Gelora Cinta Kedua (Novel)

Bertahan

“Asal dilakukan berdua,” ucapku lirih, nyaris seperti doa yang terucap tanpa suara. Aku menatap mata Iqdam lebih lama dari biasanya, seolah sedang memastikan ia benar-benar ada di hadapanku malam ini, bukan sekadar bayangan yang sering kurindukan selama hampir satu tahun terakhir. “Denganmu, Mas.”

Suamiku terdiam. Aku bisa merasakan tarikan napasnya yang tertahan, juga perubahan kecil di raut wajahnya—campuran rindu, keinginan, dan sesuatu yang tak lagi sekadar hasrat fisik. Ada jeda panjang di antara kami, jeda yang dulu sering menjadi jurang, tapi malam ini justru terasa seperti jembatan.

Malam itu berbeda. Bukan karena sentuhan yang akhirnya kembali kami bagi, melainkan karena perasaan di baliknya. Aku tidak merasa ditagih, tidak merasa menjalankan kewajiban. Aku merasa dipilih. Setelah hampir setahun diabaikan, tubuhku seperti mengingat ulang bagaimana rasanya dicintai. Bukan sekadar disentuh, tapi dihadirkan.

Kami berbincang lama, dengan kalimat-kalimat sederhana yang dulu terasa sepele. Tentang Hawa. Tentang lelah. Tentang sunyi yang ternyata sama-sama kami rasakan, meski tinggal di atap yang sama. Kehangatan itu tidak meledak-ledak, tapi merambat pelan, seperti air hangat yang akhirnya menyentuh kulit beku.

Aku terbangun pagi harinya dengan perasaan campur aduk. Lengannya masih melingkar di pinggangku, napasnya teratur, wajahnya tampak lebih tenang dari yang kuingat. Pemandangan ini nyaris terasa asing, sekaligus sangat kurindukan. Aku ingin berlama-lama di momen itu, tapi kecemasan menyelinap tanpa izin.

Bisakah kami benar-benar berubah?

Tatapanku beralih ke ponsel di atas nakas. Banyak notifikasi yang belum kubuka. Aku tahu, ada dunia lain di sana—dunia yang sempat memberiku pelarian ketika rumah terasa terlalu sunyi. Tapi pagi ini, aku memilih tidak menyentuhnya. Aku memilih memandangi wajah suamiku, mencoba mempercayai apa yang baru saja kami bangun.

Iqdam menggeliat, lalu bangun. Ia tersenyum kecil, senyum yang membuat dadaku menghangat.

Tanpa banyak kata, pagi itu ia membuktikan ucapannya. Ia membantu Hawa bersiap, sementara aku menyiapkan sarapan. Rumah kami terasa berbeda—lebih hidup. Ada suara lembutnya dari kamar Hawa, ada tawa kecil putriku, ada aroma masakan yang entah kenapa terasa lebih berarti.

Namun, pikiranku masih berkecamuk. Pertanyaan yang semalam ia ajukan kembali terngiang.

Apa mimpimu, Hana?

Aku belum menjawabnya dengan gamblang. Tapi cara ia mendengarkan semalam memberiku harapan—harapan kecil, rapuh, tapi nyata.

Saat ia keluar dari kamar Hawa, ia duduk di hadapanku. “Kami sudah siap,” katanya.

Aku menyodorkan piring, tersenyum. “Terima kasih sudah bantu Bunda pagi ini.”

Ia mengusap tengkuknya, canggung. “Aku salah kemarin. Dan mungkin… sering.”

Kami terdiam. Sunyi yang kali ini tidak menyesakkan.

“Mas,” panggilku pelan. Aku menggenggam jemarinya. “Ayo pimpin doa.”

Setelah mengantar Hawa ke sekolah, ia memutuskan tidak pergi ke workshop. Kami duduk berdampingan di sofa, laptop di pangkuan masing-masing. Rasanya seperti kembali menjadi tim.

“Mas,” aku memberanikan diri. “Kalau aku mulai mewujudkan mimpiku, kamu keberatan?”

Ia menoleh, matanya penuh pertimbangan. “Aku nggak keberatan. Aku cuma… belum tahu caranya dukung kamu.”

Jawaban itu jujur. Dan kejujuran itu membuatku berani. “Aku mau mulai dari hal kecil.”

Ia mengangguk. “Aku di sampingmu.”

Hari-hari berikutnya terasa lebih hangat. Malam, ia membacakan cerita untuk Hawa. Setelahnya, kami kembali menemukan kebersamaan yang sempat hilang.

"Honeymoon lagi, mau?" bisik Iqdam setelah menuntaskan hajatnya malam ini.

"Kerjaanku baru dimulai, gimana kalau setelah semua selesai?" jawabku sedikit terengah seraya merangsek ke pelukan.

"Deal!" lirih Iqdam, memelukku erat.

Esok paginya, aku membuka laptop, mencari informasi tentang komunitas yang disebut Riz. Pesannya sudah masuk, lengkap dengan kontak Nadira. Aku mengirim pesan dengan jantung berdebar.

Balasannya cepat dan hangat. Aku diundang menghadiri kegiatan pekan depan. Aku tersenyum, lalu merasa bersalah. Aku belum sepenuhnya bercerita pada Iqdam.

Di sisi lain, aku bisa merasakan keganjilan kecil di matanya—tatapan yang bertanya tapi memilih diam. Aku tahu, kepercayaan kami masih rapuh.

Sore itu, saat aku menyiapkan makan malam, ia mendekat. “Wangi banget, Sayang.”

“Kesukaanmu dan Hawa.”

Ia mengecup pipiku. “Sudah mulai sesuatu?”

“Baru cari tahu. Aku kontak komunitas.”

“Dari mana kamu tahu?”

Aku menarik napas. “Teman.”

Ia mengangguk. Tidak mendesak. Tapi aku tahu, ada tanya yang disimpannya.

Pekan berikutnya, aku membawa Hawa ke kegiatan komunitas. Melihat anak-anak belajar dengan keterbatasan membuat dadaku sesak—antara sedih dan penuh makna. Aku merasa berada di tempat yang tepat.

“Bunda, aku suka tempat ini.”

Aku tersenyum. “Bunda juga.”

"Terima kasih sudah bawa kami ke sini," kataku kepada Nadira, saat akan pulang.

"Mimpi besar selalu dimulai dari langkah kecil," jawab Nadira sambil tersenyum.

Malamnya, aku bercerita pada Iqdam.

"Aku belum pernah lihat kamu seantusias ini," kata Iqdam.

"Karena aku merasa inilah aku, Mas. Boleh dilanjutin?" ujarku semangat.

“Lanjutin,” katanya. “Aku dukung.”

Aku terharu. Untuk pertama kalinya, aku merasa kami berjalan di arah yang sama.

Sebelum tidur, pesan dari Riz masuk ["Bagaimana kunjungannya? Sesuai harapan?"]

"Iya, Riz. Terima kasih. Aku rasa, sekarang tahu ke mana harus melangkah."

Aku membalas singkat, lalu mematikan ponsel. Prioritasku jelas.

Di ambang pintu ruang kerja, langkahku terhenti. Iqdam berdiri membelakangiku, bahunya sedikit merosot seolah sedang menanggung beban yang tak ingin dibagi. Tatapannya kosong menembus layar laptop yang bahkan tak lagi menyala.

Aku bisa menebak—ia sedang berpikir. Dan entah kenapa, firasatku mengeras.

“Apa aku masih bisa percaya?” batinku, tanpa sadar menggenggam jemariku sendiri.

Kudengar dia bergumam pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.

“Percayalah padanya, Dam.”

Kalimat itu membuat dadaku menghangat sekaligus mencelos. Seolah kepercayaan padaku masih harus diyakinkan berulang kali—bukan sesuatu yang hadir dengan sendirinya.

“Hana cuma kerja,” lanjutnya lirih. “Kasih dia kesempatan berkembang, meski di rumah. Kamu lihat kan, wajahnya cerah beberapa hari ini?”

Aku tercekat.

Jadi… dia memperhatikanku.

Belum sempat aku melangkah lebih jauh, suara notifikasi ponselnya memecah keheningan.

Ting!

Iqdam meraih ponselnya dengan gerakan refleks. Terlalu cepat. Terlalu sigap. Matanya menyapu layar sekilas sebelum jarinya menggeser dan—menghapus.

Dadaku mengencang.

Aku tidak tahu apa isi pesan itu. Tapi caranya bereaksi membuat pertanyaan kecil bermunculan, seperti titik-titik air yang jatuh satu per satu ke permukaan hati yang baru saja tenang.

“Mas?” panggilku akhirnya, suaraku terdengar lebih pelan dari yang kuinginkan.

Tubuhnya tersentak. Iqdam berbalik, rautnya jelas terkejut.

“Astaghfirullah…” gumamnya, napasnya sedikit terputus.

Aku melangkah masuk, mencoba tersenyum meski ada ganjalan yang tak bisa kusebutkan. “Ada apa?”

Iqdam mengatur napas, lalu memaksakan senyum yang tampak rapi—terlalu rapi untuk sesuatu yang spontan.

“Nggak apa-apa, Sayang,” katanya cepat. “Aku cuma… teringat sesuatu.”

Aku mengangguk pelan. Tidak bertanya lebih jauh. Tidak juga menuntut penjelasan.

Namun mataku menelusuri wajahnya, mencari celah kecil yang mungkin tak sempat dia sembunyikan. Ada sesuatu di sana—bukan marah, bukan juga bersalah. Lebih seperti… ragu.

Dan di dadaku, rasa hangat yang tadi mengendap perlahan berubah menjadi waspada.

Bukan karena aku tidak percaya.

Melainkan karena aku takut—kepercayaan yang sedang kami bangun ini ternyata masih rapuh. Dan aku tak tahu, apakah kali ini aku siap jika harus menambalnya sendirian lagi.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!