Dua Hati Satu Cinta
Ketulusan Bagas
"Apa masih ada jalan lain, Dok?" tanya Bagas cemas. Pikirannya kalut. Membayangkan seseorang yang diam-diam dicintainya merasakan beban sendirian. Disaat kondisinya sakit, ia harus menelan pil pahit perpisahan.
Selama ini Bagas tak pernah bertemu dengan wanita ini semenjak menikah. Ia berpikir hidupnya sudah bahagia setelah mendapatkan dua buah hati yang lucu-lucu. Dari luar pun, Arman tampak mencintai sang istri. Hingga akhirnya wanita masa lalunya datang kembali dan kejadian ini menghancurkan rumah tangganya.
"Amira, kasihan sekali nasibmu. Kalau saja aku tahu bakal seperti ini hidupmu, aku tak akan merelakanmu menikah dengannya."
"Sementara ini hanya HD jalan satu-satunya sebelum Bu Amira mendapatkan donor ginjal yang cocok."
Ucapan dokter menyadarkan Bagas dari lamunan. Lipatan di dahinya kentara sekali saat memikirkan apa yang dikatakan sang dokter. Seolah tahu isi kepala Bagas, fokter tersenyum dan menjelaskan.
"HD itu istilah medis. Kepanjangannya hemodialisis. Orang awam sering menyebutnya cuci darah. Dalam kondisi seperti ini, ginjal pasien tak mampu melakukan fungsinya. Sehingga butuh bantuan alat untuk menyaring darah agar racun-racun yang terbawa dalam darah itu dapat dibersihkan. Itulah sebabnya sering disebut dengan cuci darah."
Bagas manggut-manggut mendengarkan penjelasan dokter yang sangat mudah ditangkap oleh otaknya. Setelah terjadi percakapan cukup panjang, Bagas pamit untuk keluar menemui Amira.
Tak ada niat baginya untuk menghubungi Arman. Selain karena posisi Arman yang sudah menjatuhkan talak pada Amira, meski masih talak raji', keberadaan Arman di Singapura juga bersama Melly.
Ya, Arman memang telah menandatangani kontrak kerjasama dengan wanita itu. Entah apa alasannya hingga bosnya menerima wanita itu sebagai modelnya dalam mengiklankan produk baru perusahaan.
Tentu saja dengan kerjasama itu, kedekatan mereka akan semakin terbangun. Dan wanita itu akan semakin leluasa memengaruhi pemikiran bosnya. Jika sudah begutu, dapat dipastikan Arman akan dengan mudah melupakan Amira. Bahkan, mungkin ia pun tak pernah tahu dengan penyakit yang diderita Amira.
Bagas kembali ke UGD, namun ternyata Amira sudah dipindahkan ke kamar rawat. Setelah kondisinya membaik, ia akan menjalani HD pertamanya. Tentu saja Bagas akan menemani sampai selesai. Ia tak ingin wanita ini menanggung sakit sendirian.
Dengan langkah panjangnya, laki-laki seusia Arman itu menyusuri koridor rumah sakit. Mencari kamar rawat Amira dengan tergesa-gesa. Tangannya aktif mencari nomor seseorang di smartphone-nya.
"Assalamu'alaikum, Dek, bisa ke rumah sakit sekarang?"
[Siapa yang sakit, Bang? Rumah sakit mana?]
"Alamat dan nama kamarnya sudah kukirim lewat chat. Tolong bawakan bajumu juga ya, buat ganti. Amira sedang di rawat di sini."
[Mbak Amira? Ok, Bang. Nessa akan segera ke sana]
Setelah memastikan apa yang dibutuhkan sudah disampaikan pada adik semata wayangnya, Bagas masuk ke sebuah ruang VVIP di rumah sakit itu. Hatinya mencelos melihat pemandangan yang ada di dalam ruangan itu. Dua putri Amira tengah tertidur di ranjang penunggu pasien. Sementara Amira tampak menatap langit-langit kamar.
Perlahan kakinya melangkah. Mendekati sosok wanita tegar yang saat ini terlihat lemah di matanya.
"Bagaimana keadaanmu, Ra?"
Ucapan Bagas membuat Amira sedikit tersentak. Ia tahu kalau yang mengantarkannya ke rumah sakit ini adalah Bagas. Tadi, anak sulungnya yang cerita. Sebenarnya dia malu bertemu Bagas dalam kondisi seperti ini. Ia malu dengan keadaannya sekarang. Pasti pria di sampingnya ini sudah tahu dengan penyakitnya. Padahal ia begitu pandai menutupi dari semua orang. Kecuali Emilia tentunya. Dialah satu-satunya orang yang tahu semuanya tentang Amira.
"Maaf, Mas. Aku sudah merepotkanmu," lirih Amira dengan senyum yang dipaksakan.
Dadanya sesak setiap kali mengingat nasibnya sekarang. Impiannya kandas sebelum terwujud. Padahal tinggal beberapa bulan lagi impian itu tercapai. Namun sepertinya ia harus mengubur dalam-dalam semuanya mulai sekarang.
"Sejak kapan kamu sakit seperti ini, Ra?"
Perempuan dengan selang infus yang menancap di pergelangan tangannya itu menghembuskan napas panjang. Kedua bola matanya berputar saat mengingat-ingat kapan pertama kali ia tahu sakitnya.
"Sekitar enam bulan lalu, Mas. Tapi waktu itu aku masih bisa menjalani rawat jalan. Dua bulan terakhir kondisiku memang sering ngedrop."
"Siapa yang tahu selain aku?"
"Emil. Hanya dia yang tahu. Aku sengaja menyembunyikan ini dari Mas Arman. Karena aku tak mau ia khawatir dan kepikiran dengan sakitku."
Bagas menghembuskan napas lelah. Tak hanis pikir dengan keputusan Amira menyembunyikan penyakitnya. Namun apapun keputusan yang Amira ambil, ia yakin pasti sudah dipertimbangkan baik-baik.
Suara ketukan pintu membuat kepala dua orang itu menoleh ke arah sumber suara. Seorang gadis berhijab melangkah mendekati keduanya. Tatapannya jatuh pada sosok wanita yang terbaring di atas brankar.
Dadanya berdenyut melihat seseorang yang pernah dekat dengannya saat kuliah dulu tergolek lemah di sana. Matanya berembun, menghalangi pandangannya.
"Mbak Amira, kenapa bisa seperti ini?" ucap Nessa, adik kandung Bagas dengan tangan menggenggam jemari Amira.
Keduanya larut dalam tangisan yang membuat satu-satunya pria di ruangan itu ikut meneteskan buliran kristal ke pipinya.
"Maafin, Mbak ya, sudah merepotkanmu," lirih Amira.
Dia sangat sungkan membuat keluarga Bagas ikut repot karena dirinya. Padahal seharusnya Arman yang ada di sini. Pria itu harusnya yang pertama tahu tentang kondisinya.
Tiba-tiba dadanya nyeri mengingat hubungan mereka yang telah kandas.
'Apa kamu sudah tak mau peduli lagi sama aku, Mas?' tanya Amira dalam hati.
"Nggak papa, Mbak. Sesama muslim, kita memang harus saling membantu. Mbak Amira nggak usah sungkan. Aku dan Abang siap membantu kapanpun mbak membutuhkan. Ia kan, Bang?" goda Nessa pada Abangnya. Sikunya sengaja menyenggol lengan sang kakak untuk merespon.
"Iya, Ra. Kamu tenang aja."
***
Tiga hari Amira dirawat di rumah sakit. Selama itu pula tak ada kabar dari Arman. Kedua putrinya sekolah dari rumah sakit dengan diantar jemput oleh Bagas. Sementara Nessa menjaga Amira hingga kini.
Gadis yang berhijrah berkat nasehat Amira ini tak sedikit pun mau meninggalkan Amira sendirian di rumah sakit. Semua keperluan dia diantarkan oleh sang kakak.
Dokter masih belum mengizinkan Amira pulang sebelum kondisinya benar-benar pulih. Padahal dia sudah sangat ingin pulang dan melanjutkan tulisannya.
Sampai detik ini, Arman belum juga menghubungi. Amira tak tahu kalau pria itu sedang di Singapura bersama Melly. Ia mengira ayah dari kedua putrinya itu sudah tahu dia sakit tapi sengaja tak mau peduli.
Lagi-lagi dadanya nyeri mengingatnya.
"Mas, apa ... Mas Arman tak pernah menanyakan keberadaanku?" tanya Amira saat Bagas baru saja datang bersama kedua putrinya.
Amira juga heran, kenapa kedua putrinya selalu tidur di rumah sakit. Apa ayahnya sudah tak peduli lagi? Setidaknya kalau dia tak mau mengantar jemputnya sekolah, kenapa tidak dititipkan pada kedua orang tuanya? Biasanya begitu kan?
Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benaknya.
"Arman sedang di Singapura sejak kamu masuk rumah sakit."
"Apa? Jadi dia nggak tahu?"
"Ya. Rencananya kemarin dia di sana selama seminggu. Tapi barusan dia ngasih kabar kalau perusahaan yang di sana mengalami masalah. Jadi dia akan lebih lama di sana. Minimal sebulan."
Harapannya untuk bisa memperbaiki rumah tangganya sekalan benar-benar pupus. Padahal ia sudah memantapkan hati untuk menerima Melly sebagai madunya demi anak-anak. Ia tak mau kedua putrinya kehilangan kasih sayang ayah kalau ia berpisah dengan Arman.
"Kenapa dia tak pernah menelpon untuk menanyakan kabar anak-anak?"
"Amira, sebaiknya kamu nggak usah memikirkannya dulu. Yang penting sekarang adalah kesehatanmu. Kalau kamu mengizinkan, biarkan anak-anak tidur di rumahku bersama mama."
"Tapi, Mas, apa tidak merepotkan? Kalau boleh aku minta tolong antarkan saja anak-anak ke rumah eyangnya."
Bagas menatap Amira sendu. Haruskah ia katakan yang sejujurnya pada Amira? Tapi bagaimana kalau mentalnya down mendengar kabar ini?