Gelora Cinta Kedua (Novel)

Hawa peka

Mobil berhenti di depan gerbang sekolah. Anak-anak keluar satu per satu, riuh dengan tas yang lebih besar dari bahu mereka.

Hawa muncul paling akhir, matanya langsung menyapu mencari.

“Bundaaa!”

Ia berlari kecil. Aku berjongkok, memeluknya. Tubuhnya hangat, bau matahari dan bedak anak-anak. Pelukan itu membuat dadaku sedikit longgar—sedikit saja.

“Capek, Nak?” tanyaku.

Hawa menggeleng cepat. “Enggak. Tadi gambar pelangi.”

Ia naik ke jok belakang. Mobil kembali melaju. Aku diam, menatap jalan.

Beberapa menit berlalu. Hawa tidak langsung bercerita seperti biasanya. Ia menatap wajahku dari pantulan kaca, lama, seperti sedang memastikan sesuatu.

“Bundaaa…” panggilnya pelan.

“Iya, Sayang?”

“Kok bunda nggak senyum?”

Nada suaranya polos. Tidak menuduh. Tidak menekan.

Aku tersenyum kecil. “Bunda senyum kok.”

Hawa mengerutkan dahi. “Itu senyum malu-malu. Yang ini nih…” Ia menarik ujung bibirnya sendiri ke atas, berlebihan. “Yang lebar.”

Aku terdiam.

Hawa menoleh ke depan, ke arah Iqdam yang sedang menyetir.

“Ayah,” katanya lirih tapi jelas, “ayah ada bikin bunda sedih lagi, ya?”

Tangan Iqdam di setir mengencang sedikit.

“Ayah nggak marahin bunda kok,” jawabnya cepat.

Hawa mengangguk pelan. “Tapi bunda sedih.”

Sunyi sebentar.

“Kalau ayah salah,” lanjut Hawa, masih dengan suara anak-anak yang sederhana,

“ayah bilang maaf aja. Bunda tuh kalau dikasih peluk suka nggak sedih.”

Aku menunduk. Tenggorokanku mengeras.

Iqdam menoleh sekilas ke kaca spion, bertemu mataku. Ada sesuatu di wajahnya—kaget, bersalah, juga bingung.

“Ayah nggak marah sama bunda,” katanya lagi, lebih pelan.

Hawa mengangguk, lalu bersandar di jok.

“Hawa tahu. Tapi bunda tuh capek kalau ayah diem.”

Kalimat itu terucap begitu saja. Tanpa teori. Tanpa niat menggurui.

“Hawa tahu dari mana?” tanya Iqdam, suaranya melembut.

Hawa mengangkat bahu kecil. “Kalau bunda capek, bunda juga diem. Terus malamnya peluk Hawa lama.”

Aku menutup mata sebentar.

“Ayah jangan bikin bunda sendirian ya,” lanjut Hawa, suaranya hampir seperti bisikan.

“Nanti bunda tambah sedih. Hawa nggak suka.”

Iqdam tidak langsung menjawab. Mobil melaju pelan, seperti ikut merasakan kegelisahan kami.

Tangannya akhirnya meraih tanganku di konsol tengah. Tidak berkata apa-apa. Tidak juga menggenggam kuat. Hanya meletakkan, ragu-ragu.

Aku tidak menarik tanganku. Tapi juga tidak membalas.

Di jok belakang, Hawa sudah diam. Matanya menatap keluar jendela.

Aku sadar satu hal sederhana, anak kecil tidak butuh penjelasan panjang untuk tahu siapa yang sedang terluka.

Dan hari itu, Hawa tidak sedang membelaku.

Ia hanya ingin bundanya tidak sendirian.

Mobil terus melaju.

Tidak ada suara selain mesin dan lampu sein yang sesekali berdetak.

Aku menatap lurus ke depan, tapi pikiranku tidak benar-benar ada di jalan. Ada sesuatu yang tertinggal di rumah Rika tadi—bukan kata-kata mereka, tapi perasaan yang tak sempat kuberi nama.

Di sampingku, Iqdam diam terlalu lama.

Tangannya masih berada di dekat tanganku. Tidak menggenggam, tidak menarik. Seolah ragu apakah kehadirannya dibutuhkan atau justru mengganggu.

Ia menelan ludah. Aku bisa melihat gerakan kecil di rahangnya.

Aku salah di mana?

Pertanyaan itu mungkin berputar di kepalanya.

Atau justru, aku harus mulai dari mana?

Ia merasa berada di tengah—dan baru hari ini benar-benar menyadari, berdiri di tengah bukan berarti netral. Kadang justru berarti membiarkan satu sisi terus terluka.

Ia ingat kalimat Hawa.

Ayah jangan bikin bunda sendirian ya.

Kalimat anak kecil itu lebih telanjang daripada semua pertengkaran orang dewasa.

Ia ingin bicara. Ingin minta maaf.

Tapi takut salah kata. Takut memperparah. Takut terlihat memilih—padahal diamnya selama ini juga sudah pilihan.

Sementara itu, aku perlahan tenggelam ke dalam pikiranku sendiri.

Malamnya, setelah Hawa tidur, aku berbaring menghadap dinding. Lampu sudah mati, tapi mataku terbuka.

Aku tidak sedang memikirkan Mira.

Tidak juga Rika.

Bahkan bukan Iqdam.

Aku sedang memikirkan diriku sendiri.

Sejak kapan aku terbiasa dikejar perasaan bersalah setiap kali menjaga batas?

Sejak kapan aku belajar bahwa diam adalah satu-satunya cara agar tidak dianggap egois?

Kelopak mataku berat. Aku terlelap setengah sadar.

Dalam mimpiku, aku berlari.

Bukan dikejar seseorang.

Tidak ada wajah. Tidak ada nama.

Aku hanya tahu aku harus terus berjalan. Lorongnya panjang, lampunya redup. Di belakangku ada suara langkah—tidak cepat, tidak mengancam, tapi cukup dekat untuk membuatku terus menoleh.

Aku berlari bukan karena takut disakiti.

Tapi karena lelah harus menjelaskan.

Aku terbangun dengan napas pendek.

Iqdam sudah tertidur. Punggungnya menghadapku. Jarak di antara kami tidak jauh, tapi terasa asing.

Aku duduk pelan, meraih ponsel di meja samping.

Tidak ada niat khusus. Hanya ingin memastikan aku masih bisa memilih sesuatu, sekecil apa pun.

Jari-jariku membuka aplikasi yang sudah lama tidak kubuka.

Aplikasi kencan itu muncul dengan warna yang terlalu cerah untuk suasana hatiku.

Aku tidak mencari siapa-siapa.

Aku hanya membaca.

Nama itu muncul lagi.

Why.

Pesannya belum kubuka sejak siang tadi.

Aku menarik napas, lalu membacanya perlahan.

[“Kadang capek ya, Han. Berbuat baik tapi selalu dianggap kurang.

Aku ngerti rasanya jadi orang yang harus kuat, sementara yang lain bebas menilai.”]

Aku terdiam.

Tidak ada rayuan.

Tidak ada ajakan.

Hanya kalimat yang terasa… sejajar.

Pesan berikutnya menyusul, waktu pengirimannya tidak lama setelah yang pertama.

[“Aku lagi di fase itu. Nggak marah, tapi kosong. Nggak salah siapa-siapa, cuma lelah terus mengalah.”]

Dadaku mengencang.

Bukan karena aku jatuh cinta.

Tapi karena penderitaan itu terdengar terlalu mirip.

Ada bagian dalam diriku yang berbisik:

Ada orang yang tidak menyuruhmu ikhlas.

Tidak menyuruhmu sabar.

Hanya duduk di sebelahmu, mengerti.

Aku tidak membalas.

Aku hanya menatap layar lebih lama dari yang seharusnya.

Di belakangku, Iqdam bergerak. Mungkin terbangun setengah sadar. Tangannya mencari sesuatu—dan menemukanku.

Tangannya menyentuh punggungku pelan.

“Han…” suaranya serak.

“Kamu belum tidur?”

Aku mengunci layar. Meletakkan ponsel kembali.

“Belum.”

Ia duduk, menyandarkan punggung ke kepala ranjang. Mengusap wajahnya lama.

“Aku kepikiran kata Hawa,” katanya jujur.

“Aku ngerasa… aku banyak diem akhir-akhir ini.”

Aku tidak menjawab.

“Aku kira dengan diem, aku nggak nyakitin siapa-siapa,” lanjutnya.

“Ternyata malah bikin kamu merasa sendirian.”

Kalimat itu membuat tenggorokanku mengeras.

Aku masih menghadap dinding.

“Mas,” kataku pelan, “aku nggak butuh dibela di depan semua orang.”

Ia menoleh. Menunggu.

“Aku cuma pengin diajak terlibat … sebelum keputusan dibuat.”

Sunyi.

Iqdam mengangguk perlahan.

“Aku baru menyadari,” katanya. “Dan aku telat.”

Aku memejamkan mata.

Tidak menangis. Tidak juga lega.

Di luar kamar, malam berjalan seperti biasa.

Di dalam, ada dua orang dewasa yang sama-sama lelah—dengan cara yang berbeda.

Dan di dalam ponsel yang layarnya kini gelap, ada satu pesan yang belum terjawab.

Bukan karena aku ingin pergi.

Tapi karena untuk pertama kalinya, aku merasa dimengerti tanpa harus menjelaskan apa-apa.

Aku sadar—bahaya itu bukan pada orang lain.

Tapi pada diriku sendiri, yang terlalu lama menahan. Dan malam itu, aku bertanya dalam diam:

Apakah aku sedang bertahan…

atau hanya menunda hancur?

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!