Angin pagi masuk berhembus melewati jendela sambil membawa senandung bait kerinduan, melantunkan nyanyian riang meski terdengar sunyi. Menitipkan sebuah kata mimpi untuk siang nanti ....
Sedangkan aku ... masih terbaring, meniti mimpi yang sudah terlanjur hinggap dalam sanubari.
Bola mataku mulai terbuka mengedar langsung pada jendela yang lupa kututup sepanjang malam. Ah sudah pagi ... itu waktunya aku harus memulai rutinitas pagiku seperti mengejar ilmu dunia. Sekolah, tempat di mana aku ingin bersembunyi di setiap sudutnya.
Aku menghela napas panjang, melihat ke arah jendela. Kelihatannya masih sama seperti pagi sebelumnya ... tetapi entah mengapa di pagi hari ini rasanya begitu lelah, seperti kata anak sebayaku. Dunia lagi capek-capeknya, malah kehilangan ayah!
Tubuhku berusaha bangkit dengan malas, membersihkan diri dan memakai seragam sekolah. Tidak lupa berpamitan pada ibu seperti biasanya, tidak salaman apa lagi meminta uang jajan. "Aku pergi dulu ... Bu," suaraku pelan menunduk tidak semangat di depan pintu. Aku pergi tanpa mendengar jawaban dari ibu.
Sekolahku jauhnya sekitar satu setengah kilometer dari rumah, setiap hari aku harus menikmati fasilitas yang Tuhan beri gratis untukku yaitu berjalan kaki sambil menunduk. Ya! Menunduk! Sebab aku malu pada setiap warga yang memandangku hina, merasa jika aku anak yang tidak pantas untuk mendapatkan fasilitas ilmu pelajaran hanya karena aku seorang anak wanita rendahan seperti ibu! Terkadang pula mereka tidak segan meludah tepat di hadapanku.
Meski itu hal biasa kuhadapi, tetap saja hati ini masih sakit diperlakukan seperti itu. Bagiku mereka hanya berbentuk manusia. Tetapi, dalamnya kosong tidak ada hati, jantung, paru-paru apa lagi isi kepala!
Tidak terasa selama tiga puluh menit perjalanan, akhirnya bagian depan sekolah terlihat juga dan ketika memasuki pagar, aku tidak sengaja bertemu pada siswa yang setiap harinya diantar ke sekolah menggunakan mercedes-benz berwarna maroon mengkilat.
Sontak bola mataku sempat membulat memandangnya, jantung berdegup kencang entah karena takut atau malu. Ini kali pertamanya aku berjalan sedekat ini padanya.
Jarak kami tidak sampai semeter, wanginya semerbak sangat sopan masuk ke dalam rongga hidung. Ia bernama Ethan Jeff Ignatius. Ya! Aku hapal betul namanya, siapa yang tidak kenal dia di sekolah ini? Anak yang cerdas, kaya raya, tampan dan terkenal dengan keangkuhannya. Semua siswi hits satu persatu mendekati Ethan, tetapi ...selalu saja dicacinya terang-terangan. Hingga tidak ada yang berani mendekatinya lagi.
Ada beberapa yang bilang, wajahnya kami sangat mirip! Meski mereka tidak sengaja mengatakan itu dan begitu cepat mereka tepis kemiripan wajah Ethan denganku, seolah tak ingin siswa yang mereka idamkan harus mirip pada siswi bodoh, sial dan juga miskin, seperti aku!
Ethan yang sedari tadi berjalan mendahuluiku tiba-tiba berhenti menoleh ke belakang. Aku yang memang berjalan sambil menunduk berusaha cepat untuk melewatinya.
Namun, tiba-tiba Ethan menarik lenganku. Jantung berdegup sangat kuat, wajahku pun begitu takut untuk menoleh.
"Dira ... kita sekelas, Kan?" tanya Ethan dengan senyum manis di wajah tampannya. "Aku sudah lama ingin menatapmu sedekat ini," lanjutnya lagi sambil masih memegang lenganku kuat.
"Oh ... maaf, maaf! Aku hanya penasaran dengan wajahmu, Ra! Aku pernah memandangmu sebentar dan aku merasa kita sangat mirip!" ujarnya menyeru sambil berjalan santai di sampingku.
Aku hanya diam, masih sambil menunduk. Ada perasaan malu sekaligus haru bisa berdampingan pada Ethan di depan halaman sekolah dan aku yakin sekarang mata siswa siswi pasti mengarah pada kami.
"Kamu tau? Aku sampai menceritakanmu pada mama dan kamu tau apa reaksinya?" Perkataannya terhenti seraya menoleh padaku, seperti ingin mendengar jawaban keluar dari dalam mulutku.
Tetapi, melihat aku yang hanya diam. Ia melanjutkan perkataannya kembali. "Mama nggak percaya, Ra! Dia bilang mana mungkin orang lain yang wajahnya bisa mirip banget selain sekandung." Lalu ia tertawa dengan sendirinya.
Sedangkan aku masih terdiam, bingung harus berekpresi seperti apa.
Ethan terdengar riang saat kami berjalan bersama, meski tidak melihat langsung raut wajahnya. Tetapi ... aku tahu dari nada bicaranya, sungguh ini pertama kalinya aku mendengar nada bicaranya seriang ini.
Apa memang sebenarnya, Ethan adalah seorang anak yang periang? Jadi selama ini ia disebut oleh mereka Ethan adalah anak yang angkuh, itu tidak benar?
Lalu, bagaimana pada kejadian yang sudah-sudah? Saat ia mencaci siswi secara terang-terangan di depan murid lainnya? Aku berada di sana waktu itu, aku melihat Ethan berteriak sangat keras di depan gadis hits di sekolah kami dan itu tidak terjadi sekali atau dua kali, tetapi sering ... hingga tidak ada yang berani mendekatinya lagi, jangankan anak gadis. Siswa di sekolah ini pun segan padanya.
Namun, mengapa kali ini ia berjalan santai di sampingku? Bercerita ... menanyakan dan tertawa riang sangat ramah.
Kepalaku berpikir sejenak. Angkuh dari mananya? Apa selama ini Ethan hanya berpura-pura menjadi cool agar didekati dengan banyaknya gadis? Agh! Tetapi kurasa tidak mungkin, ini dunia nyata bukan lagi cerita novel atau fiksi KBM!
Setelah begitu jauh rasanya aku berjalan untuk sampai ke dalam kelas, sekarang akhirnya aku bisa bernapas lega bisa masuk ke dalam kelas dan berpisah dengan Ethan. Ya, kusebut berpisah! Sebab jarak kami sangat jauh, meski dalam satu kelas. Dia di bangku bagian depan sedangkan aku duduk di bangku paling belakang bagian pojok kanan hampir tidak terlihat oleh siapa pun! Selain Tuhan dan guru.
Sepanjang jam pelajaran matematika, seperti biasanya aku hanya diam menatap dan mendengarkan apa yang guru ucapkan, walau sebenarnya otakku rada bingung mencerna apa yang guru itu ucapkan.
Hingga tiba jam istirahat, semua murid bangkit berjalan keluar. Biasanya mereka menghabiskan waktu untuk mengobrol dan bergosip menceritakan tentang hidupku yang begitu kasihan!
Hargh! Sudah pastii itu ....
Aku yang masih duduk sambil menahan lapar dan menunggu sampai pulangnya sekolah tiba itu dengan senangnya mengambil buku diary milik ayah, sangking bosannya aku di kelas ini.
Namun, di saat aku sedang sibuk mencari buku milik ayah di dalam tas. Lagi-lagi suara Ethan mengejutkan sistem kerja jantungku.
"Ra," panggilnya singkat dan sangat pelan, tidak mengejutkan sama sekali sebenarnya hanya jantungku saja yang berlebihan.
Sontak aku menoleh dengan wajah gelagapan, sambil memegang buku saku milik ayah.
"Apa itu?" tanya Ethan sambil merebut buku ayah secara tiba-tiba.
Aku hanya diam tanpa ekspresi, saat Ethan ingin mulai membukanya. Tanganku reflek merebut kembali. "Maaf, Than. Tapi ini buku almarhum ayahku."
"Maaf, aku berlebihan." Bibirnya lagi-lagi mengembang sangat manis. "Kamu pasti anak ayah banget ya, Ra? Nyampek bukunya pun kamu bawa ke sekolah?" tanya Ethan sambil menarik bangku lalu mulai duduk di sampingku.
Lagi-lagi aku hanya diam sambil membaca buku cetak matematika, mencari kesibukan yang penting tidak bingung harus berekspresi seperti apa saat di dekat Ethan.
"Nggak usah malu sih, Ra! Aku pun anak papa banget kok. Oh iya kamu tau? Papaku mirip banget loh dengan aku!" ujar Ethan menyeru yang lagi-lagi ia berbicara sendiri dan bercerita dengan sendirinya tanpa aku menanyakan tentangnya.
Kemudian ia melanjutkan kembali ucapannya seperti ingin mencairkan suasana, "Bukan mirip aku aja deh kayaknya ... tapi kamu juga!" Ethan menyeru sambil tertawa kecil.
Seketika kepalaku menoleh menatapnya, memandangnya tajam mengingat cerita paman. Jika wajahku sangatlah mirip dengan wajah pria dari masa lalu ibu.