Early Marriage
Membuang Sesak Bersama Ombak
Tanpa melihat siapa pemiliknya, sapu tangan biru itu gue sambar lalu menggunakannya untuk mengusap air mata dan ingus yang membuat sesak napas. Setelahnya gue kembalikan pada yang empunya, dan kembali menatap ombak.
Tanpa izin, pemilik sapu tangan itu duduk dengan santai di sebelah gue. Masih diam. Dia mengikuti arah pandang gue. Kami duduk termenung tanpa saling menyapa. Sibuk dengan pemikiran masing-masing. Mungkin dari kejauhan kami tampak seperti sepasang kekasih yang sedang pacaran. Sambil menikmati ombak yang bergulung-gulung silih berganti.
"Pilihanmu sudah tepat dengan mendatangi tempat ini," gue menoleh pada sumber suara. Dia lagi ngomong sama gue? Oon, sama siapa lagi, di sini hanya ada kami berdua. Nggak mungkin 'kan dia bicara sama makhluk astral yang nggak bisa gue lihat?
"Terkadang, suasana hati yang galau membutuhkan tempat untuk meluapkan tanpa gangguan. Dan di sini tempat yang sangat cocok untuk itu." Pandangannya beralih ke gue. Selarik senyum dia suguhkan dengan begitu manis. Anjir, ternyata dia memiliki senyum menawan yang bikin meleleh. "Gue juga sering ke sini sendirian. Dan hari ini ada yang mendahului rutunitas gue," sambungnya lagi sambil terkekeh.
Gue menatap mata yang menyipit saat tertawa itu dengan kagum. Sepertinya gue terpesona pada pandangan pertama, eh. Dia mengulurkan tangannya. "Rafael."
"Eh, Na--Nadia," balas gue sambil tersipu. Gue kembali menatap lautan untuk menyembunyikan semburat merah di pipi ini. Rasanya hangat. Berbeda sekali saat bersama dengan om Alfin. Padahal dia suami gue. Tapi entah mengapa perasaan gue nggak sehangat ini ketika bersamanya.
Ya ampun, jauh-jauh gue datang ke sini untuk melupakannya. Tapi lagi-lagi nama itu menjajah pikiran. Kenapa sih, susah banget membuatnya pergi dari otak gue. Sebegitu bencinya ya gue sampai nggak bisa melupakannya? Atau ... sebaliknya? Ah nggak mungkin! Jelas-jelas gue membencinya. Lelaki tua itu sudah semena-mena. Nggak lagi menganggap gue ada. Apalagi sekarang ... dia sudah memiliki wanita lain yang lebih segalanya. Tanpa terasa air mata ini kembali meleleh. Gue ambil kerikil lalu melemparnya ke laut. Satu kali, dua kali, begitu seterusnya hingga lupa jika di sebelah gue ada pria tampan yang memperhatikan. Berharap dengan melempar kerikil-kerikil itu, rasa sakit dan sesak ini ikut terlempar ke tengah lautan.
"Kamu kalau lagi kesel lucu ya?"
"Hah," gue menoleh pada pria tampan itu. Senyumnya kembali mengembang. Melihat gue yang melongo tanpa kedip, dia terkekeh. Sepertinya lelaki ini memang suka menebar senyum. Berbeda sekali dengan papan cucian yang datar dan kaku itu. Tuh 'kan gue ingat dia lagi. parahnya gue mulai ngebandingin dia dan sosok yang baru gue temui kali ini.Benar-benar gila.
"Mau tahu caranya menghilangkan kesal?"
Gue mengangguk antusias. Kami seperti dua orang yang telah lama saling mengenal. Padahal baru beberapa menit yang lalu. Tapi sikap humble-nya dia, membuat jarak diantara kami terkikis. Sehingga kami bisa sama-sama lepas.
"Emang gimana caranya?"
Ia menjelaskan maksudnya. Lalu berjalan mendekati bibir pantai. Dia menuliskan sesuatu yang katanya membuatnya kesal dan dibencinya. Lalu membiarkan ombak menyapu tulisannya. Konyol. Emang bisa ya begitu? Gue terkikik dalam hati. Namun tak ayal kaki ini melangkah juga mendekatinya. Lalu mengikuti caranya.
Sebuah ranting gue goreskan di pasir. Menulis beberapa kata. Lalu menginjak-injaknya. Setelah itu gue bergeser, dan ombak menyapunya.
"Kok diinjak-injak?" tanya pria itu bingung.
"Karena gue sangat membencinya. Dengan menginjak tulisan itu, hati gue serasa terwakili menyalurkan kebenciannya."
Pria itu manggut-manggut lalu melakukan hal serupa. Kami tertawa lepas sambil melakukan itu berulang kali. Hingga satu per satu pengunjung mulai berdatangan. Rupanya sudah jam 1 siang. Kami memutuskan untuk makan di sebuah kedai yang ada di sekitar pantai.
Pukul dua, dia pamit pergi. Tinggallah gue sendiri di sini. Rasanya sangat enggan untuk kembali ke rumah itu lagi. Tapi pulang ke rumah mami juga sangat tak mungkin. Pasti mami akan ngadu ke menantu kesayangannya. Huh. Gue benci seperti ini.
Tanpa sadar kaki ini terus melangkah menyusuri pantai. Berputar dan kembali lagi. Seperti itu terus hingga bolak-balik sampai tiga kali. Gue sengaja menunggu matahari terbenam. Berbagai macam jajanan sudah gue cicipi untuk membunuh bosan.
Pukul 6 sore, gue memesan taksi online. Nggak langsung pulang. Tapi menuju toko buku dan membeli beberapa novel baru. Siapa tahu nanti di rumah sendirian lagi. Jadi gue bisa menghabiskan waktu dengan membaca novel-novel ini. Setidaknya gue nggak akan mati bosan karena nggak ada kegiatan.
Pukul 8 malam gue sampai di rumah. Suasana ruang tamu begitu sunyi. Gue masuk dengan kunci cadangan yang gue bawa. Langkah kaki ini terus masuk menuju kamar. Namun samar-samar terdengar suara riuh di ruang TV. Langkah ini berhenti. Lalu berdiri di balik tembok dekat tempat itu.
"Ya Allah, Bang ... aku nggak nyangko loh, wajahnya tadi tampak lesu gitu." Ini suara wanita berhijab itu. Lalu keduanya tertawa nyaring. Tampaknya mereka sangat menikmati moment itu. Bahkan gue yang istri sahnya tidak dipedulikan. Atau jangan-jangan mereka nggak menyadari kalau gue nggak ada dirumah?
"Lain kali jangan terlalu kaku gitu lah, Bang. Kasian kan dia seperti tertekan gitu. Mana masih kecil lagi."
Apa? Apa mereka sedang membicarakan gue di belakang? Dada ini rasanya memanas. Seperti ada yang membakar dan menonjok-nonjok. Sesak. Gue bersandar pada dinding sambil terus memasang telinga. Mencuri dengar atas apa yang dibicarakan. Semakin lama gue mendengar pembicaraan mereka, dada ini semakin sesak. Gue pukul-pukul dengan telapak tangan, berharap bisa lega. Namun nyatanya sakit ini begitu menyiksa.
Nadia, untuk apa Lo menangis. Jangan sia-siakan air mata Lo hanya untuk lelaki nggak peka seperti dia. Mulai sekarang, Lo harus tegar. Bukankah selama ini Lo nggak pernah cengeng begini. Lo cewek kuat. Tunjukkan itu. Batin gue terus berteriak memaki.
Dengan kasar gue hapus air mata ini. Menegakkan badan dan memasang ekspresi sedatar mungkin. Dengan percaya diri, gue melangkah melewati mereka berdua. Tanpa aba-aba, kedua makhluk Allah itu kicep seperti ada hantu lewat. Tanpa menyapa, gue tetap berjalan menuju kamar. Menenteng paper bag berisi beberapa novel yang bakal jadi penghibur hati.
Setelah masuk kamar, gue kunci pintu supaya lelaki itu tak masuk. Lagian mana mungkin dia masuk. Sepertinya semenjak ada wanita itu, pria yang masih berstatus suami gue ini nggak pernah masuk kamar. Mungkin dia tidur di kamar wanita itu. Apa ... apa perempuan itu istrinya juga?
Batin gue berkecamuk. Darah ini tiba-tiba mendidih. Ya, nggak mungkin kan kalau bukan apa-apanya mereka sering menghabiskan waktu bersama? Secara dia lelaki dewasa, sudah pasti butuh pelampiasan untuk memenuhi kebutuhan biologisnya kan? Sementara gue nggak bisa memberinya.
Ah, Nadia. Kenapa Lo nggak pernah berpikir ke sana sih? Mana ada seorang lelaki tampan dan mapan masih lajang di usia 29 tahun? Kecuali abang Lo yang gila kerja itu. Ya, kini keyakinan gue makin besar. Pantas saja dia nggak merasa kehilangan saat gue pergi. Dia nggak menuntut gue untuk melayaninya sebagai istri. Padahal kalau dia normal, nggak mungkin kan bisa menahan sejauh ini melihat ada yang halal di sampingnya? Dan lagi ... gue ini cantik. Body gue juga menarik meski usia gue masih sangat belia. Apa mungkin ada lelaki yang bisa bertahan hidup bersama tanpa menyentuh.
Nadia, Lo terlalu naif. Pikiran Lo terlalu polos.
Gue tersentak kala hendel pintu bergerak-gerak. Siapa itu? Nggak mungkin pria tua itu kan?