Gelora Cinta Kedua (Novel)

Misterius

Aku tak lagi membalas pesan Riz malam itu.

Bukan karena aku tak mau, tapi karena kepalaku sudah terlalu penuh untuk sekadar mengetik satu kata lagi. Jemariku kaku, mataku panas, dan dadaku terasa sesak seperti baru saja ditindih beban yang tak terlihat.

Aku hanya menatap layar ponsel tanpa benar-benar membacanya, sampai akhirnya notifikasi terakhir muncul.

["Al? Tidur atau ngambek ini? … besok boleh jajan seblak prasmanan plus boba deh, hehe. Take a rest ya, Al."]

Aku tersenyum kecil. Refleks. Hampir seperti tubuhku merespons sendiri tanpa izin perasaanku.

Seblak. Boba.

Dua hal sederhana yang dulu sering kunikmati tanpa rasa bersalah. Sekarang, entah sejak kapan, keinginan sekecil itu terasa seperti kemewahan yang harus kupikirkan ulang.

Sejak Iqdam berubah menjadi sosok yang asing—lebih dingin, lebih sibuk, lebih mudah tersinggung—aku belajar menekan banyak keinginan, termasuk keinginanku untuk sekadar merasa diperhatikan.

Senyum itu belum sempat menghilang ketika suara pintu kamar berderit pelan.

Aku menoleh.

Iqdam berdiri di ambang pintu. Tidak masuk. Tidak juga benar-benar pergi. Tubuhnya tegap, tapi sorot matanya kosong. Datar. Seolah aku hanya bagian dari furnitur yang kebetulan ada di kamar ini.

“Mas?” panggilku pelan. Aku bahkan masih mencoba tersenyum, berharap nada suaraku cukup manis untuk melunakkan hatinya.

Kalimatnya jatuh tanpa aba-aba.

“Mulai sekarang, kalau kamu masih egois dan melampiaskan kekesalanmu ke Hawa, aku malas bicara sama kamu,” ucapnya sinis dengan tatapan membenci.

Aku membeku.

Tidak ada pertanyaan. Tidak ada ruang untuk menjelaskan. Tidak ada usaha untuk memahami.

Pintu tertutup kembali.

Huft.

Aku duduk perlahan di tepi ranjang. Tenggorokanku terasa kering.

“Kenapa semua selalu jadi salahku?” gumamku lirih, hampir tak terdengar bahkan oleh diriku sendiri.

Aku menoleh ke sisi ranjang yang kosong. Dingin. Rapi. Tidak ada lekuk tubuhnya di sana. Tidak ada kehangatan yang tertinggal.

Hubungan kami seperti itu sekarang—masih satu rumah, satu ranjang, tapi tak lagi saling menyentuh. Tak lagi saling bertanya. Tak lagi saling menunggu.

Malam itu, aku benar-benar merasa ditinggalkan. Bukan secara fisik, tapi dengan cara yang jauh lebih menyakitkan.

Malam semakin larut.

Aku kembali duduk di meja kerja kecil di sudut kamar. Lampu meja menyala redup, cukup untuk menerangi wajahku yang terlihat lebih tua dari usiaku. Notifikasi terus berdatangan, tapi pikiranku melayang ke mana-mana.

Di luar, gerimis turun pelan. Bunyi rintiknya mengetuk kaca jendela seperti irama kesedihan yang tak pernah benar-benar berhenti.

Entah kenapa, pikiranku kembali ke Riz.

Dia selalu menyapa hangat. Ringan. Terlalu ringan, bahkan.

Ting.

["Aku tahu kamu butuh seseorang yang benar-benar mengerti kamu, Alhan."] Pesan Riz muncul.

Aku mengernyit.

Alhan?

Jantungku berdegup lebih cepat. Aku segera membuka profilku, memastikan aku tidak salah ingat. Tidak ada nama itu. Tidak pernah ada.

Tanganku mulai gemetar saat membalas.

“Althea. Bukan Alhan.”

Balasannya datang nyaris seketika. Rupanya Riz sedang online.

["Hehe. Iya. Tapi aku tahu di mana kamu tinggal."]

Darahku seperti berhenti mengalir, membaca kalimat Riz.

Ponsel terlepas dari genggamanku dan jatuh ke meja dengan bunyi pelan. Aku menelan ludah, napasku pendek-pendek.

Apa maksudnya?

Ting.

["Kamu nggak perlu takut. Aku cuma mau pastiin kamu baik-baik aja."]

Aku mengambil ponsel itu lagi. Jari-jariku dingin, telapak tanganku basah oleh keringat.

“Apa maksudmu? Kamu stalking aku?” ketikku, berusaha terdengar tegas meski dadaku bergetar.

["Bukan stalking. Tapi peduli. Aku tahu kamu sendirian."]

Kalimat Riz membuatku merinding. Ada sesuatu yang aneh.

Aku menggulir ulang semua percakapan kami. Setiap kata. Setiap kalimat. Mencari celah di mana aku ceroboh, atau meninggalkan clue tanpa sadar. Kapan aku terlalu terbuka?

“Kalau kamu tahu aku, sekarang aku di mana?”

Jawaban Riz selanjutnya membuat dadaku seperti dihantam sesuatu yang keras.

["Di rumah. Depan laptop. Tenang aja, Al. Aku nggak akan muncul tanpa izin kamu."]

Aku menoleh ke arah jendela.

Gorden tertutup rapat. Tapi perasaan diawasi itu nyata. Sangat nyata.

Aku ingin memblokir Riz. Saat itu juga. Tapi tanganku ragu. Ada ketakutan lain yang muncul—bagaimana kalau dia justru nekat? Bagaimana kalau dia benar-benar tahu segalanya?

Aku tanpa sadar menggigit ujung kuku saking cemasnya. Notifikasi lain masuk, mengalihkan perhatianku.

Dari Why.

Seperti udara segar yang tiba-tiba menyelinap ke paru-paruku.

["Gimana harimu?"]

Aku menarik napas panjang sebelum membalas.

“Capek. Kepala penuh.”

["Kalau bisa buang satu hal aja, apa yang paling pengin kamu lepaskan?"]

Aku terdiam lama. Pertanyaan itu sederhana, tapi menghunjam tepat ke dadaku.

“Semua yang bikin aku ngerasa nggak berharga.”

Balasan Why tidak langsung datang. Tapi ketika muncul, mataku mendadak panas.

["Kalau capek, biarin orang lain yang menguatkan. Kamu nggak harus selalu kuat sendiri, Rachel."]

Hangat.

Aku menutup mata sesaat. Inilah yang selama ini kucari—bukan janji, bukan rayuan, hanya pengakuan bahwa aku boleh lelah.

Aku memutuskan untuk beristirahat. Tapi sebelum mode pesawat aktif, suara langkah terdengar samar dari luar jendela.

Aku bangkit perlahan. Mengintip.

Bayangan samar di bawah lampu jalan.

Jantungku berdegup liar.

Aku menutup tirai cepat-cepat.

Ponselku bergetar lagi.

["Tidur ya, Al. Jangan mikirin masalah di rumah."]

Masalah di rumah?

“Apa maksud kamu?” ketikku dengan tangan gemetar.

["Aku tahu lebih banyak dari yang kamu kira."]

Lalu sebuah foto muncul.

Rumahku.

Diambil dari luar.

Aku gemetar.

Ini bukan lagi obrolan.

Ini ancaman.

Iqdam belum pulang. Hawa datang menghampiriku, merengek minta ditemani. Aku menolak pelan, "Bunda sibuk, Sayang. Jangan sekarang."

Hawa melipat tangan di dadanya. "Bunda sama ayah nggak pernah ada buat aku. Aku nggak suka lagi di sini."

Perkataan itu membuatku merasa bersalah. Aku menggandeng tangan Hawa masuk ke kamarnya.

Akhirnya Hawa tidur, kukecup dahinya sebelum keluar kamar. Lalu duduk sendirian di ruang keluarga.

Why mengirim pesan lagi.

["Kalau kamu butuh bantuan, bilang aja."]

Aku hampir membalas Why, ketika pesan Riz masuk.

["Jangan bilang siapa-siapa soal aku."]

Aku menatap layar lama sekali.

Riz tahu terlalu banyak.

Aku menyandarkan kepala ke sofa. Menghempaskan napas berat.

“Dia bukan cuma teman bicara,” bisikku dengan suara serak. “Dia ancaman.”

Namun, tiba-tiba terdengar suara dari belakangku, membuat seluruh tubuhku menegang.

“Ancaman siapa?”

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!