Dua Hati Satu Cinta
Talak Satu (2)
"Arman menalakku," lirih Amira.
Kedua mata Emilia membola. Tak percaya dengan ucapan sahabatnya. Dia pikir prahara rumah tangga yang dialami sahabatnya nggak sebesar itu hingga menyebabkan perceraian. Apalagi jika melihat Arman, dia adalah laki-laki yang sangat mencintai istrinya. Tatapan mumuja pada Amira selalu ia lihat jika bersama.
"Kapan?"
"Tadi pagi," ucap Amira lesu. Ia menceritakan apa yang terjadi sebelum ini. Termasuk saat Arman nggak pulang dan paginya Melly datang. Semua dia ceritakan tanpa ada yang terlewat.
Sebagai sahabat terdekat, Emil menjadi pendengar yang baik. Ia tak bertanya atau menyela kalimat Amira hingga selesai. Raut wajahnya berubah-ubah mengikuti topik bahasan Amira.
Seorang pelayan datang membawa dua gelas cokelat panas. Sengaja Emil memesan itu agar sahabatnya relax. Selesai bercerita, Amira menundukkan wajahnya. Meresapi hatinya yang saat ini terasa nyeri. 'Inikah akhirnya? Berpisah dengan Arman yang sudah menjadi tumpuan hidupnya selama delapan tahun.'
"Mil, apa yang harus kulakukan?"
Emilia meraih tangan Amira. Menggenggamnya dan mengelus lembut. Menyalurkan kekuatan agar sahabatnya tegar menghadapi kenyataan pahit yang sedang dihadapi.
"Kamu lebih tahu apa yang harus kamu lakukan, Ra. Bukankah kamu masih bisa tinggal di sana sampai masa iddahmu habis?" Jadi kedua putrimu tak akan tahu kalian sudah berpisah. Dalam waktu itu, kamu juga harus mempersiapkan diri dan anak-anak."
Amira memang ditalak satu oleh Arman. Masih ada kesempatan baginya untuk rujuk kembali. Selama masa iddah, ia juga masih tinggal bersama. Hanya saja mereka pisah tempat tidur. Sementara Arman sebagai laki-laki masih memiliki kewajiban untuk memberi nafkah selama masa iddah. Dan jika ia berubah pikiran, masih bisa rujuk kembali tanpa harus melakukan nikah ulang.
Amira tak yakin hal itu akan terjadi. Apalagi jika perbuatannya dengan Melly malam itu membuahkan hasil. Tentu Melly nggak akan merelakan Arman begitu saja.
Masa iddah atau idah ialah masa tunggu (belum boleh menikah) bagi perempuan yang berpisah dengan suami, baik karena ditalak maupun bercerai mati. Jika idahnya karena diceraikan suami dan termasuk talak raji (masih bisa rujuk), sang istri masih berhak mendapat nafkah. Karena selama iddah tersebut, status istri masih sebagai istri yang sah. Sebagaimana firman Allah SWT, "Dan suami-suaminya berhak merujuknya dalam masa menanti itu jika mereka (suami) itu menghendaki islah." (QS al-Baqarah [2]: 228).
Sementara untuk urusan nafkah, wanita yang ditalak satu dan dua masih sama dengan sebelum ditalak, yakni tempat tinggal, pakaian, makan, dan kebutuhan hidup lainnya. Baik ia ditalak dalam keadaan hamil maupun tidak.
Untuk itu seorang istri dalam iddah talak raji' tidak boleh diusir keluar dari rumah dan tidak boleh juga secara sukarela keluar dari rumah yang ia tempati bersama suami. Meskipun keduanya dalam keadaan saling membenci atau dalam masalah. Salah satu hikmahnya adalah agar keduanya memiliki kesempatan untuk saling introspeksi dan bisa rujuk kembali.
Terkait larangan mengusir istri atau istri dengan sengaja pergi dari rumah diterangkan Allah SWT dalam surah at-Talaq ayat 1. "Janganlah kamu keluarkan mereka (istri-istri yang dicerai) dari rumah mereka dan janganlah mereka diizinkan ke luar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah dan barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah, sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri."
Setetes kristal luruh dari pipi mulus Amira. Dadanya makin nyeri membayangkan kedua putrinya harus kehilangan sosok ayah diusia masih sangat kecil. Meski tetap bisa berkomunikasi, ia tak yakin Melly akan mengizinkan Arman menemui kedua putrinya mengingat perempuan itu sangat posesif dan membenci Amira jika mereka benar-benar pisah nanti.
"Amira, sebagai sahabat aku hanya bisa mendo'akan dan mendukung apapun keputusanmu. Yang sabar, ya. Pasti ada hikmah dibalik kejadian ini."
"Makasih, Mil. Setidaknya aku nggak sendiria mengadapi ujian ini. Jangan bosan mendengar keluh kesahku, ya," ucap Amira dengan tatapan sendu.
***
Arman menenggelamkan diri dalam tumpukan berkas yang seolah tiada habisnya. Meski berusaha fokus pada pekerjaannya, pikiran Arman tetap melayang pada sosok perempuan yang menghuni hatinya. Hatinya berdenyut mengingat lisannya telah mengucap talak pada Amira.
Kedua tangannya menjambak rambutnya sendiri. Lalu kepalanya menunduk dengan bertumpu pada meja. Sekelebat bayangan wajah bidadari hatinya yang sedang menangis menambah ngilu seleuruh persendian dan organ dalamnya. Ia menyesali kecerobohannya mengambil keputusan. Harusnya ia bisa bersabar sedikit untuk menunggu hasil penyelidikan para detektif bayarannya.
Namun entah mengapa, mengingat Melly bisa berbuat apa saja pada keluarganya memivu ia untuk mengambil keputusan itu secepatnya. Sengaja ia merekam ucapan talaknya tadi tanpa sepengetahuan Amira. Sebagai bukti agar Melly percaya padanya, sampai semua terbongkar.
Sebuah ketukan tak dihiraukan oleh lelaki dua anak itu. Pikirannya terus melayang meratapi kesalahan yang diperbuatnya. Hingga Bagas masuk meski tanpa izin. Pria itu memang sering berbuat demikian. Ketika ia melongok dan mendapati atasannya menelunfkupkan kepalanya di meja, ia tahu kalau sahabat sekaligus atasan itu sedang banyak masalah. Dan ia bisa menebak masalah itu masih berhubungan dengan kejadian kemarin.
Meski Bagas sendiri masih kesal dengan perbuatan Arman, ia tetap berusaha bersikap profesional di kantor.
"Bos, apa yang terjadi? Anda butuh bantuan?" tanyanya membuat Arman mendongak. Kedua netranya merah dan berkaca-kaca. Ia bisa menebak bahwa bosnya benar-benar kacau sekarang.
Arman menarik napas panjang sebelum menjawab. Mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegap tapi sorot matanya tetap tak bisa membohongi Bagas jika dia sedang bermasalah.
"Aku ... sudah salah mengambil keputusan, Gas. Aku terlalu buru-buru menucap talak pada Amira," ucapnya lesu.
Kedua netra Bagas membola. Perasaannya campur aduk sekarang. Entahlah, apa dia harus senang atau sedih mendengar pengakuan Arman.
Dia memang tak suka Arman mempermainkan hati Amira. Namun mendengarnya diceraikan demi perempuan bernama Melly itu membuat hatinya panas. Sungguh, ia tak rela jika Amira sakit hati karena ulah Arman. Terlebih Arman melakukan itu demi perempuan lain yang telah menghancurkan rumah tangganya.
"Kamu sudah gila? Perempuan sebaik Amira kamu ceraikan demai Melly? Kamu sama saja memungut kerikil dan membuang berlian, Ar!" Bagas tak lagi mengucapkan kalimat formal pada atasannya.
Kalau sudah menyangkut Amira, ia seolah lupa jika dirinya seorang bawahan. Yang ada dalam pikirannya adalah gimana caranya agar perempuan itu tidak merasakan sakit hati.
Harusnya dia bahagia, wanita yang selaku menjadi alasan hidupnya diceraikan suaminya. Dia akan dengan mudah menikahi dan menggantikan posisi sahabatnya.
Namun ia tetap tak mau mengambil kesempatan dari ujian yang dialami Amira. Bagaimanapun ia tetap berusaha memberikan yang terbaik pada perempuan idamannya. Jika Amira masih berharap pada Arman, ia akan berusaha untuk menyingkirkan Melly dari hidup sahabatnya itu. Namun jika Amira memilih menyerah, dengan senang hati ia akan masuk dalam kehidupannya.
"Aku harus melakukannya, Gas. Melly akan berbuat apa saja untuk menghancurkan keluargaku. Aku tak mau ia menyentuh Amira!"
"Haruskah dengan menceraikannya?"
"Hanya itu jalan satu-satunya."
Bagas tertawa sumbang mendengar kalimat Arman yang terkesan putus asa. Ia tak habis pikir, seorang CEO perusahaan kalah dengan permainan licik seorang perempuan. Padahal dengan kekuasaannya, ia bisa dengan mudah menghancurkan perempuan itu. Kecuali jika Arman memang masih memiliki rasa padanya. Tentu ceritanya akan berbeda.
"Kalau gitu, izinkan aku menggantikan posisimu."