Dua Hati Satu Cinta

Malaikat Kecil

"Mas?"

Arman terkesiap. Melihat istrinya menatap bingung terhadap dirinya, ia tersenyum kikuk.

"Kenapa berhenti?" ucap Amira yang heran karena tiba-tiba langkah suaminya terhenti di depan poly kandungan. 

Dalam hati Arman bersyukur karena istrinya tak melihat apa yang dilihatnya. Padahal dia sendiri juga belum yakin dengan apa yang dilihatnya barusan.

Dengan hati-hati, ia melanjutkan langkahnya bersama sang istri. Sisa perjalanan mereka menuju parkiran dihabiskan dalam diam. Semua sibuk dengan pikirannya masing-masing. 

Dua puluh menit menyusuri jalanan beraspal, mobil yang dikendarai Arman berhenti di rumahnya. Seorang wanita paruh baya keluar bersama kedua cucunya. Menyambut kedatangan sang menantu dengan wajah berbinar. 

"Bunda ...!" teriak dua malaikat kecil itu semringah. Keduanya langsung berlari dan menghambur ke pelukan sang bunda. Amira menyejajarkan tingginya dengan dua bocah lucu itu. Memeluknya erat dan menciumi bergantian. 

"Bunda, Kakak kangen," ucap si sulung mengerjapkan matanya. Pipinya menggembung karena merajuk. 

"Adek juga kengan, Bunda. Adek pengen makan masakan Bunda lagi," lirih si bungsu dengan mata berkaca-kaca. Amira merasa dadanya seperti diremas-remas. Nggak kuat jika harus berpisah lama-lama dengan dua malaikat kecil ini. 

Merekalah alasan Amira bertahan hidup selama ini. Mereka pula yang menjadi motivasi baginya untuk berjuang. Meski ia sendiri tak tahu, akankah perjuangannya berakhir indah atau justru sebaliknya. 

"Sudah, sudah. Kasihan Bunda masih lemas. Kita masuk dulu, yuk! Biar Bunda bisa istirahat," ajak Arman mengurai pelukan mereka. 

Meski tak rela, kedua anak kecil itu menurut juga. Kaira menuntun tangan kanan Amira sedangkan Kiara di tangan kirinya. Mereka bertiga berjalan sambil mengobrol. Kiara tak henti-hentinya menceritakan sekolahnya selama tidak ditunggui sang Bunda. 

Sang kakak pun tak mau kalah. Ia juga menceritakan kegiatannya di sekolah. Dalam sekejap, si adek pergi meninggalkan ruang tamu. Lalu kembali lagi dengan menunjukkan hasil karyanya dengan bangga. 

Senyum Amira begitu lebar. Sejenak ia bisa melupakan masalahnya yang membuat hari-hari terakhir ini begitu terbebani. Bertiga ibu dan anak itu saling bercengkerama. Melepaskan rindu dengan cara mereka. Meski Amira masih letih, melihat antusiasme kedua buah hatinya, suntikan semangat kembali membakarnya. 

"Bunda, adek mau diantar Bunda lagi kalau sekolah!" 

Amira mencium tangan mungil putri bungsunya. "Emang kenapa kalau sama Ayah, sayang?" 

"Ayah nggak tepat waktu kalau jemput. Kita sering lama nungguin Ayah datang. Kita kan takut, Bunda ...," rengek bocah yang memiliki mata bulat itu. 

"Takut apa? Di sekolah kan masih ada Bu Guru," timpal Amira. Ibu dua anak itu mencoba menenangkan sang anak. Selama ini ia tak pernah mendidik kedua anaknya menjadi pribadi yang penakut. Dan baru kali ini juga ia mendengar si kecil bilang takut. 

"Di sekolah Adek ada bapak-bapak yang sering datang mendekati anak-anak kecil. Terus ... Di--" 

"Adek!" Kaira memotong ucapan sang adek yang belum selesai. Seolah mengingatkan pada adeknya untuk tidak mengatakan apapun pada Bunda. Namun Amira sudah terlanjur mendengar meski masih sepotong. Jadi jiwa waspada seorang emak mulai muncul.

"Lanjutin, Dek. Kenapa dengan bapak-bapak itu?" Amira berucap lembut supaya anaknya tidak takut mengatakannya. 

Sesaat putri kecil itu melirik kakaknya. Lalu menunduk dan meremas dress selutut yang dipakainya. Amira meraih tangan mungilnya dengan tangan kanan dan meraih dagunya dengan tangan kiri. Tatapannya menyorot lembut pada kedua bola putrinya. Seolah mengatakan, bahwa ia tidak akan marah jika mengatakannya. 

"Bapak-bapak itu selalu mendekati adek dan mencoba mengajak adek ikut dengannya. Dia juga membawa es krim untuk adek dan kakak."

Amira membulatkan matanya. Ada orang yang mencoba mau menculik anaknya kah? Untuk apa pria itu mendekati putrinya. Tapi kalau mau menculik, kenapa dibiarkan lolos begitu saja? Apa dia mencoba mendekat dulu dan baru menculiknya kalau kedua putrinya sudah mulai kenal?

"Apa kakak dan adek menerimanya?" tanya Amira was-was. 

Kedua bocah itu menggeleng kompak. Seketika dada Amira terasa longgar. Apa Mas Arman tidak tahu? Kenapa dia membiarkan kedua putrinya menunggu? Bukankah Aku sudah sering bilang, kalau anak-anak tidak boleh menunggu terlalu lama mengingat letak sekolah mereka dekat dengan jalan raya, dan itu sangat berbahaya. Batin Amira.

 

***

Rumah sudah sangat sepi. Amira tinggal sendirian di rumah. Arman sudah berangkat dengan anak-anaknya. Sebelumnya, Amira sudah memberi wejangan pada suaminya untuk tidak terlambat menjemputnya. Ia juga sudah menceritakan apa yang didengar dari putrinya. 

Mama mertuanya juga sudab kembali ke rumahnya tadi pagi. Sekarang Amira benar-benar sendiri memeluk sepi. Untuk melakukan aktivitas rumah, fisiknya belum kuat. Lagipula, sekarang masih dalam kesempatan. Dimana semua kegiatan rumah diselesaikan oleh Arman. 

Untuk membunuh bosan, ia menyalakan laptopnya. Membuka folder tulisan yang perlu diselesaikan. Satu tulisan sudah dikontrak PH untuk difilm-kan. Dan sekarang ia sedang menulis cerita lain yang baru dapat setengah jalan. 

Impiannya adalah membawa keluarganya untuk nonton bareng film dari karyanya. Semoga bisa terwujud suatu saat nanti. 

Suasana ruangan begitu hening. Hanya bunyi keyboard yang ditekan terdengar oleh telinga. Itupun tak terlalu nyaring. 

Sebuah panggilan menghentikan jemarinya. Sejenak ia melihat siapa yang menghubungi. Nomor asing. Dia tak ada minat untuk mengangkat. Kembali ia melanjutkan untuk mengetik. Namun lagi-lagi nomor itu memanggil. Seolah tak kenal lelah, HP itu terus meraung minta diangkat. Terpaksa Amira menggeser gambar telepon ke warna hijau.

"Halo, Assalamu'alaikum." 

["Amira! Kamu sengaja, kan memengaruhi Arman agar dia nggak mau menemuiku? Mau kamu apa, sih, Mir? Apa belum cukup waktu delapan tahun ini kamu memilikinya? Sekarang saatnya kamu mengembalikan apa yang bukan milikmu!"] 

Perempuan yang masih berstatus istri ini menghembuskan napas lelah. Tanpa bertanya saja ia tahu siapa yang telepon. Dia pikir Mas Arman itu barang atau piala bergilir, sehingga dengan mudahnya bisa dipindah-tangankan. 

Amira tak habis pikir dengan jalan pikiran mantan temannya ini. Apa dia benar-benar tak takut dosa melakukan itu. 

"Maksud kamu apa, Mel? Mas Arman itu suamiku. Wajar kalau aku melarangnya bertemu dengan orang yang telah menyakitinya dulu." 

["Kamu jangan egois ya, Mir. Mas Arman dan aku tuh saling mencintai. Jadi jangan halang-halangi kami untuk ketemu. Kamu pikir kamu bisa menguasainya sendirian? Mimpi kamu, Mir!"] 

Melly semakin berani menunjukkan ketertarikannya pada Arman. Padahal dia sendiri yang jelas-jelas meninggalkannya sebelum menikah dulu. Namun sekarang seolah-olah Amiralah yang telah merebutnya. 

"Maaf ya, Mir. Mas Arman itu suamiku. Sah secara hukum dan agama. Jadi wajib bagiku untuk mengingatkannya supaya tidak terjerumus pada kemaksiatan. Kalau mau menumpuk dosa, tolong jangan menyeret suamiku." 

Terdengar seseorang di seberang telepon mencak-mencak nggak karuan. Ia merasa tak terima dengan ucapan Amira. Namun Amira tak mau membuang waktunya lebih banyak meladeni perempuan itu. Ia lebih memilih untuk memutus sambungan dan mengistirahatkan otaknya. 

Namun sepertinya lawan bicaranya tadi tak terima dengan perlakuan Amira. Ia kembali menelpon tapi diabaikan. 

Perempuan beranak dua ini berjalan menuju balkon. Menghirup udara segar dari tumbuhan di sekitarnya sambil memejamkan mata. Paru-parunya terisi penuh oksigen sekarang. Sehingga dadanya terasa sejuk. Beberapa detik kemudian menjalar ke otak dan seluruh tubuh. 

Lagi HP-nya meraung. Namun bunyinya berbeda dengan yang tadi. Meski enggan, Amira tetap mengangkatnya. 

[Bu Amira, saya sudah mendapatkan sedikit petunjuk. Sebentar lagi akan ada titik terang. Barusan saya kirim foto-foto. Silahkan dilihat]

Amira buru-buru membukanya, hingga HP yang dipegangnya hampir saja jatuh saat melihat gambar-gambar itu. Jantungnya berdegub kencang dengan mata membulat dan mulut menganga.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!