Halal tapi Asing
Curhatan tak sengaja Azarin
"Hmm..." Aku mengembuskan napas pelan. "Maaf, Pak Kahfiel keberatan gak kalau saya traktir kopi?"
Kahfiel terdiam sesaat lalu tersenyum, "Sebagai orang tua murid yang pernah dipanggil bareng ke sekolah karena anak-anak kita berantem?" Selorloohnya.
Aku tertawa,."Sebagai ucapan terima kasih."
"Kalau begitu saya gak enak nolaknya," ucapnya menyilakan aku berjalan lebih dulu.
Kami akhirnya berjalan ke kafe kecil di seberang jalan.
Pagi itu belum terlalu ramai. Suara mesin kopi bercampur dengan lagu instrumental yang diputar pelan dari speaker sudut ruangan, menyambut kami kala memasuki kafe.
Aku memilih tempat dekat jendela. Beberapa menit pertama kami hanya mengobrol hal-hal ringan. Tentang Ero yang semalam bertanya kabar Saff. Guru BK yang masih mengawasi keduanya setelah kejadian beberapa waktu lalu. Sampai akhirnya obrolan itu kembali ke kemarin.
"Saff bikin saya takut setengah mati," keluhku saat menunduk sambil memainkan sendok di cangkir. "Kemarin pas tahu dia hilang..." Suaraku mulai mengecil. "Saya pikir bakal kehilangan dia."
Kahfiel tidak menyela.
Aku mengembuskan napas panjang seraya berujar, "Lucunya..." Aku tertawa hambar. "Selama ini saya selalu merasa sudah berusaha jadi ibu yang baik."
Mataku mulai terasa panas.
"Saya urus sekolah mereka, rumah ... semuanya," cicitku sebab tenggorokan mendadak tercekat. "Tapi ternyata Saff tetap kesepian."
Sunyi.
Aku cepat-cepat mengusap sudut mata, rasanya aneh menangis di depan lelaki yang bahkan bukan keluarga sendiri.
"Apa saya kurang ya?" tanyaku lirih.
Kahfiel langsung menggeleng. "Mbak..."
"Apa saya terlalu sibuk sama perasaan lelahky?" lanjutku tanpa bisa berhenti. "Apa saya gak peka?"
Semakin lama suaraku semakin bergetar, "Kalau kemarin Bapak gak lihat dia..." Napasku mulai tersengal. "Kalau kemarin Saff benar-benar naik bus itu..."
Aku tidak sanggup melanjutkan. Kutundukkan wajah sebab air mataku mulai jatuh.
Ya Allah, memalukan sekali. Sudah dua hari aku berusaha kuat dan sekarang aku menangis di depan orang asing.
Kahfiel ikut terdiam. Lelaki itu menunggu sampai tangisku sedikit reda sebelum akhirnya berkata pelan, "Rin..."
Deg.
Aku langsung mengangkat kepala. Kahfiel terlihat sama terkejutnya denganku. Seolah baru sadar apa yang baru saja keluar dari mulutnya.
Beberapa detik suasana menjadi canggung, "Maaf," katanya cepat. "Maksud saya Mbak Azarin."
Aku menggeleng pelan, tidak merasa tersinggung. Mungkin karena nada suaranya tadi terdengar seperti seseorang yang sedang berusaha menenangkan.
Kahfiel mengembuskan napas pelan lalu melanjutkan, "Saya gak tahu gimana rasanya jadi dirimu."
Aku mengernyit, diam menunggunya bicara.
"Tapi keliatan kok ... Mbak yang ngurus semuanya." Kahfiel menatap cangkir kopinya sebentar sebelum kembali berkata pelan, "Dan Saff kelihatan sayang banget sama bundanya."
Mataku membesar sedikit.
Kahfiel berhenti sejenak. "Mungkin, yang menahan dia pergi karena lebih takut Bundanya panik daripada takut nyasar."
Deg.
Aku menatap lelaki itu, tenggorokanku kembali tercekat.
Kahfiel tersenyum tipis, "Dia takut bundanya makin sedih. Anak itu sayang banget sama keluarganya."
"Tapi dia juga lagi bingung. Anak laki-laki, sering diajarin buat kuat, nahan sendiri, sampai akhirnya gak tahu cara bilang kalau sebenarnya lagi gelisah."
Dadaku terasa semakin penuh.
"Saff mungkin lagi ada di fase itu."
Aku memejamkan mata. Karena kalau dipikir-pikir, selama ini memang Saff lebih banyak diam.
Kahfiel kembali bersandar di kursinya. "Terkadang..." ujarnya pelan, "anak gak butuh orang tua yang sempurna."
Angin pagi bergerak pelan di balik kaca jendela.
"Mereka cuma butuh tahu kalau pas pulang..."
Kahfiel tersenyum samar, "...masih ada tempat buat cerita."
Aku menutup mata, hatiku perih. Mungkin selama ini aku terlalu sibuk memastikan semuanya berjalan baik sampai lupa melihat bahwa anak-anak ternyata ikut memikul beban rumah kami.
Ucapan Kahfiel masih menggantung di antara kami bersama aroma kopi yang mulai mendingin.
"Mungkin saya lancang kalau ngomong begini," lanjutnya hati-hati. "Tapi kalau Mbak berkenan..."
Aku mengangkat pandangan.
"Saya bisa bantu."
Aku mengernyit, "Bantu apa?"
"Saff. Saya bukan psikolog. Bukan guru BK juga." Ia tertawa kecil. "Tapi Ero seusia dia. Dan mungkin..." Kahfiel berhenti sejenak, wajahnya sempat menunduk, "Kadang anak laki-laki lebih gampang cerita ke orang yang bukan orang tuanya."
Aku tahu itu benar. Bahkan dulu Tisya lebih dulu curhat ke teman-temannya dibanding kepadaku.
"Saya gak janji apa-apa," lanjutnya pelan. "Tapi kalau Mbak izinin, saya bisa coba jadi tempat ngobrol buat dia."
Dadaku menghangat karena ketulusannya. Di saat aku bahkan sedang kesulitan memahami anakku sendiri, ada seseorang yang menawarkan bantuan tanpa menghakimi.
"Terima kasih," bisikku.
Kahfiel menggeleng. "Kalau Allah kasih kesempatan buat bantu, masa saya nolak."
Aku tersenyum. Selanjutnya hanya terdengar suara denting cangkir sebelum aku pamit lebih dulu.
Aku tiba kembali di rumah sakit menjelang dzuhur.
Langkahku terasa lebih ringan setelah berbincang dengan Kahfiel, meski masalah yang menungguku tidak berkurang sedikit pun.
Lift terbuka perlahan.
Aku berjalan menyusuri lorong rawat inap sambil merapikan hijab yang sejak pagi sudah bergeser ke mana-mana. Ujung pashmina sebelah kiri bahkan kuselipkan asal ke pundak.
Bajuku juga sudah kusut karena dipakai tidur di sofa rumah sakit semalaman. Biasanya aku akan malu tampil seperti ini. Tapi dua hari terakhir membuatku tidak punya tenaga untuk memikirkan penampilan.
Yang kupikirkan hanya anak-anak. Dan bagaimana caranya agar keluargaku tidak semakin retak.
Aku mengucap istighfar pelan, "Ya Allah, aku memang lemah. Tapi jangan biarkan kelemahanku melukai anak-anakku."
Saat sampai di depan kamar rawat, tanganku baru saja menyentuh gagang pintu ketika terdengar suara perempuan yang sangat kukenal dari dalam.
Aku membeku.
"Makanya Mama bilang dari dulu, jangan terlalu manjain anak."
Deg.
Tok. Tok. Perlahan kubuka pintu.
Wardah duduk anggun di kursi dekat jendela. Setelan gamis mahal berwarna krem membalut tubuhnya rapi tanpa satu lipatan pun. Aroma parfum lembut langsung memenuhi inderaku begitu memasuki ruangan.
Berbanding terbalik denganku yang bahkan belum sempat mengganti baju meski subuh tadi Nivean sudah datang membawakan perlengkapan kami.
Nivean berdiri di dekat ranjang Tisya. Sementara putriku duduk bersandar dengan wajah yang langsung berubah tegang saat melihatku masuk.
Pandangan Wardah beralih kepadaku, menelisik dari atas sampai bawah. Tatapan yang selama bertahun-tahun selalu berhasil membuatku merasa kerdil.
"Nah, akhirnya datang juga."
Aku tersenyum tipis. "Assalamu'alaikum, Bu."
"Wa'alaikumussalam," jawabnya datar.
Aku berjalan mendekatinya untuk salim dan beralih ke Tisya lalu mengusap puncak kepala anakku. "Udah makan?"
Tisya mengangguk pelan.
Belum sempat duduk, suara Wardah kembali terdengar.
"Azarin, ibu boleh ngomong sebentar?"
Perasaanku langsung tidak enak, tapi segera kutepis dengan menarik kursi. Bagaimanapun, beliau mertuaku, meski ucapannya sedikit pedas.
"Iya, Bu."
Wardah melipat kedua tangannya di pangkuan, pandangannya masih tertuju padaku, "Jujur aja, ibu prihatin."
Deg.
.
.