Gelora Cinta Kedua (Novel)
Kejujuran
Malam itu tidak ada hujan.
Tidak ada suara televisi.
Bahkan angin pun seperti lewat tanpa singgah.
Aku duduk di lantai ruang tengah, lampu menyala redup. Aku tidak sedang menunggu siapa pun. Tapi aku tahu, kalau malam ini dilewati tanpa bicara, ada sesuatu yang akan membusuk pelan-pelan—tanpa suara, tanpa tanda.
Iqdam keluar dari kamar Hawa. Langkahnya ringan, dia baru saja menutup pintu dengan sangat hati-hati, seolah mimpi anaknya bisa pecah kalau pintu ditarik terlalu keras.
Ia duduk di sofa. Tidak terlalu dekat denganku. Tidak menjauh.
Beberapa detik berlalu tanpa suara. Aku meliriknya sekilas, lalu menarik napas dalam. Jantungku berdetak lebih cepat. Tapi berusaha kuatasi.
Satu detik. Dua detik.
Hening.
Aku memejam.
“A-aku mau jujur,” kataku akhirnya. Sedikit terbata.
Iqdam yang sedari tadi menyandarkan kepalanya di sofa, menoleh. Tidak tampak terkejut. Seolah kalimat itu sudah lama ada di antara kami, hanya menunggu giliran untuk diucapkan.
“Bukan buat ngajak ribut,” lanjutku. “Aku cuma… capek nyimpen.”
Aku meremas jari-jariku sendiri, lalu mengembuskan napas pelan, seperti sedang melepaskan sesuatu dari dada.
“Riz,” kataku.
Nama itu jatuh begitu saja di ruang tengah kami.
Iqdam tidak langsung bereaksi. Hanya bahunya yang sedikit mengeras, lalu kembali turun, seolah ia memilih untuk tetap tegap di tempatnya.
“Aku kenal dia dari aplikasi yang kureview,” ucapku pelan. “Yang dulu aku bilang—tentang komunitas itu. Anak-anak jalanan. Dia yang ngenalin dengan Nadhira.”
Ia mengangguk kecil. Aku masih ingat pernah bercerita padanya. Tapi tidak utuh.
“Awalnya cuma diskusi,” lanjutku. “Kerja. Ide. Hal-hal yang aman.”
Aku berhenti sebentar. Menimbang kata, sambil memperhatikan gestur iqdam. Dia masih diam, menungguku. Kulanjutan dengan nada pelan, “Lama-lama dia minta ketemu. Berkali-kali.”
Aku menelan ludah. Sungguh, takut akan reaksi suamiku. Orang diem, biasanya lebih seram kalau marah, pikirku.
“Tapi aku nggak pernah datang,” kataku. “Dan aku nggak punya niat ke sana.”
Iqdam menatapku. Tidak memotong. Tidak menyela.
Glek! Tatapannya membuatku makin takut. Diamnya Iqdam membuat otakku overthinking.
“Yang bikin aku gelisah,” lanjutku, “bukan dia. Tapi aku sendiri.”
Aku menoleh, nekat menatapnya langsung, padahal jantungku sudah berdentum kencang.
“Aku takut kamu dengar ceritanya bukan dari aku.”
“Aku nggak meladeni dia, Mas,” kataku jujur. “Tapi aku juga nggak mau kamu tahu dari orang lain.”
Iqdam menghela napas panjang. Seperti seseorang yang akhirnya bisa menurunkan beban yang terlalu lama terangkat.
Diam.
Beberapa menit.
Aku gelisah, menunduk sambil meremat ujung rokku. Di titik ini aku pasrah, jika iqdam meminta aku membuka semuanya termasuk chat itu, tidak ada pilihan mundur.
Kulirik dari ekor mata. Iqdam seperti sedang menata kalimat. Dia terlihat tenang tapi ritme napasnya seolah menahan amarah.
Tiba-tiba, setelah sunyi belasan menit.
“Aku cemburu,” katanya. Suaranya datar, jujur.
“Bukan karena kamu. Tapi karena aku ngerasa… diabaikan.”
Ia menatap lantai.
“Aku takut kamu nemu tempat ngobrol yang bukan lagi aku.”
Aku mengangguk, makin menunduk. Tidak membantah. Tidak membela. Perasaan itu ada, dan aku tidak ingin menghapusnya dengan kata-kata kosong.
Aku belajar menerima bila iqdam membeberkan kesalahanku. Itu bagian dari tanggung jawabnya.
Beberapa detik kemudian, ia kembali bicara.
“Hana ... Aku juga mau bicara sesuatu.” Wajahnya tenang, tapi ada gurat gelisah di sana.
Dia menoleh padaku, seolah menunggu isyarat aku masih tetap tenang mendengarkan.
Aku diam. Mengangguk tipis, memberi ruang.
“Rika,” katanya pelan. “yang sering wasap aku akhir-akhir ini.”
Aku mengangguk.
“Yang kamu nggak tahu. Yang sering kamu duga itu ... benar,” lanjutnya menundukkan kepala, “aku masih transfer ke dia. Diam-diam.”
Kata itu tidak diucapkan dengan nada dramatis. Justru terdengar lelah.
“Awalnya kecil. Buat sekolah anaknya. Terus kuliah. Terus kebutuhan lain,” katanya.
“Aku nggak pernah bilang, karena tiap mau ngomong… aku ngerasa bersalah duluan.”
Aku mendengarkan. Tidak memotong.
“Aku takut kamu makin mikir aku lebih milih dia dibanding kepentingan Hawa,” katanya lagi.
“Padahal yang aku takutin cuma satu—kalau aku berhenti bantu ... dia terpuruk sendirian.”
Aku tersenyum getir, menunduk sepersekian detik. Memang itu yang kupikirkan, kamu terlalu mementingkan mereka.
Ia mengusap wajahnya.
“Aku larang dia jual rumah. Tapi aku juga nggak siap nanggung semuanya terang-terangan.”
Aku menarik napas panjang.
“Jadi akhirnya Mas diam,” kataku pelan. “Karena takut aku keberatan.”
Ia mengangguk. “Iya.”
Aku tidak marah. Yang kurasakan lebih seperti satu potongan yang akhirnya pas di tempatnya.
Rasa lelahku valid, dugaanku buka mengada-ada, kekesalanku terbukti. Aku menengadahkan kepala ke atas, lalu membuang napas panjang tapi lirih. Takut merusak suasana penting ini.
Iqdam melihat sikapku barusan, dia mengusap tengkuknya lalu bersandar di sofa. Pasrah.
“Aku bukan keberatan soal bantu,” kataku. “Aku keberatan kalau Mas sendirian mikul semua ini.”
Ia menoleh. Matanya memerah, tapi tidak basah. Tak ada air mata di sana.
“Aku pikir diam itu melindungi semuanya yang aku jaga,” katanya lirih.
“Ternyata malah bikin kita asing.”
Aku tersenyum tipis. Pahit.
“Aku juga nggak cerita soal Riz karena takut disalahpahami,” kataku.
“Takut kamu mikir aku nyari yang lain.”
Iqdam menggeleng pelan.
“Aku lebih takut kalau kamu merasa sendirian ... Diabaikan olehku, dan mencari validasi pada pria lain.”
Deg.
Benar, aku sempat terbuai oleh sapaan hangat Why. Juga perhatian yang Riz berikan.
Kami terdiam.
Tidak ada sentuhan. Tidak ada pelukan. Tapi jarak di antara kami terasa lebih jujur dari sebelumnya.
Aku diam, menggeser duduk dan bersandar ke sofa. Kami menyelami pengakuan masing-masing malam ini.
Rasanya sedikit lega. Meskipun belum ada solusinya, tapi setidaknya kami berani ... berani mengakui bahwa ini sesuatu yang keliru.
Di luar rumah masih terdengar ramai. Tapi di ruang tengah kami, sunyi.
“Aku nggak minta Mas langsung percaya penuh,” kataku.
“Aku cuma nggak mau kita memperbaiki rumah dari cerita yang masih mengganjal.”
Iqdam mengangguk pelan. “Aku juga.”
Malam itu tidak memberi jawaban.
Tidak menyelesaikan apa pun.
Tapi untuk pertama kalinya, kami duduk tanpa topeng. Jujur.
Berhenti berbohong—meski belum tahu harus bagaimana melanjutkannya.
.
.