Gelora Cinta Kedua (Novel)

Asing - 2

Beberapa menit berlalu, aku belum bisa memejamkan mata. Kulirik punggung yang membelakangi di sebelahku, diam, napasnya teratur.

Apa yang harus kulakukan agar iqdam melihatku lagi? Apa salahku, dia tak pernah mau membahas itu.

Sampai kapan, istri harus merasa tersudut. Setiap hari overthinking dan bahkan itu pun kerap di salahkan.

Rasanya jadi wanita serba salah. Nurut di siakan, pengangguran disepelekan, dan berkarya dicurigai. Apa hanya aku yang merasa begini?

Aku terus menguap tapi kantuk tak kunjung hinggap. Dan tiba-tiba...

“Berhenti dari pekerjaan itu.”

Suara Iqdam terdengar tegas, dingin, bahkan tanpa menoleh. “Aku bersedia membayar wanprestasinya.”

Aku terdiam. Kata wanprestasi itu menggantung di udara, seperti palu yang menghantam kepalaku pelan tapi pasti.

“Oh,” aku terkekeh lirih, getir. “Mentang-mentang punya uang?”

Aku membalikkan badan, menarik selimut hingga menutup dadaku. “Aku juga punya uang, Mas. Tapi apa uang bisa beli perhatianmu?”

Ia tak menjawab. Punggungnya tetap membelakangiku.

“Aku cuma kerja,” lanjutku, suaraku melemah. “Cuma itu.”

“Kerja atau cari perhatian?” sambarnya pedas.

Dadaku mengencang. Tuduhan lagi. Selalu itu yang pertama keluar dari mulutnya.

“Ini nggak adil,” ucapku lirih tapi penuh tekanan. “Aku dilarang mengganggumu, tapi aku juga dilarang punya dunianya sendiri.”

Iqdam menoleh sekilas. Tatapannya lelah, tapi juga jengkel.

“Kalau kamu sudah nggak mau dengar omonganku, lalu apa gunanya kamu minta waktu buat ngobrol?”

Aku menelan ludah. Mendadak semua kemarahanku luruh, menyisakan rindu yang memalukan.

“Ya… kangen aja,” kataku pelan. “Boleh peluk, ya?”

Hening.

“Tidur. Aku nggak mood.”

Deg.

Kalimat itu jatuh begitu saja, tapi rasanya seperti ditampar. Aku membeku, menatap langit-langit kamar yang buram oleh air mata. Lagi-lagi ditolak. Dan entah kenapa, penolakan kali ini terasa lebih sakit dari biasanya.

Malam kami kembali hambar. Dan seperti malam-malam sebelumnya, itu berlanjut sampai pagi.

***

Aku menyiapkan bekal dengan wajah datar. Tanganku bergerak otomatis, tapi pikiranku berantakan. Emosiku naik turun—bukan hanya karena PMS. Ada kehampaan yang tak bisa lagi kusebut lelah biasa.

“Bunda sakit?”

Suara kecil itu membuatku menoleh.

“Enggak, Sayang.” Aku mengusap kepala Hawa sambil tersenyum, memaksakan lengkung bibirku. “Ayo habiskan sarapannya.”

Tatapan cemasnya menusukku.

Bahkan anakmu peka, Mas, batinku pahit. Aku memang nggak baik-baik saja.

Iqdam sempat melirikku, tapi tak berkata apa-apa. Dan seperti biasa, aku kembali menelan semuanya sendiri.

Saat rumah kembali sepi, tubuhku terasa makin berat. Meski ada asisten, lelah itu tak berkurang. Akhirnya aku memilih berendam di bathtub, memejamkan mata, berharap air hangat bisa melonggarkan saraf yang menegang berhari-hari.

Tapi yang muncul justru wajahku sendiri—perempuan yang terus berusaha, tapi selalu kalah oleh prioritas orang lain.

Malam pun kembali datang.

Kamar terasa sunyi, seperti ruang kosong yang terlalu sering kutempati. Lampu tidur redup memantulkan bayanganku di cermin. Aku baru selesai perawatan wajah, berharap—entah kenapa—perubahan kecil bisa membawa sesuatu yang baik.

Iqdam masih duduk di meja kerjanya, laptop terbuka, jemarinya sibuk. Aku menatap punggungnya lama. Tegap. Tapi jauh.

“Mas,” panggilku pelan.

“Hm?”

“Kamu nggak mau istirahat? Udah malam.”

Aku menggigit bibir bawahku, berharap ia menangkap maksudku.

“Sebentar. Laporannya harus selesai.”

Aku mendekat. Menyentuh bahunya, memijat perlahan. “Aku kangen. Kita jarang banget ngobrol beneran, Mas. Rasanya aku… nggak ada buat kamu.”

Aku melepas gaun malamku perlahan. Malam ini aku percaya diri. Sejak pagi aku mempersiapkan diri—berendam, memakai wewangian kesukaannya, berhias. Semua demi keintiman yang makin pudar.

Iqdam menoleh. Matanya lelah. Menatapku lama, tapi kosong.

“Hana, aku lagi banyak urusan,” katanya lirih. “Kita bahas nanti, ya.”

“Nanti kapan?” suaraku gemetar. “Aku cuma pengin kita seperti dulu. Aku kangen kamu… aku butuh kamu.”

Ia berdiri, berjalan ke ranjang, lalu berbaring memunggungiku.

“Tidur aja. Besok masih banyak yang harus diurus.”

Aku berdiri mematung. Menunggu. Berharap.

Tapi ia tak bangun. Tak memeluk. Tak menoleh.

Perlahan aku menaikkan kembali tali lingeriku. Air mataku jatuh tanpa suara.

Akhirnya aku berbaring, meraih ponsel. Aplikasi kencan terbuka.

[“Hai, apa kabar? Salam kenal… Rachel? Althea? Thea? El? Menurutmu mana yang cocok?”]

Aku tersenyum tipis. Sapaan yang sederhana, tapi terasa hangat.

Rachel Althea—nama samaranku.

Aku berniat menjadikannya responden observasi. Kuintip pesannya sekali lagi.

[“Aku nggak sabar menunggu besok. Aku penasaran dengan pekerjaanmu.”]

Ada kehangatan kecil di dadaku.

Tiba-tiba pintu terbuka.

“Bunda belum tidur?”

Aku tersentak. Menyembunyikan ponsel cepat-cepat.

“Hawa? Kenapa bangun?”

“Hawa nggak bisa tidur.” Suaranya gemetar. “Bunda sama Ayah berantem lagi, ya?”

Dadaku remuk. Aku memeluknya erat.

“Bunda sama Ayah cuma lagi sibuk, Sayang.”

“Jangan bicara aneh-aneh,” suara Iqdam menyela dingin dari tempat tidur.

“Aneh-aneh?” emosiku pecah. “Tuduh aku terus, Mas. Padahal kamu sumber kekacauan ini!”

“Aku kerja buat siapa?” bentaknya bangkit duduk. “Jangan tambahin stresku!”

“Buat kita?” aku tertawa pahit. “Atau buat keponakanmu? Aku sama Hawa nggak pernah jadi prioritas!” jawabku getir.

“Bunda… Ayah…” suara Hawa kecil, ketakutan.

Dan aku—yang sudah terlalu penuh—meledak. “Hawa! Ke kamar! Jangan ikut campur!”

Hawa terkejut. Hampir menangis. Matanya menatapku takut.

“Hana!” Iqdam membentak, mengangkat Hawa. “Pantaskah ibu begitu?”

“Aku frustrasi!” aku menangis. “Aku berjuang sendirian menjaga cinta ini—” pekikku meremat rambut.

“Dan melampiaskan ke anak?”

Iqdam membawa Hawa pergi. Sebelum pintu tertutup, ia berkata dingin,

“Besok siapkan bekalnya. Jangan begadang lagi.”

Aku terduduk. Sendirian. Tersedu, memeluk diriku sendiri.

Kesunyian kembali menelanku. Di tempat yang disebut rumah.

Tak lama, ponselku bergetar.

[“Kamu hebat bisa melakukan pekerjaan ini.”

“Terima kasih sudah meluangkan waktu. Aku harap bisa bercerita lebih banyak.”]

Aku menatap layar lama.

Di saat rumah menutup pintunya… orang asing justru membuka jendela. Kuseka air mata di pipi, jariku berg

etar saat akan mengetik balasan. Ada ragu menghantui...

 

"Ya Allah, apakah ini benar?" bibirku mengucap lirih, masih memandangi layar ponsel yang menyala.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!