Early Marriage
Belajar Memasak
Apa-apaan ini, masa gue di suruh masak beginian? Seumur hidup belum pernah masak sayuran aneka macam kayak begini. Gue kan cuma bisa rebus air sama masak mie instan doang, itupun kadang gosong.
Cukup lama gue menatap berbagai jenis sayuran itu berharap berubah jadi makanan instan siap goreng. Nyatanya itu cuma khayalan gue yang jauh dari fakta. Terpaksa gue ambil beberapa jenis sayuran dan telur. Memotong sayuran tersebut menjadi lebih kecil. Lalu setelah siap gue kukus semua sayuran jadi satu. Untuk telur, gue ambil 6 biji dan direbus. Yah, begini lebih mudah.
Bukankah makanan terbaik itu yang dimasak tanpa minyak? Secara om Alfin kan sudah tua, harus mengurangi minyak biar nggak kolesterol. Hihi, gue terkikik sendiri membayangkan reaksi om Alfin makan masakan super sehat ala Nadia.
Sambil menunggu telur dan sayuran matang, gue cuci beras dan menanaknya dalam magic com. Huh, beres. Ternyata semudah ini memasak ya. Gue melompat girang sambil mengepalkan tangan dan berkata "yes!"
Pukul setengah dua belas gue tata semua makanan di meja makan. Lalu membuat jus pare untuk om ganteng itu dan jus jeruk buat gue sendiri. Tentu gue buatin jus pare buat dia bukan tanpa alasan. Menurut mbah google, jus pare mengandung banyak antioksidan, vitamin A dan C yang dapat mencegah penuaan dini dan mengurangi keriput. Sangat cocok untuknya yang suda tua kan? Ah, Nadia, kamu memang cerdas.
Sambil menunggu kedatangan pria itu, gue membunuh bosan dengan menonton TV. Berbagai cenel sudah gue sambangi, tapi nggak ada satu pun acara yang menarik. Biasanya jika bosan begini, gue akan main sosmen atau chatting di group wa bersama teman-teman. Namun sejak mami memergoki gue pulang malam itu, semua fasilitas gue dicabut. Bahkan hingga gue terjebak pernikahan paksa ini, tuh HP nggak tahu rimbanya. Dan oon-nya gue nggak minta setelah nikah. Ah, ini gara-gara suami tak peka itu.
Aha, gue kan dikasih uang tadi, kenapa nggak gue beliin HP aja. Tanpa sadar gue senyum-senyum sendiri membayangkan muka lelaki itu mendapati uang belanja buat beli HP. Bodo amat lah, dia marah lebih bagus. Jadi gue bisa punya alasan untuk pulang, dan mintai pisah sama pria datar itu. Ah, Nadia, ide kamu memang brillian. Sekali mendayung, tiga sungai terlampaui.
"Assalamu'alaikum."
Suara salam dari om datar yang sayangnya ganteng itu membuyarkan khayalan tingkat tinggi gue. Setelah menjawab salam, gue cium tuh tangan yang sudah mengambang di udara. Sepertinya nih orang seneng banget tangannya gue cium. Padahal gue eneg.
Tanpa kata, pria berkemeja kotak-kotak itu langsung menuju wastafel mencici tangan terus ke meja makan. Semua gerak-geriknya tak lepas dari pengamatan gue. Sesat terlihat matanya membulat melihat menu makan yang ada di meja. Tapi ia tetap duduk dan mengambil piring yang sudah gue sediain.
"Nasinya mana, Nadia?"
Gue menepuk jidat. "Oh iya, bentar, Om." Gue berjalan mengambil nasi yang ada di magic com.
Lagi, Om Alfin melongo melihat nasi hasil karya gue. Apa dia takjub melihat kehebatan gue? Ah, pasti Nadia. Dia hanya pelit pujian saja. Sabar, wahai diri.
Sejurus kemudian, Om Alfin mengambil Nasi dan sayur kukus ke piringnya. Sebuah telur yang sudah gue kupas hingga putih mulus seperti gue, ups. Juga kecap pedas yang sengaja gue taruh di samping kukusan sayur itu.
Tatapan mata gue tak lepas dari caranya makan. Begitu lahap dan tak bersuara. Apa masakan gue seenak itu? Lalu perlahan gue mengikutinya makan. Satu kunyahan, dua kunyahan, dan ... huek, rasanya hambar saudara. Gue paksakan menelan makanan hasil karya sendiri ini meski tak mampu.
Ekor mata gue melirik om Alfin yang tersenyum menatap respon gue.
"Gimana, Nadia? Masakanmu enak kan. Kamu memang cerdas. Nggak salah mami menjodohkan kita," ucapnya seolah habis makan olahan resto. Bahkan dia sudah menghabiskan semua makanan yang ada di piringnya. Giliran gue yang maju mundur cantik mau menelan kembali makanan super hambar ini. Bagaimana bisa ia menghabiskan semua tanpa mengeluh sedikit pun? Apa lidah nya sudah mati rasa?
"Kenapa nggak dimakan? Apa ada racunnya?"
Gue menggeleng dengan mulut penuh. Senakal-nakalnya gue, nggak mungkin meracuni orang. Gue kan masih takut dosa. Suapan ketiga, berhasil gue telan dengan susah payah. Hingga akhirnya menyerah.
"Apa kamu benar-benar nggak bisa masak, Nadia?" Tatapannya lembut, tidak mengintimidasi seperti bayangan gue. Tidak marah seperti rencana gue. Semuanya ambyar.
"Nggak bisa. Gue cuma bisa masak air sama mie instan doang."
"Oke, nggak papa. Masih latihan, jadi saya tidak akan marah. Tapi mulai besok, kamu harus belajar masak."
"Tapi, Om ... gu--"
"Nadia! Jangan panggil saya om, dan jangan pakai lo gue kalau ngomong sama saya. Saya suamimu, bukan temanmu. Ingat?"
Gue memutar bola mata jengah. "Iya, iya."
"Jusnya diminum, Om. Eh, Bang!"
Dia mengangguk. Dada ini sudah deg-degan menunggu reaksinya setelah minum jus super pahit itu. Satu teguk ... dan dia menyemburkan kembali minuman itu. Kedua matanya melotot. Lalu mengambil air putih dan meneguknya hingga tandas. Dalam hati gue bersorak senang. Namun melihatnya menatap tajam, nyali gue ciut untuk meledakkan tawa ini. Sebisa mungkin gue tahan hingga perut ini terasa kaku.
"Nadia! Jus apa ini? Kamu mau meracuni suamimu sendiri?"
"Tidak, Om. Mana berani. Nadia takut durhaka." Dua jari telunjuk dan jari tengah gue acungkan ke atas sambil nyengir. "Itu jus pare, Bang. Menurut artikel yang Nadia baca di google, jus pare sangat cocok untuk mencegah penuaan dini dan kulit keriput. Cocok kan buat Abang yang sudah tua?"
Gue lihat dia menghembuskan napas pasrah. Mungkin tak mau lagi berdebat dengan iatrinya yang cantik dan imut ini. Lalu dia beranjak meninggalkan gue yang masih asik dengan senyum lebar tanda kemenangan.
***
Pagi ini gue sudah menyiapkan sarapan roti tawar dengan selai dan dua gelas susu cokelat untuk kami berdua. Rencananya hari ini gue akan keluar membeli HP.
Semalam dia melarang, tapi bodo amat. Emang sekarang zaman apa? Masa gue dikurung di rumah segede ini sendirian tanpa diberi HP. Rasanya seperti habis makan roti gandum tanpa minum. Seret. Gue juga kan ingin mengabarkan pada teman-teman kalau gue baik-baik saja. Pasti mereka bertanya-tanya kenapa tiba-tiba gue menghilang tanpa jejak.
Aha, gue kan bisa sekalian menemui mereka nanti. Ah, idemu memang cemerlang, Nadia. Nggak salah kamu di pilih jadi ketua geng oleh mereka. Hi hi.
"Bang, habis masak, nanti Nadia boleh keluar ya?" Gue harus tetap izin, kan? Perkara diizinin atau tidak, itu urusan nanti. Penting gue dah minta izin. Jadi nggak bakal dukutuk sama malaikat selama kepergian gue.
"Kemana?" tanyanya penuh selidik. "Di rumah aja. Tuh, sudah abang bawakan buku resep. Pelajari biar bisa masak dengan benar."
Sudah gue duga. Pasti nggak bakal dibolehin. Bodo amat lah. Gue akan pergi diam-diam. Pasti nggak akan ketahuan kalau gue bisa pulang sebelum dia kan?
Setelah kepergiannya, gue langsung bersiap diri untuk melaksanakan rencana gue. Pergi ke counter HP, lalu menghubungi teman-teman untuk ketemuan di kafe. Ah, rasanya seperti burung yang bebas dari sangkar.
Dan di sinilah gue bersama teman-teman. Menikmati makanan di kafe sambil bercanda ria. Melepas rindu setelah berberapa minggu tak bertemu. Reaksi mereka tentu saja heboh. Kepo juga tentang kemana gue menghilang. Tapi gue tetap nggak bilang. Mau ditaruh di aman muka cantik ini kalau meraka tahu gue sudah nikah sekarang?
Seperti biasa, kami melakukan tantangan. Kali ini tantangannya yang kalah harus berani meminta nomor HP pemilik kafe ini. Gila kan? Dan gue yang kalah. Karena sudah jadi kesepakatan, terpaksa gue jalanin tantangan ini.
Perlahan gue berjalan menuju meja resepsionis. Bertanya dimana keberadaan pemilik kafe ini. Awalnya resepsionis itu tak mau memberi tahukan. Namun dengan jurus maut gue, akhirnya bisa juga bertemu dengan pemilik kafe ini. Tentu saja kedua teman gue mengikuti, supaya tahu gue nggak bohong.
Seorang pria duduk membelakangi gue. Di depannya duduk seorang wanita cantik dengan hijab lebar. Eh, tunggu. Gue kayak kenal dengan baju yang dipakai pria itu. Masa iya, dia itu ...