Gelora Cinta Kedua (Novel)
Ketakutanku
PoV Iqdam
Pagi di kantor berjalan seperti biasa. Terlalu biasa, sampai terasa ganjil.
Aku duduk di depan layar, menatap deretan angka dan laporan yang seharusnya kupahami di luar kepala. Tanganku bergerak otomatis—scroll, klik, ketik—sementara pikiranku tertinggal di rumah, di kamar sempit dengan lampu temaram, di kata-kataku sendiri semalam yang masih menggantung di udara.
Aku takut suatu hari kamu pulang, tapi hatimu sudah nyaman di tempat lain.
Aku tidak ingat sejak kapan aku berani mengucapkan kalimat sejujur itu. Biasanya aku menyimpannya. Mengendapkan. Membungkusnya dengan logika dan sikap tenang. Tapi semalam, entah kenapa, kata-kata itu keluar begitu saja. Tanpa rencana. Tanpa tameng.
Dan Hana tidak menyangkalnya.
Itu yang membuatku terus memikirkannya.
Ponsel di meja bergetar pelan. Refleks tanganku terangkat, hampir meraihnya, lalu berhenti di udara. Aku tahu bukan Hana. Dia jarang mengirim pesan pagi-pagi. Bukan karena tak peduli—aku tahu itu—tapi karena ritme hidupnya kini berbeda. Lebih padat. Lebih penuh.
Aku menurunkan tangan, membiarkan ponsel tetap di tempatnya.
Belajar menahan diri, kataku pada diri sendiri.
Belajar percaya, meski rasa aman tak selalu datang bersama keyakinan.
Di ruang rapat, seorang rekan kerja bercerita sambil tertawa kecil. Tentang istrinya yang kini sibuk ikut proyek sosial, sering pulang malam, sering membawa cerita yang tidak ia pahami sepenuhnya.
“Kadang gue ngerasa,” katanya sambil mengaduk kopi, “istri gue punya dunia sendiri. Gue masih di rumah yang sama, tapi kayak… nggak ikut tinggal di situ.”
Kalimat itu mendarat terlalu tepat.
Aku tersenyum sopan, mengangguk seperlunya, tapi dadaku mengencang. Dunia sendiri. Dua kata sederhana, tapi dampaknya panjang. Karena aku tahu rasanya. Tinggal di ruang yang sama, berbagi meja makan, berbagi anak—tapi perlahan kehilangan peran sebagai tempat pertama seseorang pulang dengan pikirannya.
Siang berganti tanpa kusadari. Aku menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dari biasanya. Bukan karena fokus, tapi karena ingin segera pulang. Ada dorongan aneh di dadaku—bukan rindu yang manis, tapi kebutuhan untuk memastikan : rumahku masih utuh.
Saat aku membuka pintu rumah, aroma masakan menyambutku. Hana ada di dapur, memotong sayur dengan gerakan tenang. Rambutnya diikat seadanya. Ekspresinya… ringan. Tidak tegang seperti beberapa hari lalu.
“Ayah pulang,” ucapnya tanpa menoleh.
Aku berdiri sejenak, memperhatikannya dari punggung. Ada kelegaan kecil menyusup—melihatnya seperti ini. Tapi bersamaan dengan itu, muncul pertanyaan yang tak terucap: apa yang berubah?
Kami makan malam bertiga. Hawa bercerita tentang temannya yang menang lomba menggambar. Hana mendengarkan penuh perhatian, sesekali tertawa kecil. Aku ikut tertawa, ikut mengangguk, ikut hadir.
Tapi ada bagian dari diriku yang mengamati dari jauh. Menghitung jarak yang tak kasatmata.
Setelah Hawa tidur, rumah kembali senyap. Hana membereskan meja, lalu duduk di sofa dengan buku di tangannya. Aku duduk di seberangnya. Ada jarak satu bantal di antara kami. Dulu, jarak itu tak pernah ada.
“Kamu capek?” tanyaku.
“Lumayan,” jawabnya. Senyumnya kecil, tapi tulus.
Aku mengangguk. Tidak bertanya lebih jauh. Tidak menyinggung apa pun. Kata-kata semalam masih terasa hangat—dan aku takut mengulangnya terlalu cepat, takut terlihat seperti orang yang tak pernah puas diyakinkan.
Di kamar, Hana tertidur lebih dulu. Aku berbaring menatap langit-langit, mendengarkan napasnya yang teratur. Ada ketenangan di sana, tapi juga jarak. Seperti dua orang yang sama-sama memilih diam, dengan alasan yang berbeda.
Aku menyadari sesuatu malam itu.
Aku tidak takut pada pria lain.
Aku takut pada versi diriku yang pelan-pelan tidak lagi dibutuhkan.
Takut karena Hana tumbuh, meluas, menemukan ruang-ruang baru dalam dirinya—sementara aku masih berdiri di tempat yang sama, berharap tetap menjadi porosnya.
Aku ingin menjadi orang yang mendukung. Suami yang percaya. Ayah yang stabil. Tapi di antara semua itu, ada laki-laki biasa yang takut ditinggalkan bukan karena kalah, melainkan karena terlupa.
Keesokan paginya, aku bangun lebih awal. Menyiapkan sarapan. Mengantar Hawa ke sekolah. Rutinitas yang kukerjakan dengan cermat, seolah setiap gerakan adalah bukti bahwa aku masih berguna.
Di depan gerbang sekolah, Hawa berhenti sebentar. Menoleh padaku sebelum masuk. Tasnya masih tergantung di satu bahu. Ia belum berlari seperti biasanya.
“Ayah,” katanya tiba-tiba.
Aku menunduk. “Kenapa?”
Hawa menggeser sepatunya ke tanah, menggambar garis kecil dengan ujungnya. Gerak yang selalu ia lakukan kalau sedang mikir.
“Ayah sekarang sering diem sama Bunda.”
Aku terdiam.
“Ngomong kok,” jawabku pelan. “Cuma… nggak banyak.”
Hawa mendongak cepat. “Itu maksudnya. "Kalau Ayah diem,” lanjutnya pelan,
“Bunda jadi nggak ngomong juga.”
Ia menatapku sebentar, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan.
Aku tersenyum kecil. Anak ini terlalu jujur untuk usianya.
“Bunda tuh suka dipanggil ... Bundaa... Bundaaa ... kayak aku manggil bunda gitu loh,” lanjutnya lagi, nadanya polos tapi yakin.
Dadaku mengencang.
“Terus?” tanyaku, suaraku lebih pelan dari yang kuinginkan.
Hawa mengangkat bahu kecilnya. “Kalau Bunda sendirian, aku suka sedih liatnya.”
Aku menelan ludah.
“Ayah jangan lama-lama diem,” katanya lagi, kali ini lebih cepat, seperti takut dilarang. “Nanti rumahnya sepi.”
Aku berjongkok di depannya. Menyamakan tinggi mata. “Hawa nggak suka sepi?”
Ia menggeleng kuat. “Nggak.”
“Kalau sepi,” katanya sambil menarik ujung tasku, “Hawa takut Bunda nangis.”
Aku menarik napas panjang.
Ia lalu menoleh ke arah gerbang, memastikan gurunya belum memanggil. Setelah itu ia mendekat setengah langkah.
“Ayah jangan cuekin Bunda, ya,” katanya lirih, hampir seperti bisikan. “Bunda suka nangis."
Deg!
“Ayah cuekin?” ulangku pelan.
Hawa mengangguk cepat. “Sedikit."
Lalu, seperti takut kata-katanya terdengar terlalu serius, ia buru-buru menambahkan,
“Kayak… Ayah lupa nanyain Bunda buat cerita.”
“Hawa kenapa mikirin itu?” tanyaku.
Ia mengerutkan hidungnya. “Soalnya kemarin Bunda diem lama di dapur. Padahal masakannya udah jadi.”
Aku menghela napas pelan. Putriku ternyata mengamati perilaku kami lebih detail.
“Kalau Ayah lupa,” katanya sambil mengaitkan jarinya ke tanganku,
“Hawa ingetin boleh, kan?”
Aku mengangguk. “Boleh.”
"Ayah temenin Bunda, ya,” katanya sambil tersenyum kecil. “Minum teh aja.”
Minum teh aja.
Permintaan sekecil itu.
Aku tersenyum tipis melihat putriku melontarkan pendapatnya.
"Janji?” desaknya.
“Janji.”
Hawa tersenyum puas. Senyum anak kecil yang merasa tugasnya sudah selesai.
“Oke,” katanya ringan.
“Sekarang Ayah boleh kerja lagi.”
Aku mengusap kepalanya pelan. Lalu berdiri.
“Yaudah. Hawa masuk dulu.” Dia berlari masuk, tanpa menoleh lagi.
Dan ia pergi.
Tanpa tahu, ia baru saja mengatakan hal terpenting hari itu dengan cara paling sederhana.
Aku berdiri lama di sana.
Bukan karena apa yang ia katakan berat—tapi karena ia tidak meminta aku mencintai ibunya lebih nyata.
Ia hanya meminta aku hadir.
Dan untuk pertama kalinya pagi itu, aku sadar:
diamku mungkin tidak melukai dengan keras,
tapi cukup untuk membuat rumah terasa sepi bagi orang-orang yang kucintai.
Mungkin aku memang terlalu lama berpikir. Terlalu sibuk menjaga agar semuanya tetap terlihat baik-baik saja, sampai lupa bahwa keheningan juga bisa menciptakan jarak.
Aku pulang dengan satu kesadaran yang belum siap kuucapkan pada siapa pun—termasuk Hana.
Bahwa cinta tidak selalu rusak oleh pengkhianatan.
Kadang ia hanya melemah karena terlalu banyak hal kecil yang dibiarkan lewat tanpa suara.
Dan aku, pagi itu, memilih diam lagi.
Bukan karena tak peduli.
Tapi karena belum tahu bagaimana caranya bicara tanpa melukai—atau tanpa terlihat lemah.
.
.