Dua Hati Satu Cinta

Kode yang Belum Terpecahkan

Arman meletakkan kembali benda pipih yang sedang mengunduh gambar itu. Kembali fokus pada kemudi dan menambah kecepatan. Sepuluh menit kemudian mobilnya sudah memasuki pelataran rumahnya. 

Mama Endah sengaja diminta untuk tetap di sini sementara waktu sampai Amira pulang dari rumah sakit. Agar putrinya ada yang mengurus. Sebenarnya itu sudah menjadi tugasnya selama sebulan ini berdasarkan kesepakatan. Namun baru berjalan tiga hari Arman sudah kelimpungan. 

Ya, pekerjaannya sebagai seorang CEO tentu memiliki segudang aktivitas. Dan sekarang ditambah aktivitas rumah tangga, serta mengurus dua putrinya. Terkadang ia ingin menyerah saja dan memutuskan untuk tidak melanjutkan niatnya. Apalagi setelah melihat kelakuan Melly yang begitu barbar. Ia mencoba untuk mempertimbangkan ulang. 

Namun kata-kata Melly terus terngiang-ngiang. Jika dia sampai melanggar janjinya, pasti Melly akan mewujudkan ucapannya. Mengingat dia seorang yang ambisius. Dulu, sebelum ia menikah dengan Amira, sikapnya yang manja dan selalu bergantung padanya terasa begitu manis baginya. Ia merasa dipuja dan dibutuhkan. 

Sangat bertolak belakang dengan Amira yang mandiri dan malu-malu. Sikapnya yang lembut dan penurut terkadang membuatnya jenuh. Arman adalah laki-laki yang suka tantangan. Ketika melihat Melly yang begitu agresif membuat jiwanya tertantang untuk menaklukkannya. Itu dulu. 

Ia tak pernah menyadari jika kedatangannya kembali seperti membangunkan jiwa liarnya yang pernah terpelihara. Hidup bersama Amira begitu lurus. Ia tak berani neko-neko, karena Amira selalu memiliki deretan kalimat indah untuk membuatnya selalu di jalan yang benar. Perempuan cantik itu tak membiarkan dirinya berjalan di luar jalur sekalipun hanya sekadar rehat sejenak. 

Menurutnya hidup ini terlalu berharga jika disia-siakan. Apalagi hanya untuk menuruti hawa nafsu setan yang terlihat indah tapi menyesatkan. Terbukti, semua nasehatnya bisa membuat Arman menjadi pribadi yang berbeda. Ia seperti terlahir kembali dengan jiwa yang lebih tenang. Hidupnya terasa nyaman karena selalu ditujukan untuk mencapai ridlo-Nya. 

Rupanya setan yang selama ini mampu dibelenggunya, bisa lepas saat Melly datang kembali. Cinta pertamanya yang menorehkan banyak kenangan indah sekaligus duka lara pada saat yang sama. Entah siapa yang memulai, percikan asmara kembali berkobar. Membakar benteng ketaatan yang selama ini dibangun bersama Amira. 

Delapan tahun mereka membangun benteng itu susah payah. Dalam hitungan hari, porak poranda dilanda asmara cinta lama. 

Arman memandangi putri kecilnya yang masih damai dalam mimpi. Seolah tak terganggu sedikit pun dengan perjalanan yang dilalui. Ia mencium kening putrinya bergantian. Lalu mengecek suhu si bungsu. Sudah turun. Dielusnya kepala yang ditumbuhi rambut hitam dan lebat itu. Dadanya sesak. Ia sepertinya sedang membelai Amira sekarang.

Buru-buru ia bangkit dan meninggalkan kamar putrinya. Berjalan menuju kamar pribadinya untuk membersihkan badan. Beberapa saat kemudian ia turun dan mendapati mamanya sedang duduk santai di ruang keluarga. 

"Nggak kembali ke kantor, Ar? Bukankah ini masih jam 2?" tanya mamanya tanpa mengalihkan pandangan dari TV. 

"Nggak, Ma. Semua kerjaan sudah kuserahkan pada Bagas untuk dihendel. Lagipula Kiara sedang demam tadi. Untungnya sudah turun panasnya sekarang."

"Apa? Kok kamu nggak bilang sama mama?" Wanita itu melotot dan langsung berdiri. Ia hendak pergi ke kamar cucunya untuk mengecek suhu tubuh anak itu.

"Suhunya sudah turun kok, Ma. Sudah dikasih obat tadi di aekolah. Sekarang juga masih tidur."

Mama Endah menghembuskan napas lega. Ia begitu panik mendengar cucunya sakit. Pasalnya saat ini menantu kesayangannya juga masih belum boleh pulang. Entah, sebenarnya sakit apa dia. Kalau cuma pinsan karena kecapekan, pasti sudab boleh pulang. 

"Kamu nggak ke rumah sakit?" 

"Iya, Ma. Habis asar nanti Arman berangkat. Nanggung, sebentar lagi."

Sebenarnya dia masih takut ketemu Amira. Sikapnya kemarin benar-benar membuatnya takut. Takut kehilangan jika dirinya nekat memaksakan diri untuk bicara padanya. Sejak saat itu, saat dimana ia mengatakan untuk menikahi Melly, ia melihat luka yang dalam dari mata bidadari itu. 

"Ar, katakan sama Mama, apa yang membuatmu ingin menikah lagi? Dan ... kenapa sama perempuan itu?" 

Pertanyaan mamanya membuat lamunan Arman terganggu. Ia menghembuskan napas panjang sebelum menjelaskan. Mengubah posisi duduknya sedikit miring menghadap sang Mama.

"Maafin Arman, Ma. Arman nggak bisa ngasih tahu alasannya sekarang," ucapnya lirih. Ia tahu Mamanya sangat menentang hal ini. Dia harus hati-hati berbicara padanya. 

"Kamu lupa dia yang telah membuatmu terpuruk? Kamu juga lupa dia yang telah mempermalukan keluarga kita? Mama ingatkan kalau kamu lupa!" tegas Mama Endah. 

"Arman ingat, Ma. Tapi ... bukankah setiap manusia berhak diberi kesempatan kedua? Apalagi jika dia sudah menyadari kesalahannya." 

"Kalimatmu kurang tepat, Sayang. Harusnya begini, manusia berhak diberi maaf atas kesalahannya. Apalagi dia sudah menyadarinya. Kesempatan kedua hanya bisa diberikan pada seseorang yang benar-benar berubah."

Arman mengernyit. Menelaah kalimat mamanya dengan sangat hati-hati. Lalu mengingat-ingat perubahan pada diri Melly. Pantaskah ia diberi kesempatan kedua. Cukup lama ia mencoba menyusun kepingan-kepingan kisah tentangnya. Juga sikap perempuan itu dua minggu terakhir. Tepatnya saat ia bertemu. 

Akalnya sudah jelas, namun hatinya menolak. 

 

***

Amira bosan berbaring terus di rumah sakit. Ia sangat merindukan kedua buah hatinya sekarang. Namun ia harus kuat, agar terbiasa dengan keadaan ini. Lagipula, 27 hari ke depan, suaminyalah yang mengurus dua malaikat kecil itu. 

Ia bukannya melupakan tugas utamanya sebagai perempuan berkeluarga. Mendidik dan mengasuh anak adalah tugasnya. Karena fitrah seorang perempuan adalah menjadi ibu dan pengatur rumah tangga. Ia juga berperan sebagai sekolah pertama (al-madrasatul ula) bagi anak-anaknya. 

Selama ini dia sudah menjalankan peran itu dengan baik. Tak sedikit pun ia melewatkan tumbuh kembang malaikat kecilnya. Semua ia urus sendiri. Menanamkan aqidah sejak dini dan membekali mereka dengan ilmu agama sebelum melepasnya ke sekolah formal. Itulah sebabnya kedua anak itu sangat cerdas dan patuh dengannya. 

Kini, ia mencoba menguatkan diri untuk memberikan peran itu kedapa sang pemimpin rumah tangga. Agar dia juga bisa merasakan betapa beratnya menjadi ibu. Agar ia berpikir ulang dengan rencanya untuk menduakan dirinya. 

"Amira, gimana keadaanmu?" 

Tiba-tiba Emilia datang merenggut paksa lamunannya hingga ia kembali ke dunia nyata. 

Amira tersenyum melihat sahabatnya datang. Seharian ia merasa sepi di ruangan ini sendiri. Karena dia berada di ruang VVIP, makanya tidak ada pasien lain di kamar ini kecuali dirinya. 

"Alhamdulillah, aku baik-baik saja, Mil. Sejak kapan kamu ada di sini? Kok aku nggak denger kamu masuk?"

"Kamu terlalu larut dalam lamunan, Mir. Makanya nggak dengar salamku." Emilia menarik kursi lebih dekat dengan ranjang yang ditiduri Amira, lalu mendudukinya. 

"Kenapa bisa sampai seperti ini? Apa Arman sudah tahu dengan sakitmu?" 

"Tidak. Dia hanya mengira aku sakut karena memikirkan masalah ini." Amira menatap sahabatnya dengan tatapan sendu. "Dan kupikir itu kebih baik."

"Sampai kapan kamu akan menyembunyikannya?" 

"Sampai saat yang tepat." 

"Tapi kapan, Mir? Sementara waktu terus berjalan. Apa kamu akan menutupi semuanya selamanya?"

"Apa yang kamu tutupi dariku, Sayang?" 

Kedua wanita itu membeku. 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!