Early Marriage

Cemburu

'Buku, sudah. Proposal, sudah. HP, sudah. Ah, kayaknya sudah semua, deh,' gumam gue. Setelah menata semua barang yang akan gue bawa ke kampus, gue mematut diri di depan cermin.  

Celana bahan dipadu tunik semata kaki dan kerudung pasmina warna kunyit menambah segar penampilan gue. 'Perfect,' ucap gue memuji diri sendiri. Dari kaca gue lihat bang Alfin terus menatap intens ke gue, membuat gue salah tingkah.  

Mencoba mangabaikan, gue memoleskan liptint soft pink ke bibir supaya tak pucat. Sekali lagi gue memutar tubuh untuk memastikan penampilan gue hari ini tidak ada yang kurang. Pasalnya, hari ini gue akan seminar proposal di depan dosen pembimbing. Semester depan, gue akan PKL di sebuah perusahaan.  

"Yuk!" ucap Bang Alfin tiba-tiba. Tangannya meraih tas gue yang masih tergeletak di kursi.  

"Kemana, tadi kan Nadia sudah bilang nggak bisa ke Lombok sekarang. Hari ini Nadia ada seminar, Bang," ucap gue membuatnya menghentikan langkah.  

"Emang siapa bilang kita akan ke Lombok?" 

"Lah terus? Kok Abang bawa tas Nadia?" Otak gue berpikir keras. Apa sebenarnya yang diinginkan pria itu. Kalau sudah jelas nggak jadi liburan, eh bulan madu, kenapa juga ikutan keluar dan membawa tas gue yang isinya cuma buku?  

"Mau kuliah kan?" tanyanya semakin membuat gue heran. Tentu saja mau kuliah. Tadi kan gue sudah bilang. Ah, kenapa punya suami susah ditebak gini sih? Boleh nggak sih tukar tambah suami? Eh. Gue menepuk mulut yang lancang mengucapkan kata tak senonoh itu. Untung dia nggak dengar. Bisa habis gue kalau sampai telinganya yang tajam itu mendengar ucapan gue yang absurd ini. 

"Iya, ... terus?" 

"Abang antar!" ucapnya mutlak. Tanpa menunggu persetujuan gue, ia sudah berlalu menuju garasi mobil. Terpaksa gue mengekor karena barang-barang berharga gue sudah ada padanya.  

Mobil yang kami tumpangi melaju dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan, Bang Alfin terus melirik ke arah gue. Ada apa, sih? Bikin salting aja nih orang. 

"Kenapa sih, Bang?" Akhirnya keluar juga pertanyaan dari mulut gue. Rasa penasaran atas sikapnya yang berubah 180 derajat membuat gue berani bertanya.  

"Emang salah ya nganterin istri sendiri?" 

"Hah? Ya--ya, nggak sih, Bang. Cuma ... Nadia kan malu kalau ketahuan teman-teman Nadia," lirih gue sambil menunduk. Lelaki yang dulu sering gue kasih julukan papan cucian ini menginjak pedal rem mendadak sehingga gue terantuk dasboard. Dia menatap gue sendu. Ada mendung bergelayut di wajah tampannya.  

"Oh, jadi kamu malu punya suami aku?" Tatapan matanya semakin mengintimidasi. Perlahan ia maju, memupus jarak di antara kami. Dengan jarak sedekat ini, gue semakin gugup dan salah tingkah.  

"Bu--bukan begitu, Bang! Tapi ... Nadia nggak mau mereka tahu kalau Nadia sudah meni--" 

"Oh, jadi selama ini kamu mengaku single pada teman-temanmu?" 

"Ya--ya tentu saja. Mana boleh mereka tahu. Bisa hancur reputasi Nadia di depan mereka!" 

Raut wajah pria ini berubah keruh. Lalu mengalihkan pandangan dan menghela napas dalam. Mungkin ia berpikir gue malu punya suami dia. Bukan. Bukan begitu maksud gue. Tapi ini hanya masalah waktu. Gue belum bisa mengakui kebenaran ini karena gue masih ragu dengan perasaannya. Apa benar ia sudah memiliki rasa untuk gue atau hanya karena tanggungjawab dia sebagai suami saja.  

Tanpa diduga, ia melajukan mobil dengan kecepatan diatas rata-rata. Hei, ada apa dengan dia? Apa gue salah bicara? 

"Bang!" 

"Hem"  

"Bang Alfin ...!"  

Ia menoleh. "Apa?"  

"Jangan ngebut, Nadia takut," ucap gue dengan bibir bergetar. Seketika ia memelankan laju kendaraannya. Gue yang sudah panik berusaha menetralkan degub jantung yang lebih cepat.  

Sisa perjalanan ini kami habiskan dalam diam. Gue fokus pada proposal yang akan gue presentasikan, sedang dia fokus ke jalanan. 

Lima belas menit kemudian, terlihat gedung kampus tempat gue menimba ilmu. Lalu lalang mahasiswa sudah terlihat dari sini. Gue meminta bang Alfin menurunkan gue di dekat gerbang. Meski awalnya menolak karena gue harus berjalan cukup jauh untuk mencapai gedung tempat gue kuliah, akhirnya tak membantah. Mukanya masih keruh. Entah apa yang salah dari gue.  

Saat gue mau turun, pria berlesung pipi ini menahan tangan gue. Lalu menyodorkan tangannya untuk gue cium. Kebiasaan yang sudah kami tinggalkan beberapa minggu.  

Dengan senyumengembang, gue lakukan peruntahnya. Meski tak terucap, tapi gue paham maksudnya. Lalu tanpa aba-aba, dia menempelkan bibirnya di kening ini membuat gue membeku. Cukup lama gue terdiam seperti patung. Hingga suara cempreng Icha menyadarkan gue.  

Mamp*s! Mereka pasti akan membully gue setelah ini. Dengan gontai, kaki melangkah mendekati mereka yang audah tak sabar ingin mengorek informasi tentang apa yang mereka lihat. Huh, rasakan Nadia. Siapa suruh melakukan itu di depan gerbang kampus.  

Gue celingak-celinguk. Aman. Untung hanya mereka bertiga yang kebetulan ada di area ini. Jadi gue tak harus mengarang cerita untuk menjelaskan ini semua.  

"Ehem, ada yang sudah baikan, nih!" sindir Chika tanpa menoleh. 

"Apaan, sih?" Gue berjalan mendahului mereka. Jeni segera menyusul dan merangkul pundak gue.  

"Jelasin!" Kan? Sudah gue duga. Pasti jiwa kepo mereka meronta-ronta melihat adegan tadi. Ah, ini semua gara-gara bang Alfin. Awas saja nanti kalau sampai bikin ulah lagi. Semoga aja nanti nggak jemput.  

"Kami sudah baikan." 

"What?" ucap mereka kompak. Seperti regu koor saja mereka ini. "Kok bisa?" 

"Bisalah. Emang mau marahan aja terus? Nggak lah. Nggak enak tahu marahan terus. Nyesek. Lama-lama makan ati gue!"  

"Trus, perempuan itu? Lo sudah bisa menerima kenyataan kalau lo hanya istri kedua?" 

Gue melongo. Darimana mereka menyimpulkan demikian. Padahal gue tak pernah membahas lebih jauh tentang perempuan itu. Hanya sekali yang gue ingat, dan itu pun hanya sekilas.  

Kami terus bercerita hingga sampai di ruang kelas. Tak menyangka, di sana Rafael, eh Pak Rafael sudah menunggu di dalam kelas. Ya, dialah dosen yang akan membimbing PKL nanti. Dan hari ini, gue akan presentasi di hadapannya. Semoga gue tak malu-maluin nanti.  

Satu per satu mahasiswa maju mempresentasikan proposalnya. Hingga tiba giliran gue. Beberapa kali argumen gue terpatahkan, tapi gue masih mampu untuk menyambung kembali. Hingga akhirnya dia bisa menerima oenjelasan gue.  

Di akhir kuliah, Pak Rafael mengumumkan tempat PKL masing-masing beserta dosen pembimbingnya. Dan gue mendapat dosen pembimbing dia langsung. Senang? Tentu saja. Selain sudah kenal, dia juga tak galak kalai sama gue.  

"Nadia! Siapkan dirimu dengan baik. Karena PKL ini bisa menjadi penentu tugas akhir. Bobot nilainya 6, jadi jangan sia-siakan.  

"Baik, Pak. Terimakasih," ucap gue tulus. Ketiga teman gue nggak ada yang yang bareng. Semuanya mencar. Meski kecewa, tapi kami tetap saling support.  

Semua mata kuliah telah kami lalui hari ini. Kami memutuskan untuk ke kafe dekat kampus sebelum pulang. Namun tubuh gue menegang saat melihat mobil yang gue kenal sudah terparkir indah di dekat gerbang.  

Sepertinya ketiga teman gue tak menyadari perubahan sikap ini yang mendadak. Gue sudah gelisah membayangkan semua mahasiswa tahu kalau pria itu suami gue.  

"Nadia, mau pulang bareng?" Tubuh ini makin menegang. Tak berani menoleh ke sumber suara. Di sana di dalam mobil sedan berwarna hitam itu gue rasakan tatapan tajamnya menusuk hingga ke jantung. Aduh, bagaimana ini? 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!