Dua Belas Wasiat dari Ayah

Ibuku Hebat, Ibuku Malang

"Pergilah ...." 

 
"Temui dia ... bawa ayahmu untuk ibu." 
 
Aku menghela napas panjang seraya memejamkan mata, akhirnya mengangguk terpaksa mengiyakan. "Insha Allah, Bu ... Dira pergi dulu, ibu istirahat ya ...." 
 
Seketika aku melangkah keluar, menoleh kebelakang sebentar memandang wajah ibu sambil mengulum senyum. Berbekal uang lima ribu rupiah aku pergi ke rumah lelaki yang sebenarnya sama sekali tidak ingin pernah kutemui seumur hidupku dan berharap aku akan bertemu Nyonya Lee di rumah itu. 
 
*** 
 
Sesampainya di depan halaman gedung berwarna putih dengan hiasan warna gold di pagarnya. Aku melangkah cepat menemui security yang kemarin mengantarku ke dalam.
 
"Malam, Pak ... ada Nyonya Lee?" tanyaku mengejutkan dirinya.
 
"Astaghfirullah, kamu lagi?" jawabnya reflek menautkan alisnya. "Ndak ... ndak, kamu nggak boleh masuk! Kamu tau majikanku setelah kamu pulang, mereka ribut besar! Sepertinya Nyonya dan tuan muda dihajar habis-habisan dengan Tuan Feliks!" sambungnya lagi kali ini ia mengucapkan dengan terburu-buru.
 
Mendengar jawaban security itu membuatku berpikir apa Nyonya Lee menjadi korban kekerasan dari suaminya? Oh Tuhan padahal wanita seperti Nyonya Lee amatlah baik ... kasihan sekali dia jika harus menjadi korban KDRT dari suaminya hanya karena ia membela kisah kelam aku dan ibu.
 
 
"Pak ...."
 
Kepala pria berperawakan besar itu menoleh ke arahku. Lalu menggeleng lagi.
 
"Dik, siapa pun kamu! Ada perlu apa pun dirimu ... tolong berhentilah untuk menemui tuanku. Aku juga kerja disini, Dek! Jadi tolongg ... jangan membuat aku kehilangan dari pekerjaaan ini," jawabnya sambil mengapit telapak tangannya mengarah padaku memasang wajah sendu.
 
Aku memejamkan mata secara perlahan, memasang wajah lugu menjual kesedihan. "Pak, kumohon ... ibu sakit. Izinkan aku untuk bertemu Tuanmu."
 
Tanpa adanya jawaban, mendadak pria berperawakan besar itu keluar dari tempat pos jaganya. Mengambil lenganku dan menariknya ke dalam rumah menemui Tuan Feliks. 
 
Sepertinya ia mengalah sebab rasa iba padaku, aku salut padahal dia bisa saja mengabaikanku dan mengusirku demi pekerjaannya.
 
Namun, pria berpakaian lengkap seragam security malah mengantarku masuk ke dalam dan langsung mempertemukanku pada Tuannya. 
 
"Permisi, Tuan ... gadis yang kemarin bersikekeh ingin menemui Tuan," ujarnya gugup dengan jemari yang menggenggam tanganku kuat. 
 
"Silahkan bawa dia keluar!" ucap Tuan Feliks suaranya membulat penuh ketegasan. 
 
Lelaki sial itu sama sekali tidak menatap ke arah kami, dia tetap memejamkan pelupuk matanya tidak berniat untuk melihat kami walau sedetik saja.
 
 
"Tuan ... kumohon, berilah ibuku kesempatan untuk bertemu denganmu. Ibu di diagnosis mengidap kanker otak stadium akhir oleh dokter, jadi kumohon untuk permintaan terakhir kali ibuku ... dirinya hanya ingin bertemu denganmu, kumohon tolong aku untuk mengabulkan semua itu ...," jawabku sambil menegarkan hati, merendahkan harga diriku di depan lelaki yang sumpah demi apa pun aku sangat muak meski hanya melihat bayangannya saja.
 
Tuan Feliks akhirnya membuka matanya, ia bangkit dari tidurnya di sofa. "Kamu keluar," jarinya mengentik menyuruh pria berpakaian seragam security itu keluar meninggalkan aku dan Tuan Feliks berdua.
 
D-I-R-A
 
Tuan Feliks mengeja namaku, lalu memandangku dengan tatapan tajam. Tubuhnya menegap penuh keangkuhan lalu dia berdiri kemudian bertepuk tangan. 
 
Berjalan mengitari tubuhku sambil tertawa penuh kegilaan, sebenarnya aku sedikit bergidik di dalam situasi seperti ini. 
 
Dan sedetik kemudian dia terhenti, terduduk di sofa melempar pandangan kosong ke arah lain. "Bisakah kalian bisa ikhlas dengan masa lalu yang susah payah aku menguburnya! Aku mempunyai istri dan juga anak, aku mengaku khilaf dulu ... tapi bisakah kalian membuat aku tenang? Hidup bahagia bersama anak dan istriku?" ujarnya masih memandang kosong ke arah lain.
 
Aku menunduk tidak menjawab perkataannya, aku mengerti bagaimana posisi mereka saat ini. Aku mengerti pasti kedatanganku membuat mereka teringat kembali kejadian belasan tahun silam ... tetapi bagaimana dengan aku dan ibu? Jika hanya aku saja yang mengerti, lalu bagaimana nasip ibuku yang selalu setia menunggu lelaki pujaannya kembali memeluknya. 
 
Untuk pertama kalinya aku melihat pria tegas dan seangkuh dirinya tiba-tiba menangis, "Aku juga sebenarnya mencintai ibumu, apa lagi saat aku tahu ibumu mengandung anakku ... yaitu kamu. Namun, aku tidak bisa melanjutkan semuanya, sebab Aku tahu hubungan kita adalah sebuah kesalahan! Aku mempunyai istri dan juga anak yang harus kujaga perasaan mereka, jadi tolong katakan pada ibumu jika dia mencintaiku ... relakanlah aku. Aku mohon ...." 
 
Aku menunduk seketika mendengar perkataan itu, tubuhku rubuh terduduk di lantai. Akhirnya aku bisa mendengar sendiri keluar dari mulutnya bahwa aku adalah anak kandungnya. Air mataku menetes deras, aku tidak sanggup untuk mengadah. 
 
Diri ini bagaikan pengemis, tidak ada harga diri. Bahkan tanpa kusadari aku telah berubah menjadi penjahat sebab kehadiranku meluluh lantakan bahtera rumah tangga mereka.
 
"Kami tidak butuh apa pun, ibu hanya ingin bertemu denganmu sekali saja ... mungkin ibu ingin melegakan hatinya untuk mendengar kata perpisahan keluar dari dalam mulutmu sendiri, kata-kata yang belum sempat Tuan ucapkan saat meninggalkan ibuku." 
 
Suaraku tersengal dan sangat pelan, masih sambil menunduk diri ini terlalu takut untuk hanya sekedar mengadahkan kepala. 
 
Terdengar Tuan Feliks menghela napas besar, "Sudah kubilang berapa kali lagi? Aku tidak bisa ... bagiku semuanya sudah usai! Tidak ada lagi yang harus aku perbaiki dengan masa lalu itu!" jawabnya tegas setengah berteriak. 
 
Hingga membuat aku terkejut dengan keras nada bicaranya. "Lalu bagaimana dengan ibu? Ibu saat ini sakit keras." 
 
Tuan Feliks duduk mensejajarkan tubuhnya padaku, lalu mengangkat kepalaku menatap wajahnya. "Dira ... aku sudah tidak peduli akan semua yang terjadi di masa lalu, aku sudah berusaha sekuat mungkin mengubur semuanya dengan segala rasa bersalah. Aku hanya ingin hidup tanpa dibayang-bayangi masa lalu, aku hanya ingin hidup damai, membahagiakan istri dan anak-anakku." 
 
Tangisanku semakin deras, membayangkan bagaimana nasip ibu yang terbaring di atas ranjang rumah sakit? Padahal aku sudah berjanji padanya untuk membawa Tuan Feliks padanya.
 
Dadaku berdesir setiap mengingat penderitaan ibu merindukannya, akhirnya kutanggalkan harga diriku dan berlutut di kedua kakinya. 
 
"Tuan ... aku mohon, aku mohon dengan sangat ... tolong temui ibuku! Ibu hanya ingin bertemu denganmu sekali saja, lalu ucapkanlah kata selamat tinggal padanya ...," ujarku penuh penekanan sambil memegang sepatu pantopel yang ia gunakan.
 
Aku tidak peduli lagi bagaimana harga diriku di mata lelaki yang paling kubenci seumur hidupku! Yang jelas saat ini aku hanya melakukan dan menuntaskan janjiku pada ibu ....
 
Ya, demi ibu ... ibu terbaikku, ibu terhebatku dan ibuku yang malang.
 
 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!