Dua Belas Wasiat dari Ayah

Wasiat Ayah yang Kedua

Perilaku ibu yang kemarin membuatku tersentuh, kupikir ia akan sedikit berubah. Mengerti jika saat ini putri kecilnya telah tumbuh menjadi seorang gadis, mengerti jika perilakunya akan berimbas pada masa depanku, tetapi ... kupikir ia tidak peduli tentang anaknya.

 
Dirinya tidak peduli akan segala sesuatu di hidupnya termasuk aku!!! Padahal aku sudah muak, ada rasa malu yang tersirat jika aku harus mengakuinya sebagai ibu. 
 
Aku menarik napas panjang memandang ibu tanpa menyentuhnya, setetes air mata tidak sengaja terjatuh. "Aku benci ibu!" ujarku melengos pergi meninggalkan ibu yang tergeletak di lantai, dengan tangan yang masih memegang botol minuman beralkohol berwarna kuning keemasan.
 
Melangkah cepat masuk ke dalam kamar sambil membanting pintu sangat kencang.
 
Brakh!!! 
 
Aku melemparkan tubuh ke atas ranjang, begitu lelah rasanya. Bagaimana jika Ethan tahu keadaan ibu? Kurasa meski Ethan baik padaku, jika ia tahu ibuku adalah seorang pemabuk berat ia pasti akan menjauhiku. 
 
Tuhan ....
 
Aku merasa hidupku sepi, tiada teman ... tiada adik, kakak, ayah atau ibu. Yah! Ibu memang ada di dekatku, tetapi ... jiwanya? Aku kehilangan jiwa ibu, kehilangan sosok ibu yang seharusnya menjadi wadah untukku bertumpu. Aku ingin ibu berubah, meski hanya sebentar saja ....
 
Pandanganku melirik ke dalam ransel, mengambil buku saku ayah dengan hanya meraba tanpa melihat lalu tersenyum tipis saat buku itu kupegang. 
 
Aku membukanya secara perlahan, mencari halaman yang bertuliskan wasiat ke dua. Rasa penasaranku selalu menggebu tidak sabar ingin melihat wasiat semuanya dari ayah! Setelah sholat kemarin apa lagi yang akan ayah wasiatkan untukku, aku terus bertanya setiap ingin membuka buku berwarna merah itu.
 
Hingga akhirnya aku terdiam seketika, saat baru saja membacanya, aku beranjak dan duduk di atas ranjang membaca wasiat ayah kembali dengan pelan.
 
[Assalamualaikum, putriku yang cantik. Ayah harap hari ini dirimu bahagia selalu ya ... terima kasih sudah membuka wasiat ayah lagi. Oh ... iya hari ini sudah sholat tepat waktu belum?
 
Kamu harus tahu, Nak. Sholat tepat waktu adalah cara ampuh memperbaiki hidupmu, dari mulai rezeki yang terus mengalir. Hingga semua masalah di hidupmu mulai perlahan menghilang.
 
Nah, sekarang ... ayah mau ngasih wasiat yang kedua. Kali ini dirimu hanya jawab IYA saja di dalam hati dan lakukanlah seumur hidupmu. 
 
Bacalah baik-baik ya, Nak. 
 
Nak ... berbaktilah pada ibu. Jangan pernah sedikit saja kamu merasa lebih hebat darinya, apa lagi merasa lebih tinggi derajatmu dibanding ibu.
 
Sungguh, inilah yang ayah khawatirkan dari dulu ... melihat dirimu tumbuh dewasa dan merasa sudah benar dari segala hal yang ibumu berikan. 
 
Rendahkanlah egomu, Nak. Serendah debu jalanan di bawah tapak kaki manusia yang suci untuk mengotorinya.
 
Sebab setinggi apa pun kamu di mata semua orang yang menghormatimu, kamu hanyalah anak dari seorang ibu yang selalu rendah di matamu.
 
Demi Allah, Nak ... tidak ada anak yang hebat tanpa doa ibu yang kuat ....
 
Berjanjilah pada ayah turuti wasiat ini. Demi dirimu, Nak ... demi hidupmu. Ayah selalu mencintaimu, sampai kapan pun.]
 
Kupejamkan pelupuk mata, menarik napas panjang mencoba menenangkan diri sebentar. Menutup buku itu lalu menciumnya membayangkan wajah ayah yang kucium.
 
Entah mengapa ada perasaan tenang setelah membaca buku itu, seakan diri ini berada di samping ayah sekaligus menikmati segala perhatian meski raganya sudah pergi jauh meninggalkan aku sendiri di sini.
 
Perlahan aku bangkit dari ranjang, kemudian berjalan keluar kamar untuk menemui ibu yang ternyata masih tergeletak di atas lantai tanpa baju dan celana hanya secarik dalaman yang menutupi tubuh ibu.
 
Aku terdiam selama beberapa detik memandang ibu. Rasa benci, jijik dan muak terlalu mendominasi perasaanku setiap kali melihat keadaan ibu seperti ini. 
 
Kepalaku mengadah, memejamkan mata mengingat kembali wasiat ayah untukku. Benar kata ayah ... dia adalah ibuku! Meski diriku setinggi langit, meski semua orang menghormatiku, meski semua orang memujaku. Aku tetaplah anak dari seorang ibu yang selalu rendah di mataku!
 
Yah! Mulai sekarang aku harus belajar memuliakan ibu, berbakti padanya dan memberi kata-kata manis yang mungkin akan setiap hari kukatakan untuk ibu. Pasti dengan cara itu ibu akan ditinggikan derajatnya oleh Allah.
 
Kemudian dengan gaya setengah duduk aku mengulurkan tangan ke arah ibu, mengelus anak rambutnya lembut. "Bu, bangun ya ...." 
 
"Hergh," ibu menjawab tetapi pelupuk matanya masih tertutup. 
 
 
"Bu, ayo bangun! Ibu jangan tidur di sini, nanti kalau ibu tidur di sini kamar ibu bakal kesepian loooh!" ujarku pada ibu yang mulai ingin mengucap segala kata manis untuk dirinya.
 
Ibu bergeming, tidak nampak ada niatan untuk membangunkan tubuhnya sama sekali. Sedangkan aku, tidak akan sanggup membopong tubuh ibu membawanya ke atas ranjang! Masak iya mau kuseret?
 
"Bu? Ayok bangun! Tidur di lantai ndak pake baju, kalau ibu sakit yang nyakitin aku siapa?" ucapku lagi masih dengan kata-kata manis yang pernah kubaca di buku perpustakaan dulu di sekolah yang judulnya 1000 kata manis untukmu.
 
Kali ini sepertinya jurus ucapan manisku berhasil, setelah mendengar ucapanku ibu langsung merespon dengan menautkan alisnya, ia tidak mengamuk sama sekali. Seketika aku bersemangat untuk berusaha mengingat kembali seluruh ucapan manis yang pernah kubaca dulu. 
 
"Bu, aku hari ini lelah, letih, lesu, kukira karena seharian sekolah. Ndak taunya karena efek mencintaimu," ucapku lagi dengan bola mata mengadah ke atas berusaha mengingat semua kata-kata manis itu dan melihat ibu masih bergeming! Akan kulanjutkan sampai ibu bangun.
 
"Bu, tadi pagi aku ngisi air bak. Tapi yang penuh malah cintaku padamu."
 
"Bu, apa bedanya ibu sama candi roro jong ...," perkataanku terhenti sepertinya aku salah mengucap. Setelah beberapa detik berpikir akhirnya aku ingat kembali. "Salah, Bu. Dira ulang ya ... apa bedanya ibu sama candi borobudur? Kalau borobudur candi kalau ibu candu." 
 
"Bu ... ikan hiu makan tomat, i love you so much." 
 
Kemudian ibu membuka bola matanya menatapku dengan tatapan aneh. Aku yang sedari tadi duduk di samping ibu langsung membalas tatapannya memberikan senyuman sangat manis. 
 
Namun, entah mengapa tidak ada perkataan yang keluar dari dalam mulutnya. Ia langsung bergegas bangkit lalu masuk ke dalam kamar, langsung mengunci pintu.
 
Bibirku mengembang puas, ibu bangun menatapku dan tidak memarahiku. Itu artinya buku 1000 kata manis untukmu sangatlah manjur. 
 
Seketika aku beranjak menyusul ibu ke kamarnya, mengetuk pintu ibu pelan.
 
"Bu ... sejak kapan ibu jadi penari? Soalnya bayangan ibu menari-nari di benakku," ujarku sedikit kencang di depan pintu. 
 
Aku rasa sekarang ibu pasti sedang malu makanya ia mengunci pintu, ibu pasti sedang memikirkan aku yang sekarang mulai jago untuk berkata manis padanya.
 
Bibirku tersenyum bangga dan puas, pokoknya besok akan kucari kembali buku itu untuk mempelajarinya lagi. Agar aku bisa lebih banyak memberi ucapan manis pada ibu.
 
 
 
 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!