Halal tapi Asing

Renungan Nivean

Pov Nivean 

Aku menatap pintu yang baru saja tertutup sebelum mengembuskan napas panjang. Masalahku tidak berkurang sedikit pun, meski dadaku terasa lebih ringan. 

Aku melirik jam di sudut layar laptop, 16.27. Kukunci layarnya lalu meraih jas yang tergantung di sandaran kursi. 

Langit sudah gelap ketika aku tiba di rumah sakit. Lorong rawat inap terlihat lebih sepi dibanding pagi tadi. Hanya beberapa keluarga pasien yang duduk di bangku sambil menunduk lelah.

Aku membuka pintu kamar perlahan. Klik. Ruangan bercat serba putih itu langsung menyambutku.

Tisya sedang memainkan sendok plastik di mangkuk bubur yang masih utuh. Di sofa dekat jendela, Saff tertidur meringkuk ditemani Azarin yang sedang membaca hasil pemeriksaan laboratorium.

Matanya langsung terangkat saat melihatku masuk. Tidak ada senyum di wajah lelahnya, hanya tatapan datar yang membuat dadaku berdenyut.

Aku menelan ludah. Biasanya aku akan mengalihkan perasaan itu dengan membuka ponsel atau laptop. Tapi suara Pixylia mendadak muncul lagi.

"Kadang anak dan perempuan cuma pengen didengerin."

Aku menarik kursi kosong di sisi lain ranjang lalu duduk.

Sunyi beberapa menit, sampai aku memberanikan diri menatap Tisya. "Gimana rasanya hari ini?"

Tisya sedikit mengernyit, mungkin karena aku jarang bertanya seperti itu.

"Masih pusing dikit," jawabnya pelan.

"Lapar?"

Anakku mengangkat bahu kecil. "Biasa aja."

Aku hanya mengangguk, tidak buru-buru memintanya makan, memberinya nasihat soal kesehatan atau kelakuannya kemarin.

"Pasti gak nyaman ya."

Tisya berhenti memainkan sendoknya, lirikannya perlahan beralih kepadaku. Aku melihat binar mata itu, seolah heran aku bisa berkata demikian.

"Enggak enak," akunya lirih.

"Iya."

Dari sudut mataku, aku melihat Azarin menurunkan lembar hasil pemeriksaan yang sejak tadi dibacanya.

Aku menoleh padanya, tatapan kami bertemu. Tepat saat itu, bibir Azarin bergerak samar meminta bicara berdua setelah anak-anak tidur.

Kafe rumah sakit hampir kosong saat kami duduk berhadapan di sana.

Jam sudah lewat pukul sebelas malam.

Lampu-lampu kuning temaram memantul di permukaan meja.

Di luar kaca kafe, lorong rumah sakit masih ramai oleh keluarga pasien yang keluar masuk tanpa henti.

Aku menatap gelas kopi yang sejak tadi tidak kusentuh. "Besok Saff sekolah gimana?" tanyaku memandangi wajah lelah Azarin.

Istriku mengusap sudut matanya sebentar sebelum menjawab pelan, "Seperti biasa."

"Siapa yang anter?"

"Aku."

Aku mengangguki ucapannya, "Tisya?"

"Nanti aku urus."

Deg. 

Jawaban Azarin terasa seperti teguran yang datang dari arah yang tidak kuduga. Selama bertahun-tahun, Azarin yang mengantar anak-anak sekolah, menghadiri rapat wali murid, hafal nilai pelajaran, ukuran sepatu, sampai nama teman-teman mereka.

Sedangkan aku selalu sibuk, berangkat pagi dan pulang malam, meyakini bahwa selama kebutuhan mereka terpenuhi berarti semuanya baik-baik saja.

Padahal mungkin aku terlalu lama bersembunyi di balik kata nafkah.

Aku lupa bahwa anak-anak tidak hanya membutuhkan biaya hidup. Mereka membutuhkan ayahnya. Dan amanah yang Allah titipkan kepadaku ternyata tidak berhenti pada lembaran uang yang kubawa pulang setiap akhir bulan.

Ya Allah. Selama ini aku benar-benar menjaga keluargaku... atau hanya merasa sudah menjaganya?

Azarin menatapku beberapa saat lalu tertawa hambar, "Biasanya juga aku beresin sendiri kok."

Aku menunduk seraya berkata pelan, "Maaf."

Istriku terdiam, lalu mengalihkan pandangannya ke luar sana. Akhirnya, kuputuskan berbagi tugas dan Azarin setuju.

Malam itu aku pulang ke rumah.

Di tengah sunyi rumah yang biasanya tak pernah benar-benar kuperhatikan, aku mendadak merasa hampa.

Selama ini aku begitu percaya bahwa kerja keras adalah bentuk cinta terbaik yang bisa kuberikan pada keluarga. Aku mengejar banyak hal di luar sana, meyakini bahwa selama nafkah mengalir dan kebutuhan terpenuhi, berarti aku telah menjalankan tugasku dengan baik.

Namun malam ini, keyakinan itu terasa goyah. Wajah Tisya yang pucat di ranjang rumah sakit, Saff yang duduk sendirian di terminal, dan Azarin yang menangis kelelahan ... seolah berdiri di hadapanku, mempertanyakan hal yang sama. Benarkah aku sudah menjaga mereka sebagaimana mestinya?

Dadaku mendadak penuh oleh rasa bersalah yang sulit dijelaskan. Setelah bertahun-tahun, aku benar-benar takut jika kelak Allah menanyakan amanah yang dititipkan kepadaku sementara aku terlalu sibuk di luar rumah.

Aku menunduk semakin dalam, menggenggam kedua telapak tanganku erat-erat. Bukan meminta kesuksesan tentang pekerjaan. Aku hanya menghadap Pencipta sebagai seorang suami dan ayah yang kebingungan, memohon agar ditunjukkan jalan untuk memperbaiki yang nyaris terlepas dari tangannya.

***

Pov Azarin

Pagi itu udara masih menyisakan dingin embun selepas subuh. Nivean datang tak lama kemudian.

Setelah membantu Saff sarapan di kantin rumah sakit, aku mengantarnya ke sekolah. Saff lebih banyak diam sepanjang perjalanan.

Sesekali aku melirik wajahnya yang menatap keluar jendela.

Hatiku kembali was-was. Kemarin anak ini hampir pergi entah ke mana seorang diri.

Aku menggenggam kemudi lebih erat.

Ya Allah... lindungi anakku. Jangan biarkan dia mencari pelukan selain pelukan-Mu ketika rumahnya sedang terasa sempit.

Doa itu melintas begitu saja di kepalaku.

Sudah terlalu banyak kejadian dalam dua hari terakhir hingga aku bahkan lupa kapan terakhir kali duduk tenang setelah salat dan menangis kepada Allah.

Mobil pun berhenti di depan gerbang sekolah.

"Belajar yang bener ya, Sayang," pesanku sambil merapikan kerah seragam Saff.

Anakku mengangguk pelan.

"Kalau sedih, cerita."

Mata Saff berkedip beberapa kali. "Iya, Bun."

Aku mengusap kepalanya lalu menunggu sampai tubuh kecil itu masuk ke area sekolah.

Barulah setelah itu aku mengembuskan napas panjang.

Di saat itulah seseorang memanggil dari belakang.

"Mbak Azarin."

Aku menoleh.

Kahfiel berdiri tak jauh dariku. Kemeja putihnya digulung sampai siku. Di tangannya ada segelas kopi yang tampaknya baru dibeli dari warung depan sekolah.

"Pak Kahfiel." Aku tersenyum tipis. Melihat lelaki itu membuat dadaku kembali dipenuhi rasa syukur. Kalau kemarin Allah tidak menggerakkan langkahnya untuk melihat Saff... Aku bahkan tidak berani membayangkan apa yang mungkin terjadi.

"Makasih ya," ucapku lirih.

Kahfiel menggeleng cepat. "Jangan gitu."

"Tetap aja." Aku menunduk sebentar. "Saya belum sempat bilang terima kasih yang benar."

Angin pagi berembus pelan di antara pepohonan sekolah. Beberapa siswa masih berlarian menuju gerbang karena hampir terlambat.

Kahfiel ikut memandang ke arah mereka sebelum berkata pelan, "Kadang Allah ngasih kita kesempatan buat jadi perantara aja, Mbak."

Aku terdiam.

Perantara... Hanya perantara.

Dan bukankah selama ini memang begitu Saat Tisya lahir dengan selamat, ada dokter yang jadi perantara. Saff ditemukan kemarin, ada Kahfiel yang jadi perantara. Dan ketika aku hampir tumbang menghadapi semuanya, mungkin Allah mengirim pertolongan lewat orang-orang yang bahkan tidak kusangka.

Mataku kembali panas. Aku cepat-cepat mengalihkan pandangan ke arah lapangan sekolah.

"Semalam saya gak bisa tidur," akuku pelan.

Kahfiel tidak menyela.

"Rasanya takut banget." Aku tertawa kecil.

"Baru sadar ternyata selama ini saya sibuk ngurus semuanya, sampai lupa kalau anak-anak juga lagi bingung dengan perasaannya masing-masing."

Beberapa detik berlalu, lalu Kahfiel berkata hati-hati, "Mungkin Allah lagi sayang sama Mbak."

Aku mengernyit bingung.

"Kalau Allah mau, semua masalah ini bisa aja gak kelihatan bertahun-tahun."

Deg.

"Tapi sekarang kelihatan."

Aku terdiam.

"Memang sakit," lanjutnya pelan. "Tapi mungkin lebih baik ketahuan sekarang daripada ketika semuanya udah terlalu jauh."

Angin pagi kembali bertiup. Aku memandangi gerbang sekolah yang perlahan mulai sepi lalu menunduk sambil memainkan ujung tas yang menggantung di bahu.

"Hmm..." Aku mengembuskan napas pelan. "Maaf, Pak Kahfiel keberatan gak kalau saya...."

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!