Early Marriage

Akhir yang Indah (Akhir)

Tubuh gue membeku, seolah ada perekat yang membuat gue tak bisa bergerak. Hp itu kembali bergetar. Nama yang sama. Namun bukan panggilan kali ini. Sebuah chat muncul di layar, lalu hilang. Bang Al menatap benda persegi itu lalu beralih ke manik gue. Seakan berkata, bukalah. 

Dengan tangan gemetar, gue raih HP itu dan membukanya. Pria berjenggot ini mendekatkan kepalanya ikut membaca. 

From: Rafael 

[Nadia, aku tahu kamu sudah bahagia sekarang. Sebelum aku memutuskan untuk mengikuti jejakmu dengan menerima perjodohan ini, izinkan aku menyampaikan isi hatiku. Sejak pertama kita bertemu di pantai waktu itu, aku yakin kamulah tulang rusukku yang hilang. Hingga aku menutup mata bahwa kamu menangis seperti itu karena perjodohan. Dan bodohnya aku, berharap kamu bisa berjuang membatalkannya.] 

Gue menahan napas membaca chat itu. Memejamkan mata mencoba meraba perasaan gue. Namun tak ada getaran sedikit pun di hati ini membaca oengakuannya. 

[Saat aku tahu kamu menikah dengan sahabatku, hatiku hancur. Bahkan sempat terbersit untuk membawamu kabur. Tapi ... Melihatmu bahagia di sisinya, hatiku ikut bahagia. Biarlah perasaan ini kusimpan rapi di lubuk hatiku yang paling dalam. Kudoakan semoga kamu bahagia selalu. Doakan aku bisa menjalani pernikahan ini dengan baik] 

Alhamdulillah. Gue bisa bernapas lega. Jemari ini mencoba menekan huruf untuk membalasnya, tapi Bang Al lebih dulu merebutnya, dan menulis beberapa kata di sana. Gue tak berani melarang, karena itu haknya. Dia punya hak penuh untuk melarang gue berhubungan dengan laki-laki lain. Dan gue nggak akan marah dengan itu. 

*** 

Sebuah aula hotel bintang lima telah disulap menjadi tempat resepsi yang begitu indah. Tadi pagi, Kak Ais dan Pak Rafael telah melangsungkan ijab qabul di masjid dekat rumah Mama. Dan sekarang, pesta resepsi pernikahan kami berempat. Ya, orang tua Bang Al mengiginkan anaknya bersanding di pelaminan pada hari yang sama. Dan di sinilah kami sekarang. 

Acara resepsi ini dibuat secara syar'i dengan tamu laki-laki dan perempuan dipisahkan oleh tabir. Pelaminan pun juga seting terpisah antara mempelai laki-laki dan perempuan. Mungkin bagi kebanyakan orang ini pesta teraneh yang ditemukan karena pengantin tidak disandingkan. 

Gue duduk bersanding dengan Kak Ais di kursi pelaminan khusus untuk perempuan di hadapan para tamu perempuan pula. Begitupun dengan Bang Alfin dan Pak Rafael. Tidak ada standing party, karena kami meyakini makan sesuai sunah Rasulullah Saw dengan duduk. Makanan yang disajikan semuanya halal dan thayib. 

Tujuan pemisahan tamu laki-laki dan perempuan ini supaya para tamu tidak ikhtilat (campur baur). Pernikahan ini adalah ibadah suci, tujuannya untuk menyempurnakan separuh agama kami. Maka kami tak ingin mengotori tujuan ibadah kami ini dengan prosesi yang melanggar syari'at Islam. Agar pernikahannya berkah sehingga kami bisa membentuk keluarga yang sakinah mawadah warahmah. 

Di pertengahan acara, seorang Ustadz menyampaikan mauidhatul hasanah. Nasehat pernikahan untuk bekal kami berumah tangga. Semua teman seangkatan kali ini gue undang. Satu per satu mereka mengucapkan selamat pada kami. Tak lupa meminta berfoto bersama. 

"Alhamdulillah, Papa seneng karena Papa telah berhasil menjalankan amanah sebagai orang tua," ucap Papa saat sarapan pagi di rumahnya. Kami masih berada di rumah Papa sekarang. Mereka ingin kami tidur di sini semalam. "Menikahkan kalian berdua sesuai tuntunan agama." 

Kami saling berpandangan lalu tersenyum. Acara makan kali ini begitu hangat. Anak-anak Papa beserta dua menantunya lengkap di sini. Mama tampak berkaca-kaca mendengarkan wejangan-wejangan papa. Sesekali kami tertawa saat Papa melontarkan kalimat yang lucu. 

"Setelah ini, tanggung jawab Papa telah selesai sebagai orang tua. Aisyah, sudah ada yang menanggung. Dan kamu Al, jadilah suami yang bertanggung jawab. Karena statusmu sekarang sudah menjadi kepala keluarga." 

Bang Alfin tersenyum dan mengangguk mantap. Mama beranjak dari kursinya tanpa pamit membuat kami saling berpandangan. Namun belum sempat kami berprasangka, wanita yang masih cantik di usianya yang menginjak kepala lima itu kembali. 

"Ini ada dua pasang tiket untuk kalian. Hadiah dari Papa dan Mama atas pernikahan kalian." Mama menyodorkan tiket pesawat kepada Bang Al dan Pak Rafael. "Maaf ya, Al, Mama baru kasih sekarang. Meski agak terlambat tapi ini bentuk perhatian kami. Karena ... waktu itu kan, istrimu belum ma--" 

"Ya, Ma. Nggak papa. Makasih untuk semuanya." Bang Al memotong kalimat mama yang masih menggantung. Tapi gue tahu apa yang akan diucapkan Mama. Itu semua memang karena kesalahan gue. 

*** 

Kami berempat sudah sampai di Lokasi yang ditentukan. Tempat bulan madu yang dipilihkan Mama sebagai hadiah pernikahan kami. Mama juga membookingkan resort mewah untuk kami selama seminggu. View-nya yang langsung menghadap ke laut membuat kami betah berlama-lama di sini. 

Hari pertama di sini, Bang Al tak mengizinkan gue keluar dari kamar. Kami menikmati pemandangan dari balkon kamar kami sambil menikmati hidangan yang disediakan oleh pihak resort sebagai fasilitas menginap. 

Sedangkan Kak Ais memilih untuk berlayar bersama suaminya. Meski kami ke sini berempat, tapi kami memiliki agenda masing-masing. Sebagaimana pengantin baru lainnya yang sedang berbulan madu. 

"Bang, ceritakan sejak kapan Abang tahu kalau Nadia adalah gadis kecil yang dulu sering merengek minta ikut Abang?" tanya gue sambil bersandar di dadanya. Di depan kami terbentang laut luas dengan sinar jingga di atas langit. 

"Sejak kamu SMA. Waktu itu Abang lulus kuliah. Lalu diajak Papa untuk main ke rumahmu. Tapi kamu sedang sekolah. Orang tua kita merencanakan untuk menikahkan kita setelah kamu lulus SMA, tapi Abang meminta untuk menunggu kesiapnmu dulu." 

"Kenapa Abang tidak pernah menemui Nadia?" 

"Kata siapa? Abang sering menemuimu di sekolah. Tapi dari jauh. Abang hanya ingin menjagamu agar tetao berada dalam jangkauan Abang. Abang nggak mau kalau kita sering ketemu, Abang tak bisa menahan gejolak di hati Abang untuk segera menikahimu. Padahal kamu masih sekolah." 

"Jadi Abang tahu kelakuan Nadia seperti apa?" 

"Tentu saja. Kamu sering nongkrong di mall. Sering taruhan untuk menggoda cowok-cowok. Sering me--" 

"Stop, Bang! Nggak usah diterusin! Nadia malu," ucap gue sambil menutup muka yang mungkin sudah memerah dengan telapak tangan. 

"Nadia dulu memang badung dan pecicilan. Tapi percayalah Nadia belum pernah pacaran apalagi disentuh laki-laki. Abang ... orang pertama yang menyentuh Nadia," lirih gue dengan menyembunyikan muka ke dadanya. 

"Alhamdulillah. Berarti Abang tidak salah memilih istri." 

Dia menjauhka wajah gue darinya agar tatapan kami bisa bertemu. Sesaat kami saling mengunci tatapan. Menyesapi perasaan yang makin membuncah di hati kami. 

"Nadia sayang, maukah kamu mendampingi Abang hingga saatnya Allah memanggil Abang kembali ke haribaan-Nya? Menjadi istri shalehah dan menemani perjuangan Abang dalam menjalankan agama-Nya secara kaffah?" 

"Insyaallah, Bang. Tapi Nadia juga minta satu hal ke Abang!" 

"Katakan, Sayang." 

"Jadikan Nadia satu-satunya bidadari di hati Abang," ucap gue tersipu. Pria ini langsung menenggelamkan kepala gue kembali ke dada bidangnya. Menciumi puncak kepala ini bertubi-tubi. 

"Tentu saja, Sayang. Tentu saja." 

Kami berpelukan di bawah matahari yang hampir tenggelam. Disaksikan ombak dan angin sepoi-sepoi, kami mengazamkan niat untuk menjalani kehidupan ini sesuai sunnah Rasul-Nya. 

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!