Dua Hati Satu Cinta

Dilanda Kebimbangan

[Mas, kenapa sih lama banget angkat teleponnya?]

"Maaf, Mel. Mulai hari ini tolong jangan menghubungiku dulu selama sebulan, ya." Arman melirik Amira yang masih setia menatapnya. 

[Nggak bisa gitu dong, Mas. Ini keluargaku sudah nungguin kedatanganmu. Kemarin kita sudah sepakat loh. Kok sekarang berubah gitu. Jangan-jangan kamu mau ingkar janji ya?] 

"Bukan gitu. Tapi kita harus melakukan ini kalau mau dapat izin dari Amira. Itu syarat yang di berikan untuk kita bisa menikah. Tolong, mengertilah. Hanya sebulan, setelahnya aku akan datang ke menemui keluargamu. Oke?"

[Nggak. Pokoknya aku nggak mau tahu. Mas kesini sekarang juga atau nggak usah ketemu selamanya!] Perempuan di seberang telepon memutus telepon secara sepihak. 

Arman memijat kepalanya yang tiba-tiba sakit. Tatapannya mengiba pada Amira. Berharap wanita cantik itu mengizinkannya untuk pergi malam ini. Namun, ibu dari kedua buah hatinya itu memalingkan wajah dan berdiri. Malangkah menuju tempat tidurnya. 

Arman menyugar rambutnya kasar. Lalu menjambak-jambak sendiri karena frustrasi. Dengan gontai ia melangkah menuju tempat di mana istrinya membaringkan diri di sana. Tatapannya nyalang ke langit-langit kamar. 

"Sayang, ... bo-"

"Bahkan ini belum ada satu jam, Mas. Bukankah Mas Arman sudah menyetujuinya tadi? Satu bulan loh. Gimana, atau dibatalkan saja?" 

Amira memotong ucapan suaminya. Ia tahu pria ini mau memohon padanya demi wanita masa lalunya. Tapi kesepakatan adalah kesepakatan. Meski tidak ada bukti tertulis, dia tetap harus mematuhinya. 

Bagaimana mungkin ia bisa berlaku adil, sementara baru mendengar rengekan perempuan itu saja sudah goyah. Apalagi dengan jurus maut yang selalu wanita itu gunakan untuk menjerat mangsanya. 

Berteman selama enam tahun dengan perempuan itu sejak SMP, membuat Amira mengenal sikapnya. Dia adalah wanita yang ambisius. Obsesinya tinggi. Apapun yang diinginkan harus ia dapat. 

"Eh, jangan! Jangan dibatalkan. Ok. Ok. Aku nggak akan ke sana."

Pria berkulit sawo matang itu merebahkan badan di samping sang istri. Pikirannya melayang. Memikirkan perempuan yang pernah menjadi cinta pertamanya itu. Hatinya bimbang. Menuruti sang istri, sudah dipastikan perempuan itu akan marah. Menurutinya, berarti ia tak akan bisa menikah. 

Dalam kekalutan, ia mencoba untuk memejamkan mata. Namun suara perempuan shalehah di sampingnya membuat matanya kembali membuka. 

"Mas melupakan sesuatu?" 

"Hah, apa?" Pria itu mencoba berpikir. Menelisik istrinya melalui ekor mata. Namun tiba-tiba ia teringat salah satu syarat yang diajukan Amira. 

Alunan merdu tilawah Al-Quran yang dibacakan Arman membuat hati Amira tenang. Kesejukan mengalir dalam setiap pembuluh darahnya. 

***

Aroma masakan menusuk hidung Amira yang sedang menyirami tanaman di belakang rumah. Sejak habis subuh tadi, Arman sudah berkutat dengan pekerjaan rumah menggantikan Amira. Dan sekarang mungkin ia sedang memasak di dapur untuk sarapan. Sementara anak-anak sedang bermain bersama Amira. Membantu menata taman dengan cara mereka. Meski sebenarnya tidak bisa juga dikatakan membantu, karena hasilnya sangat berantakan dan mengharuskan Amira untuk menata ulang. 

Namun hal itu tak membuat perempuan berhati lembut itu marah. Ia justru tertawa melihat tingkah konyol kedua buah hatinya. Beberapa menit kemudian, Arman muncul menggendong dua buah hatinya untuk dimandikan. Pria itu sudah mirip seperti single father. 

Hati Amira seperti tertusuk duri melihat kesungguhan Arman untuk mendapatkan restunya. Andai apa yang dilakukan pria itu tulus, bukan karena untuk menjalani syarat yang diajukannya, dia akan menjadi wanita paling beruntung di dunia. 

Selama ini Arman sangat sibuk dengan pekerjaannya. Urusan rumah tangga sepenuhnya menjadi tanggung jawab Amira, meski sesekali Arman membantu. Namun tidak untuk mengurus dan mendidik anak-anaknya. Amira melakukan itu dengan tulus, semata-mata karena ia ingin mendapatkan ridlo-Nya. 

Ia tak pernah mengeluh meski tubuhnya letih. Ia juga nggak pernah protes karena tidak diizinkan keluar bersama teman-temannya. Namun ia memanfaatkan waktu-waktu di luar saat menunggui anak-anak sekolah untuk kegiatan yang tidak pernah diketahui suaminya. 

Pukul 6.30, semua sudah berkumpul di ruang makan untuk sarapan. Sejak membuka mata, Amira belum mengeluarkan sepatah kata pun di depan suaminya. Kini, ia pun makan dalam diam. Netranya fokus pada makanan yang sedang dilahapnya. Sesekali, matanya mengamati interaksi ayah dan anak di depannya. Bagaimana Arman menyuapi kedua buah hatinya dengan sabar. 

Selesai sarapan, Arman segera membawa dua buah hatinya ke mobil. Mendudukkan merek di jok belakang. 

"Kami berangkat dulu, ya," ucapnya sambil mencium kening Amira. Sang istri hanya mengangguk setelah mencium tangan suami. Meski terasa lebih dingin sekarang, kebiasaan mereka seperti ini tetap dilakukan. Siapa tahu cinta yang hampir layu bisa kembali tumbuh seperti delapan tahun lalu. 

Amira menyeka air matanya setelah mobil yang ditumpangi sang suami lenyap bersama kendaraan lain di jalanan. Dadanya nyeri membayangkan lelaki yang dicintainya bersanding dengan Melly, teman sekolahnya dulu. Dengan langkah gontai ia masuk. Lalu membuka gawai yang belum tersentuh sejak semalam. 

Beberapa panggilan tak terjawab dan chat yang terlewat dari seseorang menarik perhatiannya. Jemarinya mengusap layar pipih berukuran 5,5 inchi itu dan membuka aplikasi hijau bergambar telepon. 

Menghela napas panjang, mampu meredakan sedikit sesak di dadanya. Jempolnya mulai menari di atas huruf-huruf kecil membentuk rangkaian kalimat. 

"Aku nggak bisa ke tempat biasa. Lebih baik ketemu di rumahmu aja, gimana?" Balas Amira dalam chatnya. Sejurus kemudian dia bangkit dan mengambil slingbag warna hitam di etalase. Memasukkan gawai dan dompetnya ke dalam tas itu lalu pergi ke tempat yang telah disepakati bersama temannya. 

"Apa? Arman izin mau nikah lagi?" ucap Emil sabahat Amira. Saat ini mereka sedang berada di sebuah kafe untuk membicarakan kontrak kerjasama. 

"Sstt, jangan toa bisa nggak? Malu tahu diliatin banyak orang," Amira cemberut mendengar reaksi sahabatnya. 

"Aku kaget, tauk. Nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba kamu bilang gitu. Terus kamu iyakan?" Perempuan berkerudung biru laut itu menatap mata Amira penuh selidik. Namun yang ditanya hanya menghembuskan napas panjang. Lalu kembali asik dengan gawainya. Entah apa yang sedang dilakukan dengang gadget itu. 

"Nggak!" Jawab Amira tanpa melihat sahabatnya. Padahal perempuan yang selalu mendukungnya ini sudah gemes setengah mati mendengar kabar itu. 

"Bagus. Jangan dikasih izin. Enak saja dia mau nikah lagi. Setelah perjuangan yang kamu lakukan ini, dan dia akan menikah lagi? Boleh nggak nyantet orang. Pengen ku kirim santet terampuh pada cewek pelakor itu biar kapok!" Emil terlihat mengepalkan tangannya. Kedua matanya melotot dan rahangnya mengeras. 

"Dosa, Mil. Istighfar, jangan mau masuk neraka demi cewek yang seperti dia. Tenang aja, Mas Arman nggak bakal kuat dengan syaratku." Amira tersenyum mengatakan itu. Seolah ia sangat yakin jika suaminya nggak bakal jadi menikah lagi. Meski sudut hatinya percaya wanita itu mampu menaklukkan imamnya, tepi sebagian hatinya yang lain mengingkari. 

"Kok kamu kelihatan santai gitu sih, Mir. Kamu nggak takut jadi janda?" 

"Hus, nggak boleh mendoakan temennya kek gitu, ah." 

"Loh, bukan mendoakan, tapi kalau benar Arman menikah lagi berarti kamu jadi janda dong? Atau mau dimadu?" Seketika mata perempuan itu membulat. "What the ... demi apa kamu mau dimadu?" 

"Ish," Amira tak menanggapi kehebohan Emil. Saat ini tujuannya untuk menandatangani kontrak. Bukan untuk membahas masalah rumah tangganya. 

Karena Amira tak mau lagi menanggapi pertanyaan Emil, mereka akhirnya membicarakan kontrak kerjasamanya. Perempuan berkerudung pastel itu membaca kontrak itu dengan teliti. Setelah puas dengan pasal-pasal yang tercantum di dalamnya, ia membubuhkam tanda tangan di atas materai. Lalu kembali menyodorkan berkas itu pada Emil.  

Seorang perempuan yang entah datang darimana tiba-tiba menyiram kepala Amira dengan es jeruk yang ada di meja. Keduanya menganga menatap perempuan itu. 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!