Dua Hati Satu Cinta
Usaha Melly
"Kalau gitu, ayo secepatnya kita menikah," ucap Melly.
"Tidak. Sebelum kamu menghapus semua foto-foto itu. Maka aku tak akan dengan mudah menikahimu."
"Baiklah, nih hapus sendiri saja!" ucapnya enteng. Melly menyodorkan gawai miliknya pada Arman.
Sepasang netra Arman membola melihat wallpaper di HP Melly. Namun setelah masuk ke penyimpanan, dada Arman semakin berdetak kencang. Tak menyangka dengan apa yang dilihatnya kini.
Foto-foto syur antara dirinya dan Melly banyak tersimpan di sana. Namun setelah ia mengamati dengan saksama, semua foto dirinya dalam keadaan mata terpejam. Sementara perempuan itu yang tampak agresif dengan berbagai pose.
Tampaknya Melly sengaja menjebak dirinya dengan memberi obat tidur agar dia bisa melakukan apa saja terhadapnya. Tak ada satupun yang melihatkan dirinya melakukan sesuatu pada perempuan itu. Sebaliknya, wanita tak tahu malu inilah yang sepertinya melecehkan dirinya.
Semua foto yang tersimpan dalam folder itu dihapus tanpa terlewat satu pun. Termasuk wallpaper yang menampilkan gambar dirinya. Rasanya perut Arman seperti diaduk-aduk. Mengingat bagaimana pose perempuan itu yang hanya memakai pakaian super minim dan transparan.
Sebelum menyerahkan kembali ponsel itu, sekali lagi Arman mengoprek isinya. Membuka semua folder juga google drive. Kali aja perempuan itu mencadangkan foto-foto itu di sana. Ia juga mengubah pengaturan ponsel untuk tidak mencadangkan. Supaya apa yang telah dihapusnya tak bisa dipulihkan kembali.
Setelah yakin semuanya bersih, ia mengembalikan gawai itu. Dengan senyum mengembang sempurna, Melly menerimanya. Hatinya berbunga-bunga mendengar Amira telah ditalak oleh Arman. Peluangnya untuk menjadi nyonya Arman semakin besar. Tinggal selangkah lagi, ia dapat memiliki pria itu seutuhnya.
"Sudah, sekarang pulanglah. Aku masih banyak pekerjaan. Sebentar lagi ada meeting dengan clien."
Arman berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya. Mendudukkan tubuhnya dan kembali tenggelam dalam berkas-berkas yang sempat diabaikan karena pikirannya kalut.
"Tapi aku masih ingin di sini, Mas. Menemanimu sampai jam oulang nanti. Tenang saja, aku nggak akan berbuat aneh-aneh, kok."
"Melly, please ... aku nggak bisa konsen bekerja kalau kamu tungguin. Sudahlah, mending kamu pulang dulu. Karena semua urusanku dengan Amira, aku akan datang ke rumahmu. Percayalah, aku pasti datang!"
Menghembuskan napas lelah, Melly bangkit dan menatap sendu pada pria idamannya. Namun karena nggak ada respon, dengan kesal ia meninggalkan ruang itu. Suara pintu dibanting membuat Bagas yang sedang fokus pada gawainya terlonjak dan sedikit berjingkat.
"Wanita seperti itu yang membuatmu jatuh hati? Sepertinya matamu sudah kena katarak, Bro. Nggak nyangka ternyata seleramu terlalu rendah."
Dengan menahan kesal sekaligus jijik, Bagas memilih keluar dari ruangan yang sudah tercemar itu. Ya, baginya perempuan itu adalah polutan. Karena kehadirannya mampu mengotori pikiran dan jati Arman, sahabatnya. Tak terlalu berlebihan jika Bagas menganggapnya seperti itu.
Memang perempuan itu tak ubahnya seperti sumber polusi yang menyebabkan mata hati bosnya tertutup oleh debu-debu kemaksiatan. Amira yang begitu istimewa, disingkirkan dari ruang hatinya demi memberikan tempat pada seorang Melly.
"Mau kemana? Kamu harus menemaniku meeting dua jam lagi. Jangan kemana-mana!"
"Mau menelpon Amira! Menghibur hatinya yang terluka akibat suaminya yang lebih memilih wanita lain daripadanya!" ucap Bagas asal. Ia memang sangat benci sikap Arman yang tak tegas pada perusak rumah tangga itu.
Entah apa yang membuat Arman bisa bertindak sebodoh itu dengan menjatuhkan talak pada sang istri.
"Berani kamu melakukannya, jangan harap besok masih bisa kerja di sini!" ancam Arman membuat Bagas nyengir. Tak ada rasa takut sedikitpun karena ia tahu ancaman itu hanya bualan. Nggak mungkin Arman melakukannya.
***
"Seorang suami memiliki kesempatan untuk menikahi perempuan sebanyak 4. Sebagaimana Firman Allah yang berbunyi:
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” [An-Nisaa’/4: 3]."
Ustadz Yusuf menjelaskan pada jama'ahnya dengan begitu detil. Amira mendengarkan dengan hikmat.
"Namun meski poligami dibolehkan, tetap saja bagi suami harus bersikap ma'ruf pada istri-istrinya. Jika poligami membuat istri pertama terdzolimi karena tidak adil dan cenderung berat sebelah, maka sebaiknya cukup seorang istri saja."
Pria yang memimpin pengajian itu menatap jama'ahnya satu per satu. Memberi jeda sejenak lalu kembali menjelaskan.
"Seorang suami yang memilih jalan poligami, haruslah paham konsekwensinya. Karena dengan memilih jalan itu, artinya dia telah siap untuk menanggung tanggung jawab ganda. Bapak-bapak tahu, salah satu tugas suami itu mendidik istrinya. Sebagai seorang pemimpin rumah tangga, ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya di akherat kelak."
Ustadz Yusuf lalu mencontohkan jika ada seorang suami yang membiarkan istrinya berbuat maksiat, maka dirinya juga akan menanggung azab di akherat. Demikian juga ketika ada seorang suami yang mengabaikan hak istri, maka dia telah berbuat dzolim.
"Sampai di sini ada yang mau bertanya?"
Ustadz Yusuf memberi kesempatan pada jama'ah untuk bertanya.
"Pak ustadz, apa benar jika seorang suami yang poligami tapi lebih mengutamakan salah satu istrinya, dia akan menghadap Allah dalam keadaan miring?" tanya seorang pria yang duduk di paling depan. Dari tadi dia begitu antusias mendengarkan pembahasan ini.
"Ya, betul. Allah sendiri berfirman dalam Al-Qur'an yang bunyinya begini: “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada isteri yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung…” [An-Nisaa’/4: 129].
"Kemudian sari dalil lain disebutkan: “Barangsiapa yang mempunyai dua orang isteri lalu cenderung kepada salah satu dari keduanya dibandingkan yang lainnya, maka dia datang pada hari Kiamat dengan menarik salah satu dari kedua pundaknya dalam keadaan jatuh atau condong.” [HR. Tirmidz]
"Maka dari itu, Bapak-bapak, poligami itu tak semudah yang kita bayangkan. Jangan menganggap bahwa poligami itu hanya yang enak-enaknya saja karena dilayani dua istri. Tapi bayangkana juga pertanggungjawaban yang harus dilakukan di hadapan Allah jelak. Jika seorang istri saja sudah mampu menjadi peneduh hati. Kenapa harus mencari yang lain?"
Ustadz Yusuf kembali menceritakan sejarah Rasulullah. Belaiau adalah suri tauladan kita. Beliau berpoligami bukan karena hawa nafsu. Melainkan karena untuk menolong para janda yang ditinggal syahid ataupun untuk perjanjian politik. Memperkuat dakwah Islam agar Islam semakin menyebar.
Lihatlah, semua istri-istri Rasul adalah janda, kecuali Aisyah. Jadi sangat berbeda dengan motif poligami yang dilakukan para pria saat ini. Dimana mereka berpoligami secara sembunyi-sembunyi dan bertujuan untuk menyalurkan nafsu syahwat mereka.
Kemudian kajian itu ditutup dengan berbagai nasehat tentang rumah tangga. Amira merenungi nasib rumah tangganya yang kandas karena pihak ketiga. Andai Arman tak mentalaknya, mungkin dia juga akan dipoligami. Namun dia nggak yakin Arman akan bisa berlaku adil. Mengingat sikap Melly yang cenderung posesif itu.
Amira keluar dari masjid itu dengan perasaan tak menentu. Karena nggak fokus, ia tak tahu jika di depannya sedang berdiri seorang pria.
"Aww!"
"Eh, maaf, maaf. Kamu nggak papa?"
"Ng ... Kamu?"