Early Marriage
Main Api
Wajah gue pasti semakin merah dengan pujiannya. Ah, Bang Alfin, kenapa baru sekarang sih membuat bunga-bunga di taman hati gue mekar? Kemana saja selama ini? Ah iya. Gue yang terlalu egois. Gue yang salah paham. Dalam hati gue merutuki kebodohan yang selama ini terpelihara.
Kebetulan hari ini sedang libur. Bang Alfin mengajak ke kafe yang wajtu itu gue datangi bersama teman-teman. Sesampainya di Kafe, semua karyawan menyapa ramah pria ini. Beberapa ada yang saling sikut melihat kami yang bergandengan.
"Biasa aja lihatnya. Kami sudah halal, kok," ucap Bang Alfin membuat mata mereka membulat. Mungkin tak percaya pria yang usianya sepantaran mereka mendapat istri belia seperti gue.
"Loh, ini kan yang waktu itu maksa pengen ketemu pak bos?" Aduh, mati gue. Kalau pria ini sampai keceplosan ngomong sama Bang Alfin, bisa habis gue. Tatapan kami bertemu, gue mendelik memberi kode supaya pria ini tak mengatakannya pada Bang Alfin.
"Oh ya? Kapan?" Mamp*s. Sekali lagi gue mengancam pria itu dengan tatapan tajam. Ia yang hendak membuka mulut hanya bisa menggaruk kepalanya yang gue tahu nggak gatal sama sekali.
"Ng--nggak, Bos. Kayaknya saya salah lihat," ucap cowok itu nyengir. Bagus, setelah ini gue harus berterima kasih padanya.
Bang Alfin mengajak gue masuk ke ruangan yang waktu itu. Namun kali ini lebih masuk lagi ke sebuah ruangan yang lebih mirip kamar tidur. Terdapat sebuah meja kerja dan sofa panjang yang menghadap kaca di dalam ruangan ini. Dari balik kaca ini gue bisa melihat pemandangan luar dengan view lapangan golf yang luas. Kebetulan di belakang kafe ini ada sebuah lapangan golf yang masih sering digunakan.
"Bang, ini kafe Abang?" Pria yang sudah mulai berkutat dengan berkas-berkas di meja kerjanya menoleh. Lalu mengangguk, dan kembali berkutat dengan kerjaannya.
"Kok Abang nggak pernah bilang? Jadi selama ini Abang kerja di sini?"
"Ya. Kamu nggak pernah nanya!"
Gue cuma nyengir mendengar pengakuannya. Karena itu benar adanya. Selama ini gue memang nggak bernah bertanya dan nggak pernah mau tahu. Ngerti, kan gue dulu benci banget dengan perjodohan ini?
Merasa bosan menunggu Bang Alfin. Lama-lama kesadaran gue hilang, dan larut dalam mimpi.
***
Suara bel berbunyi saat kami sedang menikmati makan siang. Siapa ya, yang bertamu jam segini? Perasaan gue nggak punya janji sama siapa pun, deh. Saat pikiran masih menduga-duga, Bang Alfin sudah berinisiatif untuk membukakan pintu.
Terdengar gema tawa dari ruang depan. Oh, berarti teman suami gue. Karena merasa nggak ada urusan dengannya, gue tetap melanjutkan makan dengan santai. Setelahnya gue membereskan meja makan dan membuatkan minum untuk tamu itu. Dua gelas jus jeruk dan dua toples kue kering gue sajikan untuk mereka tanpa melihat siapa tamunya.
Karena laki-laki dan pasti gue nggak mengenalnya, gue segera berbalik setelah meletakkan hidangan itu di meja.
"Nadia?” Suara ini, kok kayak kenal gue.
"Nadia!" Sekali lagi panggilan itu membuat gue berbalik. Tatapan kami bertemu. Sesaat gue mematung. Aduh, bagaimana ini? Kok bisa sih dunia sesempit ini? Diantara banyaknya manusia, kenapa harus dia yang datang ke sini? Dan ... dia temannya Bang Alfin?
"Kalian sudah kenal?" tanya Bang Alfin membuat gue gelagapan. Sementara pria itu tersenyum lebar. Kedua matanya tampak berbinar saat melihat gue.
"Sayang, kalian sudah saling kenal?" tegas Bang Alfin sekali lagi. Tatapan curiga ia layangkan ke gue membuat diri ini semakin salah tingkah. Mau tak mau gue kembali duduk di samping pria berjenggot ini dengan gelisah. Sikap gue yang seperti tertangkap basah sedang selingkuh ini membuat Bang Alfin semakin intens menatap.
"I--iya, Pak Rafael dosen Nadia, Bang," akhirnya kata itu yang keluar. Benar kan di dosen gue. Nggak bohong kan gue? Pria di samping gue ini tersenyum. Tubuhnya yang tadi semapat menegang tampak mengendur. Selamet, selamet. Batin gue merasa lega.
"Iya betul, Bro. Dia ini mahasiswaku. Dunia ini sempit ya, nggak nyangka ternyata dia ini adekmu. Coba dari dulu kamu bilang kalau adekmu ini Nadia, sudah pasti sering main aku," pria bernama Rafael itu terkekeh. Sepertinya dia tak menyadari ada ketegangan diantara kami.
Dia terus saja bercerita awal mula kami bertemu. Bagaimana gue berteriak-teriak sambil menangis di pantai sampai ketemu lagi di kampus. Bahkan dia juga bercerita kalau mamanya sangat ingin ketemu gue lagi.
Tangan gue dicengkeram cukup erat oleh Bang Alfin. Sepertinya dia sedang menahan gejolak emosi, atau cemburu? Sekali lagi gue melirik pria ini dari ekor mata. Tak berani menatap langsung padanya. Ah, ternyata pria ini kalau lagi marah sangat menyeramkan.
Ya Allah, bantu hamba keluar dari situasi ini. Apa yang harus hamba lakukan agar Rafael segera pulang?
"Kok kalian diem aja, sih? Apa ... ada yang salah?" tanya Rafael yang tiba-tiba sadar kalau ceritanya tak ada yang menggubris.
"Ya. Karena perempuan yang ada di sam--" Gue injak kaki Bang Alfin agar tak mengatakan yang sesungguhnya. Gila, kalau sampai dia bilang gue istrinya, bisa gempar nanti kampus.
Lelaki ini melotot tak suka. Namun gue mengiba melalui tatapan mata agar dia tak mengatakannya. Genggaman tangannya melaui mengendur, dan lepas. Sepertinya dia kecewa dengan permohonan gue. Tapi gimana lagi, gue masih belum ingin siapa pun tahu dengan status ini.
"Maaf, Pak, saya ada perlu, saya tinggal ya. Bang Nadia ke atas dulu," pamit gue lalu pergi tanpa menunggu persetujuan mereka. Ya, lebih baik gue menghindar dari sana daripada suasananya makin runyam.
Duh, kenapa gue keluar sih, tadi. Coba kalau gue tetap di dalam dan nggak mengantar hidangan ke sana, pasti kejadian ini nggak akan terjadi. Cukup lama gue larut dalam lamunan. Namun Bang Alfin belum juga ke kamar untuk sekadar menemui. Gue harus menjelaskan kronologisnya sesuai versi yang sebenarnya. Dia tak boleh mendengar dari satu versi saja, kan?
Terdengar suara pintu terbuka. Dada gue mulai berdebar-debar tak karuan menunggu reaksi apa yang akan dikatakan imam gue itu. Semoga dia nggak marah.
"Bang," lirih gue yang hanya direspon tatapan sekilas. Lalu pria itu naik ke atas ranjang dan berbaring. Biasanya kalau liburan, jam segini kami akan tidur siang. Namun gara-gara tamu tak diundang itu, kami harus menunda tidur siang dan berkutat pada kesalahpahaman ini.
"Kamu nggak mau menjelaskan sesuatu?" ucapnya dingin. Ya Allah, nih orang bikin takut aja sih.
"Dia--dia tak sepenuhnya benar, Bang. Yang dikatakan tadi hanya salah paham."
"Sampai mamanya ingin menjadikanmu mantu?"
Mata gue terbelalak. Apa Rafael mengatakan itu pada Bang Alfin? Mati kamu, Nadia. Suamimu salah paham. Tunggu saja kamu akan dapat hukuman. Gue terus merutuk dalam hati.
"Dia yang salah paham, Bang. Selama ini tidak ada hubungan apa-apa diantara kami. Suer!"
"Kok bisa mamanya mengira kamu pacarnya?"
Gue ceritakan awal mula kami bertemu. Dan kesalahpahaman yang terjadi pada mamanya waktu itu. Pria ini menatap gue tanpa berkedip. Membuat diri ini semakin salah tingkah.
"Beneran, Bang. Nadia juga baru sekali kok ketemu mamanya. Waktu itu, ... Abang tahu kalau Nadia keluar. Ke taman."
"Oh, jadi waktu kamu marah dan pergi setelah ditelpon seseorang itu sedang janjian sama Rafa?"
Gue mengangguk pelan. Emang salah gue. Tapi kan salahnya juga yang nggak perhatian sama gue waktu itu.
"Kamu sudah bermain api, Nadia! Dan Aku tak suka!"