Gelora Cinta Kedua (Novel)
Saran Ayah
Telepon sengaja aku putuskan.
Layar ponselku gelap, tapi dadaku masih terang oleh sesak yang tidak mau pergi.
Aku duduk lama di tepi ranjang kamarku di rumah ini. Tanganku gemetar, padahal ruangan ini tenang padahal isi kepalaku ribut.
Hawa demam.
Kalimat itu berputar-putar, seperti hantu gentayangan yang melayang di atas kepala.
Aku menutup mata. Menghela napas panjang, tapi gagal menenangkan diriku. Bayangan Hawa berdiri di antara ayah dan uwanya muncul begitu saja.
Tubuh kecil itu. Suara gemetarnya. Kalimat polos yang terlalu dewasa untuk usianya.
Aku meremas ujung selimut.
Aku marah.
Aku sedih.
Aku kecewa.
Bukan hanya pada Mira. Bukan hanya pada Iqdam. Tapi juga pada diriku sendiri.
Kami—aku dan Iqdam—terlalu sibuk dengan luka masing-masing. Terlalu keras mempertahankan ego, sampai lupa satu hal, ada anak yang menyerap semuanya, tanpa bisa memilih.
Hawa tidak mengerti pertengkaran. Tapi ia mengerti rasa tidak aman.
Dadaku perih. “Maaf…” bisikku pelan, entah pada siapa. Pada Hawa. Pada diriku sendiri.
Tanganku refleks meraih ponsel lagi. Jariku membuka galeri, mencari wajah kecil itu. Foto terakhir Hawa tersenyum, memegang boneka, dengan rambut masih rapi karena pagi itu aku yang menyisirnya.
Aku menelan ludah.
Aku ingin pulang. Sekarang juga.
Tapi aku tahu—jika aku tiba-tiba kembali, ayah akan curiga. Ayah selalu peka meski tubuhnya tidak sekuat dulu. Keributan rumah tanggaku bukan hanya urusanku. Ini bisa menjadi beban untuk ayah.
Aku mengusap wajah. Menahan air mata yang mengambang di pelupuk mataku.
“Tenang, Hana,” gumamku. “Kamu harus berpikir cepat."
Aku membuka panggilan video ke ponsel Iqdam. Menunggu. Mengatur napas. Berharap Hawa belum tidur, atau setidaknya mau melihat wajahku.
Nada sambung berdering.
Sekali.
Dua kali.
Layar menyala.
Wajah Hawa muncul. Pucat. Matanya sayu. Rambutnya sedikit basah oleh keringat.
“Bunda…” suaranya lirih.
Hatiku runtuh seketika. “Iya, sayang,” kataku cepat, menahan agar suaraku tidak pecah. “Bunda di sini.”
“Hawa pusing,” katanya pelan.
“Iya,” aku mengangguk. “Makanya bunda nelpon. Hawa sudah minum obat kan?”
Ia mengangguk kecil. Aku tersenyum. Memaksakan senyum yang terasa berat di pipi. “Pinter.”
Hawa menatap layar lama. Seolah memastikan aku benar-benar ada.
“Bunda jangan lama-lama ya…” katanya tiba-tiba.
Aku menggigit bibir. “Nggak,” jawabku lembut. “Bunda cuma sebentar. Hawa nurut ya, makan, minum obatnya.”
Ia mengangguk lagi. Kelopak matanya tampak berat. Aku mulai bercerita. Hal-hal kecil. Tentang kucing di halaman ayah. Tentang masakan yang kumakan. Tentang apa saja, asal suaraku menemani.
Sampai napas Hawa pelan dan teratur. Sampai matanya terpejam. Aku menatap layar itu lama, sebelum panggilan berakhir.
Setelahnya, aku menghela napas panjang. Baru kali ini rasanya menikmati hembusan napas lega.
Aku berbaring, memandangi langit-langit kamar. Tidak lama kemudian, pintu diketuk pelan.
Ayah.
“Kamu sudah bangun?” tanyanya sambil masuk.
Aku segera duduk. “Kebangun, Yah.”
Ayah duduk di kursi, menatapku dengan sorot mata yang menyelidik. Memastikan aku tidak sedang menyembunyikan sesuatu. Tidak terlalu dekat, tapi cukup membuatku merasa ditemani.
"Habis telpon Hawa?" tanyanya.
Aku mengangguk. "Iya. Dia demam."
Ayah menghembuskan napas panjang. “Kerjaan baru ke luar kota, mulai kapan, Han?” sambungya pelan.
Kemarin, beberapa saat setelah aku datang, ayah menyambutku. Binar matanya tampak bahagia, sehingga aku langsung cerita soal pekerjaan, dan semua hal yang membuatku memutuskan pulang sementara.
“Belum kuputuskan menerima. Nggak tiap hari. Tapi ada hari-hari tertentu harus nginep di sana.”
Ayah menghela napas pendek. Bukan kecewa. Lebih seperti sedang memperhitungkan segala sesuatu di kepalanya.
“Terus Hawa gimana?”
Pertanyaan itu sederhana. Tapi tepat menohok di titik paling rapuh di dadaku.
“Aku lagi mikirin itu,” jawabku jujur. “Nggak mau asal memutuskan ini itunya, Yah.”
Ayah mengangguk pelan. “Bagus.”
Ia menatap tangannya sendiri sebentar, lalu kembali menatapku. “Hmm, Han ... ini bukan nasihat orang paling benar. Cuma pengalaman orang tua," ujarnya pelan, hati-hati, tak ingin aku tersinggung.
Aku diam. Mendengarkan.
“Kalau kamu nggak ada di rumah,” lanjut ayah, “yang jaga Hawa nggak harus selalu ayahnya.”
Aku menoleh cepat. Ayah tersenyum tipis. Seolah menangkap maksud dan jalan pikiranku dengan baik.
“Maksud ayah, anak itu aman kalau orang dewasa di sekitarnya tahu jelas perannya. Bisa Iqdam. Bisa ayah atau orang yang kamu percaya.”
Aku mengangguk pelan.
“Kamu memang harus siapkan mereka,” katanya. “Siapa antar-jemput. Siapa masakin. Siapa nemenin tidur. Jangan semuanya kamu atau Iqdam tanggung sendirian.”
Aku menarik napas. Rasanya seperti diizinkan untuk tidak menjadi superwoman.
“Terus soal ipar…?” Aku ragu melanjutkan.
Ayah tidak memotong. Menunggu. Memandangku dengan tatapan teduh, senyum tipis muncul sekilas di wajah senjanya.
“Kadang aku capek,” kataku lirih. “Aku ngerasa selalu salah. Kalau diam, dibilang pasif. Kalau ngomong, dibilang melawan.”
Senyum ayah merekah, bagai mendengar keluh kesah putri kecilnya yang menggemaskan.
Nada suaranya masih lembut, binar matanya meneduhkan. “Kamu itu istri, Nak. Bukan anak kecil. Tapi juga bukan tameng semua orang.”
Aku terdiam. Mencerna kalimatnya.
“Peranmu di antara ipar itu sederhana,” lanjutnya. “Sopan. Jelas. Ada batas.”
“Batas?” tanyaku.
“Iya,” jawab ayah. “Kamu bantu sebisanya. Tapi jangan sampai rumah tanggamu yang jadi korban. Itu bukan ego. Itu tanggung jawab.”
Mataku mulai panas.
“Dan satu lagi,” kata ayah pelan. “Jangan merasa harus jadi istri yang sempurna di mata semua orang. Cukup jadi istri yang sehat—buat dirimu, buat suamimu, buat anakmu.”
Aku menunduk. Air mataku jatuh satu. Ayah menepuk tanganku pelan. “Kalau kamu capek, bilang. Kalau kamu pergi kerja, jelaskan. Bukan cuma minta izin, tapi memberi pengertian.”
Aku mengangguk. Berkali-kali. Membuat air mataku kian jatuh deras, sesenggukan kecil pun mulai muncul.
Ayah mengusap bahuku pelan, membuatku tangisku makin jelas, seperti bendungan yang sudah tak mampu lagi menahan debit air mata.
“Dan soal Hawa,” lanjut ayah masih dengan nada lembut, “anak itu bukan butuh orang yang selalu ada, tapi yang bisa diandalkan.”
Aku teringat suara Hawa tadi. Bunda jangan lama-lama ya…
“Ayah percaya kamu bisa atur itu,” katanya. “Pelan-pelan.”
Aku mengusap wajah. “Aku takut, Yah... Iparku kan begitu semua, menuduh, menghakimi," ucapku pada akhirnya, membeberkan aib keluarga suamiku.
“Takut itu wajar,” jawabnya. “Yang penting dihadapi. Tahu kapan harus bicara, dan kapan harus mengalah, tapi nggak dzolim ke dirimu.”
Aku menghela napas panjang. Rasanya sedikit lebih ringan. Ayah menghapus air mata di pipiku dengan ujung ibu jarinya. Mengusap kepalaku lembut. Aku selalu menjadi putri kecilnya di mata ayah.
“Malam ini,” kata ayah sambil berdiri, “kamu temani Hawa dari jauh. Besok baru pikirkan langkah berikutnya.”
Ia melangkah ke pintu, lalu berhenti sebentar.
“Oh iya,” katanya menoleh, “rumah tangga itu kerja tim. Kalau satu kelelahan, yang lain harus belajar menyesuaikan.”
Pintu tertutup.
Aku sendirian lagi, tapi tidak sekosong tadi. Kuraih ponsel
. Membuka catatan. Mulai menulis ulang rencana yang lebih manusiawi.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku tidak merasa sendirian menanggung semuanya.
.
.