Dua Hati Satu Cinta
Operasi
Hari yang dinantikan tiba. Amira sudah siap menjalani cangkok ginjal setelah berbagai rangkaian tes untuk menguji kecocokan dilakukan. Bagas dan keluarganya turut serta mendampingi. Bahkan kali ini kedua orang tua Bagas pun ikut juga. Kedua putri Amira sekolah di tempat yang baru.
Satu minggu Bagas mengurus semua sesuai janjinya. Anak-anak sudah mendapat sekolah baru. Rumah kontrakan untuk mereka juga sudah ada plus ART yang akan membantu Amira.
Tanpa wanita itu ketahui, Bagas sudah mengundurkan diri dari perusahaan Arman dan mencoba menerima tawaran sang papa untuk mengelola perusahaan cabang milik keluarka Artawijaya. Dulu, Bagas selalu menolak bekerja di perusahaan keluarganya. Selain ingun mandiri, ia juga tak diperbolehkan Arman untuk resign dari jabatannya sebagai asisten.
Sekarang, justru dia yang meminta pada papanya untuk diberi kepercayaan mengelola cabang di Surabaya. Tentu saja agar dia bisa selalu memantau dan melindungi Amira. Dia juga menghilangkan jejak agar tidak diketahui Arman keberadaannya sekarang.
Bukan tak mungkin, setelah Arman kembali dari Singapura, laki-laki itu akan mencarinya atau mencari anak-anaknya. Apalagi, hilangnya Amira dari Jakarta bersamaan dengan keluarnya ia dari perusahaan. Tentu Arman yang cerdas akan menduga-duga. Meski kemungkinannya 50%.
Lampu di atas pintu ruang operasi masih menyala merah. Itu artinya operasi masih berjalan. Bagas tampak mondar-mandir sambil sesekali menatap pintu. Sementara Nessa dan kedua orangtuanya sibuk membasahi bibirnya dengan dzikir. Memohon keselamatan atas Amira.
"Duduklah, Gas, kita do'akan sama-sama supaya operasinya lancar. Kamu jangan mondar-mandir begitu, papa pusing lihatnya."
"Maaf, Pa. Aku sangat khawatir dengan keselamatan Amira. Masih ada anak-anak yang harus ia jaga," lirihnya.
"Berdo'alah! Minta sama Allah!"
Bagas mengangguk. Lalu ikut duduk di samping papanya sambil terus melafalkan do'a. Tak lama setelahnya, seorang perawat keluar.
"Keluaraga Bu Amira!"
"Ya, Sus. Bagaimana operasinya?" cecar Bagas tak sabaran.
Perawat berpakaian serba hijau dengan penutup kepala dan hidung itu tersenyum di balik maskernya. Memahami kekhawatiran laki-laki di hadapannya ini yang ia kira suaminya.
"Alhamdulillah operasinya lancar, Pak. Sekarang sedang diobservasi di ruang pemulihan. Satu atau dua jam ke depan baru dibawa kembali ke ruang perawatan."
Ucap syukur terdengar kompak dari mulut Bagas dan keluarganya. Lalu perawat itu kembali masuk dan menutup pintu.
***
Menantikan Amira sadar, setiap detiknya terasa begitu lama bagi Bagas. Kini perempuan tegar itu sudah dibawa ke ruang perawatan kembali. Wajahnya tampak tenang dengan perut kembang kempis teratur.
Terdapat selang infus yang menancap pada lengan kirinya dan sebuah selang anestesi yang langsung terhubung dengan obat anestesi dengan semacam alat pendeteksi. Selang itu ditanam dibawah kulit membujur di sepanjang tulang belakang.
Tubuh Amira menggigil. Dalam tak sadar, ia mengigau. Menyebut nama kedua putrinya bergantian. Makin lama tubuh itu makin bergetar hebat dengan gigi gemelutuk. Namun kedua netranya masih tertutup rapat.
Khawatir terjadi sesuatu, Bagas segera memencet tombol darurat yang terhubung langsung pada ruang jaga perawat.
Dua orang perawat datang tergopoh-gopoh.
"Sus, kenapa tubuhnya menggigil begini?" tanya Bagas dengan raut khawatir.
Salah satu perawat yang ber-name tag Susi itu tersenyum. Lalu menjelaskan bahwa itu efek obat bius.
***
Sembilan purnama telah terlewati. Banyak yang berubah selama waktu itu. Seorang pria tampan baru saja turun dari pesawat. Seorang supir sudah menunggu untuk membawanya pulang. Namun ia menolak.
"Ke kantor saja dulu, Pak! Saya mau ngecek kondisi perusahaan," ucapnya yang langsung diangguki oleh sopirnya.
Empat puluh lima menit waktu yang ditempuh dari bandara ke perusahaan. Pria itu menatap gedung yang menjulang di dedapnnya. Karena mempertahankan perusahaan inilah ia banyak berkorban. Termasuk mengorbankan keluarga kecilnya.
Kini semuanya sudah kembali seperti semula. Ia berharap masih ada kesempatan kedua untuknya memperbaiki semunya. Awalnya dia menarget masalahnya selesai dalam waktu tiga bulan kurang. Sehingga bisa merujuk kembali Amira dan menjalani kehidupan rumah tangga seperti sebelumnya.
Siapa sangka ia berhadapan dengan ular berbisa yang sangat licik. Ia harua kehilangan segalanya. Tidak mudah baginya untuk keluar dari cengkeraman wanita itu. Bahkan ia membutuhkan waktu yang lebih lama dari yang diduganya.
Semua karyawan sudah berjejer menyambut kedatangannya. Membungkukkan badan kala bos besar perusahaan itu melewati mereka. Tatapan Arman tertuju pada semua karyawan itu satu per satu. Namun ia merasa ada yang ganjil. Ya, sahabat sekaligus asistennya tak ada diantara orang-orang itu.
Lalu ia bertanya pada sekretarisnya. Tubuhnya membeku kala mendengar Bagas sudah resign enam bulan yang lalu.
"Apa kamu tahu alasannya?"
"Maaf, Pak, saya tidak tahu. Barangkali bagian HRD bisa menjelaskan," ucap perempuan itu dengan kepala menunduk.
Arman berjalan ke ruangannya. Duduk di kursi kebesaran yang sudah berbilang bulan tak didudukinya. Pikirannya melayang pada Bagas yang entah mengapa mengusik ketenangan jiwanya.
Tak mungkin sahabatnya itu resign tanpa alasan. Apa ini ada hubungannya dengan Amira? Mengingat nama itu, Arman segera membuka laci dan mengeluarkan sebuah figura yang menampilkan foto keluarga kecilnya saat masih bersama dulu.
Ada rasa rindu yang menggebu. Ingin sekali ia segera menemui wanitanya itu. Namun, hatinya pilu kala mengingat statusnya kini bukan lagi suami Amira.
Jemarinya mengusap wajah Amira yang tersenyum manis dalam foto itu. Lalu beralih pada kedua malaikat kecilnya.
"Apa kalian baik-baik saja? Aku rindu ...."
Suara ketukan pintu mengagetkannya. Cepat-cepat ia mengusap butiran bening yang luruh tiba-tiba. Lalu kembali menegakkan tubuhnya dan pura-pura menyibukkan diri dengan tumpukan berkas yang minta ditandatangani.
"Masuk!" perintahnya.
Windu, kepala HRD masuk dan duduk di hadapan Arman setelah mendapat kode.
"Bapak memanggil saya?"
"Ya. Kamu yang meng-ACC surat pengunduran diri Bagas?"
"Ya, Pak."
"Apa alasannya resign?"
"Katanya ia mau mengembangkan usaha sendiri, Pak."
"Usaha sendiri? Apa Bagas mendirikan perusahaan baru?"
"Maaf, saya tidak tahu, Pak."
"Kenapa kamu izinkan?"
"Maaf, Pak. Bukannya Anda sudah mengizinkan?"
"Dia bilang begitu?"
Pria itu mengangguk mantab. Arman menghenbuskan napas lelah. Bahkan sahabat karibnya telah meninggalkannya tanpa izin. Mungkin alasan itu hanya rekayasa saja. Ia tahu, Bagas sangat tak setuju kala dirinya bekerjasama dengan Melly. Wanita yang telah menghancurkan keluarganya.
Setelah kepergian pria itu, Arman mencoba menghubungi Bagas. Namun hanya suara operator yang menjawab. Lalu dengan gemetar, mencoba menghubungi Amira. Ia sangat ingin bertemu kedua buah hatinya sekarang.
Namun lagi-lagi hanya suara operator yang menjawab.
"Argh! Kenapa semua orang meninggalkanku?!"
Pria itu berdiri dan membanting pintu. Lalu berjalan cepat menuju parkiran. Seorang supir dengan sigap membuka pintu mobil dan Arman masuk ke dalamnya.
"Ke rumah, Pak!"
"Baik, Pak!"
Sampai di depan gerbang, Arman menatap rumahnya oenuh kerinduan. Berharap Amira dan anak-anak menyambut kedatangannya dengan senyum. Namun kali ini ia harus kecewa lagi. Pasalnya rumah dalam keadaan kosong. Hanya satpam yang datang tergopoh-gopoh menyambut tuannya. Meski sedikit bingung karena tiba-tiba ada satpam di rumahnya, Arman tetap berusaha berpikir positif.
"Bapak sudah kembali?"
"Dimana Ibu dan anak-anak?"
Pria itu menunduk. Tak berani mengatakan apapun.
"Katakan, dimana mereka?"
"Sa--saya tidak tahu, Pak. Saya ditugaskan menjaga rumah ini setelah kepergian mereka."