoga saja suara degupan itu tidak terdengar sampai ke telinga Ethan. Lalu selang beberapa detik kami menunggu akhirnya pria yang selama ini ingin Ethan kenalkan padaku datang juga.
"Ini Dira temannya Ethan, Ya?"
Mendengar pertanyaan itu, aku perlahan mengadahkan kepalaku ke arah pria dengan perawakan lumayan besar di hadapanku sekarang. Wajah kami saling memandang ia menatapku sampai tidak berkedip, aku pun juga sama.
Kini tanganku juga ikut gemetar menyalaminya, aku tidak tahu dia benar ayahku atau bukan. Tetapi yang jelas ... kami benar-benar mirip, rambutnya agak blonde samar, dagunya belah dan bola mata berwarna hazel nut membuat kami semakin mirip.
"Dira," jawabku singkat, lalu menunduk kembali karena tidak tahan dengan semua rasa yang bergemuruh seperti saling bersautan di dalam dada.
"Kamu cantik, Dira. Om senang kalian bisa berteman," katanya dengan terus tersenyum memandang ke arah kami.
"Oh, iya ... Ethan. Papa nggak bisa lama-lama di sini, kalian juga harus masuk bukan? Nanti kalian telat ... kapan-kapan aja kita ngobrol sembari makan siang, oke ...."
Ethan mengiyakan, lalu kami menyalami dan berjalan masuk ke dalam sekolah. Sepanjang perjalanan pikiranku menuju pada orang tua Ethan, aku merasa benar-benar mirip padanya. Apa benar dia ayahku? Itu berarti Ethan adikku lalu kenapa umur kami sama? Atau malah semua ini hanya kebetulan?
Akunya saja yang terlalu sensitif untuk menghubungkan semuanya dengan hidupku, hargh! Aku terlalu pusing memikirkannya. Kepalaku ingin pecah tatkala harus memikirkan tentang hidupku yang serumit tumpukan jerami.
Terlihat Ethan terus tersenyum sambil berjalan beriringan, "Ra, kamu tau nggak? Karna biasanya kamu menunduk, saat kamu ngeliatin aku begitu. Aku malah salting!" ujar Ethan ceplos diakhiri dengan tawanya yang pecah.
Aku sendiri pun tersenyum mendengar jawaban Ethan, meski setiap melihat wajahnya selalu terbayang wajah sosok pria tadi. Tetapi ... dengan cepat kutepis, mau tidak mau aku harus menyimpulkan semua ini hanyalah kebetulan. Aku tidak mau mengubur semua rasa yang baru saja hadir untuk Ethan di hatiku.
"Ra," panggil Ethan. Aku menoleh sambil berdeham ke arahnya lalu ia melanjutkan perkataannya kembali. "Tadi gimana, Ra. Papaku? Mirip kamu, kan?" tanya Ethan datar.
Aku menggeleng, menepis semua kejujuran untuk kebaikan diriku sendiri. Meski sebenarnya tidak ada satu ruang di wajah ini yang tidak mirip dengannya. Tetapi ... percayalah, lebih baik aku mengatakan hal itu hingga membuat hatiku lega. Dari pada terus berpikir jika pria itu adalah ayahku.
"Ah ... masak? Ra, kayaknya kamu kebanyakan nunduk deh. Jadi gak bisa ngeliat dengan bener apa yang ada di depanmu!" Ethan tertawa sambil memandangku menatap penuh ledekan. Semakin aku cinta saat ia memandangku seperti ini.
Ethan benar-benar telah masuk ke dalam hatiku yang terdalam, ia seperti terkurung dan sulit bagiku untuk mengeluarkannya dari perangkap itu. Bahkan sampai sekarang aku masih terus merasa jika ini mimpi bisa berdekatan dengannya dan menangkap wajahnya secara langsung di depan mataku.
Aku memasuki kelas lebih dulu dan disusul oleh Ethan, tetapi bukannya duduk di bangkunya ... Ethan malah mengikuti lalu mengambil bangku di sampingku yang sudah sejak lama bangku itu kosong tidak pernah terisi, sebab tidak ada yang ingin duduk bersamaku kecuali Ethan di hari ini.
Sontak hal itu membuat semua bola mata dari murid yang lain menatap ke arah kami sembari memasang raut wajah heran, meski tidak ada sama sekali yang bisa menegur sebab enggan pada Ethan.
Ethan bukan hanya tampan dan cerdas dari murid lainnya, tetapi kedua orang tua Ethan adalah salah satu pemegang saham terbesar di sekolah kami. Maka dari itu tidak ada yang bisa melampaui batas kehendak Ethan di sekolah ini.
Mungkin terkecuali aku nantinya, hargh! Gila sih! Pesona Ethan makin terus di dekat mataku. Isi kepalaku terus dipenuhi dengan namanya, hatiku terasa dipuncak kegelian sebab dipenuhi dengan sejuta kupu-kupu yang dipercaya jika seseorang merasakan jatuh cinta akan ada satu juta milyar kupu-kupu hinggap di dalam tubuhnya.
"Ra," panggil Ethan memecah kesunyian, lagi-lagi dengan senyuman mautnya. Hingga rasanya aku bisa masuk ruang UKS keracunan senyum manis dari Ethan.
"Heum," balasku dingin seperti biasanya, aku tidak ingin sama sekali menunjukkan jika aku mulai mencintainya.
"Ra, aku boleh tau siapa ibumu?" tanya Ethan yang begitu tiba-tiba menanyakan tentang ibu.
Aku terdiam beberapa detik, "Kenapa tiba-tiba nanya tentang ibu, Than? Apa karena gosip di sekolah ini?" Aku balik bertanya padanya.
Ethan menatapku dengan senyum yang terkulum. "Aku hanya penasaran, bagiku kamu gadis baik. Tapi kenapa teganya mereka bergosip tentangmu yang enggak-enggak!" balas Ethan kali ini ia menatapku serius.
Aku tersenyum dan menggeleng. "Tidak, Than. Apa yang mereka semua katakan adalah benar, Yah! Ibuku adalah seorang wanita penghibur, orang tuaku bercerai saat aku masih berumur lima tahun. Tapi terserah mereka berbicara apa pun tentang ibuku, aku masih mencintainya ... bagiku dia tetap ibu yang terhebat," jawabku dan sepertinya membuat Ethan terkejut kelihatan dari raut wajahnya.
"Apa lagi setelah aku semakin beranjak besar, sekarang aku mengerti mengapa ibu melakukan semua itu? Semuanya atas dasar aku ... anaknya. Sekarang sumpah demi Tuhan aku tidak peduli siapa ibuku! Dan apa kata mereka yang jelas dia tetap ibu terbaikku," lanjutku menahan air mata yang ingin terjatuh sejak tadi.
Ethan tersenyum sambil menatapku hingga bola matanya tidak berkedip. "Aku belum pernah bertemu gadis sehebat dirimu, Ra."
Di luar ekspetasiku melihat respon dari Ethan, ia malah memujiku dan terus menatap penuh kekaguman. Aku lega menceritakan semuanya pada Ethan, itu artinya sekarang aku tahu Ethan tidak melihatku seperti murid lainnya.
"Than ...," panggilku panjang mengangkat wajahku ke arahnya, memberanikan diri untuk bertanya mengapa ia mendekatiku. "Apa alesanmu berteman denganku?"
Alis Ethan menaut, "Ck! Pertanyaan macam apa itu?" Ia terkekeh dan melanjutkan perkataannya kembali. "Aku selalu penasaran kenapa wajah kita sangat mirip? Bagiku malah kita kayak kakak beradik loh! Dan bukan hanya itu, Ra. Aku juga menyukai semua sifatmu yang selalu menunduk membatasi ruang pergaulan dan yang terpenting bagiku kamu spesial," ucapnya dengan memandangku penuh inci yang saat ini aku ingin pinsan mendengar jawaban dari Ethan.
Masya Allah ....
Rasanya hari ini aku ingin tumpengan, entah bagaimana cara Tuhan membuat skenarioku begitu tenang dan sangat manis. Bahkan kolek yang biasa aku makan jatah dari masjid saat berpuasa pun kalah manis dengan skenario di hari ini!
"Apa kamu menyukaiku?" tanya Ethan yang berhasil membuatku terbeku dalam beberapa detik.