Gelora Cinta Kedua (Novel)

Pencapaian

Aku melompat kaget.

Jantungku serasa melonjak ke tenggorokan saat aku berbalik cepat ke arah suara itu.

Iqdam berdiri di ambang pintu ruang keluarga. Wajahnya tampak lelah, garis-garis di dahinya semakin tegas, alisnya bertaut seperti menyimpan banyak tanya yang belum terucap. Cara dia berdiri—diam, tegak, tanpa ekspresi hangat—membuat dadaku langsung mengeras.

“Kenapa kamu berdiri di situ diam-diam?” tanyaku. Aku berusaha terdengar tenang, tapi suaraku bergetar. Terlalu jelas untuk disembunyikan.

Iqdam tidak langsung menjawab. Dia menatapku lama, seolah sedang menimbang apakah aku masih orang yang sama dengan yang ia nikahi dulu.

“Aku tanya,” katanya akhirnya, suaranya rendah tapi menekan, “siapa yang kamu bilang ancaman?”

Aku terdiam.

Di kepalaku, nama Riz berputar-putar seperti alarm yang tak mau berhenti. Tapi aku tahu, satu kata saja tentang pria itu bisa berubah menjadi badai. Iqdam bukan tipe yang mau mendengar penjelasan setengah. Dia hanya percaya pada kesimpulan yang ia buat sendiri.

“Bukan siapa-siapa, Mas,” jawabku akhirnya. Aku memaksakan senyum kecil, senyum yang rasanya pahit di lidah. “Aku kebanyakan nonton berita kriminal. Jadi… agak paranoid.”

Iqdam memiringkan kepalanya. Tatapannya menyelidik, seperti mencoba mencari retakan dalam ceritaku.

“Hana,” katanya pelan tapi tegas, “kalau ada sesuatu, bilang. Jangan main-main dengan hal seperti ini.”

“Iya, Mas.” Aku mengangguk cepat. Terlalu cepat. “Mas baru pulang? Lembur lagi?"

Ia hanya bergumam pendek. Tidak menjawab pertanyaanku dengan benar. Lalu ia duduk di sofa, membuka ponselnya, tenggelam dalam layar kecil itu seperti biasa.

Tidak ada percakapan lanjutan.

Tidak ada, ‘Kamu kenapa?’ atau ‘Kamu kelihatan takut.’

Aku menatapnya beberapa detik. Punggungnya kaku, bahunya turun karena lelah, tapi jarak di antara kami terasa lebih lebar dari ruang keluarga ini.

Aku akhirnya melangkah pergi ke kamar dengan langkah berat, membawa rasa bersalah yang bahkan tidak sepenuhnya kumengerti asalnya.

***

Sesampainya di kamar, aku mengunci pintu.

Punggungku bersandar di daun pintu, dan baru saat itu aku benar-benar menghembuskan napas panjang yang sejak tadi kutahan. Dadaku naik turun, seolah aku baru selesai berlari dari sesuatu yang tak kasatmata.

Tanganku gemetar saat menggenggam ponsel.

Aku membuka galeri.

Foto itu masih ada.

Rumah kami. Diambil dari luar. Sudutnya terlalu familiar. Terlalu dekat.

“Ingat ini?”

Kalimat Riz kembali terngiang di kepalaku.

Riz.

Nama itu seperti noda dari masa lalu yang tidak pernah benar-benar hilang, hanya menunggu waktu untuk muncul kembali. Aku menutup mata sejenak, merasakan dadaku sesak.

Aku membuka ruang chat-nya. Jemariku sudah siap mengetik.

“Riz, kalau kamu tahu aku, tolong jangan ganggu aku lagi. Aku tidak merasa nyaman.”

Aku berhenti.

Jariku menggantung di atas tombol kirim.

Bagaimana kalau pesan itu justru memancingnya? Bagaimana kalau dia semakin merasa punya kuasa atas hidupku?

Dengan napas bergetar, aku menutup percakapan itu tanpa mengirim apapun.

Aku lalu membuka aplikasi kerjaku. Dunia yang, ironisnya, justru terasa lebih aman bagiku akhir-akhir ini.

Notifikasi berjejer.

Beberapa ulasan dari klien.

Salah satunya kubaca perlahan.

“Review kamu membantu banget! Aku jadi nggak salah pilih pasangan. Terima kasih banyak, Kak!”

Senyum kecil muncul di wajahku. Hangat. Singkat. Tapi cukup untuk membuat dadaku sedikit longgar.

Lalu notifikasi lain masuk.

Why.

["Gimana harimu?"]

Aku terdiam sebentar sebelum membalas.

“Seperti biasa. Isi kepala penuh.”

["Sudah jajan? Jangan terlalu keras sama diri kamu."]

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

“Tau aja,” balasku, “aku udah lama nggak jajan.”

["Kamu lebih dari sekadar pekerjaan atau penilaian orang lain, Rachel. Apa mimpi terbesar kamu?"]

Pertanyaan itu membuat jariku berhenti.

Mimpi.

Kapan terakhir kali aku memikirkan mimpiku sendiri?

Aku menarik napas panjang dan mulai mengetik, perlahan, jujur.

Aku menulis tentang keinginanku belajar bahasa asing dengan serius. Tentang impian mendirikan pusat belajar kecil untuk anak-anak yang kurang mampu. Tentang keinginan sederhana untuk merasa berguna, bukan sekadar bertahan.

Tentang pekerjaan yang bisa kulakukan dimana saja, sambil membesarkan Hawa. 

["Kadang aku ngerasa itu terlalu besar buat aku," tulisku.]

Balasan Why datang.

["Kamu layak untuk bahagia dan mencapainya, Rachel. Jangan pernah meragukan itu."]

Mataku panas, berkaca-kaca.

Kalimat itu sederhana. Tapi rasanya seperti seseorang akhirnya menggenggam tanganku dan berkata, ‘Aku lihat kamu.’

Kata-kata Why membuatku merasa dihargai—sesuatu yang jarang kurasakan belakangan ini, bahkan dari Iqdam.

Aku menyimpan ponsel di meja samping ranjang dan berbaring. Tapi pikiranku tak mau diam. Bayangan Riz, Why, dan wajah dingin Iqdam berputar-putar di kepalaku.

Aku lupa mematikan data seluler.

Notifikasi kembali masuk.

Ulasan.

Lalu satu pesan yang membuatku tertegun.

“Selamat, Hana! Anda masuk Top 5 Reviewer bulan ini. Bonus Rp 5.000.000 akan ditransfer minggu depan.”

Aku menatap layar lama.

Ini nyata.

Aku mengecek saldo rekening.

Angkanya membuat dadaku bergetar—bangga dan takut sekaligus. Total penghasilanku bulan ini nyaris menyamai uang bulanan dari Iqdam.

Aku tersenyum kecil. Tapi senyum itu cepat pudar.

Aku tahu, ini bukan kabar yang akan diterima Iqdam dengan lapang dada.

*

Aku tidak tahu bahwa malam itu, di ruang tamu, Iqdam duduk dengan kening berkerut.

Ia sempat melihat rekening koranku beberapa hari lalu.

“Uang dari mana?” gumamnya.

Rasa curiga itu tumbuh.

Dan malam itu, ia membuka ponselku.

Membuka aplikasi kerjaku.

Membaca pesan-pesan.

Satu nama menarik perhatiannya.

Why.

Kalimat itu menempel di benaknya. [“Kamu layak untuk bahagia dan mencapainya, Rachel.”]

***

Keesokan paginya.

Saat sarapan, Iqdam menatapku dengan tatapan yang sulit diterjemahkan. Aku pura-pura sibuk menyiapkan bekal Hawa tanpa menoleh.

“Mas mau nanya,” kata Iqdam akhirnya. “Gaji kamu bulan ini besar, ya?”

Aku mengangkat wajah. “Iya. Aku dapat bonus.” Sambil menyiapkan buah untuk Hawa. Kukupas pelan Melon kesukaannya.

“Dari mana?” Nada suaranya mengeras. “Pekerjaan kamu cuma ngereview, kan? Atau ngobrol sama pria-pria aneh itu?”

Dadaku perih.

Aku berhenti mengupas buah, menatap balik Iqdam. "Mas, aku profesional. Semua yang aku lakukan sesuai tugas aku."

"Apa kamu pernah terima pesan yang nggak pantas dari pengguna?"

Aku menghela napas panjang. "Pernah, tapi aku selalu blokir atau lapor. Itu sudah ada prosedurnya."

Iqdam tampak tidak puas dengan jawaban itu. "Kamu yakin? Atau kamu justru menikmati perhatian dari mereka?"

Kalimat itu menusukku. Kutatap Iqdam dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Mas, aku kerja keras untuk kita."

Namun, Iqdam hanya menghela napas panjang, seolah tidak yakin sepenuhnya.

“Aku profesional.” Kepalaku menegak percaya diri.

“Kamu yakin?”

Aku meletakkan pisau di meja.

“Aku nggak selingkuh. Aku cuma … ingin dihargai.”

Iqdam terdiam.

Dan aku tahu, badai ini belum selesai. Dia hanya memandangku, dingin. 

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!