Dua Belas Wasiat dari Ayah

Kembang Perawan

"Mirip?" tanyaku dengan wajah yang benar-benar sangat terkejut. 

 
"Yah! Mirip, memangnya kenapa? Wajar banget kan kalau aku mirip papa? Dan karna aku mirip papa, makanya kubilang papa juga mirip kamu!" Ethan terkekeh sambil memandangku hingga membuat wajah kami saling bertemu, saling memandang malu. Ritme jantungku berantakan, tidak bisa dipungkiri pesona Ethan selalu membuatku tertarik, bahkan sebelum ia menyapaku. 
 
Namun, aku selalu merasa rendah setiap melihatnya. Di mataku Ethan begitu sempurna dan aku seorang anak dari wanita penghibur yang hidupnya hanya penuh cacian.
 
Bahkan, bukan hanya untuk Ethan aku menutup diri ... tetapi untuk semuanya. Aku selalu merasa malu untuk hanya duduk di sesuatu tempat, sebab diri ini terlalu rendah dibanding mereka! Bukan aku yang tidak pandai bersyukur menerima keadaan. Tetapi, diri ini lebih sadar jika aku sendiri ... aku akan baik-baik saja.
 
Seketika kepalaku langsung menunduk, sedikit memberi senyuman untuk Ethan, ia pun membalas senyuman itu. 
 
Kami berdua terdiam, sepanjang waktu saat murid lain sedang berstirahat sampai bel masuk berbunyi pun ia tetap duduk di sampingku, entah apa jalan pikiran Ethan saat ini aku pun tak tahu.
 
Semua murid masuk ke dalam kelas dan benar saja!! Aku dan Ethan mendadak jadi bahan tontonan, mereka membulatkan bola mata menatap mengarah ke arah kami lalu berbisik pada teman sebelahnya.
 
Aku yang tidak enak hati langsung mengadahkan kepala pada Ethan, bibirku rapat tidak perlu bicara. Ethan langsung bangkit berjalan ke arah bangkunya kembali.
 
Ia menoleh kebelakang mengentikkan pelupuk mata kirinya padaku, jantungku hampir keluar melihat ekspresi Ethan. Kemudian ia duduk lalu menoleh kembali menatapku dengan senyuman maut. Laksana kurma yang paling manis di antara buah lainnya.
 
Hati ini bergetar hebat, mungkin ini namanya cinta? Meski sekuat diri menahan tetap juga jatuh dalam buaiannya.
 
Kutenggelamkan kepala di atas meja, berusaha menyadarkan diri untuk tidak terbuai. Nahas tetap saja ... hati ini sudah membukakan pintu sepenuhnya untuk Ethan. Seorang anak lelaki yang hidupnya jauh lebih beruntung dibanding aku ... akankah Ethan merasa hal yang sama? Atau ia mendekatiku hanya sekedar untuk memastikan wajah kami benar-benar mirip? 
 
Kurasa dirinya tidak sekonyol itu, pastilah ada maksut lain atau malah sebenarnya Ethanlah yang terpesona padaku? Aku terkekeh memikirkannya. Isi kepalaku terus berterbangan memanggil namanya, seakan memberi ruang sebentar untuk melupakan duka yang selama ini kurasakan. 
 
Ia bagaikan malaikat yang hadir di hidupku dengan melihat senyumannya saja aku sudah merasa tenang. Begitu romantis bukan? Tetapi ... aku takut berandai terlalu tinggi padanya, aku takut jika dirinya hanya menganggapku sebagai teman bicara! Tidak lebih?! Lalu ... bagaimana dengan perasaanku yang sudah terbawa saat pertama kali Ethan menyapaku.
 
Oh Tuhan ....
 
Aku semakin menenggelamkan wajahku di atas meja, tidak sanggup melihat beberapa bola mata yang sudah melihat ke arahku sejak tadi.
 
***
Berjam-jam sudah, akhirnya salah satu guru membunyikan bel pulang sekolah. Semua murid berhamburan keluar dari dalam kelas, begitu juga aku yang selalu menunggu murid semuanya keluar. Barulah aku menyusul untuk pulang dengan sendirinya tanpa teman, tanpa siapa pun! 
 
Namun, kali ini berbeda ... Ethan juga menunggu kepulangan semua anak murid. Hingga hanya ada aku dan dirinya di dalam kelas. 
 
Wajah kami saling menoleh, saling menatap lalu Ethan tersenyum menghampiriku. Di setiap langkahnya membuat jantungku ingin meledak, kepalaku mendadak kosong dan napasku terasa berhenti sesaat.
 
"Ra, mau bareng pulangnya?" ajak Ethan masih dengan senyuman mautnya. "Kuantar nyampek rumah deh." 
 
Ia meletakkan tangannya ke atas meja sedikit menunduk hingga membuat wajahku dan wajahnya begitu dekat, membuat aku semakin pusing menanggapinya seperti apa. Sebab saat ini aku seperti zombi yang masih hidup tetapi sudah tidak bernapas! Aku hampir mati dibuatnya, baru pertama kali aku merasakan perasaan yang sedahsyat ini.
 
Tiba-tiba Ethan bangkit, mundur menjauh dariku lalu tertawa lepas. "Kamu gerogi, Ra?" tanyanya masih tertawa lepas dan membuatku malu seolah sedang tertangkap basah. 
 
"A-aaaaa ...." Mulutku menganga ingin menjawab, tetapi kelu tidak bisa bicara secara mendadak! Hingga membuat Ethan semakin yakin aku benar-benar gerogi menghadapinya saat ini.
 
"Baiklah!" ujarnya sambil menarik lenganku kencang untuk berjalan, ia menggandengku lalu dengan cepat kulepaskan sebelum keluar dari dalam kelas.
 
Kini kami berjalan bersama kembali, masih sama seperti tadi seluruh mata mengarah pada kami. Berbisik pada teman di sampingnya, aku bisa menebak apa yang mereka bisikkan meski aku tidak mendengarnya! Sudah kupastikan mereka menghinaku habis-habissan.
 
Herannya Ethan seolah tidak peduli, ia masih tersenyum menghadap ke depan dan masih berjalan di sampingku. Sedangkan aku sejak tadi berusaha sepelan mungkin berjalan agar langkahku tertinggal olehnya, tetapi ... sepertinya Ethan menyeimbangkan langkahku. Hingga membuat langkah kami menjadi sama, walau sangat pelan seperti pengantin baru yang tertatih ingin masuk ke dalam pelaminan.
 
Sesampainya di depan pagar sekolahan, sebuah mobil mercedes-benz yang biasa menjemput Ethan sudah menunggu. 
 
Ethan mengajakku, menarik lenganku masuk ke dalam mobilnya. "Ra, yok masuk! Kuantar nyampek rumah!" ajak Ethan.
 
Aku menggeleng dengan posisi kepala yang masih menunduk malu. 
 
"Nggak apa, Ra." Ethan mengajak sedikit menekan nada bicaranya, sambil menarik lenganku kembali seperti memaksa.
 
Aku menarik reflek dengan kuat. "Maaf, Than. Aku nggak mau," jawabku datar menyelonong pergi tanpa mengucapkan rasa terima kasih atau ucapan basa-basi lainnya. 
 
Aku melangkah pergi melewati mobil itu dengan langkah yang cepat. Aku menolaknya pun bukan tanpa sebab, aku tidak ingin ia mengetahui tentang hidupku lebih jauh. Cukup hanya segelintir saja yang ia ketahui tentang hidupku dari berita yang beredar di sekolah. 
 
Jangan lagi ia ketahui lebih jauh, aku takut ... sangat takut. Ethan tiba-tiba menjauh sebab jijik pada keadaanku yang sebenarnya dan aku berharap semoga saja penolakan tadi tidak membuat dirinya berkecil hati.
 
Sepanjang perjalanan, aku tersenyum tidak seperti biasanya. Diri ini terus memikirkan Ethan tiada henti! Ia seperti penjajah yang masuk secara tiba-tiba dan ingin mengambil segala hal berharga dari pemiliknya, tetapi bodohnya yang dijajah malah ingin sang penjajah menang dan menguasai semuanya! 
 
Hargh! Bodoh bukan? Sepertinya sekarang aku sudah merasakan virus kebucinan yang sering kudengar saat anak murid lainnya bercanda, meledek temannya yang sedang jatuh cinta.
 
Hingga rasanya jalan kaki kali ini aku tidak merasakan lelah, tiba-tiba saja pintu rumah sudah terlihat. Hebat yaa ... yang namanya kekuatan cinta ia bisa menguatkan segalanya. 
 
Wajahku masih tersipu malu sambil membuka pintu, " Assalamualaikum," teriakku begitu semangat karena perutku dipenuhi kupu-kupu.
 
"Hergh ...." Suara ibu yang tergeletak di lantai membuat semuanya berubah dalam beberapa detik.
 
 
 
 
 
 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!