Gelora Cinta Kedua (Novel)

Sepakat

Adzan subuh menyapa rumah di komplek kami. Lampu ruangan menyala, aktivitas kecil terasa tanpa suara gaduh.

Aku terbangun oleh alarm pelan. Tak lagi kesiangan subuh. Tidak ada dada yang berdebar karena mimpi buruk yang tak sempat kuingat. Hanya kesadaran perlahan bahwa aku masih di sini—di kamar yang sama, di ranjang yang sama.

Iqdam sudah bangun. Aku tahu dari sisi kasur yang terasa melesak sesaat tadi. Ia tidak terburu-buru. Tidak juga menghilang diam-diam.

Aku duduk sebentar, menarik napas panjang. Tubuhku terasa ringan, meski tidak sepenuhnya lega. Seperti seseorang yang baru saja menurunkan ransel berat—bahunya masih pegal, tapi punggungnya sudah bisa tegak.

Aku mandi, iqdam salat subuh, sendirian. Ketika aku keluar dari toilet dia sudah tak ada di kamar.

Dari dapur, suara piring terdengar pelan. Aku keluar kamar dan mendapati Iqdam sedang menyiapkan sarapan. Gerakannya biasa saja. Tidak dramatis. Tidak berusaha terlihat lebih baik dari kemarin.

“Kopi?” tanyanya sambil menuang air panas.

“Teh,” jawabku.

Ia mengangguk. Tidak bertanya kenapa. Tidak menimpali dengan candaan. Kami masih belajar berbicara seperlunya—tanpa menutup diri, gak berlebihan.

Kami duduk berhadapan. Tidak terlalu dekat. Tidak juga menjauh. Hawa belum bangun. Rumah masih dalam jeda sunyi yang ramah.

“Aku kepikiran semalam,” kataku pelan.

Iqdam menatapku. Menunggu aku melanjutkan bicara sambil menyesap kopinya.

“Aku mau nutup urusan Riz,” lanjutku. “Hari ini.”

Ia tidak langsung bereaksi. Lalu mengangguk setelah meletakkan cangkirnya. “Aku percaya caramu.”

Kalimat itu tidak membuat dadaku bergetar hebat. Justru terasa stabil. Seperti lantai yang tidak lagi bergeser saat diinjak.

Suasana mendadak canggung lagi. Aku melihat Teh yang Iqdam siapkan tadi. Kucecap pelan, menikmati rasa, menyembunyikan kegugupan.

Rasanya seperti saat pedekate dulu, ada sedikit malu, berani meminta pendapatnya barusan.

Setelah mereka berangkat—Iqdam ke kantor, Hawa ke sekolah—aku duduk di depan laptop. Membuka email yang semalam kututup tanpa balasan.

Nama itu masih ada di sana. Riz.

Aku membaca ulang pesannya. Tetap profesional. Tetap rapi. Tapi aku tahu, jika kubiarkan, ruang itu akan terus terbuka—dan aku tidak ingin lagi berdiri di ambang pintu sambil berpura-pura tidak tahu arah.

Aku mengetik perlahan.

Tidak defensif. Tidak panjang. Tidak menjelaskan hidupku.

Cukup jelas untuk menutup harapannya untuk ketemuan membahas ide.

Aku menekan kirim. Lalu menutup laptop.

Tidak ada rasa kehilangan. Tidak juga kemenangan.

Hanya kelegaan, satu keputusan yang selesai.

Siang itu, Iqdam pulang lebih awal. Ia meletakkan tasnya, langsung duduk di meja makan, lalu menatapku.

Kebetulan aku baru selesai masak, kondisi dapur sudah bersih. Aku menarik kursi dan kami duduk berhadapan.

“Aku mau ngobrol,” katanya.

Aku mengangguk. Sambil meletakkan apron di meja makan.

“Soal Rika,” lanjutnya pelan, ragu memandangku. “Aku sudah hitung ulang. Kemampuanku. Batasanku.”

Ia berbicara nyaris lirih, tidak seperti orang yang sedang membela diri. Lebih seperti seseorang yang akhirnya mau berbagi beban.

“Aku tetap mau bantu, Han,” katanya. “Tapi nggak sembunyi-sembunyi. Dan nggak mau sendirian lagi.”

Aku masih mendengarkan, memastikan tidak gagal paham dengan maksud suamiku.

Ia menatapku. “Aku mau kita sepakat. Biar aku nggak lagi jadi pahlawan yang diam-diam, dan kamu nggak lagi jadi orang yang menebak-nebak.”

Aku menarik napas panjang.

“Kita atur bersama,” kataku. “Bukan soal nominal. Tapi soal kejujuran.”

Ia mengangguk. Kali ini lebih mantap.

Tidak ada jabat tangan. Tidak ada pelukan. Tapi ada sesuatu yang kembali ke tempatnya—rasa bahwa kami berada di sisi yang sama.

Sore hari, aku menjemput Hawa. Ia berlari kecil ke arahku, wajahnya cerah.

“Ayah hari ini jemput juga?” tanyanya.

“Iya,” jawabku.

Ia tersenyum puas. Seolah itu sudah cukup menjelaskan segalanya.

Di rumah, kami duduk bertiga di ruang tengah. Hawa menggambar di lantai. Aku dan Iqdam di sofa. Tidak ada pembicaraan serius. Tidak ada pembahasan yang membuat bersitegang.

Kertas gambar Hawa sudah penuh warna. Ia menengadah, menatap Iqdam yang sedang menuang air dingin dari botol.

“Ayah,” panggilnya tiba-tiba.

“Hm?” Iqdam menoleh.

“Kemarin Hawa senang,” katanya sambil tetap menggambar, seolah itu hal kecil.

Iqdam mendekat sedikit. “Kenapa?”

“Soalnya Ayah dengerin Hawa.”

Aku menoleh, memperhatikan ekspresi Hawa. Iqdam juga diam beberapa detik.

“Kapan Ayah nggak dengerin?” tanyanya pelan, setengah bercanda.

Hawa mengerutkan kening, berpikir keras.

“Dulu Ayah denger, tapi kepalanya ke mana-mana,” katanya sambil menunjuk ke udara.

Aku menahan senyum geli, iqdam disindir anaknya sendiri.

Iqdam memilih turun dari sofa, berlutut agar sejajar dengan Hawa. “Terus sekarang?”

“Sekarang Ayah di sini,” jawabnya mantap, lalu menunjuk dada Iqdam. “sama badannya juga.”

Iqdam tertawa kecil. “Terus misinya Hawa berhasil dong?”

Hawa langsung antusias. Ia meletakkan krayon, berdiri, dan mendekat.

“Berhasil,” katanya bangga.

“Soalnya Ayah sama Bunda sekarang duduk deketan lagi.”

Iqdam mengangkat alis. “Itu misi ya?”

“Iya,” katanya cepat. “Misi rahasia.”

Aku mencondongkan tubuh, ikut mendekati Hawa. “Misi siapa?”

“Hawa,” jawabnya polos.

“Tapi Ayah harus bantu.”

Iqdam tersenyum. “Bantu apa?”

Hawa berpikir sebentar, lalu berkata dengan nada serius khas anak kecil yang sedang merasa penting.

“Ayah udah dengerin yang Hawa minta kemarin, kan.”

Iqdam terdiam. Tangannya terangkat, lalu mengusap rambut Hawa.

“Terima kasih ya,” katanya pelan. “Ayah kadang suka lupa...”

Hawa tersenyum lebar. “Nggak apa-apa. Sekarang kan Hawa ingetin lagi.” Dia menepuk dadanya, bak pahlawan.

Ia kembali ke kertas gambarnya, lalu menambahkan satu gambar kecil di sudut.

“Itu apa?” tanyaku.

“Rumah,” jawabnya.

“Yang ini Ayah. Ini Bunda. Ini Hawa.”

“Kenapa rumahnya gede?” tanya Iqdam.

“Soalnya kalau rumahnya gede, nggak kerasa sempit. Jadi bisa duduk bareng di mana aja,” katanya ringan.

Aku menelan napas. Iqdam menatap gambar itu lama, lalu menatapku sebentar. Tidak lama. Tidak canggung seperti kemarin.

Tidak ada air mata. Tidak ada pelukan.

Tapi ada sesuatu yang mengendap dengan tenang—rasa bahwa kami sedang diajari oleh seseorang yang paling kecil di rumah ini.

Malamnya, kami salat berjamaah. Masih terasa kikuk saat aku mencium punggung tangannya. Tapi kikuk yang jujur. Bukan jarak yang dingin.

Setelah itu, kami minum teh di teras. Seperti kebiasaan lama yang tidak kami paksa kembali—ia datang sendiri.

“Tehnya pas,” kataku.

Iqdam tersenyum kecil. “Aku inget.”

Aku menatap langit. Tidak berharap jawaban apa pun.

Malam itu, kami tidur berdekatan. Tidak berpelukan. Tidak juga saling membelakangi. Jarak di antara kami cukup untuk bernapas—dan cukup dekat untuk merasakan suhu tubuh masing-masing.

Aku menutup mata dengan satu kesadaran sederhana.

Cinta tidak selalu rusak oleh pengkhianatan. Kadang ia hampir runtuh karena keheningan, karena ketakutan, karena terlalu lama menyimpan.

Dan rumah tidak selalu diselamatkan oleh janji besar. Kadang ia bertahan karena dua orang memilih berhenti pergi menjauh.

Aku masih di sini. Dan kali ini, aku tinggal bukan karena takut kehilangan— tapi karena memilih.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!