Early Marriage

Jujur

     "Siapa yang sudah nikah?" ucap seorang pria yang tiba-tiba datang membuat kami semua bungkam. Gue mencubit pinggang Icha yang hampir membuka mulut. Dasar teman nggak bisa jaga rahasia. Gue injak kakinya supaya tak keceplosan.  

 

"Eh, enggak. Itu abang saya mau nikah, Pak," ucap Jeni berbohong. Huh, untung dia peka, kalau sampai keceplosan, gue bersumpah nggak akan berteman dengan mereka lagi.  

 

"Oh, kirain kalaian ada yang sudah nikah," ucapnya membuat gue salah tingkah. Bagaimana pun gue belum siap mempublikasikan pernikahan kami. Tidak, selama hubungan kami masih belum ada perkembangan. Gue aja nggak yakin bisa melanjutkan pernikahan ini.  

 

"Nadia, selesai kuliah saya ingin ngomong sesuatu sama kamu. Jangan pulang dulu ya, tunggu di lobi," ucap pria itu lagi, lalu pergi tanpa menunggu jawaban gue. Apa-apaan ini, apa memang semua pria selalu berbuat sesukanya begitu?  

 

Kami hanya bisa memandang punggung lebar Rafeal yang kini sudah menjadi dosen kami. Agak canggung juga sih, mengingat sebelumnya gue pernah ber-Elo-Gue sama dia. Dan sekarang harus memanggilnya "Pak". 

 

Sepeninggal dosen baru yang gantengnya setera laki gue itu, ketiga jlomlowers ini kembali mengintrigasi gue. Mereka belum cukup puas sepertinya mengorek informasi pribadi gue.  

 

Dengan berat hati, gue ceritakan semuanya dari awal sampai akhir, hingga hubungan rumah tangga kami yang rumit. Hadirnya perempuan lain yang membuat hati gue sakit. Juga sikap bang Alfin yang tidak jelas. Semua gue ceritakan tanpa terlewat.  

 

"Sorry ya, Nad. Kita nggak tahu kalau Lo se-menderita ini. Selama ini kita sudah su'udzon sama Lo," ucap Jeni lirih. Tangan gue diraihnya lalu kami berpelukan. Seolah beban yang selama ini gue rasakan sedikit demi sedikit mulai berkurang setelah menceritakan semuanya. Ya, inilah gunanya teman. Saling berbagi dan menguatkan.  

 

"Terus rencana Lo selanjutnya apa, Nad? Lo masih tetap melanjutkan pernikahan paksa itu tanpa cinta?"  

 

Gue lepaskan karbondioksida dari paru-paru hingga tak bersisa. Lalu menghirup okesigen baru dengan rakus untuk melegakan dada. Entah, gue belum punya bayangan untuk masa depan. Tetap bertahan dengan sakit hati ini, atau menyerah tapi menyandang gelar janda di usia belia.  

 

"Kalau saja mami tak sakit-sakitan, gue mungkin sudah kabur sejauh yang gue bisa." Mata ini sudah merebak. Kembali rasa sakit itu menusuk jantung.  

 

"Kenapa nggak mencoba berdamai saja dengan takdir? Lo berhak merebut kembali apa yang sudah menjadi milik Lo, Nad. Kalau menurut gue, sebaiknya Lo tunjukin pada perempuan itu kalau Lo lebih berhak atas suami Lo. Secara kalian sudah dijodohkan sejak kecil, kan? Dan cowok itu juga cakep, idaman cewek-cewek banget deh." 

 

"Tapi gue nggak tahu dengan perasaan gue, Jen. Yang gue tahu, gue benci setiap melihat dia. Tapi gue lebih benci saat melihat mereka berduaan dan menganggap gue makhluk tak kasat mata." 

 

"Itu artinya Lo cemburu!"  

 

"Apa? Cemburu? Sama dia?" Gue tertawa sumbang. "Gila, gue bahkan nggak cinta sama dia, ngapain cemburu?" 

 

"Yakin, Lo nggak cinta sama dia?" Jeni kembali memojokkan gue. Gadis ini memang lebih dewasa dibandingkan kita berempat. Pemikirannya selalu lebih jauh. "Kalau Lo nggak cinta, maka Lo nggak akan sakit hati melihat mereka berdua." 

 

Skak mat. Gue kicep, gaes. Apa yang dikatakan Jeni menancap tepat ke jantung gue. Sesaat gue termenung. Merasakan getaran halus kala mengingat namanya. Ingatan gue kembali pada momen-momen tak sengaja yang membuat jantung ini berdetak seribu kali lipat. Sikap manisnya yang kadang hadir. Perhatian tulusnya. Dan ... ah, bisa gila gue memikirkannya.  

 

"Kalau gue ngasih saran, anggap saja Lo sedang bersaing dengan perempuan itu." 

 

"Hah? Maksud Lo gue bersaing ngrebutin cowok itu?" Jeni mengangguk. Meyakinkan gue bahwa dia milik gue. "Nggak, nggak, nggak. Bisa besar kepala nanti dia. Direbutin dua cewek cantik macem gue." 

 

"Ish, Lo pengen menang kan dari perempuan itu? Nggak usah berpikir soal hati dulu. Yang penting Lo bisa memenangkan hati suami Lo, setelahnya terserah Lo mau dilepas atau dilanjutin. Yang penting hati Lo puas." 

 

Angan gue mengelana. Memikirkan berbagai kemungkinan dan strategi untuk gue jalani. Yes, gue tahu apa yang gue lakukan. Kenapa gue nggak menaklukkan pria itu agar cinta mati sama gue, setelahnya gue akan putuskan tali pernikahan kami. Biar pria itu bisa merasakan sakitnya ditinggal pas sayang-sayangnya. Biar tahu rasa dia. Itulah akibatnya kalau membuat Nadia Antania sakit hati. Iblis di hati gue terbahak. Menertawakan rencana gue yang brillian.  

 

Oke. Gue sudah punya keputusan. Gue akan ngelakuin apa yang membuatnya senang. Tapi gue tetap akan jaga jarak. Gue buat dua sejoli itu merasakan sakit yang pernah gue rasakan. Hah, kenapa gue nggak terpikir sebelumnya? Rafael, gue butuh bantuan Rafael untuk memastikan perasaan lelaki yang telah menghalalkan gue itu.  

 

  

 

*** 

 

"Sudah lama nunggu? Maaf, ya, tadi ada mahasiswa bimbingan," ucap Rafael membuyarkan lamunan gue. Dia ikut duduk di kursi yang sama dengan gue. Beberapa pasang mata menatap kami penuh minat. Aduh, bisa jadi gosip hangat noh kalau mereka berpikir yang nggak-nggak.  

 

"Ada perlu apa ya, Raf, eh Pak? Bisa nggak jangan di sini. Risi saya dilihatin begitu," ucap gue setengah berbisik. Netra Rafael memindai penjuru lobi, lalu berdiri mengajak gue pindah. Dan di sinilah kami, di sebuah kafe yang agak jauh dari kampus.  

 

"Nad, kamu ... bisa nggak datang ke rumah, mama ingin kamu ke rumah." 

 

"Untuk?" 

 

"Ya, main aja sih. Mama tuh dari dulu pengen banget punya anak cewek. Sayangnya ketiga anaknya cowok semua," ia nyengir memperlihatkan deretan giginya yang rapi.  

 

"Sejak ketemu kamu waktu itu, ia selalu nanyain, kapan kamu mau main ke rumah. Sepertinya mamah langsung jatuh hati sejak pandangan pertama," ucapnya lagi diiringi derai tawa. Pria ini memnga murah senyum. Pembawaannya selalu ceria dan nggak kaku. Dan itu membuat gue nyaman. Beda banget dengan laki gue yang datar kek papan. Ucian itu.  

 

"Tapi, Pak. Saya ... saya harus segera pulang kalau habis kuliah. Mami saya sakit," ucap gue beralibi. Mami memang sedang sakit kan? Cuma gue nggak pulang ke rumah mami. Tapi, ... mungkin sesekali nggak ada salahnya lah. Itung-itung untuk membayar novel yang dia berikan waktu itu.  

 

"Kalau lagi berdua saja, bisa nggak jangan panggil pak?" 

 

"Eh? Tapi kan emang sekarang pak Rafael dosan saya." 

 

"Itu kalau di kampus. Di kuar itu kita tetap teman kan? Ayolah Nadia, rasanya kayak berjarak kalau seperti ini. Please?" ucapnya memohon. Tatapan kami terkunci. Hingga seorang pramusaji datang membawa makanan menginterupsi kami.  

 

Rafael terlihat salah tingkah. Pipi putihnya memerah. Lucu sekali dia. Kami makan dalam diam. Hanya sesekali dia menatap gue dengan pandangan yang tak bisa gue artikan. Berusaha cuek, gue tetao menyantap makanan dengan lahap. Peduli amat ia mengatakan gue rakus. Karena gue memang nggak oernah jaim di depan orang.  

 

Pukul lima sore gue sampai. Rumah sepi seperti tak berpenghuni. Kemana semua orang? Pintu terbuka, pagar terbuka, kalau ada maling masuk gimana? Dasar ceroboh. Gumam gue sambil terus berjalan menuju kamar.  

 

Saat melewati ruang tengah, terdengar derai tawa sepasang manusia. Lagi-lagi mereka tertawa bahagia.  

 

"Jangan lakukan itu lagi, bisa dimarahin papa nanti abang." 

 

"Ais kan cuma pergi sebentar doang, bang." 

 

"Iya, tuan putri. Abang tahu. Tapi besok lagi, kalau mau pergi, jangan sendiri ya. Bilang sama abang, biar abang antar." 

 

Percakapan itu membuat hati gue bergemuruh. Lihat, betapa perhatiannya lelaki itu sama Aisyah. Bahkan dia bisa tertawa bahagia meski gue belum pulang. Apa bisa gue memangkan hatinya? Mungkin lebih baik hue menyerah saja.  

 

Gue berlaku melewati mereka tanpa menoleh. Kedua sejoli itu langsung diam.  

 

"Nadia!" 

 

Gu berhenti sejenak. Lalu kembali berjalan meninggalkan mereka tanpa peduli panggilan itu.  

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!