Early Marriage

Tingkah Konyol Nadia

"Nadia, Kamu nggak dengar saya?" Kalimat yang keluar dari pria berstatus suami itu hanya gue anggap angin lalu. Walaupun dalam hati ada sebenarnya ada kembang api yang meldak-ledak. 

 

Gue menoleh sebentar, mengangguk lalu pergi. Langkah kaki kali ini terasa lebih ringan di banding sebelumnya. Sepanjang jalan senyum gue terus mengembang. Entah apa yang merasuki gue, hingga rasanya seperti melayang. Padahal cuma ditanya begitu doang. Sepertinya otak gue perlu dicuci bersih deh, supaya tidak selalu terjajah oleh bayangan lelaki tua itu.  

 

Rafael sudah menunggu di taman sambil memainkan HP, hingga tak menyadari kedatangan gue. 

 

"Sorry, nunggunya kelamaan ya?"  

 

Ia menoleh dan tersenyum memamerkan gigi-giginya yang rapi. "Nggak, kok. Nih, gue punya novel baru," ucapnya sambil menyodorkan paper bag.  

 

Mata gue membulat. Menerima pemberian pria ganteng ini dengan senyum merekah. 'Rezeki cewek cantik ini. Nggak boleh disia-siain,' bisik batin gue. Kami duduk berdampingan saling bertanya kabar. Tak lama setelahnya ia pamit untuk pulang.  

 

"Nad, sorry ya aku nggak bisa lama. Mama dah nelpon nih, ngajakin pulang. Lain kali aku main deh ke rumahmu, sekalian ke rumah temen." 

 

"Oke. Makasih ya, novelnya. Seneng banget deh," ucap gue sambil berdiri mengantarnya hingga ke parkiran.  

 

Kami berjalan beriringan. Dari jauh tampak seorang wanita yang sangat cantik berdiri di samping mobil. Gaya berpakaiannya sangat anggun dan elegan.  

 

"Nad, kenalin ini mamaku." Rafael menatap mamanya sambil tersenyum. Matanya mengerling manja. 

 

Gila, mamanya Rafael masih muda banget. Ramah lagi. Kalau nggak dikenalin sama dia, mungkin gue mengira usia perempuan cantik ini baru 25 tahunan.  

 

"Ma, ini Nadia. Cewek yang pernah Rafa ceritain ke Mama," bisik lelaki berkulit putih itu yang masih bisa gue dengar. Hati gue berbunga-bunga mendengar pengakuannya. Jadi selama ini gue jadi bahan ghibahan Rafael dengan mamanya? Semoga pria itu tidak menceritakan yang aneh-aneh tentang gue. 

 

"Oh, ini? Cantik banget," ucap wanita itu sambil memeluk gue. Tentu saja hal itu membuat gue gugup. Baru pertama lihat, tapi responnya seperti sudah akrab. Tapi bagus juga, sih. Jadi cair.  

 

"Kamu pinter milih cewek," bisik wanita itu yang lagi-lagi bisa gue dengar dengan jelas. Ia menyodok putranya dengan siku. Netranya mengedip-ngedip memberi kode. Entah kode apa. Wait, apa tadi dia bilang? milih cewek? Apa dia mikir kalau gue pacarnya Rafael? Belum juga bibir ini membuka untuk menglarifikasi pernyataan itu, mamanya Rafael kembali bertanya. 

 

"Cantik, kapan main ke rumah?" Tangan wanita itu mengelus puncak kepala gue. Hangat. Tiba-tiba perasaan haru dan bahagia bercampur jadi satu. Menyelusup ke relung jiwa hingga membuat mata gue berkaca-kaca. Ah, kenapa gue jadi baper begini, sih. Harusnya gue nggak menikmati hal ini.  

 

"Rafa, lain kali ajak dong pacarnya main ke rumah, biar mama nggak kesepian."  

 

Terlihat Rafael menggaruk tengkuknya yang gue yakini nggak gatal sama sekali. Netranya menatap gue seolah mengirim sinyal "maaf", yang gue angguki maklum. Pasti ada kesalahpahaman di sini. Mamanya Rafael mengira kami pacaran.  

 

"Maaf, tante, kami nggak pacaran, kok. Kami hanya berte--" 

 

"Aduh, Nadia Sayang, tante setuju kok kalau kalian pacaran. Nggak usah malu-malu gitu, ah."  

 

Gue hanya bisa meringis menanggapinya. Nggak enak juga kalau terus membantah. Sementara ini pertama kalinya kami bertemu. Biarlah, nanti saja gue jelasinnya. Lagian Rafael juga pasti ngerti kalau kami hanya teman yang kebetulan bertemu dalam keadaan sama-sama sedih.  

 

***  

 

Pukul 8 malam gue baru sampai rumah. Bang Alfin yang biasanya sudah di dalam, duduk di teras sambil memainkan gawainya. Melihat gue melangkah menuju teras, ia langsung berdiri.  

 

"Dari mana saja Kamu, jam segini baru pulang? Nggak izin lagi?"  

 

Langkah gue terhenti. Tatapan kami bersirobok. Hanya beberapa detik karena gue langsung mengalihkan pandangan ke dalam rumah.  

 

"Ketemu teman," lirih gue.  

 

"Cewek atau cowok?" Tatapannya mengintimidasi. Nggak biasanya ia terlihat emosi begini. Ada apa sebenarnya? Dan ... kemana wanita yang selalu bersamanya itu? Apa pergi dari sini? 

 

"Emang apa pedulimu? urusi saja wanita itu," ucap gue ketus. Dada ini tiba-tiba sesak mengingat perlakuannya beberapa hari ini.  

 

"Nadia, kamu itu istriku. Aku wajib tahu kemana dan dengan siapa kamu pergi," ucapnya dengan nada pelan. Sepertinya ia berusaha menekan emosi.  

 

"Oh, masih ingat kalau punya istri?"  

 

Gue melenggang meninggalkannya sendiri. Dari pantulan kaca bufet di depan gue, terlihat jelas jika dia terpaku. Mungkin bingung memilih kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan gue. Bodo amat. Biar dia juga merasakan sakitnya nggak dianggap.  

 

Gue terus berjalan menuju kamar tanpa memedulikan dia lagi. Tepat di pertengahan tangga, gue berpapasan dengan wanita yang beberapa hari ini telah sukses memporak-porandakan akal sehat gue. Tanpa menyapa, gue melewatinya begitu saja.  

 

"Nadia, kamu baru pulang? Apa perlu saya buatkan makan malam untukmu?"  

 

Hah, sok peduli sekali. Biasanya juga makan berdua saja tanpa menawari gue. Ada apa sebenarnya dengan mereka berdua. Kenapa hari ini sikapnya aneh semua? Apa mereka bertengkar? Ah, ... Bodo amat! Emang gue pikirin. Tinggal menunggu malam ini saja, lalu besok pagi bisa bebas kembali ke dunia gue. Senangnya .... 

 

"Nggak usah!" 

 

Gue berbaring telentang dengan kedua tangan dan kaki membuka. Lalu melakukan gerakan seperti terbang di atas kasur. Bibir ini tak berhenti tersenyum membayangkan besok bisa bertu teman-teman lagi. Baru sadar gue, kalau kuliah lebih menyenangkan dari pada terkurung di rumah. Lebih baik mendapat bertumpuk tugas dari dosen ketimbang melakukan tugas rumah yang membuat pikiran makin buthek.  

 

Sekira satu jam gue menghayal di atas kasur. Membuat daftar kegiatan untuk besok dan mencatatnya dalam otak. Lama-lama tubuh terasa gerah. Akhirnya bangkit menuju kamar mandi untuk memebersihkan badan.  

 

Lima belas menit kemudia, gue keluar dengan handuk kimono membalut tubuh serta handuk terlilit di kepala. Langkah ini terhenti saat melihat sosok yang paling gue hindari sudah menatap dengan tatapan yang tak bisa gue artikan. Spontan gue menangkupkan ke dua lengan ke dada.  

 

Perlahan gue bergeser tanpa mengalihkan pandangan darinya. Tangan meraba-raba mencari pintu lemari. Membukanya dan mengambil baju tidur lengan panjang dan berlari kembali ke kamar mandi. Gue bersandar di pintu dengan menekan dada yang berdetak kencang.  

 

Dada ini naik turun tak beraturan. Bulu-bulu halus di seluruh permukaan kulit meremang. 'Apa itu tadi, kenapa pria itu menatap gue seperti singa lapar yang menemukan mangsa. Aaaa,' teriak gue dalam hati.  

 

Cukup lama gue mencerna kejadian semula. Gue cubit lengan ini, sakit. Berarti bukan mimpi. Telapak tangan gue memukul-mukul kepala yang mulai tak bisa berpikir. Kira-kira lima belas menit kemudian gue keluar. Makhluk Allah yang sayangnya mempesona itu masih tetap di tempatnya. Tatapannya sama.  

 

Tanpa aba-aba gue berlari ke tempat tidur dan menenggelamkan diri di balik selimut. Menutup seluruh tubuh hingga kepala. Terasa pergerakan di belakang gue. Perlahan gue buka selimut yang menutup kepala ini. Hanya sedikit hingga gue bisa mengintip apa yang dilakukan pria itu di sini.  

 

"Aaaaa," gue langsung bangkit. Dia berbaring menghadap gue dengan siku menyangga kepala. Tak ada senyum. Ekpsresinya tetap datar seperti hantu. Sayangnya yang ini terlaku ganteng. Eh.  

 

Gue langsung bergerak turun. Namun pria itu lebih cepat menyambar tangan ini. Karena terjadi begitu cepat, gue limbung dan jatuh tepat di atas tubuhnya. Tatapan kami bertemu dan saling mengunci. Dada ini rasanya sudah mau meledak. Detaknya bsegitu cepat.  

 

"Jangan bergerak! Kalau kamu tak mau membangunkan singa tidur."

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!