Early Marriage

Kebahagiaan yang Tertunda

"Jadi tuan putri yang cantik ini cemburu pada saudara kembarmu?"  

 

Sa--saudara kembar? Siapa yang dimaksud saudara kembar bang Alfin? Gue menatap papi penuh tanya. Namun lagi-lagi papi tertawa melihat muka cengo gue.  

 

"Sepertinya begitu, Pi," jawab bang Alfin. Senyumnya merekah melihat gue kebingungan seperti orang bodoh.  

 

"Apa, sih? Sebenarnya yang kalian bicarakan ini apa, sih? Cemburu? Siapa yang cemburu?" ucap gue sewot. Gue merasa seperti seekor tikus yang dikeroyok kucing. Semua mata memandang gue geli. Jangan lupakan tawa-tawa membahana itu. Gue semakin muak melihat sandiwara ini.  

 

"Nadia sayang, apa kamu belum tahu siapa Aisyah itu?" tanya mami lembut. Gue hanya menatap sekilas tanpa minat. Untuk apa juga tahu siapa dia. Sudah jelas dia wanitanya bang Alfin, kan? Dasar aneh semuanya.  

 

"Yakin nggak mau tahu? Ntar nyesel loh," imbuh mami.  

 

"Apaan sih, Mi. Nggak usah bertele-tele, deh. Katakan saja yang sebenarnya!"  

 

"Ouw, manisnya kalau lagi ngambek." Mami mencubit kedua pipi gue dan menguyel-uyelnya. Membuat bibir ini makin mengerucut kesal. "Pi, sepertinya misi kita berhasil," ucap mami sambil mengerling pada papi.  

 

Gue semakin tampak bodoh di sini. Orang-orang ini penuh teka-teki. Sementara bang Afin tampak menikmati drama keluarga gaje ini dengan senyum tak pernah luntur.  

 

"Sudah, Mi. Kasihan tuan putri merajuk. Jangan dibully terus."  

 

            Gue melotot pada papi yang secara tak langsung juga ikut andil memojokkan gue. Dasar suami istri sama saja. Awas saja nanti gue tinggal pergi, baru nangis-nangis. Gue terus mengumpat dalam hati. Manjadi bahan bully-an sungguh memuakkan. Tak sabar, gue bangkit dan melangkah meninggalkan orang-orang rese ini.  

 

Gue terus berjalan menuju taman belakang. Tempat favorit gue untuk menyendiri dan menenangkan pikiran. Sama seperti di rumah bang Alfin. Seketika hati gue gerimis mengingat masa-masa di rumah itu. Mungkin setelah ini gue tak akan menginjakkan kaki lagi di sana. Semuanya telah berakhir. Ya, gue memutuskan untuk melepas ikatan pernikahan ini. Sudah cukup gue bertahan tanpa kepastian. Biarlah semua menjadi kenangan yang tak kan pernah gue lupakan.  

 

Meski baru sedikit, benih-benih cinta sudah mulai tumbuh di hati ini. Dan gue tak mau benih ini berkembang semakin besar karena akhirnya akan layu sendiri. Tanpa dipupuk dan disirami olehnya, mustahil gue bisa mempertahankan cinta ini.  

 

Seseorang duduk di samping gue. Tanpa menoleh pun gue tahu siapa dia. Dari aroma tubuhnya, gue kenal pria ini.  

 

"Ada apa kemari? Mau menertawakan gue lagi?" 

 

Pria itu beringsut mendekati gue. Membunuh jarak, hingga tubuh kami hampir menempel. Degup jantung ini terasa sangat kuat. Berdentam-dentam seolah akan mengoyak dada gue yang semakin sesak.  

 

"Kamu sangat cantik kalau cemburu,” ucapnya yang membuat dada gue semakin tak mampu menahan sesak. Pipi ini memanas mendengar gombalannya untuk pertama kali. Harusnya gue marah, tapi entah kenapa mendengarnya memuji, gue seperti melayang.  

 

"Nggak usah merayu, nggak mempan!" ucap gue ketus menutupi perasaan aneh yang tiba-tiba menjalar.  

 

"Maaf, ya. Abang udah banyak membuatmu sakit hati. Kamu pasti kecewa karena abang belum bisa membahagikanmu." Tangannya mencoba meraih tangan gue. "Abang tahu kamu cemburu. Tapi cemburumu salah tempat, sayang," ucapnya lagi membuat gue merinding.  

 

Apa-apaan ini. Dia mau membunuh gue dengan terus mengeluarkan kata-kata manisnya itu? Apa dia tak tahu, berdekatan seperti ini saja membuat darah gue berhenti mengalir? Ya ampun, pasti pipi gue sudah memerah nih.  

 

Ia mendekatkan bibirnya di teliga gue. "Aisyah itu saudara kembar abang, istri abang cuma satu. Kamu." 

 

Tubuh gue mendadak seperti batu. Apa itu tadi? Dia bilang Aisyah saudara kem--, "Saudara kembar? Jadi perempuan itu bukan istria Abang?" teriak gue spontan. 

 

Sumpah, gue kaget, gaes. Jadi selama ini gue cemburu buta? Gue hidup dalam bayang-bayang ketakutan pada sesuatu yang tak nyata. Astaga, Nadia. Malu-maluin aja, Lo.  

 

Gue berdiri dan berlari meninggalkan pria itu. Namun gue kalah cepat. Pria yang beberapa hari ini membuat gue patah hati, lebih dulu menangkap tubuh gue. Berada dalam dekapannya membuat tubuh gue menggigil. Jantung ini sudah ingin meledak rasanya.  

 

"Abang, jangan begini, Nadia malu," ucap gue berbisik. Lelaki ini tersenyum manis sambil melepas tangannya.  

 

"Jangan marah lagi, ya. Abang nggak bisa hidup tanpamu." Ah, gue meleleh. Aduh, cermin mana cermin. Pasti muka gue sudah seperti udang rebus sekarang. Entah kenapa hati hue yang semula nyeri bagai ditusuk sembilu, kini menjadi berbunga-bunga laksana taman di musim penghujan. 

 

"Cie ... cie, yang udah baikan. Dunia serasa milik berdua, nih," ucap bang Rizal yang disoraki mami dan papi. Sumpah, gue benar-benar malu sekarang. Ingin rasanya gue tenggelam ke laut supaya tak diejek oleh mereka.  

 

Cukup lama mereka menjadikan gue bulan-bulanan. Terutama mami yang seperti ABG, dengan bahasa gaul khas anak muda. Dia paling keras tertawa saat melihat gue salah tingkah. Sementara bang Alfin tak henti memamerkan gigi-giginya yang putih dan rapi. Sungguh kebahagiaan ini tak ingin gue tukar dengan apapun. Kalau boleh gue meminta, gue ingin saat ini waktu berhenti bergulir. Agar gue bisa menikmati moment bahagia ini dengan puas.  

 

"Kok aku nggak diajak? Abang jahat, meninggalkan Ais sendirian," ucap perempuan manis yang begitu lembut itu. Sungguh ia tak cocok merajuk seperti itu.  

 

Dengan langkah lebar, gue berlari dan menubruk tubuh tinggi berbalut pakaian syar'i itu. Kami berpelukan dan saling meminta maaf. Terutama gue yang sudah salah sangka dan sering suudzon sama dia.  

 

"Maaf ya, Kak. Nadia udah salah sangka sama kakak," ucap gue malu. Perempuan ini hanya membalas dengan senyuman. Lalu kami kembali berpelukan. Sepertinya, setelah ini kami akan jadi teman yang baik. Karena ternyata dia sangat asik diajak ngobrol. Ah, nyesel gue telah menyia-nyiakan kesempatan selama ini. Gara-gara cemburu buta, sampai tak bisa membedakan kebenaran. 

 

Cukup lama kami saling bercerita. Mengabaikan orang-orang sekitar yang lagi membuat acara barbeque. Sepertinya mereka sudah merencanakan ini semua.  

 

"Maaf ya, Nad. Kami nggak bermaksud menyakitimu. Abang yang minta aku bersandiwara, untuk menguji seberapa besar rasa cintamu padanya," ucap Aisyah penuh penyesalan.  

 

"Apa? Jadi semua ini hanya rekayasa?" Gue melotot tak percaya. Rapi sekali sandiwara yang mereka mainkan. Hingga membuat gue benar-benar merasa frustasi. Bahkan gue sempat berfikir untuk pacaran sama Rafael. Ternyata gue dibohongi selama ini. Huh. 

 

"Habisnya kamu selalu nolak abang, sih. Jadi abang sengaja membuatmu cemburu biar mau mengakui perasaanmu padanya," ucap perempuan bermata teduh ini sambil tersenyum menggoda.  

 

"Kalian jahat," ucap gue pura-pura marah. Namun kak Ais tahu kalau gue cuma pura-pura. Dia tak lagi menanggapi gue, dan berlalu menuju tempat bakar-bakaran.  

 

Merasa terabaikan, gue berlari dan bergabung bersama. Malam ini dua Keluarga berkumpul menikmati kebahagiaan ini. Bang Rizal memainkan gitar di sela-sela acara makan-makan ini. Menyayikan lagu yang menghibur kami. Sungguh kebahagiaan ini begitu sempurna. Lalu tanpa disangka, lampu di taman semua mati. Tiba-tiba sebuah layar menampilkan video pendek berisi foto-foto gue. Entah sejak kapan benda itu ada disana.  

 

Dan itu, foto-foto yang diambil tanpa sepengetahuan gue. Diakhir video menampilkan bang Alfin yang sedang menatap kami.  

 

"Nadia, maukah kamu tetap disampingku meraih untuk surga bersama?"  

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!